School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Who's?


__ADS_3

Happyto Readingto~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Who’s?


“Kakak Ray,” panggil Hera pada Ray yang tengah fokus menyetir.


“Ya, gadis kecil ku,” jawab Ray dengan senyum lebarnya dan melihat Hera dari spion tengah.


Lydya dan Leon sama-sama memasang wajah ingin muntahnya setelah mendengar Ray memanggil Hera ‘gadis kecil ku’ dan lihatlah respons Hera, bukannya merasa tak nyaman malah dia memasang wajah biasa seolah-olah panggilan tersebut memang sudah sangat biasa didengar oleh Hera.


“Mengapa kakak kembali ke sini?” tanya Hera dengan polosnya.


Lydya dan Leon yang mendengar pertanyaan polos yang Hera ucapkan, menahan tawa mereka dan mengalihkan pandangan mereka keluar mobil.


“Hm?! Maksud Hera?” tanya Ray balik menahan kesal karena kedua adiknya.


dia menahannya dan tetap tersenyum pada Hera.


“Maksud Hera, bukannya waktu itu kakak bilang kalau kakak enggak bakal balik lagi ke sini dan bakalan tinggal di sana selamanya,”


“Ah~ waktu itu aku tidak serius. Bagaimana mungkin aku tinggal di sana selamanya sedangkan mami saja sering menghubungi ku untuk segera kembali ke sini,”


Ray tersenyum manis membuat Lydya yang melihat itu bergidik geli. Melihat Ray yang selalu memasang senyum di sana sini, pantas saja kakaknya ini punya banyak kekasih yang bertebaran di mana-mana.


“Benar juga. Mami Zy enggak akan membiarkan kakak hidup tenang di sana,”


Seketika tawa Lydya meledak mendengar ucapan polos Hera yang jika didengar orang lain memang terdengar biasa tetapi tidak dengan pendengarannya. Leon mengalihkan pandangannya keluar dan menutup mulutnya. Dia hanya tersenyum mendengar ucapan Hera.


“Hidup tenang? Kakak hidup yang tenang di sana,”


Lydya disela tawanya dan Leon yang sejak tadi menahan tawanya tidak bisa menahannya lagi dan ikut tertawa dengan Lydya. Mereka bersama-sama menertawakan Ray dan hanya Hera yang bingung dengan kedua teman nya ini.


“Jika kalian tidak berhenti tertawa, lihat saja apa yang bisa kulakukan pada kalian,” ujar Ray datar.


Seketika Lydya juga Leon sama-sama terdiam seribu bahasa. Mereka terdiam mendengar ancaman Ray yang pastinya akan terjadi jika mereka tidak segera diam. Mereka memilih tertawa di dalam hati.


“Pfftt...,”


Ray menolehkan kepalanya pada Leon yang mengalihkan pandangannya keluar. Dia menatap tajam adik laki-lakinya itu.


“Maaf,”


“Dasar! Bukannya menyenangkan ku, kalian malah membuatku kesal saja,”


Lydya berdecak mendengarnya. Memangnya harus? Mereka menyenangkan Ray tetapi jika maksud Ray menyenangkannya dalam arti mengganggunya terus, itu tidak buruk juga.


“Memangnya siapa yang membuat kakak kesal. Aku hanya tertawa, memangnya tidak boleh? Jika kakak merasa kesal. Sana kesal pada Leon jangan padaku,” ujar Lydya bersedekap dan mendengus.


“Hah?!! Mengapa jadi aku?! Kamu yang tertawa duluan,”

__ADS_1


Leon membalikkan badannya ke belakang, dia tak terima disalahkan.


“Mengapa malah aku. Hera yang memulainya,” balas Lydya juga tak ingin kalah.


“Loh?! Kok aku??”


Akhirnya terjadilah percekcokan tak berguna antara tiga orang remaja ini. Mereka saling menyalahkan dan saling membenarkan diri sendiri. Ray yang berada di antara mereka mulai merasakan telinganya memanas.


Ckitt!!


“AKH!!!”


Pekik bersamaan antara Lydya, Leon, dan Hera saat tiba-tiba saja mobil mengerem mendadak.


“Kakak ingin masuk rumah sakit, hah?!” protes Lydya kesal.


“Lebih baik kalian diam daripada aku menurunkan kalian di sini,” ujar Ray datar dan fokus pada lampu merah di depannya.


Lydya, Leon, dan Hera sama-sama terdiam hingga mereka sampai di rumah masing-masing.


🖌🖌🖌🖌🖌


Lydya segera turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras membuat Ray yang masih berada di kursi sopir mengomel kesal dan Leon yang tersentak kaget lalu menggerutu kesal karena tingkah Lydya.


“Aku pulang,”


Lydya masuk melewati pintu depan dan tak sengaja berpapasan dengan nenek buyut nya dan perawatnya.


“Biar aku saja, bibi Mei,”


Lydya mengambil alih tugas memapah nenek buyut nya dan membiarkan perawat neneknya itu untuk mempersiapkan keperluan mandi neneknya karena sudah masuk waktu nenek buyut nya mandi.


“Kamu terlihat kesal. Ada apa?”


Lydya hanya mendengus membuat enek buyut Lydya terkekeh geli. Lydya sangat mirip dengan ibunya jika dia tengah kesal seperti saat ini.


“Apa karena kakakmu lagi?” tanya nenek dengan senyumnya yang membuatnya masih terlihat segar dan cantik di usianya yang bisa dibilang sudah tak muda lagi.


Lydya segera menganggukkan kepalanya dengan cepat dan memberengut kesal. Nenek buyut Lydya semakin terkekeh gemas melihat tingkah cicit nya ini yang terlihat tak pernah akur dengan sang kakak.


“Oh! Lydya sudah pulang?”


Lydya tersentak kaget saat melewati belokan rumah tak sengaja berpapasan dengan neneknya yang membawa nampan lengkap dengan teko dan gelas di atasnya, tak lupa juga dua pelayan yang mengikut dibelakang dengan tangan mereka yang juga tengah membawa makanan.


“Bawalah ini dan ikuti para pelayan. Biar nenek yang mengantar buyut mu ke kamarnya,”


Lydya mengambil alih nampan yang diberikan Nirmala dengan susah payah sampai-sampai dia harus dibantu pelayan.


“Memangnya ada tamu?”


Lydya melihat salah satu pelayan membawa nampan yang berisi hidangan yang hanya disajikan kalau ada tamu penting. Tamu yang sangat penting dan spesial.

__ADS_1


Nirmala menganggukkan kepalanya, “Cepatlah bantu mereka mengantar ini dan segeralah berganti pakaian untuk menemui mereka. Buyut mu juga harus menemui mereka,” ujar Nirmala berjalan membantu mertuanya dan Lydya baru tersadar sekarang.


Tepat sekali tamu itu datang saat jam-jam nenek buyut nya membersihkan diri.


“Mari nona muda,” ujar salah satu pelayan menyadarkan Lydya.


Lydya mengangguk dan segera mengikuti para pelayan menuju ruang santai tempat para tamu dimanjakan oleh keluarganya. Lydya sendiri sampai sekarang masih tak paham mengapa keluarganya suka sekali memanjakan tamu mereka sampai-sampai membawanya ke ruang bersantai seperti itu.


🖌🖌🖌🖌🖌


Mereka sampai di depan pintu ruang bersantai dan salah satu pelayan yang berada di ruangan tersebut segera membuka pintu setelah diberitahu kalau hidangan untuk tamu telah datang.


“Nona muda bisa meletakkannya di sini dan bisa segera berganti pakaian,” ujar pelayan yang telah menjabat sebagai kepala pelayan di rumah besar ini.


“Paman kepala pelayan, memangnya siapa yang datang? Terlihat sangat penting,”


Lydya berusaha curi-curi pandangan melihat kedalam untuk melihat siapakah tamu penting itu. Kepala pelayan itu hanya tersenyum lalu menutup pintu dengan pelan membuat Lydya menggerutu kesal.


“Mari nona muda,”


Lydya hanya diam lalu mengangguk dan berjalan mendahului para pelayan yang akan membantunya menuju kamarnya. Sebelum kepala pelayan itu menutup pintu, Lydya sempat melihat punggung tegap pria yang duduk pada posisi yang membelakangi pintu dan dua orang pasangan suami-istri yang duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya.


‘Siapa mereka?’ batin Lydya.


“Apakah nona muda tengah berpikir tentang tamu yang datang?” ujar salah satu pelayan yang sudah sangat dekat dengan Lydya.


“Akh!! Bagaimana ibu bisa tau?”


Lydya pada pelayan itu yang sudah dianggapnya sebagai ibunya juga karena wanita itu juga membantu Zyta merawat Lydya jika Zyta tengah sibuk dengan urusan keluarga yang sudah dilimpahkan pada Zyta.


“Tergambar jelas di wajah nona muda,”


Lydya segera memegang wajahnya setelah mendengar itu. Benarkah apa yang dipikirkannya terlihat jelas di wajahnya?


“Nona muda selalu seperti itu jika tengah memikirkan sesuatu,” ujar salah satu pelayan yang juga dekat dengan Lydya.


“Benarkan?” ujar Lydya pada dirinya tetapi diangguki oleh para pelayan.


Benar-benar bahaya jika dia terus menggambarkan dengan jelas apa yang dipikirkannya.


“Nona tidak perlu khawatir. Dari yang saya dengar dari nyonya besar, nenek nona muda, mereka hanya teman nyonya rumah yang tengah berkunjung kemari,”


“Benarkah?” tanya Lydya dan kembali diangguki oleh para pelayan.


Lydya dapat bernapas lega sekarang. tetapi, mengapa mereka berkunjung dengan pria yang Lydya yakin adalah anak dari teman orangtuanya itu? Apa jangan-jangan ada udang dibalik batu?


Karena jika tidak ada udang dibalik batu, mana mungkin nenek memintanya berganti pakaian dan segera kembali ke ruang santai bahkan nenek buyut nya pun juga harus hadir.


Sial. Lydya kembali merasa tak tenang lagi. Beberapa kemungkinan buruk muncul di kepalanya membuat dirinya merasa kesal.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌

__ADS_1


Kira-kira siapa ya yang dateng?? 🤔🤔🤔 Mr.Thinking coming... help me think bout it.. but add me on u'r favorite to ge my story notification~ teehee~ ♡´・ᴗ・`♡


__ADS_2