
Awkawkawk.. setiap tulisan miring itu komunikasi pake bhasa JPN..
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌One Room
“Futago-san!!! ”
Tubuh Lydya dan Leon hampir saja terjatuh begitu mereka menyelesaikan segala keperluan menginap teman-temannya tiba-tiba saja ditubruk dan dipeluk oleh empat orang anak kecil berumur 3-5 tahun. Mereka memeluk Lydya dan Leon dengan wajah sumringah. Salah satu di antara mereka mengangkat tangannya meminta Leon untuk menggendongnya.
“Hoo.. Irrashai itoko (selamat datang sepupu),”
Wajah Lydya maupun Leon langsung berubah datar begitu dia mendengar suara yang sangat familier dan melekat erat dikepala keduanya. Suara saudara sepupu laki-laki mereka. Sato Hanazawa.
“Oh! Konnichiwa Sato (Hai, Sato),” ucap Lydya dan Leon malas.
Sato yang mendengar nada malas dari kedua sepupu kembarnya hanya tersenyum. Dia sudah hafal bagaimana kekesalan sepupunya ini pada dirinya. Itu karena dia suka sekali mengganggu keduanya jika mereka datang kemari.
Sudah menjadi rahasia umum bagaimana tingkah ketiganya di keluarga Hanazawa. Mereka selalu saling bertengkar dan mengganggu satu sama lain walau Sato sudah tahu bagaimana akhir dirinya di tangan si kembar tetapi tetap saja dia tidak pernah jera mengganggu Lydya dan Leon.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lydya sengit.
“Aku berada di sini secara khusus untuk mengantar kalian berdua. Kalian bantu yang lainnya dan yang dua ini biarkan aku yang mengurusnya,” ucap Sato pada beberapa pelayan di belakangnya.
Mereka mengangguk dan segera menjalankan perintah dari Sato. Lydya maupun Leon hanya mendengus melihat saudara sepupu laki-laki mereka. Dia terlihat besar kepala bisa memerintah para pelayan.
“Akh! Berikan kamar disebelah kamar Lydya pada laki-laki itu,” ucap Sato menunjuk Gio lewat matanya.
Pelayan yang membantu Gio menganggukkan kepalanya dan teman-teman Lydya juga Leon sudah diantar menuju kamar mereka masing-masing. Mereka keluar dari lobby penginapan dan menaiki tangga yang bersebelahan dengan area depan penginapan.
(Garyu Sanso, Ozu, Japan)
Ini berbeda dengan yang Eiza ingat dulu. Dia memang pernah melihat tangga ini tetapi tak pernah melewatinya karena terbentang rantai dengan papan bertulisan Jepang yang tak Eiza pahami artinya dan yang dia tahu kalau dia tidak bisa lewat tangga itu dan waktu itu dia dengan keluarganya di arah ke tangga yang berbeda dengan yang mereka lewati sekarang.
__ADS_1
Tangga yang mereka lewati berubah menjadi jalan setapak dan kembali menjadi tangga sebanyak dua kali sebelum terlihat rumah tersendiri yang jauh dari penginapan utama. Ternyata ada tempat lain yang tak kalah indahnya dengan di penginapan utama.
“Tidak mungkin kau mengantar kami dengan suka rela,” ucap Leon.
“Hmm.. pasti kau ada maksud tertentu dengan kami, kan?” ucap Lydya menyetujui ucapan Leon.
Mereka berjalan paling belakang. Sato hanya tersenyum lalu berhenti dan berbalik ketika mereka sampai di rumah penginapan pribadi yang khusus diperuntukkan untuk anggota keluarga saja. Ada sekitar empat rumah yang ada di daerah paling sendiri dan cukup jauh dari penginapan utama.
“Tunggu? Mengapa aku ditempatkan di sini?! Bukankah seharusnya aku...,”
Sato kembali tersenyum dan menyela ucapan Leon, “Itu karena kau harus sekamar denganku,”
Leon menatap Sato tak mengerti. Mengapa seharusnya dia sekamar dengan Gio tetapi mengapa dia sekamar dengan Sato? Jangan bilang kalau Sato juga harus membantu di sini? Lalu bagaimana dengan Gio? Leon melihat Gio yang di antara ke rumah yang berbeda dengannya dan yang lainnya.
Mengapa Gio diantarkan ke tempat lain? Bukankah disebelah mereka juga ada dua kamar yang tersisa dan setiap rumah juga memiliki 4 ruangan di dalamnya.
“Antarkan sepupu perempuanku ke kamarnya,” ucap Sato pada salah satu pelayan dari dua orang yang mengikuti dibelakang Lydya dan Leon.
Lydya dan Leon menatap Sato tak percaya, “Mengapa aku tidak sek...,”
“Ini perintah dari bibi Zyta,” sela Sato dengan senyum manis di bibirnya.
“Nee.. nee.. kau pasti lelah. Ayo masuk lalu istirahat dan biarkan kembaran mu beristirahat juga,” ucap Sato mendorong tubuh Leon memasuki kamar.
Leon masih tak rela masuk kamar karena dia harus berjauhan dari Lydya sedangkan Lydya masih terbengong di tempatnya. Dia sendiri juga tak percaya kalau dia harus jauh dari Leon.
“Matte, Sato!! (Tunggu, Sato!!) Akh!!”
Sato dengan segera menutup pintu kamarnya begitu Lydya akan menerobos masuk. Lydya terdiam didepan kamar Sato dan kembaran nya. Dia menghela napas lalu meminta pelayan yang sudah menunggunya sedari tadi untuk mengantarkan dirinya ke kamar yang akan dia tempati.
(Okochi Sanso Villa)
Lydya mengucapkan terima kasih setelah diantarkan ke kamarnya dan pelayan itu langsung pamit undur diri dengan terburu-buru. Lydya mengerutkan dahinya bingung, mengapa pelayan itu terlihat sangat terburu-buru. Sepupu laki-lakinya itu memang pembuat masalah. Pelayan yang sedang sibuk pun tak luput dari perintahnya.
Dia membuka pintu geser dan diam mematung di tempatnya. Di depannya, Gio baru saja akan melepas celananya dan hanya mengenakan boxer ikut terdiam. Mereka sama-sama terkejut hingga tak bisa mengucapkan sepatah kata pun hingga akhirnya Lydya tersadar dan segera menutup pintu.
__ADS_1
Lydya menjambak rambutnya dan berjongkok didepan pintu. Dia mengumpat dalam hati. Siapa yang menyuruh pelayan itu mengantarnya ke kamar Gio? Apa pelayan itu salah mengantarkannya ke kamar Gio?
Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri setiap ruangan yang ada tetapi hasil yang Lydya dapatkan tetap sama. Semua kamar yang ditemuinya terkunci dengan rapat. Tak ingin menyerah, Lydya menghampiri rumah-rumah yang lainnya dan tetap saja semuanya terkunci. Dia tidak akan menyerah semudah itu, masih tersisa satu rumah lagi yaitu rumah di mana saudara dan teman-temannya tempati.
Lydya membuka pintu dua ruangan yang tersisa yang juga terkunci. Lydya terduduk lemas didepan pintu ruangan harapan terakhirnya.
“Apa yang kau lakukan disitu?”
Lydya mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang.
“Kane oji-chan~” panggil Lydya memelas.
Kane yang ingin menemui putra keduanya terkejut melihat salah satu dari anak kembar Zyta yang duduk tersimpuh memegang handle pintu.
“Oji-chan. Semua pintu terkunci,”
“Hmmm, lalu?”
Lydya tiba-tiba berdiri dan mendekati pamannya dengan cepat membuat Kane terkejut sampai-sampai tanpa sadar dia memundurkan langkahnya. Tingkah Lydya yang seperti ini sama persis dengan Zyta. Sungguh menakutkan, apalagi dia berjalan dengan langkah yang mengentak keras.
“Apa paman juga tahu hal ini?!” tanya Lydya menatap pamannya serius.
Kane tidak mengerti apa yang dimaksud dengan keponakannya itu hanya menggeleng. Kane tidak tau apa yang keponakannya itu bahas tetapi berbeda cerita jika ini menyangkut masalah pembagian kamar. Dia tidak bisa membantu.
“Kamar yang akan ku tempati,”
Kane hanya bisa terdiam, dia ingat kalau Zyta sudah berpesan padanya untuk tidak memberi tahu putrinya itu tentang masalah pembagian kamar. Sehari sebelumnya, Zyta sudah berpesan untuk memberikan kamar yang sama dengan tunangannya. Kane yang mendengar itu sampai tak habis pikir.
Bagaimana bisa Zyta menempatkan putrinya sekamar dengan seorang laki-laki walaupun mereka sudah bertunangan? Apakah sepupu manisnya itu berpikir kalau Lydya sama agresif dengan dirinya waktu bersebelahan kamar dengan Adam?
Tetapi, Kane tidak bisa membantah keinginan Zyta atau bisa-bisa sepupu manisnya itu tiba-tiba saja sudah berada di Jepang tanpa memberi tahu dulu. Entah bagaimana caranya Zyta bisa tahu kalau putri dan calon menantunya itu mendapat kamar yang berbeda?
Intinya, sepupu manisnya itu seperti punya insting yang sangat kuat.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
(>y<)bahaya sekali lah mami Zyta...
__ADS_1
See ya in 2 days lata..