
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
P.S: shhttt.. chapter mendekati akhir~
đź–ŚBe a Footman
Lydya menggaruk pipinya. Sudah beberapa menit berlalu tetapi laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya ini tidak mengucapkan apapun sejak mereka duduk di kursi taman rumah sakit. Gio terus diam dan menundukkan badannya bahkan tak ada sedikitpun pergerakan dari tunangannya ini. Sebenarnya apa yang ingin Gio ucapkan padanya.
Jika, laki-laki di sampingnya ini ingin marah maka segeralah marah-marah tetapi jika bisa jangan sampai marah-marah di taman rumah sakit. Sejak tadi mereka sudah dilihat penuh penasaran oleh beberapa orang lewat. Laki-laki ini pasti sengaja melakukannya untuk balas dendam karena dia menghajar kekasihnya.
“Eumm.. Sebenarnya ada apa kau meminta kemari?” tanya Lydya melihat Gio yang masih setia menundukkan kepalanya.
Jangan-jangan Gio tertidur dengan mata terbuka, “Gio..,” panggil Lydya memastikan.
Tiba-tiba saja Gio mengangkat kepalanya membuat Lydya tersentak kaget dan menjauh hingga ke ujung kursi. Laki-laki ini benar-benar, maunya apa, sih?
Gio menolehkan kepalanya, “Lydya,” panggil Gio.
Lydya mengerutkan dahinya menatap Gio bingung. Gio terlihat kesusahan mengucapkan apa yang ingin dia utarakan. Lydya menghela napasnya, “Apa yang ingin kau katakan? Katakan saja,” ucap Lydya mulai tak tahan dengan Gio yang berulang kali membuka dan menutup mulutnya.
Gio menundukkan kepalanya tampak berpikir. Lydya mendekatkan badannya pada Gio dan ikut menunduk untuk melihat wajah Gio yang dahinya berkerut dalam. Apa yang sedang dipikirkan tunangannya itu hingga dahinya berkerut sedalam itu?
“Apakah soal Linda?” tanya Lydya asal menebak walau dia yakin kalau itulah penyebabnya.
Gio mengangkat kepalanya membuat Lydya menatapnya datar. Ternyata memang tentang kekasih dari tunangannya ini. Lydya jadi merasa bersalah karena sudah menendang perut Linda dengan Gio yang juga melihat kejadian tendangan itu.
Lydya menyandarkan tubuhnya dan menghela napasnya panjang, “Aku minta maaf karena sudah menendangnya,”
Dia benar-benar merasa bersalah sekarang karena sudah kelewatan hingga menendang orang lain dan membuatnya masuk rumah sakit. Dia harus mengganti rugi setelah ini. Dia yang salah dan tidak mungkin, dia tidak membantu keluarga Shavonne untuk biaya rumah sakit selama putri mereka dirawat.
“Benar, itu memang salah dan maaf kalau aku menendangnya karena aku sudah tidak tahan dengan sikap kekasihmu,” ucap Lydya menengadahkan kepalanya menatap langit cerah dengan awan yang bergulung pelan.
__ADS_1
Sebenarnya, dia tidak ingin disalahkan atas tendangannya pada perut Linda tetapi jika dia mengingat kembali ucapan Linda, rasanya dia tidak hanya ingin menendangnya tetapi jika memukulinya tetapi tetap saja Linda adalah perempuan jadi setidaknya tendangan kelewatan itu sudah menjadi efek jera bagi perempuan itu.
Lydya jadi merasa sedih sendiri jika mengingat betapa beringas dia hingga ditonton banyak orang. Jika di ingat kembali lokasi mereka saat itu ada di halaman belakang dan bagaimana cara murid-murid itu datang secepat itu untuk menontonnya?
“Tidak,”
Lydya menolehkan kepalanya dan menatap Gio bingung.
“Memang Linda yang salah. Aku mewakilkan kekasihku meminta maaf,” ucap Gio menundukkan kepalanya dalam.
Lydya hanya menatap Gio dalam diam, “Yare yare,” ucap Lydya kembali menatap langit cerah diatas mereka.
Langit biru yang rasanya mewakili hati Lydya saat ini. Ternyata masalah terakhirnya berakhir begitu saja dengan mudah. Pikirnya tadi, dia harus menjelaskan sambil menenangkan Gio yang sedang marah. Sayang sekali, padahal jika mereka bertengkar ada kemungkinan pertunangan mereka akan berakhir.
“Kau tahu. Tadi, aku berpikir kalau kau datang padaku sambil marah-marah tetapi nyatanya tidak. Aku jadi sedikit kecewa. Padahal aku berharap, jika kita bertengkar mungkin saja pertunangan ini akan berakhir,” ucap Lydya menolehkan kepalanya pada Gio dan tersenyum lebar.
Gio hanya diam menatap Lydya yang kembali menatap langit. Gio juga melakukan hal yang sama dengan Lydya. langit diatas mereka benar-benar cerah dan biru walau sedikit terhalang oleh awan yang berjalan searah dengan beriringan.
“Sekali lagi aku meminta maaf atas segala ucapan yang Linda lontarkan,” ucap Gio pelan.
Jadi, Gio juga mendengar setiap kata yang Linda ucapkan untuknya dan laki-laki ini hanya menontonnya saja tanpa berniat menghentikan mereka pantas saja Gio menghentikannya tepat setelah dia membalas tamparan Linda tetapi laki-laki ini tidak menghentikan Linda yang jelas-jelas sempat menahan tangannya di udara sebelum benar-benar menamparnya.
“Hah! Chikuso! (Sialan!)” umpat Lydya yang sudah sangat kesal.
Tetapi, setidaknya dia sudah berhasil membalas tamparan Linda ditambah dengan tendangan di perutnya. Gio juga menegakkan badannya dan menatap Lydya bingung. Dia tidak paham kenapa Lydya tiba-tiba saja marah padanya. Lydya yang kesal berdiri dari duduknya dan dengan langkah lebar meninggalkan Gio yang memanggilnya juga mengekor di belakangnya.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
“Oh! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Leon yang baru saja sampai di rumah.
Dia yang akan ke kamarnya mendapati Gio berjalan dengan kedua tangan memegang nampan berisi sepiring roti juga segelas minuman dingin. Leon menelan ludahnya lalu mengulurkan tangannya hendak mengambil minuman itu dan Gio segera mengangkat nampan itu lebih tinggi daripada tangan Leon yang menggantung di udara.
“Jangan membuatku kembali ke dapur untuk mengambil minum,” ucap Gio kembali berjalan dan Leon berjalan di belakang Gio.
__ADS_1
“Hei! Jawab pertanyaanku,” ucap Leon berjalan di samping Gio.
“Yang mana?”
“Apa yang kau lakukan di sini?” ucap Leon mengulang pertanyaannya.
Gio menghentikan langkahnya tepat ketika mereka berada didepan pintu kamar Lydya. Gio menatap Leon dalam diam membuat Leon mengerutkan dahinya bingung. Gio menghirup udara lalu menghembuskannya perlahan.
“Jadi, pelayan,” jawab Gio singkat sambil tangannya membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar dan menutupnya perlahan.
Leon yang sedang proses mencerna ucapan Gio masih berdiri didepan kamar kembaran nya itu. Gio bilang tadi jadi pelayan itu artinya…?
“Pffttt…”
Leon menutup mulutnya menahan tawanya. Entah apa yang sudah dilakukan teman dekat dan juga tunangan dari kembaran nya itu hingga membuatnya jadi pelayan pribadi kembaran nya.
“Semangat, kawan!!!” ucap Leon pelan melangkah pergi dari depan kamar Lydya.
Di dalam kamar, Gio duduk bersila dibelakang Lydya yang duduk didepan laptop. Di meja bulat sebatas perut saat duduk itu berserakan kertas-kertas yang Gio tak paham isinya. Banyak sekali angka dan tulisan-tulisan yang tak di mengertinya.
Tadi, dirinya sempat membaca salah satu kertas yang tak sengaja Lydya senggol hingga jatuh ke lantai. Baru sebentar dirinya membaca, dia sudah pusing sendiri dengan tulisan-tulisan di dalamnya. Apakah ini yang sering ayahnya baca saat membawa pekerjaanya pulang?
Dia kagum dengan Lydya yang masih remaja tetapi bisa mengerjakan pekerjaan yang begitu berat. Gio merasa kalah sebagai laki-laki. Lydya seorang perempuan tetapi sudah bisa mengurus pekerjaan yang seharusnya diurus orang dewasa bukannya remaja seperti mereka.
“Apa kau mengantuk?”
Gio tersadar, benar juga. Tanpa sadar dia mulai mengantuk menunggui Lydya menyelesaikan pekerjaannya. Bagaimana cara tunangannya ini mengetahui kalau dirinya mengantuk? Padahal Lydya tidak mengubah posisinya sedikitpun?
“Sedikit,” jawab Gio.
“Tidurlah di sini dan terima kasih sudah membawakan makanan untukku,” ucap Lydya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Gio mengangguk dan berdeham pelan. Tanpa disuruh dua kali, Gio menaiki kasur Lydya dan mulai tidur. Saat akan mulai memasuki alam mimpi, dia ingat kalau tadi niat awalnya adalah membesuk kekasihnya tetapi karena dia tak sengaja bertemu dengan Lydya tanpa sadar dia mengikuti tunangannya itu hingga ke rumah tunangannya.
__ADS_1
Tak masalah karena besok dia masih ada waktu membesuk kekasihnya.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś