School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
University


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


đź–ŚUniversity


Lydya berjalan santai ke kamarnya, dia baru saja pulang dari sekolah untuk mengisi absensi. Samar-samar ketika melewati ruang keluarga Lydya dapat mendengar dua orang wanita yang sedang bercakap-cakap. Itu suara maminya tetapi yang satu lagi terasa asing juga familiar.


Lydya mendekatkan dirinya ke arah pintu geser itu dan menguping. Lydya memutar otaknya, suara siapa itu? Dia pernah mendengarnya tetapi dimana?


“Hmm…,” gumam Lydya mengingat-ingat.


“Mangkanya itu.. akhhh.. aku sampai bingung harus melakukan apa pada anak itu?!! Ughh!! Aku tuh kesel banget!!”


“Sabarlah. Walaupun aku juga senang tetapi tetap saja putramukan sedang bersedih,”


“Apa yang harus di sedihkan? Perempuan seperti itu untuk apa dipikirkan. Ihhh!!! Dasar anak itu!!!”


“Aku jadi tidak tahu harus bilang apa?”


“Kau tahu, aku sampai kabur ke kantor suami selama beberapa hari ini karena tidak tahan melihat bagaimana suramnya anak itu bahkan aku sampai kabur ke tempatmu karena sudah tidak tahu ke mana aku harus pergi agar tidak melihat kesuraman putraku sendiri,”


“Hmm.. biarkan ku pikirkan sebentar?”


Lydya melanjutkan menguping dan ternyata itu suara dari ibu tunangannya. Kelihatannya tunangannya itu sudah di puncak kesedihannya sampai-sampai membuat ibunya sendiri tidak tahan. Jika, itu dirinya sudah pasti dia juga tidak akan betah berlama-lama bersama tunangannya itu.


“Akh! Bagaimana kalau…”


Lydya menajamkan pendengarannya tetapi tidak mendengarkan apapun. Kelihatannya dua wanita itu saling berbisik.


“Ide bagus,”


Setelah itu, hanya terdengar tawa dari keduanya. Lydya menjauhkan dirinya dari pintu dan menggelengkan kepalanya. Entah apa yang maminya bisikan pada ibu tunangannya itu hingga mereka sesenang itu.


Tiba-tiba saja perasaan Lydya menjadi tidak enak, kelihatannya ini akan berhubungan dengannya. Cepat-cepat Lydya meninggalkan depan ruang keluarga.


Jangan sampai maminya tahu kalau dia baru saja menguping atau perasaan tidak enak ini akan terjadi dengan cepat.


đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś


“Sial,” umpat Lydya pelan saat dia melihat Gio berjalan menaiki tangga rumah belajar.

__ADS_1


“Apa lagi yang kau lakukan di sini? Kau tahu, ibu sampai kemari dan menolak pulang, karenamu. Jangan membawa kesuramanmu kemari,” ucap Lydya duduk didepan meja kecil dengan kesal.


Gio menatap Lydya dengan wajah sedih membuat Lydya memutar bola matanya malas. Lydya tak menghiraukan Gio yang duduk di depannya dan membuka buku tentang universitas yang akan dia masuki nanti. Lydya memilih untuk melanjutkan kuliahnya.


“Kau tega. Mama mengusirku,” ucap Gio meletakkan kepalanya diatas meja.


Lydya hanya menaikkan kecil sudut bibirnya dengan wajah kesal. Memang apa hubungan dengan dirinya?


Jika, tunangannya itu diusir dari rumah juga karena kesalahannya sendiri. Dimana-mana setiap siswa yang baru lulus sekolah pasti akan senang bukannya malah sedih berkepanjangan seperti tunangannya ini.


“Hm? Apa kau akan kuliah?” tanya Gio saat melihat buku yang sedang Lydya pegang.


Lydya berdeham menjawab pertanyaan Gio tanpa menoleh, “Jauh sekali,” gumam Gio.


“Kenapa? Merasa sedih?” ucap Lydya melirik tunangannya.


Gio mengangkat dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Hanya saja…,” ucap Gio.


“Akan merindukanku?” ucap Lydya melipat ujung bukunya dan menutupnya lalu tersenyum lebar pada tunangannya itu.


“Ma.. mana mungkin!!! Aku.. Aku.. Aku hanya merasa itu sangat jauh,” ucap Gio terbata, sedikit menjauh dan mengalihkan pandangannya.


“Kau ini lucu sekali,” ucap Lydya kembali membuka bukunya.


“Kenapa malam-malam kemari?” tanya Lydya membalik lembaran bukunya.


“Sudah kukatakan. Aku diusir untuk tinggal di sini,” ucap Gio melirik beberapa buku diatas meja dengan berbagai nama universitas di sampulnya.


Kelihatannya Lydya akan melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas ternama seperti yang tertera di setiap sampulnya bahkan buku yang sedang Lydya baca berasal dari universitas ternama di negara A. Terlihat sekali kalau tunangannya ini benar-benar pintar. Dia jadi merasa kecil jika dibandingkan dengan tunangannya.


“Heeee~ Kawaisou~ (Kasihan~)” ucap Lydya tanpa mengalihkan pandangannya membuat Gio menatapnya datar.


Apa dia memang semenyedihkan itu?


Sampai-sampai tunangannya sendiripun juga mengatakan hal yang sama. Dimulai dari Leon lalu ibu dari tunangannya dan tak lupa ibunya sendiripun juga mengatakan hal yang sama. Gio rasa ibunya itu sudah sangat hafal dengan satu kata itu. Gio merasa tertusuk di dadanya.


“Hei, apa kau akan baik-baik saja jika berkuliah sejauh itu?”


Gio mengambil salah satu buku yang ada ditumpukan beberapa buku tentang universitas yang akan tunangannya ini pilih.


“Entahlah,” ucap Lydya mengedikkan bahunya acuh.

__ADS_1


Lydya sendiri antara yakin dan tidak yakin untuk kuliah tetapi karena maminya ingin dia kuliah hingga mereka bertengkar kemarin, akhirnya Lydya mencoba untuk membaca-baca sedikit beberapa universitas yang maminya sarankan.


“Aku juga ingin,” ucap Gio pelan saat membaca buku yang tak sengaja dia ambil adalah salah satu universitas yang ingin dia masuki.


Lydya melirik Gio yang fokus membaca buku yang diambilnya. Tergambar dengan jelas kalau Gio terlihat sangat berminat dengan universitas yang ada di buku itu.


“Lebih baik jangan. Kasihan mama,” ucap Lydya kembali membaca bukunya.


“Kenapa?” ucap Gio menatap kekasihnya bingung.


“Kasihan mama. Dia pasti akan kesepian apalagi kakakmu sudah menikah dan tinggal di rumahnya sendiri. Jika aku, ada Leon dan Nii-san yang masih tinggal di sini jadi tidak menjadi masalah jika aku kuliah ditempat yang jauh,” ucap Lydya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.


Gio kembali menundukkan kepalanya dan membaca buku yang dipegangnya. Apa yang Lydya katakan memang benar, walau ada ayahnya sekalipun tetapi ayahnya itu terkadang pulang sangat larut dan meninggalkan ibunya di rumah sendirian.


Pekerjaan ayahnya sangat banyak untuk dikerjakan sendiri. Apalagi kakaknya memilih untuk membuka perusahaan baru daripada melanjutkan pekerjaan ayah mereka jadi di sini, dirinya lah harapan satu-satunya yang akan melanjutkan pekerjaan ayah mereka. Setidaknya, dia bisa sedikit membantu meringankan pekerjaan ayah mereka nanti jika dia tetap ada di sini.


“Hmm. Kau benar,” ucap Gio pelan.


“Hora, futago! (Lihat, kembar!). Mami mencarimu,”


Lydya mengalihkan pandangannya dan melihat kearah pintu. Ray berdiri bersedekap di sana. Lydya kembali melipat halaman buku yang dibacanya lalu berdiri.


“Kau juga ikut,” ucap Ray pada Gio.


Gio menunjuk dirinya bingung dan Ray hanya menganggukkan kepalanya. Lydya dan Gio berjalan mengikuti Ray kembali ke rumah utama untuk menemui Zyta.


đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś


“Ada apa mami?” tanya Lydya begitu memasuki ruang keluarga bahkan sebelum dia duduk.


Lydya mengerutkan dahinya bingung. Di samping maminya, ibu dari tunangannya duduk dengan senyum lebar. Lydya menolehkan kepalanya pada Gio hendak bertanya tetapi kelihatannya Gio juga tidak tahu kenapa bisa ibunya juga ada disini.


“Duduklah dulu,” ucap Zyta tersenyum lebar.


Lydya kembali merasakan perasaan tak enak yang tadi dia rasakan. Terasa sekali kalau ini berhubungan dengannya juga. Lydya dan Gio duduk berhadapan dengan Zyta dan Karina yang memasang senyum yang sama.


“Jadi…,” ucap Zyta memulai berbicara.


đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś


see ya next chapter~

__ADS_1


__ADS_2