
Lydya.. Lydya.. Lydya..
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Worse
Lydya masih terdiam beberapa saat sebelum dia menolehkan kepalanya pada Haru. Pandangan Lydya tidak kosong lagi, ada yang tengah dipikirkan adik sepupunya itu walau dia masih mengunci rapat bibirnya. Haru melirik Leon yang juga menatap Lydya. Dia tahu kalau Leon berusaha membaca apa yang Lydya pikirkan dari mata Lydya.
Haru menelan ludahnya tetapi tetap tersenyum pada Lydya. Dirinya tahu, dia tidak boleh sekalipun menjanjikan apapun pada Lydya yang baru saja melepaskan emosinya. Tetapi, melihat adik sepupu kesayangannya itu hanya diam saja dengan pandangan kosong membuat dirinya khawatir. Dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Leon menyerah, dia tidak bisa memahami apa yang Lydya pikirkan. Memang terlihat normal dan tatapan itu masih sama dengan tatapan Lydya keluar kamar. Terlihat kosong tetapi tetap ada yang dipikirkannya.
“Katakan. Apa yang kau inginkan?” desak Haru.
Lydya hanya diam memandangnya. Dia bisa melihat tatapan mata Lydya sempat kembali seperti semula tetapi setelah itu kembali kosong.
“Nii-san!!!!!”
Haru melirikkan tajam pada adiknya. Sato yang melihat itu membungkam bibirnya, dia takut pada kakaknya yang sudah meliriknya tajam tetapi dia tidak bisa membiarkan kakaknya terlibat masalah yang sama seperti yang dilakukan ayah mereka dulu.
Ingatan Sato kembali ke masa di mana dia yang untuk pertama kalinya melihat sisi lain dari diri Lydya. Sato takut pada Lydya setelah melihat sisi lain Lydya tetapi dia sadar semua bukan sepenuhnya salah Lydya karena yang memulai semuanya adalah Ryu, sepupu jauhnya.
“Biarkan aku menyelesaikan apa yang kulakukan,”
Haru, Sato, dan Leon membulatkan mata mereka. Lydya mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakannya dulu. Hera sedikit mengerti ucapan Lydya merasa bulu kuduknya berdiri. Nada bicara Lydya sangat dingin, datar, dan menakutkan. Eiza dan Melani yang mendengarnya pun merasakan hal yang sama. Mereka terkejut Lydya bisa berbicara dengan nada yang menakutkan seperti itu.
Gio yang hanya diam saja juga bisa merasakan apa yang dirasakan yang lainnya. Dia jadi teringat kembali percakapannya dengan Leon tadi pagi. Dia benar-benar masih jauh dalam mengenal tunangannya. Lydya memiliki hal-hal yang tak bisa diketahuinya dengan mudah. Nada bicara Lydya yang dingin pun seolah-olah membangun pagar beracun yang membuat siapa pun enggan untuk mendekat.
__ADS_1
“Tidak. Mau bagaimanapun dia tetap saudaraku,” tolak Haru cepat.
Ekspresi wajah Lydya menjadi datar kembali dan pandangannya kembali kosong. Haru mengerutkan dahinya, dia mulai menebak-nebak apa yang akan saudara sepupunya ini lakukan.
“LYDYA!!!!!”
Teriakan penuh kepanikan memenuhi kamar begitu Lydya bergerak menggerakkan tangan kirinya menuju leher Haru dan mencekik nya. Leon dan Sato mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk melepaskan tangan Lydya dari leher Haru tetapi tetap saja, tangan Lydya seolah-olah menancap dengan keras di leher Haru.
Leon dan Sato terkejut begitu tiba-tiba tubuh Lydya terhempas ke belakang dan cekikan nya pada leher Haru terlepas.
Plak!!!
“Kakak?” gumam Leon ketika dia melihat punggung kakaknya.
Leon yang masih belum sepenuhnya sadar dari paniknya melihat Lydya yang mencekik Haru tak menyangka bisa melihat kakaknya berdiri di depannya saat ini. Leon mengalihkan pandangannya dari punggung Ray ke Lydya yang tengah menatap kakak mereka dengan mata bergetar ssmbil memegang pipinya.
Ray baru saja menampar Lydya tepat di mana memar di wajah Lydya berada. Leon bisa merasakan panas dan nyeri di pipi kanannya, terasa seperti bekas tamparan.
Semua mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Di sana Zyta berdiri dengan wajah sembab nya. Dengan langkah lebarnya dia mendekati putri kecilnya dan memeluknya erat. Lydya yang berada di pelukan tak menunjukkan ekspresi apapun, Lydya hanya terus memegang pipinya yang baru saja ditampar.
Leon menghela napasnya lega melihat mami dan papi nya datang. Perlahan pandangan Leon mengabur dan dia pun jatuh pingsan tepat setelah Lydya pingsan dalam pelukan mami mereka. Jantung Leon berdegup dengan kencang dan sakit di sekujur tubuhnya bahkan ada perasaan takut di sana dan semua itu adalah apa yang Lydya rasakan saat ini.
🖌🖌🖌🖌🖌
Perlahan Leon mengejapkan matanya, samar-samar dia mendengar suara dari ruangan di samping. Leon mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan dan menemukan Lydya terbaring di sampingnya dengan mata terpejam dan napas teratur. Leon menghela napasnya lega, Lydya terlihat lebih tenang daripada tadi.
Leon bangun dan duduk disebelah Lydya, hari ini adalah hari yang sangat berat bagi Lydya. Leon bisa merasakan seluruh perasaan campur aduk yang Lydya rasakan. Dia bersyukur bisa terlahir sebagai kembaran Lydya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka terlahir terpisah. Dia tidak akan bisa merasakan apa yang Lydya rasakan.
Leon berdiri dari duduknya dan membuka pintu samping. Keluarganya tengah berkumpul dengan Ryu yang duduk dengan sikap sopannya. Kepala keluarga Hanazawa yang juga kakeknya tengah menanyai Ryu tetapi laki-laki itu tak menjawab apapun bahkan raut wajahnya tak terlihat merasa bersalah malah terlihat kesal dengan terus mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Jawab pertanyaanku!”
“Sayang, tenanglah. Ingat kesehatanmu,”
Leon berjalan mendekati Ray dan duduk di sebelahnya, “Kau sudah merasa sehat?”
Leon menganggukkan kepalanya. Ray sudah tahu kalau Leon juga bisa merasakan apa yang Lydya rasakan. Dulu ketika pertama kali dia mengetahui saat Lydya terjatuh dari sepeda dan Leon yang sedang bermain dengannya di kamar tiba-tiba saja menangis dan bilang kalau kaki kirinya sakit sekali.
Ray yang saat itu tak kebingungan segera menggendong Leon untuk pergi menemui dokter, dia tak sengaja berpapasan dengan papi mereka yang sedang mengendong Lydya dengan lutut kirinya yang berdarah sangat parah. Adam merasa bingung melihat putra pertama nya yang sama panik dengannya sambil menggendong Leon. Ray menjelaskan kalau lutut Leon terasa sakit.
Adam yang sudah panik melihat lutut putrinya yang tak berhenti mengalirkan darah membawa anak kembarnya ke dokter. Anehnya, ketika dokter memeriksa lutut kiri Leon tidak ada keanehan apapun tetapi Leon bilang kalau kakinya terasa sangat sakit dan mulai saat itulah Ray mulai sadar kalau Leon dan Lydya saling bisa merasakan sakit satu sama lain.
Leon lah yang akan menggantikan Lydya menangis ketika adik perempuannya itu terluka dan Leon pun sering mengatakan kalau bagian tubuhnya sakit sama persis dengan bagian tubuh Leon yang terluka bahkan Lydya pun juga bisa merasakan sakit yang Leon rasakan. Ray selalu kagum dengan perasaan kuat yang saling menghubungkan si kembar.
“Heh! Ke mana dia? Urusan kami belum selesai. Aku belum cukup puas menghajarnya setelah apa yang dilakukannya padaku,”
Ray tersadar dari ingatannya di masa lalu ketika Ryu berbicara. Pandangan Ryu tajam menatap Leon. Ryu sama sekali tak terlihat merasa bersalah. Ray sangat ingin sekali melayangkan tinjunya di wajah Ryu yang terus tersenyum menyebalkan.
Plak!!!
[rasanya geli nulis tulisan diatas]
“Cukup!! Aku akan memanggil kedua orangtua mu kemari dan mengirim mu keluar negeri. Kau hanya membuat malu nama keluarga,”
Ryu memegang pipinya yang baru saja di tampat oleh kakeknya. Pandangan Ryu tak berubah sedikitpun dan malam menatap kakeknya tajam. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan. Tatapan Leon tak lepas sedikitpun dari Ryu. Dia bersyukur laki-laki yang sudah menyakiti adiknya akan dikirim jauh dan mendapatkan tamparan di pipinya.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Wo... woaahh (ง'-̀̀'́)ง (ง˃̶͈⚰˂̶́)ง⁼³₌₃
__ADS_1
See ya 2 days later~