
Happy Reading
!:sorry'bouttypo~ teeheehee~
🖌Better Lie
Sepasang kekasih didepan Lydya masih saja berdebat dan tak memperdulikan Lydya yang berdiri melihat tingkah mereka. Lydya melirik pada tangan Linda yang masih mencengkeram rambutnya dengan keras. Pasti Leon di sana merasa kesakitan di kepalanya.
“Hah! Ada apa ini!”
Linda dan Gio menolehkan kepalanya keluar kamar dan di sana berdiri Karina dengan wajah tegangnya. Matanya melebar marah melihat tangan Linda yang mencengkeram rambut calon menantunya. Sejak putranya memperkenalkan Linda, Karina sudah tidak menyukainya dan rasa tidak suka nya semakin bertambah melihat Linda menyakiti calon menantunya.
“Lepaskan tanganmu!” ucap Karina melepaskan tangan Linda dari rambut Lydya dengan paksa.
Karina bisa melihat beberapa helai rambut di tangan Linda, “Apa yang kau lakukan padanya dan apa yang kau lakukan di rumahku?!” teriak Karina merasa sangat marah.
“Bu.. bukan begitu tante..,” ucap Linda berusaha menjelaskan.
“Bukankah sudah ku bilang jangan masuk ke rumah keluarga Isaac seenaknya tanpa seizinku!! Lancang sekali kau!!” sela Karina tak ingin mendengarkan penjelasan apapun karena apa yang dilihatnya itulah yang terjadi.
Tanpa dijelaskan sudah terlihat sekali kalau kekasih putranya ini sudah menyakiti calon menantunya.
“Ma..,”
“Diam kamu!!”
“Lydya kamu gak apa-apa, kan? Apa ada yang sakit? Bilang sama mama,” ucap Karina mengelus lembut kepala Lydya.
Hal itu tak luput dari pandangan Linda yang cemburu. Ibu dari kekasihnya ini tak pernah memperlakukannya selembut itu dan selalu memperlakukannya dengan dingin. Dia juga ingin diperlakukan seperti itu. Lydya yang tadi hanya diam mulai merespons dan tersenyum pada sahabat mami nya ini.
“Bilang sama mama yang terasa sakit,” ucap Karina khawatir melihat Lydya yang hanya diam saja.
Lydya menggelengkan kepalanya, tak sengaja pandangan Lydya jatuh pada Linda yang menatapnya tajam. Lydya menatap lekat Linda yang juga menatapnya. Lydya tersenyum kecil melihat pandangan mata Linda yang penuh rasa cemburu.
“Sebenarnya apa yang terjadi?!” tanya Karina pada putranya.
Gio terlihat bingung untuk menjelaskan, dia terus menunduk dan mengalihkan pandangannya. Dia tak mungkin berkata kalau Lydya yang memulainya karena ada mama nya di sini dan tak mungkin dia bilang Linda yang memulainya. Dia tak ingin Linda semakin marah padanya.
“Gio, jawab mama!”
__ADS_1
“Emm... sebenarnya..,” ucap Gio melirik kekasihnya bingung.
Linda mengerutkan dahinya, tak mungkin kekasihnya akan bilang kalau dia yang memulainya karena jelas-jelas tadi Lydya lah yang memulainya. Lydya menghela napasnya pelan, dia merasa kesal sendiri melihat tunangannya ini susah sekali menggerakkan bibirnya.
“Sebenarnya hanya salah paham saja. Kekasih Gio salah mengira hubungan kami,” ucap Lydya menjelaskan.
“Salah mengira?”
Lydya menganggukkan kepalanya dan menatap Linda sebentar tanpa ekspresi sebelum tersenyum.
“Dia mengira kalau aku kekasih Gio,” ucap Lydya menatap Gio dan Linda penuh makna.
“Bukankah kal...,” ucap Karina mengerutkan dahinya bingung.
Putranya dan calon menantunya ini memang bukan sepasang kekasih tetapi mereka sudah bertunangan.
“Padahal aku dan Gio hanya sepupu,” sela Lydya menghentikan sahabat maminya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Bukan sekarang tetapi nanti dan yang mengatakannya adalah Lydya sendiri. Dia ingin melihat sendiri bagaimana ekspresi Linda ketika dia mengungkapkan kalau dirinya dan kekasihnya itu sudah bertunangan dengan mulutnya sendiri.
“Sepupu?”
Akhirnya Karina menganggukkan kepalanya, “Hmm. Mereka memang sepupu,” ucap Karina menatap Linda dingin.
“Ma..,” ucap Gio memohon pada mama nya untuk bersikap lebih lembut pada kekasihnya.
Karina hanya mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah lain membuat Gio menghela napasnya pasrah. Mau berapa kali dia berucap, mama nya ini tidak akan pernah mau memperlakukan kekasihnya dengan hangat dan lembut.
“Mama tidak usah khawatir. Biar aku yang menyelesaikan sisanya. Mama istirahat saja,” ucap Lydya tersenyum dan menyentuh bahu Karina.
Lydya melirik pada Linda lalu mengalihkan pandangannya pada Karina ketika merasakan tangannya disentuh. Lydya tersenyum manis pada sahabat mami nya ini. Linda mengepalkan tangannya menahan kesal dan cemburu mendengar Lydya bisa memanggil ibu kekasihnya dengan sebutan ‘mama’.
Walau mereka adalah sepupu seperti yang Lydya katakan tetapi tetap saja Linda merasa cemburu dan iri juga kesal. Dia sangat ingin memanggil kekasih ibunya dengan sebutan ‘mama’ juga seperti Lydya tetapi tidak pernah bisa.
Dia juga tidak pernah tahu kalau kekasihnya ini punya sepupu lain yang keturunan orang Jepang.
“Kamu yakin? Kita tidak perlu ke rumah sakit?”
Lydya menggelengkan kepalanya. Dia tidak perlu ke rumah sakit lagipula yang merasakan sakit bukan dirinya melainkan Leon. Membahas kembaran nya, Lydya harus segera menghubungi kembaran nya itu yang sudah pasti sangat khawatir.
__ADS_1
“Aku tidak merasa sakit sama sekali,” ucap Lydya melirik Linda. “Yang merasa sakit pasti Leon,” lanjut Lydya tersenyum pada Karina.
Karina menatap calon menantunya khawatir lalu menghela napas panjang. Dia sudah pernah mendengarnya dari Zyta jika salah satu di antara mereka merasa sakit karena terluka maka yang merasakannya adalah si kembaran bukan orangnya sendiri.
“Kalau begitu mama pergi dulu,”
Lydya menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya juga tersenyum manis ketika Karina menoleh ke belakang dengan wajah penuh kekhawatiran. Lydya terus tersenyum pada sahabat mami nya itu hingga tak terlihat ketika menuruni tangga.
“Jadi, kalian benar-benar sepupu?” tanya Linda ketika Lydya membalikkan badannya.
“Hmm. Kami hanya sepupu,” jawab Gio cepat.
Dia berharap Linda segera memaafkannya. Semoga saja kekasihnya ini percaya dengan apa yang mama dan tunangannya katakan tadi. Linda menatap Lydya dan Gio bimbang. Dia masih setengah tak percaya pada dua orang di depannya.
“Jika kau tak percaya. Ya sudah,” ucap Lydya melewati Linda dan Gio untuk mengambil tasnya.
Lydya membuka ponsel nya dan banyak sekali panggilan telepon juga pesan yang dikirim oleh Leon. Pesan yang dikirim Leon tentu saja membahas tentang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit seperti di jambak. Lydya tersenyum kecil dan mengabaikan pesan tersebut.
Lydya berbalik akan keluar kamar tunangan dan meliat Linda berdebat dengan Gio. Lydya berdecak pelan melihat Linda yang masih tak mempercayai dan mendengarkan Gio. Lydya berjalan mendekati keduanya lalu menyentuh kedua bahu Linda.
“Lebih baik kau mempercayai apa yang dikatakan kekasih mu daripada kau menyesal akhirnya. Benarkan sepupu ku sayang,” ucap Lydya tersenyum lebar pada Gio.
Gio segera menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Lydya. Dia akan berterima kasih atas bantuan tunangannya nanti setelah masalahnya dengan kekasihnya selesai. Saat ini dia harus mendapatkan kepercayaan Linda kembali.
Linda masih tidak percaya pada keduanya membuat Lydya jengah. Lydya mendekatkan mulutnya pada telinga Linda.
“Jika kau tidak percaya padanya. Kau akan melihatnya dengan perempuan lain nanti. Camkan kata-kataku,” bisik Lydya penuh makna tanpa bisa didengar oleh Gio.
Mata Linda membulat mendengarnya. Apa yang Lydya katakan benar. Jika dia tidak mempercayai kekasihnya bisa saja kekasihnya ini memiliki perempuan lain. Linda tak mau hal itu terjadi. Dia tidak ingin Gio meninggalkannya.
“Aku pergi dulu. Ja, mata ne(Sampai jumpa),” ucap Lydya mengedipkan sebelah matanya ada Linda dan berjalan keluar kamar Gio sambil melambaikan tangannya.
Dia harus segera pergi dari rumah keluarga Isaac sebelum dia kembali terseret kedalam masalah Gio dan kekasihnya yang kembali berdebat ketika dirinya menuruni tangga. Lydya menolehkan kepalanya ke kamar tunangannya yang masih terbuka dan menggelengkan kepalanya.
Linda adalah perempuan yang kecemburuannya disertai rasa tidak percaya. Siapa juga yang tahan menjalin hubungan lama-lama dengan perempuan seperti Linda.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Bohong itu emng gk baik dan banyak orang yng gk suka cenderung membencinya tp terkadang bohong itu lebih baik drpd kenyataan dan bahkan yng gk suka kebohongan pasti pernah setidaknya satu kali melakukannya..
__ADS_1
See ya next timeuu ~(~ ̄▽ ̄)~~