
Happy reading~ nee~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
ps: bakal ada nama2 baru tp mereka cmn jadi cameo đź¤đź¤đź¤
đź–ŚPlay Out
“Gio!”
“Gio! Bangun!”
Gio mengejapkan matanya perlahan ketika dalam tidurnya dia merasakan tubuhnya dibangunkan dan namanya dipanggil. Gio menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati kakaknya berdiri di sampingnya. Ternyata yang membangunkannya adalah kakaknya, Ferad.
Gio bangun dan duduk di pinggir kasur. Dia masih merasa mengantuk. Gio menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat tunangannya masih tidur dengan pulas membelakangi nya.
“Ada yang mencarimu,” ucap Ferad.
“Hah? Siapa?” tanya Gio melirik kakaknya sebelah mata karena matanya terasa masih lengket.
“Linda,”
Gio merenggangkan tubuhnya dan menguap pelan lalu berdiri dan berjalan bersama dengan kakaknya keluar kamar tamu. Gio menutup pintu kamar tamu dengan pelan agar tak mengganggu tidur tunangannya lalu mengikuti kakaknya turun.
“Mengapa dia kemari?”
Ferad mengedikkan bahunya tak tahu, “Kurasa tadi dia datang ke kamarmu tetapi kau tidak ada,”
Gio menguap pelan. Ada apa tiba-tiba kekasihnya datang ke rumah tanpa memberi tahu nya terlebih dahulu?
“Lalu dia bertanya kau di mana tetapi aku tidak bilang kalau kau di kamar tamu,” lanjut Ferad.
“Hmm. Terima kasih,”
Ferad mengangguk dan meninggalkan Gio didepan pintu rumah. Linda tidak terlihat di ruang tamu yang artinya dia berada diluar rumah. Gio menghela napasnya panjang, dia sedang malas bertemu kekasihnya. Mereka baru saja bertengkar lagi kemarin dan dia tidak ada minat melihat kekasihnya.
Untung saja tadi kakaknya sendiri yang mencarinya jika tidak entah bagaimana akhirnya?
Dia sendiri lupa bagaimana dia bisa tidur dengan Lydya?
Yang dia ingat, dia merasa mengantuk dan berbaring disebelah Lydya. Niatnya hanya tidur sebentar tetapi tak tahunya dia tidur hingga sore.
Kali ini dia kembali tidur dengan Lydya dan memeluknya. Jika berada di dekat Lydya dan melihat Lydya tidur, dia juga ingin tidur. Mereka sudah sering tak sengaja tidur bersama. Seharusnya tidak apa, kan? Mereka juga sudah bertunangan.
Gio membuka pintu dan mendapati Linda juga teman-temannya di sana. Gio mengerutkan dahinya melihat mereka sangat rapi. ia yakin sebentar lagi mereka akan mengajaknya main hingga larut malam.
Sial.
Dia juga tidak ingin pergi kemanapun sekarang dan di sana juga ada Leon.
__ADS_1
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Ayo keluar,” ucap Kaga dengan senyum penuh semangatnya.
Gio hanya menatapnya malas dan tak sengaja dia bertatapan dengan Linda yang tersenyum lebar. Gio segera mengalihkan pada Kaga.
“Aku... Akh! Ck! Orang ini!” decak Gio kesal ketika Leon menerobos masuk kerumahnya.
Yang lainnya hanya saling berpandangan bingung. Mereka tidak tahu kalau Gio dan Leon sedekat itu sampai-sampai Leon masuk ke rumah Gio seperti rumahnya sendiri. Padahal ketika di sekolah mereka jarang berbicara satu sama lain jika bersama. Hanya jika ada Lydya saja mereka jadi banyak bicara.
“Kalian pergi saja. Aku tidak ikut,”
“Hah? Kau yakin? Tidak biasanya?” tanya Elon mengerutkan dahinya bingung.
Gio menganggukkan kepalanya yakin, “Yakin tidak ikut?”
Gio menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Leon tengah menggendong Lydya yang masih tidur di punggungnya.
“Cepat ganti bajumu,” lanjut Leon melewati Gio begitu saja menuju mobilnya.
Mereka yang melihat Leon menggendong Lydya keluar dari rumah Gio menjadi semakin bingung. Mengapa kembaran Leon ada di rumah Gio?
Gio hanya memutar bola matanya malas. Leon itu tahu saja kalau kembaran nya ada di sini padahal dia yakin Lydya tidak akan mengatakannya pada Leon kalau dia kemari.
Tujuan Leon juga ikut karena dia tahu jika kembaran nya ada di sini.
“Tunggu sebentar,” ucap Gio kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya.
Gio mengganti bajunya dengan cepat dan segera menemui teman-temannya. Dia ikut satu mobil bersama dengan Kaga dan di sebelahnya ada Linda tetapi dia hanya diam saja. Mereka tahu kalau dia dan Linda sedang bertengkar jadi memilih diam dan membiarkan saja.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Mereka telah sampai ditempat tujuan. Gio segera keluar dari dalam mobil karena dia tidak ingin berlama-lama bersama dengan Linda. Dia membutuhkan ruang untuk menjauh dari kekasihnya itu. Dari mobil lainnya, Leon dan Lydya keluar bersama. Lydya terlihat marah-marah dan memukul kembaran nya.
“Akh! Akh! Akh! Sakit!” ringis Leon melindungi dirinya dari pukul Lydya.
“Aku kan sudah bilang untuk tidak membawa ku ke sembarangan tempat!”
“Gomen (Maaf). Aku hanya tidak bisa menolak permintaan Elon,”
“Banyak alasan,”
Hal tersebut tak luput dari pandangan Gio. Ternyata mereka juga ikut dan hanya berdua saja saat kemari. Gio mengalihkan pandangan ke teman-temannya yang terdiam melihat mansion mewah didepan mereka. Gio menggelengkan kepala heran, bukankah setidaknya mereka punya satu atau dua mansion mewah seperti ini?
[Aq lupa ss lokasi gambar jd gk tau ini dmana]
“Mengapa kau membawa kami kemari?” ucap Kaga menyenggol lengan Elon.
__ADS_1
“Sebenarnya papa meminta ku untuk tinggal di sini tetapi... ya begitulah,” ucap Elon tak ingin memberi tahu kalau dia takut berada di rumah besar sendirian.
“Kau yakin? Apa papa mu membolehkannya?” tanya Kaga memastikan.
Dia dan Elon sudah bersama sejak kecil jadi dia tahu orang seperti apa papa Elon.
“Ya, dia yang menyuruh. Sudahlah, ayo masuk,”
Lydya berjalan melewati teman-temannya yang masih terbengong didepan mansion. Dia sangat kesal dengan Leon yang suka sekali membawanya ke tempat yang tidak dia ketahui tanpa izinnya. Leon mengikuti Lydya dibelakang tanpa kata. Salah-salah dia akan dibanting oleh kembaran nya itu jika mengeluarkan satu kata saja.
Elon membuka pintu dan mempersilahkan teman-temannya masuk. Bagian dalam mansion sama mewahnya dengan bagian luar.
[Newport Coast, California]
Elon mengajak teman-temannya tinggal dua hari selama libur nasional berlangsung. Daripada dia menghabiskan waktu libur nya seorang diri di mansion yang baru saja orangtua nya beli, setidaknya dia tidak akan menginap di mansion ini sendirian.
“Elon, apa kau yakin?”
Elon menganggukkan kepalanya mengiakan ucapan Kaga.
“Ayo, ku antarkan kalian ke kamar,” ajak Elon.
Mereka mengikuti Elon dengan patuh. Ada sepuluh orang yang Elon ajak untuk menginap di rumahnya termasuk dirinya.
“Di sana kamar untuk anak laki-laki dan di sana untuk perempuan,” ucap Elon tersenyum menunjuk empat pintu kamar yang sudah dia persiapkan untuk teman-temannya.
“Kalian bisa istirahat dulu,” ucap Elon menggandeng tangan Gio dan Linda.
Tiba-tiba saja Lydya mengangkat tangannya membuat semuanya yang ingin ke kamar mereka berhenti dan menatap Lydya bingung.
“Bisakah aku satu kamar dengan Leon?” tanya Lydya langsung.
Elon tersenyum ragu. Dia menyiapkan dua kamar untuk perempuan dan dua untuk laki-laki dan dia sengaja membawa masing-masing lima orang perempuan dan laki-laki termasuk dirinya karena dia ingin membuat Gio dan Linda satu kamar.
Dia tidak tahan melihat Linda yang terus bersedih karena Gio mengacuhkan nya hanya karena pertengkaran sepele mereka.
“Mmm.. itu...?” ucap Elon bingung ingin menjawab pertanyaan Lydya yang tak diduganya.
“Boleh?”
“Mmm.. bukan gitu. Hanya saja...,” ucap Elon tanpa sadar melirik Linda.
Hal tersebut tak luput dari pandangan Lydya. Dia tersenyum tipis. Gio yang menatap Lydya menyadari senyuman Lydya yang sangat tipis hingga tidak akan terlihat jika Lydya tengah tersenyum kecuali mengamatinya dengan benar.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
Ja nee (ง Í Â° ͟ل͜ ͡°)ง we meet two days again..
__ADS_1