
Mau gmanapun tetep aja mereka bakal sekamar...
Happy Readingeu~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Because of One Room
Mereka sudah selesai makan malam dan kembali ke kamar masing-masing. Lydya mengikuti ketiga teman nya untuk tidur bersama mereka tetapi Sato mencegahnya dan membawanya kembali ke rumah di mana hanya ada dirinya dan Gio. Lydya terus mengumpat pada Sato dalam hatinya. Dia benar-benar sangat kesal pada sepupunya itu bahkan Lydya memasang futon yang akan dia dan Gio kenakan dengan kesal.
“Benda itu tidak salah apapun. Jangan menyakitinya,”
Gio yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya hanya diam melihat Lydya memasang benda yang sedikit tebal yang baru Gio ketahui kalau itu sebuah kasur. Lydya hanya berdecak menjawab ucapan Gio. Dia masih kesal dan tak ingin berbicara apapun. Malam ini dan seterusnya, dia benar-benar harus sekamar dengan Gio.
Lydya tidak bisa kabur kemanapun karena sudah pasti jika dia sampai menyelinap bagaimanapun caranya ke kamar teman-temannya. Entah pamannya atau Sato yang akan membawanya kembali ke kamar ini jadi mau tak mau Lydya harus sekamar dengan Gio sampai liburan mereka berakhir.
“Tempat tidurmu sudah selesai. Aku tidur duluan. Besok aku harus bekerja dan tolong matikan lampunya jika kau ingin tidur,” ucap Lydya mempersiapkan dirinya untuk segera tidur.
Lydya tidur membelakangi Gio. Lydya menyelimuti dirinya hampir menutupi kepalanya dan hanya terlihat matanya saja terpejam.
“Kerja? Kau besok bekerja?”
Lydya baru saja akan memasuki alam mimpinya, “Hmm. Kedatanganku dan Leon kemari tentu saja untuk bekerja bukan untuk liburan,” ucap Lydya tanpa membuka matanya.
“Jadi, kalian akan menghabiskan waktu kalian untuk bekerja?”
“Sudah pasti. Kami harus bekerja di penginapan besok,”
__ADS_1
Gio tak menyangka kalau kedatangan tunangan dan kembaran nya ini bukan untuk pergi liburan sekolah tetapi untuk bekerja. Gio pikir mereka datang kemari untuk berlibur menghabiskan waktu liburan sekolah mereka tetapi nyatanya tidak.
“Apa kami juga?”
Lydya membuka matanya dan berbalik menghadap Gio, “Tentu saja tidak. Besok, ada pelayan yang akan mengantar kalian berkeliling,” ucap Lydya setengah kesal.
Gio semakin dibuat tak percaya hanya Lydya dan Leon lah yang akan tinggal di penginapan sedangkan dirinya dan Hera, Eiza, juga Melani berjalan-jalan. Lydya juga ingin pergi jalan-jalan bersama teman-temannya tetapi sudah menjadi kewajibannya untuk membantu di penginapan jika dia datang kemari. Nenek buyut nyalah yang meminta hal tersebut. Beliau bilang agar semua cucunya tahu bagaimana keluarga Hanazawa berkembang seperti sekarang.
“Aku mau tidur. Selamat malam,” ucap Lydya kembali memejamkan matanya tanpa mengubah posisi.
Gio hanya diam saja memandang Lydya yang tertidur. Jauh di dalam hatinya, dia merasa tak suka dengan sikap Lydya yang terkesan biasa saja walau mereka tidur bersama. Lydya terlihat tenang padahal dia tidur sekamar dengan seorang laki-laki asing meskipun mereka sudah bertunangan tetapi tetap saja mereka belum mengenal satu sama lain lebih dekat.
Gio menghela napasnya dan mengalihkan pandangannya keluar kamar. Kamar yang di tempatnya bersama Lydya adalah kamar paling ujung dari rumah yang mereka tinggali dan dapat memperlihatkan keindahan alam di sekitarnya.
Dirinya tak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini karena seumur hidupnya, Gio jarang sekali ikut berlibur bersama keluarganya. Kemanapun keluarganya pergi hanya Gio yang memiliki sendiri untuk tinggal di rumah. Dia cukup terkejut ketika tiba-tiba saja ibu dari tunangannya itu datang ke rumah neneknya dan memintanya untuk segera berkemas untuk berlibur.
Gio sudah menolak ajakan ibu dari tunangannya itu tetapi karena neneknya juga memintanya untuk berkemas sehingga dia mau tak mau mengemas bajunya bahkan ketika dia mengemas bajunya, dia tak tahu ke mana dia akan pergi. Tak disangkanya dia akan liburan ditempat yang tak pernah dibayangkannya.
Gio mengalihkan pandangannya pada Lydya yang sudah tertidur dengan pulasnya. Tak terasa dia juga ikut mengantuk melihat Lydya yang tertidur. Gio berdiri dari duduknya dan mematikan lampu lalu memasuki futon yang sudah Lydya siapkan tadi untuknya.
Gio merasa tidak enak karena membuat Lydya harus menyiapkan tempat tidurnya tetapi dia merasa berterima kasih karena dia tidak tahu apapun. Perlahan Gio mulai memasuki alam mimpinya dan tertidur.
🖌🖌🖌🖌🖌
Lydya mengejapkan matanya perlahan, dia perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Dia terganggu dengan suara beberapa orang yang berbicara didepan kamarnya. Mereka berbicara saling bersahutan dan membuatnya menjadi sangat berisik di telinga Lydya.
“Akhh!!! mengapa berisik sekali?!!!” ucap Lydya agak keras.
__ADS_1
Lydya mengucek matanya dan melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Suara-suara berisik yang ada didepan kamar Lydya terdengar mulai menjauh pertanda kalau mereka sudah pergi dari depan kamar. Lydya menguap pelan dan merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku bahkan dalam tidur pun tubuhnya tidak bisa merasa nyaman.
Dia baru saja akan berdiri tetapi tertahan ketika dia merasakan sebuah tangan yang melingkar di perutnya menahan pergerakannya. Lydya melihat ke bawah dan benar saja ada tangan yang melingkari perutnya. Lydya mengikuti tangan tersebut dan menemukan siapa pemilik tangan yang dengan nyamannya melingkar di perutnya.
Lydya mengangkat tangannya dan bersiap akan memukul lengan pemilik tangan tersebut tetapi tak jadi karena pemilik tangannya tersebut mulai membuka matanya. Pemilik tangan itu membuka matanya sebentar lalu kembali memejamkan matanya. Lydya menatap tak percaya pada pemilik tangan yang semakin erat melingkar di perutnya.
Dengan kesal Lydya menghempaskan tangan tersebut dan segera berdiri dari posisinya. Lydya menatap kesal pada laki-laki yang tak mengubah posisi tidurnya itu. Bagaimana bisa laki-laki ini ada di bawah selimut yang sama dengannya? Lydya mengalihkan pandangannya ke futon di sebelahnya yang selimutnya tersingkap dengan begitu saja.
“Dasar!!!” ucap Lydya berjalan keluar kamarnya.
Dia terkejut melihat Sato dan Leon duduk bersama di tangga. Mereka terlihat seru membicarakan sesuatu. Perlahan Lydya mendekati keduanya dan melihat mereka tengah membicarakan foto yang ada dalam ponsel yang Leon genggam.
Lydya mempertajam penglihatannya dan seketika dia membulatkan matanya begitu dia melihat jelas apa yang ada dalam foto tersebut. Secepat kilat Lydya merebut ponsel tersebut dan menghapus foto yang dilihat kedua saudaranya itu.
“Apa yang kau lakukan?!!!" ucap Sato merebut kembali ponsel yang ada pada Lydya.
Wajah Sato terlihat kecewa begitu dia lihat foto langka yang dia dapatkan terhapus begitu saja. Tadi ketika dia akan membangunkan Lydya bersama dengan Leon, dia terkejut mendapati saudara sepupunya yang tidur bersebelahan dengan Gio. Tak ingin melewatkan kesempatan begitu saja. Sato segera mengambil gambar mereka.
Sato memandang Lydya cemberut sedangkan Leon hanya diam saja. Tadi dia sudah melarang Sato untuk tidak mengambil foto Lydya dan Gio tetapi mau bagaimanapun Leon melarangnya tidak mengurungkan niatnya untuk mengambil foto Lydya dan Gio.
“Lebih baik dihapus saja,” ucap Lydya berjalan melewati Sato dan Leon.
Sato menatap punggung Lydya yang mulai menjauh dengan kesal tetapi tanpa Lydya ketahui dia sudah mengirimkan foto tersebut kepada kakak laki-lakinya yang berada di rumah. Jadi, kalau yang ada di ponsel terhapus Sato masih memiliki cadangannya dan pasti kakaknya sebentar lagi akan segera tiba ke penginapan ketika dia melihat foto yang dikirimkannya.
Sato tersenyum kecil dan mengikuti Leon yang akan membangunkan Gio.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
__ADS_1
Duh.. duh.. ini orang satu jahil bener..
See ya next time~ (-^〇^-)