School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
The Winner


__ADS_3

Happy Reading~ Minna-san


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌The Winner


Ibu Linda menutup mulutnya dan menatap anak keduanya tak percaya. Apa yang baru saja didengarnya dari alat perekam berbentuk bolpoin itu benar-benar mengejutkan dirinya. Dia tidak bisa berkata apapun setelah mendengarnya bahkan ayah Linda juga tidak berkomentar apapun sedangkan Linda sendiri wajahnya sudah pucat pasi.


“Sekarang anda sudah tahu, nyonya? Apa yang putri anda lakukan dan kenapa saya sampai melakukan itu?” ucap Lydya menatap ibu Linda yang hanya diam saja dan menangis.


Lydya berdiri dari duduknya, “Sebagai salah satu anggota keluarga Rasheed, bukankah hal seperti itu dilarang dan anda juga masih salah satu anggota keluarga Rasheed, bukan? Tak kusangka, salah satu keluarga Rasheed gagal mendidik anaknya. Kira-kira bagaimana reaksi tuan besar Rasheed?” ucap Linda tersenyum miring, ibu Linda mengangkat kepalanya dan menggeleng.


Hal ini tidak boleh sampai ke telinga keluarga besarnya yang ada di negara Y. Lydya hanya tersenyum tipis dan menyipitkan matanya. Sungguh sebuah kemalangan bagi ibu Linda menjadi salah satu anggota keluarga yang penuh peraturan aneh.


“Sangat memalukan,” ucap Linda pelan.


“Tuan Shavonne, saya akan menerima hukuman atas apa yang saya lakukan pada putrinya anda bahkan hukuman terberat sekalipun,” lanjut ucap Lydya menatap ayah Linda yang menundukkan kepalanya.


Leon yang sejak sebagai penonton hanya bisa menatap iba pada apa yang sudah dilakukan salah satu anak dari keluarga Shavonne tetapi yang membuatnya bingung adalah bagaimana bisa Lydya mengetahui kalau ibu dari Linda adalah salah satu anggota keluarga Rasheed?


Walaupun dia tahu kalau kembarannya ini punya banyak koneksi tetapi tidak mungkin sampai hal yang susah seperti ini. Sejak kapan informan Lydya seluas itu tanpa sepengetahuannya?


“Seperti janji saya kemarin. Saya tidak akan membuat putri anda mendapatkan hukuman terberat tetapi anda harus menyelesaikannya semuanya seperti yang dengan gegabah anda ucapkan pada saya,”


Ayah Linda menganggukkan kepalanya dan berterima kasih berulang kali. Lydya mengalihkan pandangannya pada Linda yang menatapnya penuh rasa tak suka.


“Sayang sekali. Padahal putri anda sudah sangat cukup umur untuk berangkat sendiri. Tiga kali gagal. Menyedihkan,” ucap Lydya melenggang pergi tanpa pamit.


Sebagai gantinya Leon lah yang membungkukkan badannya sebentar dan berpamitan lalu menyusul Lydya.

__ADS_1


🖌🖌🖌🖌🖌


Zyta menatap penuh kecemasan dan bingung pada pintu di depannya. Beberapa waktu berlalu, Zyta mulai melangkah mondar-mandir. Kecemasannya semakin meningkat, apa yang sedang mereka bicarakan di dalam sana? Dia benar-benar ingin tahu dan kenapa putrinya menginginkan mereka untuk keluar ruangan dan membiarkan Leon tinggal.


Apa yang putrinya itu sembunyikan?


“Sayang, duduklah. Tidak perlu cemas, apapun yang Lydya lakukan, aku yakin dia yang paling tahu,” ucap Adam menyentuh tangan istrinya untuk membuatnya berhenti berjalan mondar-mandir.


Adam meraih tangan Zyta yang ibu jarinya mulai dia gigit. Kebiasaan baru istrinya ketika mengalami cemas berlebihan. Adam mengusap pelan ibu jari istrinya yang tampak memerah. Melihat istrinya yang cemas membuatnya juga ikut cemas tetapi dia tahu kalau putrinya itu pasti bisa menyelesaikannya sendiri.


Adam melirik putranys yang duduk bersedekap menatap pintu didepan mereka lalu menyenggol kakinya. Ray tersadar dari lamunannya dan menatap papi nya bingung. Adam memberi kode pada putranya dan Ray memahami maksud papi nya hanya mengangguk.


“Mami, duduklah dulu. Biarkan Lydya menyelesaikannya sendiri,” ucap Ray menyentuh tangan mami nya.


Zyta tak mendengarkan ucapan putra dan terus menatap penuh kecemasan pada pintu di depannya.


“Zyta,” panggil Adam dan Zyta mulai mendengarkannya.


Ceklek~


Semua mata tertuju ke arah pintu dan berdiri dari duduknya. Lydya beserta Leon keluar dari ruang rawat dan saat pintu tertutup terdengar teriakan samar penuh kemarahan dari dalam ruang rawat. Zyta menghampiri putrinya dan memeluknya erat.


Melihat putrinya keluar dengan wajah tenang membuat kecemasannya berangsur-angsur turun. Dia sudah senang melihat Lydya keluar dan tersenyum kecil padanya. Zyta menyentuh pipi putrinya yang terukir senyuman.


Lydya mengalihkan pandangannya pada dua guru pendamping yang salah satunya adalah wali kelasnya. Lydya melepaskan pelukan mami nya dan berjalan menghampiri kedua guru pendamping.


“Maaf atas kejadian kemarin dan hari ini. Apapun hukuman yang akan diberikan oleh sekolah, saya akan menerimanya,” ucap Lydya membungkuk badannya.


Hari ini, dia sudah membungkuk sopan santun sebanyak tiga kali. Setidaknya dia tidak membungkukkan badannya secara cuma-cuma jadi dia tidak akan disalahkan bukan oleh nenek buyut. Setelah masalah ini selesai, Lydya harus segera memberi tahu nenek buyut dan meminta maaf.

__ADS_1


Kedua guru pendamping itu saling pandang, “Walau kejadian kemarin benar-benar menggemparkan, mam akan membantu meringankan hukuman,” ucap Mam Vina menegakkan badan Lydya.


Lydya menganggukkan kepalanya dan berterima kasih. Mam Vina dan guru satunya pamit untuk masuk ke ruang rawat diikuti Adam dan Zyta karena masalah belum selesai sepenuhnya. Lydya kembali membungkukkan badannya untuk terakhir kalinya.


Ray menghampiri Lydya, “Sebenarnya ada apa ini?”


Lydya menatap kakaknya sebentar lalu tersenyum. Ray melihat adiknya yang tersenyum semakin kebingungan. Ray mengalihkan pandangannya pada Leon yang juga melihatnya. Ray menatap adik laki-lakinya penuh tanda tanya bahkan Lydya pun juga menatapnya dengan senyuman. Leon menghela napasnya panjang.


Lydya menepuk bahu Leon, “Kuserahkan padamu,” ucap Lydya lalu melangkah pergi.


Leon membuka mulutnya. Dia tidak tahu permasalahan tadi secara garis besar lalu bagaimana caranya dia menjelaskan pada kakak mereka yang sudah menatapnya penuh tanda tanya? Tatapan Ray yang begitu tajam padanya membuat otaknya tidak bisa berpikir penjelasan apa yang akan dia utarakan nanti.


Lydya yang tak memperdulikan kebingungan Leon terus berjalan tanpa menolehkan kepalanya. Lydya tersenyum lebar, satu masalah sudah dia selesaikan sekarang tinggal satu masalah lagi yang harus diselesaikannya. Gio.


Dia menebak-nebak seperti apa jadinya jika Gio mengetahui semuanya nanti? Lydya jadi tidak sabar. Tidak menjadi masalah baginya jika laki-laki marah besar padanya. Lagipula hubungan mereka tidak benar-benar serius walau mereka sudah bertunangan.


Lydya merenggangkan tubuhnya dan menghirup udara luar rumah sakit dengan dalam, “Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati,” gumam Lydya melangkahkan kakinya menuruni tangga.


“Lily,”


Lydya menghentikan langkah dan mencari orang yang memanggilnya. Lydya menelan ludahnya ketika dia melihat Gio berjalan mendekatinya. Dia memang sedang sial. Beberapa kali kejadian yang ditunggunya selalu datang dengan cepat tanpa memberinya waktu bernapas.


Begitu Gio sudah di depannya membuat Lydya was-was dengan apa yang akan tunangannya ini akan katakan padanya. Gio mengalihkan pandangannya dan mengusap lehernya. Lydya mengerutkan dahinya, tingkah Gio tidak terlihat dia akan marah padanya atau jangan-jangan ini adalah taktik baru sebelum kemarahan Gio meledak.


Gio menatapnya membuat Lydya mengerutkan dahi dan spontan sedikit menghindar bahkan tanpa sadar dirinya menekuk kedua tangannya didepan dada. Sekarang gantian Gio yang mengerutkan dahinya melihat sikap Lydya yang menghindar darinya.


Tanpa kata, Gio menggandeng tangan Lydya menjauh dari area depan rumah sakit.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌

__ADS_1


See ya next chapter ~(~ ̄▽ ̄)~~


__ADS_2