
Ahhhh... annyeong yeorebun.. udh lama gk up.. so sorry.. aq lg sibuk bgt jd gk punya banyak waktu kosong.. so.. melanjutkan chapter sebelumnya dan kali ini aq bakal langsung up semuanyaa..
Happy~ Reading~ Minna-san~
Ah nee.. bacanya hati2 ya.. karna udh lama bgt pasti bakal bingung.. 〜( ̄▽ ̄〜)
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌They Say it’s Love at First Sight
Kicau burung terdengar sangat kencang juga dekat membangunkan Lydya dari tidurnya. Punggungnya terasa sedikit hangat karena cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Lydya melepaskan belitan tangannya dari tubuh orang di sampingnya. Lydya bangun dan duduk sebentar diatas kasurnya lalu turun dari kasur dan melangkah menuju dapur.
Lydya mengambil segelas air dan meminumnya.
“Sial. Bahkan air juga sama dinginnya,” gumam Lydya.
Lydya merenggangkan tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia tidak akan mandi dihari yang dingin ini. Cuci muka saja sudah membuatnya kedinginan. Setelah membersihkan diri, Lydya segera ke dapur untuk membuat sarapan.
Pagi ini, benar-benar dingin. Dia rasa, turun salju tadi malam. Terlihat diluar jendela salju sudah menumpuk lebih tinggi daripada kemarin.
Benar-benar, jika bukan karena maminya sudah pasti dia tidak akan ditempat ini sekarang.
Kenapa maminya itu tidak memberangkatkan mereka saat musim semi atau musim panas saja?
Kenapa harus saat musim dingin yang panjang ini?
“Oh, sudah bangun?”
Lydya melihat Gio yang berjalan ke arahnya dengan mata setengah terbuka. Lydya mencegah tangan Gio yang terulur hendak mengambil roti yang baru saja dipanggangnya walau matanya terlihat masih terpejam, tahu saja dimana makanannya berada.
“Bersihkan dirimu dulu lalu sarapan,”
Lydya mendorong tubuh Gio menuju kamar mandi. Gio hanya berjalan sesuai arah dorongan Lydya pada punggungnya.
“Jangan mandi. Airnya sangat dingin,” ucap Lydya diluar kamar mandi.
Lydya tersentak kaget saat berjalan menuju dapur mendengar teriakan Gio dari dalam kamar mandi. Setelahnya, Lydya tertawa pelan saat Gio bilang kalau airnya sangat dingin. Siapa suruh tidak mendengarkannya berbicara?
“Berhenti memasang wajah merajuk,” ucap Lydya tak bisa menahan senyum gelinya.
Gio mendengus dan mengalihkan pandangannya keluar sambil memakan sarapannya. Tadi, Gio keluar dari kamar mandi dengan wajah ditekuk apalagi matanya yang terus melihat pada Lydya dengan penuh kekesalan.
“Jika, kau melihat wajahmu tadi. Itu sangat lucu,” ucap Lydya tak bisa menahan tawanya lagi.
Gio menatap Lydya datar. Tubuhnya menggigil kedinginan tetapi tunangannya ini malah asyik dengan tawanya. Jika dia tahu airnya sangat dingin, dia tidak akan menyiramkan air ke sekujur tubuhnya seperti kebiasaannya mandi di pagi hari.
Ini juga kesalahannya karena lupa mereka sedang berada ditempat yang bisa turun salju setiap saat.
__ADS_1
“Maaf. Maaf. Kau pasti sangat kedinginan,” ucap Lydya tersenyum dan menyentuh pipi Gio yang sama dinginnya dengan es.
Padahal, tunangannya ini sudah memakai berlapis-lapis selimut dan baju hangat tetapi tetap saja masih kedinginan hingga tubuhnya bergetar dan giginya saling bertabrakan bahkan kedua pipinya memerah. Lydya jadi merasa kasihan melihatnya. Lydya beranjak dari duduknya lalu duduk di samping Gio.
“Kemarilah,” ucap Lydya merentangkan kedua tangannya.
Gio segera mendekatkan tubuhnya pada Lydya yang langsung memeluk tunangannya itu.
“Masih dingin?” tanya Lydya mengusap pelan tubuh Gio dari balik selimut.
Gio menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba, Gio melepaskan pelukan Lydya dan melepaskan selimutnya lalu menyelimutkannya pada Lydya yang kebingungan.
Gio mengarahkan tangan Lydya untuk memegang kedua ujung selimut dan merentangkan kedua tangannya. Gio kembali mendekatkan tubuhnya pada Lydya yang langsung paham dengan maksud dari tunangannya itu.
“Sudah hangat?” tanya Lydya tersenyum kecil dan memeluk Gio dengan erat.
Gio menganggukkan kepalanya. Lydya kembali tersenyum melihat Gio yang memakan sarapannya sambil dipeluknya. Untung saja, tadi dia sudah sarapan lebih dahulu dan tinggal menghabiskan minuman hangatnya.
“Saljunya turun lagi,” ucap Lydya melihat ke arah luar.
Salju yang jatuh ke bumi samar-samar terlihat dari balik jendela.
Gio mengangguk, “Dan semakin dingin,”
Lydya juga menganggukkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya diatas kepala Gio yang bersandar padanya. Halusnya rambut Gio membuatnya merasa nyaman ditambah lagi tubuh hangat Gio yang sedang dipeluknya dapat menghalau dingin.
“Apa.. apa kau benar-benar ingin bermain.. diluar?” tanya Gio mengeratkan jaket yang dia kenakan.
Walau sudah memakai jaket tebal tetap saja udara dingin menusuk hingga tulang-tulangnya. Dirinya bahkan masih menggigil sampai sekarang dan Lydya dengan teganya mengajak dirinya main keluar rumah.
Bahkan, suhu di sekitar rumah sudah mencapai minus sepuluh derajat. Apalagi sekarang sudah menjelang sore. Lydya menoleh dan menganggukkan kepalanya.
Dia senang sekali bisa bermain lagi dengan tumpukan salju seperti saat ini. Sudah lama sekali dia datang kemari sejak membeli rumah yang dirinya dan Gio tinggal sekarang.
“Sebenarnya, kita akan ke mana?” tanya Gio dengan kekesalan yang dia lampiaskan dengan berjalan penuh hendak diatas tumpukan salju.
Lydya hanya tersenyum lalu berjalan mendahului Gio, “Hei! Tunggu!” ucap Gio mempercepat langkahnya mengejar Lydya.
Gio semakin kesal ketika mereka berjalan diantara pohon cemara yang membuatnya harus menyingkap satu persatu ranting pohon agar tak menghalangi pandangan juga jalannya. Samar-samar dibalik celah pepohonan semburan jingga terlihat. Gio berdecak kagum setelah berhasil keluar dari hutan cemara itu.
Di depannya, terlihat semburat jingga dari matahari yang tenggelam. Hangatnya matahari masih dapat dia rasakan di kulit wajahnya. Terasa hangat.
“Bagaimana?” tanya Lydya saat Gio berjalan mendekatinya.
“Sangat indah,” jawab Gio tak dapat mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Hmm.. kau benar. Inilah alasan kenapa aku membeli rumah ini. Aku pernah tersesat saat ke negara ini dan tak sengaja menemukan tempat ini. Sejak saat itulah, aku sangat menyukai tempat ini. Walau aku sudah lama tak datang, aku tak pernah lupa keindahannya,” ucap Lydya.
Lydya ingat bagaimana dia bisa menemukan tempat ini. Itu sudah lama sekali, sejak dia dan keluarga datang berlibur kemari. Seharusnya, dia ada di ibukota dengan keluarganya tetapi entah bagaimana tiba-tiba dirinya berada di desa kecil ini. Mungkin dulu, dia tak sengaja mengikuti orang yang menarik perhatiannya hingga ke desa ini.
Lydya tersenyum kecil ketika mengingat dirinya dulu yang benar-benar gadis kecil nekat dan tak punya takut. Gio terdiam memandang Lydya dengan senyum kecilnya. Benar-benar terlihat seperti seorang malaikat.
Apakah Lydya benar-benar bidadari yang turun ke bumi?
Cukup lama waktu berlalu hingga tak terasa matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam.
“Ayo segera kembali atau kita akan tersesat di malam hari,” ucap Lydya mengeratkan jaketnya.
“Tunggu,”
Lydya menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia menatap Gio yang masih berdiri di tempatnya dengan bingung. Gio mengusap tengkuknya dan mengalihkan pandangannya ke bawah hingga membuat Lydya mengerutkan dahinya.
“Te.. terima kasih.. sudah membawaku kemari,” ucap Gio gugup setelah terdiam beberapa saat.
Lydya masih diam membuat Gio semakin gugup dan malu hingga Gio tak tahan lagi dan akhirnya menutup setengah wajahnya karena pipinya terasa panas. Lydya mengedipkan matanya beberapa kali.
“Pffttt… Mmm~” ucap Lydya tersenyum lebar hingga kedua matanya membentuk bulan sabit.
Lydya berbalik dan berjalan lebih dahulu sedangkan Gio masih berdiri di tempatnya dan menutup setengah wajahnya yang semakin terasa panas.
“Sial~” gumam Gio mengalihkan pandangannya ke samping.
Dia benar-benar malu dan gugup ditambah lagi jantungnya… berdetak sangat kencang. Dia bukan orang yang bodoh hingga tak memahami arti dari detak jantungnya sendiri. Padahal, dia baru saja berpisah dengan kekasihnya dan secepat inikah dia sudah menyukai orang lain. Apalagi dia adalah tunangannya sendiri.
“HEII!!! APA YANG KAU TUNGGU?!! CEPAT KEMARI!!,” teriak Lydya dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.
Tidak. Perasaan yang dirasakannya ini semata-mata bukan hanya menyukai. Perasaan ini lebih terasa seperti sesuatu yang pernah dia rasakan dulu. Gio tersentak mengingat sesuatu.
Ah~ Ternyata seperti itu.
Kenapa selama ini dia tak pernah menyadarinya?
Perasaan yang sudah sangat lama terkubur jauh di dalam hatinya kini mendobrak keluar. Senyum itu, mata itu, bahkan orang itu. Mereka adalah orang yang sama.
“HEH! APA YANG KAU TUNGGU?!! APA KAU INGIN TIDUR DIHUTAN?!!”
Gio tersenyum kecil dan segera menyusul Lydya yang terlihat sangat kesal. Gio hanya memberikan senyum lebarnya begitu dia sudah berada di samping Lydya yang menatapnya kesal juga omelan kecil.
Benar. Mereka bilang ini cinta pada pandangan pertama.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Yap.. yap.. yap.. udh selesai.. see you next chapter.. (⌒‐⌒)
__ADS_1