
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
đź–ŚStrange
Lydya segera merebahkan tubuhnya di atas kasur begitu dia sampai di kamarnya bahkan tadi dia hanya menyapa mami, papi, kakek, nenek, dan buyut nya sebentar karena dia sangat kelelahan. Lydya tadi tidak ada waktu untuk beristirahat karena begitu pekerjaannya selesai dia langsung berangkat ke bandara.
Lydya menghela napasnya panjang ke dalam bantal. Seharusnya dia bisa menikmati waktu liburannya dengan bersantai penuh tetapi mami nya sangat ingin segera mengirimnya ke Jepang dan lihatlah apa yang terjadi. Dirinya tak menyangka akan bertemu lagi dengan Ryu setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
Pria itu masih sama menjijikkannya dengan terakhir kali mereka bertemu. Lydya memiringkan kepalanya di atas bantal, dia tak menyangka Ryu masih menyimpan dendam padanya tetapi Lydya melakukan itu juga bukan karena keinginannya.
Anak kecil mana yang tidak akan takut ketika dia sedang di lecehkan. Dirinya yang sudah besar ini masih tak menyangka dirinya yang masih kecil bisa berbuat seperti itu. Dirinya sendiri tak tahu apa yang dirinya kecil pikirkan tetapi yang pasti saat itu yang Lydya pikirkan hanya bagaimana caranya mempertahankan diri.
Dia masih ingat jelas bagaimana Ryu yang melemah di atas tubuhnya. Lydya kecil yang panik dan ketakutan mengambil gunting bekas dia membuat mainan dengan Leon di dalam kamar. Awalnya Lydya hanya ingin menggunakannya untuk mempertahankan diri dan menakuti Ryu.
Tetapi, Ryu terlihat tak takut sama sekali dan tanpa sadar dia...
Tok! Tok! Tok!
Lydya tersadar dari ingatannya di masa lalu, dia berdiri dari tiduran nya dan berjalan menuju pintu dan membukanya. Seorang pelayan mengatakan kalau makan malam sudah siap dan Lydya diminta untuk ke ruang makan. Lydya hanya mengganggu dan menyuruh pelayan itu pergi.
Lydya menghela napas pelan dan berjalan ke kamar mandi. Dia belum sempat mandi sesampainya di rumah. Dia akan mandi sebentar sebelum ke ruang makan. Tidak akan menjadi masalah jika dia terlambat. Tak memerlukan waktu lama baginya untuk mandi.
Sekarang dia sudah selesai memakai yukata yang tersimpan rapi di dalam almari disebelah almari baju biasanya. Lydya memilih yukata
Setelah itu, Lydya segera keluar dari kamarnya dan mendatangi ruang makan. Mungkin semuanya sudah mulai makan dan dia hanya terlambat sedikit.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Liburan telah usai dan para siswa-siswi kembali ke rutinitas mereka masing-masing di sekolah. Saat ini mereka memasuki ajaran semester dua dan Lydya mulai menunjukkan tanda-tanda malas untuk ke sekolah. Tak jarang Lydya beralasan sakit untuk menghindar berangkat ke sekolah dan berakhir dengan omelan dari mami nya.
Lydya meletakkan kasar kepalanya di atas meja. Dia benar-benar malas berada di sekolah, dia ingin berada di rumah saja atau bermain entah ke mana. Seharusnya tadi dia membawa baju ganti dan tidak usah ke sekolah alias bolos sekolah.
__ADS_1
“Ada apa denganmu?” tanya Melani yang baru saja datang dan duduk di kursinya.
Lydya hanya menghela napasnya panjang membuat Melani menatap Eiza dan Hera bingung. Eiza mengedikkan bahunya tak tahu sedangkan Hera fokus pada ponsel nya. Melani kembali menatap Lydya yang masih pada posisinya.
“Sakit?” tanya Melani.
Lagi-lagi Lydya hanya menghela napasnya panjang, kali ini lebih panjang daripada yang pertama membuat Eiza dan Melani mulai khawatir jika ada apa-apa dengan teman mereka ini. Mereka memang sering melihat Lydya menaruh kepalanya di atas meja tetapi tidak sampai menghela napas panjang seperti sekarang.
“Tidak usah dipikirkan. Dia hanya ingin bolos sekolah saja,” ucap Hera tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“Kau ini ada-ada saja,” ucap Eiza menggelengkan kepalanya.
“AKH!!! LEON!!!” pekik Lydya ketika kepalanya ditekan di atas meja.
Dia tahu siapa yang menekan kepalanya. Lydya memukul berulang-ulang tangan kembaran nya yang tak segera pindah dari atas kepalanya dan malah semakin keras menekan kepalanya membuat Lydya merasa kesakitan sedangkan Leon sendiri tertawa bahagia melihat kembaran nya tersiksa.
“Leon, jangan macam-macam denganku!” peringati Lydya membuat Leon langsung melepaskan tangannya.
Leon duduk di kursi dengan tawanya yang terus berlanjut. Lydya menolehkan kepalanya ke belakang dan mengulurkan kepalan tangannya hendak memukul Leon tetapi tak sampai karena Leon sudah lebih dahulu menghindar.
Lydya mengambil penggaris dari dalam loker mejanya dan memukulnya pada Leon yang berusaha menghindar dengan tawanya yang tak kunjung reda membuat Lydya sangat kesal. Lydya memukul kembaran nya berulang kali hingga bel masuk berbunyi.
Dirinya yang masih tidak terima menghentikan kegiatannya memukul Leon dan kembali ke tempat duduknya. Sebelum menghadap ke depan Lydya memicingkan matanya pada Leon dan meletakkan tangan di lehernya lalu menggerakkan seolah-olah sedang mengiris.
Leon menelan ludahnya tegang. Dia hanya ingin menjahili kembaran nya yang mulai suka mencari-cari alasan untuk membolos tetapi tak disangkanya Lydya akan serius. Jika dia tahu akan begini, seharusnya tadi dia tidak mengganggu Lydya.
Pelajaran pertama diisi dengan guru yang tak disukai Lydya bahkan Lydya tak menjawab saat diri di absensi membuat guru itu berdecak tak suka. Leon hanya menggelengkan kepalanya dan menggantikan Lydya mengangkat tangan.
Pelajaran pun selesai dan bel istirahat pun berbunyi, sejak awal pelajaran hingga selesai Lydya hanya menaruh kepalanya di atas meja. Dia tidak tidur hanya merebahkan kepalanya dan matanya terbuka menatap ke depan. Dia juga mendengarkan dan memahami apa yang gurunya ajarkan hari ini.
“Ada apa denganmu hari ini?”
Lydya hanya menatap Leon yang berjongkok di depannya sekilas sebelum memutar kepalanya kearah lain. Dia masih kesal dengan kembaran nya yang sudah menekan kepalanya di atas meja untuk kesekian kalinya ditambah lagi mood-nya sedang tak menentu.
“Heii... jangan marah,” ucap Leon menusuk-nusuk lengan Lydya dengan jarinya.
__ADS_1
“Kau marah padaku?” tanya Leon yang sudah pasti Lydya marah padanya tanpa perlu bertanya sekalipun.
Leon menghela napasnya dan berdiri lalu duduk di samping saudari kembarnya itu. Beruntungnya Hera sedang ke kantin dengan Eiza dan Melani jadi Leon bisa menduduki kursi Hera yang tidak akan pernah bisa duduk karena Hera akan mengamuk jika dia menduduki kursinya.
“Perasaanmu sedang tak menentu,” ucap Leon sejak tadi ditahannya.
Sejak pagi tadi Leon sudah merasakan perasaan kembaran nya yang tak menentu. Lydya hanya diam menatap Leon yang juga merebahkan kepalanya di atas meja. Lydya menutup matanya dan membukanya lagi.
“Mengapa?” tanya Leon.
Lydya hanya mengedikkan bahunya pelan. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa perasaannya ini tak menentu padahal tamu bulanan nya juga sudah lewat tetapi saat ini perasaannya benar-benar campur aduk.
“Apa karena ku?”
Lydya menghela napas pelan dan menggeleng pelan. Ini bukan salah kembaran nya walau dia masih kesal karena Leon menekan kepalanya tetapi perasaan tak menentu ini bukan karena Leon.
“Apa kau sakit?” tanya Leon menyentuh kening Lydya dan terasa normal.
“Aku sendiri tidak tahu mengapa hanya saja... emm... entahlah bagaimana aku bilang nya?” ucap Lydya bangun dari rebahan nya dan mengedikkan bahunya bingung.
Leon juga bangun dari rebahan nya dan menatap kembaran nya bingung. Dia sedih dan tak senang jika tidak mengetahui apa yang sedang Lydya rasakan dan pikirkan. Leon ingin Lydya membagi pikiran dengannya agar tak membebani kembaran nya itu.
“Oh! Iya. Mengapa kau tidak ke kantin? Mana Gio?” tanya Lydya mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak ingin Leon menatapnya sedih dan tak senang sekalian dia menanyai tunangannya yang tak mengajak kembaran nya ke kantin seperti biasa. Lydya mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas mencari keberadaan Gio tetapi nihil.
“Dengarkan kalau guru sedang mengabsen. Gio sakit,”
Lydya menatap Leon tak percaya dengan apa yang didengarkan nya. Tunangannya sedang sakit.
“Hah? Sakit?”
Leon menganggukkan kepalanya. Lydya mengedipkan matanya tak menyangka kalau tunangannya itu bisa sakit padahal badannya besar tetapi bisa juga dia sakit.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
__ADS_1
See next chapta ~(~ ̄▽ ̄)~~