School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
About Love


__ADS_3

Dua hari udh lewat dan skarang waktunya up..


Happy Reading~


!:sorry'bouttpo~ teehee~


🖌About Love


“Ugh!! Ibu, kurasa obi ini terlalu kencang,” protes Lydya saat pelayan membantunya memasang yukata.


Lydya merasa sangat sesak pada bagian di bawah dadanya. Dia bahkan tidak bisa berdiri dan duduk dengan benar. Rasanya ketika dia akan bangun atau duduk seperti akan terjungkal.


“Bahkan aku sampai harus memakai pakaian ini. Pasti ada maksud tersembunyi dari kunjungan ini,”


Lydya kembali mengatakan pemikirannya sejak dia sampai di kamarnya. Dia sudah sangat yakin akan hal ini karena jika dia harus memakai kimono maka ada tamu penting yang menyangkut dirinya.


“Tidak nona muda,”


“Ibu jangan berbohong bahkan para pelayan di rumah juga memakainya. Aku tidak ingin memakainya,” ujar Lydya kembali melayangkan protesnya


Bagaimanapun jawabannya, Lydya sudah yakin 100% kalau ini berhubungan dengannya. Mami nya tidak akan menyuruhnya memakai kimono jika bukan karena dirinya juga ditambah lagi dia juga harus hadir.


“Nona muda, lihatlah anda terlihat sangat cantik dengan ini,” ujar pelayan itu memperhatikan pantulan diri Lydya dicermin.


Lydya mengerucutkan bibirnya kesal, walau tak dapat di pungkiri dirinya terlihat lebih manis dengan pakaian yang tengah dikenakannya ini. Lydya sendiri sampai terpesona dengan pantulan dirinya sendiri. Bahkan rambutnya ditata dengan rapi.



Pakaian yang akan digunakan jika ada nenek buyut di rumah ini. Nenek buyut nya sangat suka dengan orang yang memakai pakaian tradisional jika beliau berada di dalam rumah. Walaupun pakaian yang dikenakannya ini sangat ribet saat akan digunakan tetapi tak dapat di pungkiri kalau dirinya terlihat indah saat dalam balutan pakaian ini.


“Apakah belum cukup mengagumi diri sendirinya?”


Lydya menolehkan kepalanya ke arah pintu dan mendapati sang ibu berdiri di sana dan para pelayan sudah pergi entah ke mana menyisakan dirinya dan wanita yang melahirkannya itu.


“Mami...,” gerutu Lydya lalu melipat kedua tangannya di dada.


Zyta menggelengkan kepalanya lalu melangkah masuk. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar yang dulunya adalah kamar yang ditempatinya sebelum menikah dan sekarang menjadi milik putrinya itu.


Walaupun sebenarnya kamar ini ada untuk setiap anak pertama dari pasangan yang meneruskan kerajaan bisnis Mezzaluna tetapi Zyta tidak ingin apa yang ada di dalam kamar tersebut berubah jadi anak pertama mereka mendapat kamar baru.


Tidak ada yang berubah dari kamar itu bahkan area luar kamar pun tidak berubah sedikitpun, hanya saja ada tambahan satu pot besar berisi bunga mawar tepat ditempat di mana Zyta dulu pernah meloncati pagar tinggi itu menemui pria yang sekarang telah menjadi suaminya itu.


Zyta tersenyum kecil dan membalikkan badannya menghadap gadis remaja yang terlihat seperti duplikat dirinya saat dia masih remaja dulu tetapi tak menghilangkan garis wajah suaminya yang juga terlihat jelas di sana.


Zyta berjalan menuju Lydya lalu mengeluarkan kotak panjang dari dalam kimono nya dan membukanya menampakkan kalung berlian dengan model simple. Lydya mengerutkan dahinya bingung.


__ADS_1


“Berbaliklah,” ujar Zyta dan Lydya membalikkan badannya menuruti ibunya.


Zyta segera memasangkan kalung tersebut. Dia tersenyum melihat kalung tersebut terlihat cocok dengan putri satu-satunya itu. Nona kecilnya ini sekarang sudah menjelma menjadi tuan putri yang siap dijemput oleh pangeran berkuda putihnya.


Dalam hati, Zyta masih tidak dapat membayangkan jikalau putrinya nanti akan dibawa pergi oleh pangerannya. Zyta tidak ingin berada di masa itu. Hatinya sakit. Putrinya, gadis kecilnya, kesayangannya, belahan jiwanya, akan dibawa pergi kekasihnya.


Tetapi, Zyta tidak dapat mencegah hal itu karena memang sudah sepatutnya dia harus melepaskan putrinya ini untuk sang pujaan hati.


“Lihat dirimu. Sangat cantik,” ujar Zyta pelan.


Dia tersenyum kecil melihat putrinya yang terlihat cantik dari pantulan cermin, Lydya hanya diam dan memegang kalung pemberian Zyta.


“Nah.. sekarang, ayo, tamu mami sudah menunggu,” ujar Zyta berjalan mendahului Lydya.


Lydya terdiam di tempatnya dan tak bergerak sedikitpun. Entah mengapa di dalam hatinya terasa sakit seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk hatinya. Terasa sakit dan Lydya tak tau mengapa dia merasakan hal ini.


Dalam senyum kecil ibunya yang Lydya lihat dari pantulan cermin tadi, tersirat sebuah kesedihan di dalamnya. Zyta yang sudah diluar kamar menolehkan kepalanya ke belakang dan tidak mendapati Lydya mengekor di belakangnya.


Dia kembali menuju kamar dan mendapati Lydya berdiri diam menundukkan kepalanya sambil memegangi kalung yang baru saja dipasangnya. Jarang sekali putrinya ini diam seperti itu. Biasanya dia akan banyak bicara jika sudah bertemu dengannya.


“Ly....,”


“Mami,”


Lydya menyela Zyta yang baru saja akan memanggil namanya.


“Eh?!!”


Zyta yang tak siap dengan serangan mendadak dari Lydya, bingung harus melakukan apa. Setelah dia menjawab tiba-tiba saja Lydya berjalan cepat menuju arahnya dan memeluknya dengan erat.


Di tengah kebingungannya karena tingkah tiba-tiba dari Lydya, pipi Zyta memerah setelah mendengar suara lirih dari Lydya. Putrinya ini mengucapkan kata-kata yang diluar pikirannya.


“Mami juga mencintai Lydya. Melebihi apapun,” ucap Zyta balas memeluk Lydya.


Putri kecilnya ini, sejak dia berumur 12 tahun tak pernah lagi mengucapkan kata yang selalu membuatnya berdebar. Kata-kata yang sering dia dengar dari sang suami. Kata-kata yang selalu membuatnya bungkam dan selalu menikmati setiap kata yang keluar.


‘Aku mencintai mami dan papi,’


Itulah kata-kata yang sejak pertama kali Lydya bisa berbicara dan terus terucap hingga dia berumur 12 tahun hingga dia mulai jarang mengucapkan kata tersebut dan terlihat malu jika mengucapkannya tetapi Zyta memaklumi hal tersebut. Lydya sedang ada di masa pubernya jadi wajar jika mulai malu mengucapkannya.


“Ehhh... Sayang ku?”


Lydya berdeham menjawabnya.


“Mau sampai kapan kamu akan memeluk mami?”


“Oh!”

__ADS_1


Lydya segera melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Zyta yang melihatnya terkekeh gemas dan menghadiahi Lydya ciuman di pipi gadis itu.


“MAMI!!!” pekik Lydya memegang pipinya dan Zyta hanya terkekeh.


“Ayo, waktunya menemui yang lain. Kita sudah terlalu lama,”


Zyta mengaitkan tangannya di lengan Lydya dan mereka berjalan bersama disertai canda tawa.


🖌🖌🖌🖌🖌


“Mengapa kalian lama sekali?” tanya Adam saat Zyta duduk di sebelahnya.


“Shtt.. rahasia wanita,”


Adam mendengus mendengar jawaban Zyta yang tak memuaskannya. Selalu seperti itu jika istri dan anak perempuannya berkumpul, baik dirinya atau kedua anak laki-lakinya ingin ikut dalam pembicaraan pasti tidak akan bisa. Salah-salah mereka bisa kena pukul atau pengusiran dan istri juga putrinya ini tidak akan memberitahukan apa yang sudah mereka bicarakan.


“Sayang, kenalkan ini...,”


“Tunggu Zy. Biarkan kami sendiri yang mengenalkan diri kami. Aku ingin lebih dekat dengan putrimu yang cantik ini,” ujar wanita yang duduk disebelah Lydya.


“Baiklah, terserah apa katamu,” ujar Zyta mengangkat gelas tehnya dan menyeruput nya pelan.


“Namamu Lydya, kan?”


Lydya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sopan.


“Nama tante Karina, kamu bisa panggil tante Kana atau mama Kana juga boleh kok,”


Karina mengedipkan matanya pada Zyta dan yang dikedipi hanya terbatuk pelan dan mengalihkan pandangannya. Lydya mengerutkan dahinya bingung melihat tingkah ibu dan wanita yang baru dikenalnya ini.


“Dan ini suami tante, eh! Mama aja ya, biar lebih dekat. Namanya Mahesa Isaac, kalau dia panggil aja om Mahes,”


Karina melirik suaminya lalu tersenyum lembut pada Lydya dan Lydya hanya menganggukkan kepalanya.


“Oh ya! Mama sampai lupa dan ini anak mama namanya Diegio,”


Lydya mengalihkan pandangannya pada pria di depannya yang sejak tadi hanya diam saja dan menundukkan kepalanya, tak mengucapkan apapun. Sekilas wajahnya terlihat tak asing di matanya tetapi Lydya tak yakin di mana dia pernah melihat wajah itu. Lydya sedikit tersadar saat Karina memukul putranya itu dengan kesal karena dia hanya diam saja.


Pria itu mengangkat kepalanya, “Gio,”


Lydya yang masih ada lamunannya hanya menganggukkan kepalanya.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


Yeaattt... yeattt... ML-nya dah keluar...


(*^3^)/~♡

__ADS_1


See ya next time..


__ADS_2