
Annyeong~ Hohoho~
Happy Reading
!:sorry'bouttypo
đź–ŚSick Too
Zyta tersenyum lebar dan menepuk kursi di sebelahnya menyuruh putrinya itu duduk di sana. Lydya segera menghampiri keduanya dan duduk disebelah mami nya.
“Apa yang mami lakukan di sini?”
“Ehh? Memangnya tidak boleh? Mami kan sedang menjenguk menan.. eh maksud mami, Gio,” ucap Lydya mengedipkan sebelah matanya pada Karina yang langsung tertawa.
Karina tahu kedatangan Zyta kemari bukan hanya untuk menjenguk putranya saja dan alasan lain tentu saja karena dia memberitahukan sahabat karibnya ini kalau putrinya, Lydya datang kemari. Waktu dia menelepon Zyta tadi dapat dia dengar nada senang dan semangat sahabatnya ini.
Tak perlu menunggu lama, Zyta sudah sampai di rumahnya padahal jarak rumahnya dan rumah Zyta sangat jauh tetapi demi melihat Lydya yang bersama dengan putranya membuat Zyta sesegera mungkin sampai di rumahnya.
“Mami mu ini sangat perhatian sekali loh,”
Karina membalas kedipan mata Zyta dan keduanya tertawa bersama membuat Lydya mengerutkan dahinya bingung. Dia tak paham mengapa dua wanita di depannya ini saling melemparkan tawa dan akhirnya mereka terlibat perbincangan sedangkan Lydya hanya diam mendengarkan keduanya saling bercerita.
Tak terasa sudah dua jam berlalu, Lydya pamit lebih dahulu karena dia memiliki tugas rumah. Zyta memberikan kode mata pada Karina berulang kali menyuruh untuk mengejar putrinya. Karina yang paham langsung mengejar Lydya.
“Lydya, tunggu!”
Lydya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sahabat ibunya bingung.
“Sebelum pergi, bisa lihat kan Gio?”
Lydya mengerutkan dahinya bingung, dia melirik ke belakang Karina dan melihat mami nya saat mengalihkan pandangan. Pasti mami nya yang menyuruh. Lydya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Karina tersenyum senang.
“Ayo, tante tunggu di bawah,” ucap Karina menggandeng Lydya berjalan menuju tangga.
Lydya kembali mengangguk dan menaiki tangga. Karina segera melesat pergi kembali ke halaman belakang begitu Lydya tak memperhatikannya. Sebelum memasuki kamar Gio, Lydya melihat ke bawah dan tak menemui sahabat mami nya di sana.
__ADS_1
Lydya hanya bisa menggelengkan kepalanya, mau itu mami nya atau sahabat mami nya. Dua orang wanita itu tidak ada bedanya. Lydya membuka pintu kamar Gio dan mengintip ke dalam. Lydya tersenyum canggung melihat Gio yang terjaga dan menatap ke arahnya.
“Err... mama ingin aku melihat mu dan kelihatannya kau baik-baik saja. Kalau begitu aku pergi dulu,”
“Tunggu!” cegah Gio begitu Lydya hendak menutup pintu kamarnya.
Lydya kembali menyembulkan kepalanya dan menatap Gio bingung.
“Temani aku dulu,”
“Emm.. Aku ada tugas dengan Leon jadi...,”
“Sebentar saja,” sela Gio memandang Lydya memohon.
Lydya menghela napasnya dan memasuki kamar Gio yang terus melihatnya dari dia masuk hingga duduk di kursi yang dia duduki tadi. Lydya duduk menyilang kaki dan bersedekap.
“Tak kusangka kau bisa sakit,”
Gio hanya bisa tersenyum melihat ucapan Lydya yang masih sama pedasnya seperti biasa. Sudah setengah tahun dia mengenal tunangannya ini dan tunangannya ini memang selalu berbicara pedas kepada siapa saja sesuka hatinya.
“Ucapan ku memang menyakitkan tetapi setidaknya aku tidak jahat,”
“Iya.. iya.. kau baik bahkan dengan baiknya mau membantu merawat ku. Aku seharusnya berterima kasih. Ter...,”
“Hmm.. Ii daro(Gak apa-apa),” ucap Lydya cepat.
Gio memutar bola matanya malas melihat Lydya tersenyum lebar. Hingga saat itu, mereka menjadi semakin dekat daripada sebelumnya dan tak jarang mereka pergi keluar bersama hanya berdua saja. Lydya akan pergi dengan Gio ketika Leon tidak tahu karena jika dia sampai tahu, kembaran nya itu sudah pasti akan memaksa untuk ikut.
Walau terkadang Lydya sudah sembunyi-sembunyi tetapi tetap saja tak jarang dia ketahuan oleh Leon dan jalan terbaik adalah kembali ke kamarnya dan membatalkan rencana pergi bersama daripada Leon ikut dan membuat kerusuhan.
Lydya memilih untuk membatalkan rencananya jika dia ketahuan oleh Leon, beberapa kali dirinya juga pernah ketahuan oleh kakaknya dan yang Lydya lakukan adalah menyuap kakaknya. Lydya akan membelikan apapun yang Ryu minta sebagai bayaran tutup mulut.
Beruntungnya dia tak pernah ketahuan oleh mami atau papi nya walau dia yakin dirinya ketahuan pun kedua orangtua nya itu akan bersikap tak tahu dan membiarkannya apalagi mami nya yang dengan semangat segera meninggalkannya begitu memergoki nya dirinya yang hendak keluar.
Lydya sampai jatuh sakit karena terlalu sering bermain dengan Gio. Seperti biasa, Lydya terserang demam setengah harinya.
__ADS_1
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Gio masuk ke kamar Lydya dengan berisi sarapan untuk tunangannya ini.
Lydya melirik Gio dan menggeleng lemah. Sekujur tubuh Lydya terasa sakit juga panas dan kepalanya berdenyut pusing bahkan menggerakkan jari-jarinya saja terasa berat baginya. Lydya hanya bisa menggeleng dan mengangguk dengan pelan.
Gio duduk disebelah Lydya yang sedang memejamkan matanya. Napasnya terengah-engah seperti terakhir kali dia melihat Lydya demam saat liburan kemarin.
“Masih jam 8. Sarapan dulu lalu kembali tidur,” ucap Gio membantu Lydya bangun dan duduk.
Jika sedang sakit tubuh Lydya yang biasanya kuat akan sangat lemah jadi dia memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan sesuatu. Lydya bersyukur ada Gio di sampingnya. Dia jadi merasa tidak enak dengan laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya ini.
Seharusnya Gio berangkat ke sekolah tetapi pagi-pagi buta mami nya datang ke rumah Isaac dan memaksa Gio untuk datang ke rumah untuk merawatnya. Jadi, mami nya mengirim dua surat berbeda, untuknya yang sakit dan Gio yang sedang ada acara keluarga.
Sialnya. Hari ini, mami dan papi nya ada perjalanan bisnis ke luar kota. Kakek dan neneknya sedang liburan entah ke mana sedangkan nenek buyut nya ada di Jepang. Para pelayan juga sedang libur dan tidak ada satu pun orang di rumah kecuali dirinya dan Leon dan kakaknya, dia tak tahu ke mana pria itu pergi.
Tadi pagi, Leon ingin mengirim surat izin tetapi mami memaksanya untuk tetap berangkat dan membiarkan Gio yang mengurusnya. Lydya tahu mengapa mami nya melarang Leon mengirim surat izin, tentu saja untuk membiarkannya berdua dengan Gio.
Mami dan pikirannya selalu bisa membuat Lydya bungkam. dia tidak pernah memahami jalan pikiran mami nya itu.
“Biarkan aku menyuapi mu,”
Lydya menganggukkan kepalanya patuh. Dia tidak bisa melakukan apapun sekarang selain bernafas, matanya pun sulit dibuka bahkan membuka dan mengunyah makanan memerlukan waktu yang lama untuk Lydya.
Lydya sangat benci dengan demam dan musuh terbesar Lydya adalah demam karena ketika demam sudah menyerangnya pasti tubuhnya akan sangat lemas dan tak bertenaga. Lydya jadi kesusahan melakukan hal-hal yang sangat ringan sekalipun.
Gio menyuapi Lydya dengan sabar sama seperti yang Lydya lakukan padanya. Setidaknya dia sudah tidak mempunyai utang pada Lydya yang sudah merawatnya kemarin.
Mami Lydya tadi berpesan untuk merawat Lydya dengan penuh kesabaran karena jika Lydya terkena demam dia akan sangat lemas hingga tidak bisa melakukan apapun dan benar saja seperti yang mami Lydya katakan. Tunangannya ini terlihat sangat lemah dan tak berdaya.
Beruntungnya, Lydya hanya akan demam setengah hari dimulai dari jam 1 pagi hingga 12 siang. Hal yang tak pernah Gio duga, dia tak percaya ada juga orang yang demam hanya 12 jam saja. Baru pertama kali inilah dia menemuinya.
Dan jam duabelas telah, demam Lydya berangsur sekitar jam sepuluh hingga jam duabelas dia sudah terlihat segar kembali dan tersenyum lebar padanya. Gio hanya bisa menggeleng heran melihat keanehan pada tunangannya ini.
Lydya benar-benar perempuan yang penuh kejutan.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
__ADS_1
See ya ~(~ ̄▽ ̄)~~