
Happy~ Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Get Ready?
“Tolong panggil kan Akira untukku,” ucap Lydya pada pelayan yang selalu membantunya.
Pelayan itu mengangguk lalu membungkuk dan melesat pergi secepatnya untuk menjalankan perintah Lydya.
“Maaf atas ketidaknyamanan nya tetapi tolong tunggu sebentar,” ucap Lydya tersenyum bisnis.
Dia akan menunjukkan bagaimana dirinya ketika bekerja. Keluarga Linda menganggukkan kepala mereka dan menjawab tidak apa-apa. Lydya tersenyum melihatnya lalu dia mengalihkan pandangannya dari keluarga Linda ke Linda dan tersenyum manis, Linda yang melihat itu mendengus tak suka dan mengalihkan pandangannya membuat seorang wanita paru baya yang Lydya rasa seumuran dengan mami nya menyenggol Linda dan menegurnya.
Seorang laki-laki datang dengan terburu-buru bersama pelayan yang Lydya suruh tadi. Akira membungkukkan badannya pada Lydya.
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Li-sama?”
Lydya tersenyum, “Tolong atur kan kamar untuk mereka di rumah itu dan untukku atau jika bisa jangan sampai ada rumah yang kosong juga tempatkan pelayan utama bersama mereka dan untuk Leon, teman dan juga tunangan ku. Tempatkan mereka di rumah pertama dan kosongkan satu kamar untukku. Ku percayakan semuanya padamu,”
Akira menganggukkan kepalanya patuh, “Ya, Li-sama,”
Akira segera menyuruh pelayan yang datang bersamanya untuk mengumpul pelayan utama dan menyuruh pelayan lainnya membantu menaruh barang-barang tamu nona mudanya. Tanpa perlu bertanya, Akira tahu orang-orang yang datang dengan nona mudanya ini adalah tamu penting nona nya.
“Selamat menikmati waktu liburan anda di penginapan kami,” ucap Lydya membungkukkan badannya hormat pada para tamu tak terduganya.
Leon segera mendekat pada Lydya dan juga membungkukkan badannya. Keluarga Linda juga membungkukkan badan mereka gelagapan. Mereka tidak menyangka akan diperlakukan begitu istimewa. Mereka juga melihat tangga yang tadi mereka lewat terbentang papan dengan tanda silang besar dan dibuka ketika perempuan yang sedang membungkukkan badannya ini akan lewat.
__ADS_1
Lydya menegakkan badannya dan melihat kepala pelayan melakukan pekerjaannya dengan patuh dan cepat. Akira adalah pelayan yang dia pilih sendiri dan dia angkat menjadi kepala pelayan di penginapan. Lydya senang melihat cara kerja Akira yang cepat.
“Apa yang kau rencanakan?”
“Hmm.. kau akan tahu sendiri,” ucap Lydya tersenyum misterius tanpa menoleh pada Leon.
Dia terus memandang pada Akira yang melayani para tamu satu persatu. Lydya mempercayai Akira untuk melayani keluarga Linda karena hanya Akira dan para pelayan utama yang bisa berbahasa lain selain bahasa Jepang dan tentunya bahasa yang dia gunakan. Jadi, Lydya lebih percaya mempercayakan pekerjaannya pada Akira dan para pelayan utama daripada pelayan biasa.
Ditambah lagi Akira dan para pelayan utama adalah pelayan yang paling jarang menerima tamu. Mereka hanya menerima tamu dan melayani para tamu penting jadi mereka hanya akan melayani para tamu jika disuruh secara khusus.
“Mengapa?” tanya Lydya tersenyum miring pada Leon yang terus memandangnya.
“Kau ini memang aneh. Aku kadang masih tidak bisa memahami apa yang kau inginkan dan juga...,”
“Dan juga kau bisa memahami karena aku mengizinkan,” sela Lydya menoleh pada Leon.
Leon tersenyum dan mengacak pelan rambutnya. Saudari kembarnya ini memang luar biasa. Semua yang selama ini Leon rasakan karena memang Lydya yang membuatnya bisa merasakan apa yang Lydya rasakan. Lydya sama persis dengan kakek mereka yang di sini. Sebuah kelebihan yang hanya bisa didapat satu orang di setiap generasi keluarga Hanazawa.
Dia dan Lydya memang tidak menyandang nama Hanazawa tetapi tetap saja ada darah keluarga Hanazawa yang mengalih dalam darahnya dan Lydya. Mereka memang kembar tetapi tetap saja mereka berbeda. Leon yang memiliki kelebihannya sebagai anggota keluarga Mezzaluna lalu Lydya memiliki kelebihan sebagai anggota keluarga Hanazawa dan Mezzaluna.
Saudari kembarnya ini malah tidak terlihat seperti seorang Mezzaluna tetapi seperti seorang Hanazawa. Mungkin dulu, Tuhan ingin membuat Lydya lahir sebagai Hanazawa tetapi di urungkan dan Tuhan membuat Lydya lahir sebagai Mezzaluna.
Jika saja Lydya benar-benar terlahir menyandang nama Hanazawa. Semua usaha yang Hanazawa kembangkan pasti sudah berada di tangan Lydya beberapa tahun lagi dan Lydya akan menjadi pemimpin keluarga Hanazawa seperti nenek buyut mereka atau bahkan nenek moyang mereka, sang pendiri keluarga Hanazawa di tengah kepemimpinan kepala keluarga yang harus seorang laki-laki.
“Kau masih ingin berdiri di sini atau masuk?” tanya Hera menepuk bahu Leon.
Eiza, Melani, dan Gio sudah berjalan lebih dahulu memasuki rumah pertama di mana Lydya masuk tadi.
__ADS_1
Leon tersenyum kecil, “Kurasa aku akan tinggal dengan Gio malam ini,”
Hera ikut tersenyum, “Pastinya,”
Sudah pasti Lydya tidak akan mau tinggal satu kamar dengan tunangannya apalagi ada kekasih dari tunangannya di sini ditambah lagi ada keluarganya juga. Lydya pasti akan meminta kamar terpisah untuk dirinya sendiri.
“Lydya orang yang sangat teliti dan penuh rencana,” lanjut Hera.
Setelah selama beberapa hari di sini, Lydya hanya bisa bekerja atau istirahat setelah kejadian itu. Tidak ada hal yang menarik perhatiannya dan membuatnya tidak bosan. Lydya memang terlihat tak tertarik dengan kekasih Gio tetapi tidak ada yang tahu apa yang sedang di rencana Lydya untuk kekasih tunangannya itu.
“Kurasa kita akan melihat hal bagus selama tiga hari ke depan,” ucap Leon mengangguk menyetujui ucapan Hera.
Dia tahu saudari kembarnya itu pasti sedang membuat rencana untuk mengganggu kekasih Gio ditambah lagi saat ini saudari kembarnya itu adalah tunangan Gio. Sudah pasti Lydya akan mengganggu kekasih Gio itu. Leon menggelengkan kepalanya memikirkan kemungkinan apa yang akan Lydya lakukan pada Linda.
“Aku jadi tidak sabar,” ucap Hera tak sabar ingin melihat apa yang akan Lydya lakukan pada kekasih tunangannya itu.
“Ehhh.. ternyata kau jahat juga,”
Hera hanya tersenyum miring menjawab ucapan Leon dan berjalan lebih dahulu menuju rumah pertama lalu memasuki kamarnya bersama dengan Eiza dan Melani sedangkan Leon sekamar dengan Gio.
Gio yang sedang duduk di dekat jendela menatap Leon yang masuk ke kamar dengan bingung, “Don’t ask? Ini karena kekasih mu datang jadi kalian tidak bisa satu kamar,”
Leon melewati Gio dan membuka pintu menuju pemandian air panas pribadi. Gio hanya menganggukkan kepalanya patuh. Benar juga apa yang dikatakan Leon, mereka tidak mungkin tinggal dalam satu kamar dan lagipula dirinya juga belum memberi tahu Linda soal pertunangannya dengan Lydya.
Jika dia dan Lydya tinggal di kamar yang sama, entah bagaimana jadinya nanti. Mungkin Linda akan sangat marah dan kecewa padanya atau mungkin Linda akan membencinya. Gio tidak ingin menyakiti Linda dalam hal apapun itu. Dia akan selalu membuat kekasihnya itu senang bagaimanapun caranya.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
__ADS_1
See ya next time~ fufufufu~ (˶‾᷄⁻̫‾᷅˵)(˶‾᷄⁻̫‾᷅˵)