
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
đź–ŚGo Back
Lydya tengah sibuk membuat makan malam mereka. Dirinya dan Gio baru saja selesai membersihkan rumah setelah berbelanja tadi. Sedangkan Gio tengah berbaring sambil memainkan ponsel nya di sofa. Gio meletakkan ponsel nya di atas meja lalu berbalik telungkup memandang Lydya yang sibuk bergerak ke sana kemari.
“Hei, mengapa di sini tidak ada televisi?” tanya Gio setelah menyadari tidak menemukan benda elektronik itu di manapun.
“Hmm? Bukankah itu menyenangkan?” jawab Lydya tak mengalihkan pandangannya dari sayuran yang dia potong.
Gio bangun terduduk, “Menyenangkan dari mana? Apa kau sedang mencoba untuk menjauhkan diri dari luar?”
“Hmm… May… be?” ucap Lydya mengedikkan bahunya acuh.
Gio memutar bola matanya malas, “Daripada kau memainkan ponsel lebih baik bantu aku sini,” ucap Lydya saat Gio mengulurkan tangannya ingin mengambil ponsel nya lagi.
Gio berdiri dan segera menghampiri Lydya tanpa protes sedikitpun. Dirinya mulai membantu sesuai arahan dari Lydya. Dia tidak merasa canggung sedikitpun membantu Lydya memasak malahan dirinya merasa senang karena dirinya sering membantu mama nya memasak dan dia sendiri juga suka memasak.
“Waah!! Ahli juga,” ucap Lydya menumpukkan tangannya di meja dan menatap Gio yang sangat terampil memegang pisau.
“Ohh, of course~”
Lydya tertawa mendengar ucapan dan beralih pada masakannya. Mereka memasak bersama sambil berbincang dan bercanda hingga selesai lalu memulai makan malam. Saat makan malam pun, mereka juga makan sambil berbincang-bincang.
Setelah selesai makan, Gio yang bertugas mencuci peralatan bekas mereka makan sedangkan Lydya sudah melesat kembali ke kamar yang dia tempati. Selesainya mencuci piring, Gio juga kembali ke kamarnya.
Gio mengeratkan sweater cardigan yang Lydya pinjamkan padanya. Padahal dirinya sendiri sudah memakai sweater turtleneck tetapi tetap saja tidak dapat menghalau dingin. Gio buru-buru kembali ke kamarnya dan menaiki kasur lalu menyelimuti dirinya.
Gio menghela napasnya. Suhu dingin masih saja menusuk kulitnya padahal dia berada di bawah selimut tebal. Gio menyibak selimutnya dan turun dari kasur. Dia keluar kamar dan menaiki tangga menuju lantai dua. Gio membuka pintu kamar Lydya dan mendapati Lydya melakukan hal yang sama seperti dirinya tadi.
Dengan langkah cepat Gio menghampiri Lydya yang duduk bersandar di atas kasur dengan masing-masing tangan memegang cangkir dan buku. Tanpa kata Gio langsung merebahkan dirinya di samping Lydya membuat perempuan yang masih berstatus sebagai tunangannya itu terkejut.
__ADS_1
“Sial. Kamarmu lebih hangat daripada kamarku,” ucap Gio lebih dahulu sebelum Lydya membuka mulutnya bertanya.
Lydya tertawa pelan dan meletakkan cangkir cokelat panasnya di atas meja kecil di samping kasur, “Bukankah di kamarmu ada perapiannya?” tanya Lydya bingung.
Seingatnya, kamar di lantai bawah adalah kamar utama dan didalam kamar memang tersedia perapian. Gio sendiri pun tidak mungkin tidak bisa menyalakan perapian. Jelas-jelas di samping perapian ada setumpuk kayu kering yang bisa bertahan untuk satu malam.
“Tetapi tetap saja dingin karena hanya aku saja yang menempatinya,” ucap Gio.
“Alasan. Sebenarnya kau hanya ingin tidur denganku, kan?” ucap Lydya mengedipkan sebelah matanya.
Gio hanya diam dan memejamkan matanya. Lydya tertawa melihat Gio hanya diam saja.
“Yare. Yare. Kemarilah kalau begitu,” ucap Lydya melebarkan tangannya menyuruh Gio untuk mendekat.
Gio membuka kembali matanya dan segera mengubah posisinya mendekati Lydya yang segera memeluknya.
“Tak kusangka kau semanja ini,” ucap Lydya mengelus pelan kepala Gio.
“Hmm.. itu karena aku tidak bisa bersikap manja padamu,” ucap Gio mulai merasa mengantuk.
Gio merasa sangat nyaman jika ada yang mengelus kepalanya. Gio merasa dia jadi, lebih mudah mengantuk seperti yang sekarang Lydya lakukan padanya.
Gio berdecak kesal, “Jangan membahasnya. Aku sudah malas jika disuruh mengingatnya lagi,” ucap Gio mengalihkan wajahnya.
“Hmm? Benarkah?” ucap Lydya menyentuh rahang Gio memaksa untuk melihatnya.
“Ck! Jangan mendekatkan wajah mu!” ucap Gio menjauhkan dirinya dari Lydya.
Lydya tertawa melihat wajah kesal Gio. Lydya mengubah posisinya mendekati Gio yang berbaring memunggungi nya. Lydya menumpukan dagunya pada lengan Gio.
“Lalu, kau ingin nya seperti apa? Bukankah membahas kalian lebih menarik daripada apapun?” ucap Lydya menekan-nekan pipi Gio.
Gio hanya diam memejamkan matanya tak menghiraukan Lydya yang menekan-nekan pipinya disertai tawa cekikikan. Dirinya hanya bisa diam menahan kesal mendengar tawa Lydya. Tawa cekikikan Lydya berubah menjadi tawa pelan membuatnya membuka mata dan melirik Lydya kesal.
Lydya menjauhkan dirinya dan tertawa keras. Dia berhasil membuat Gio semakin kesal. Itu adalah hal yang paling menarik setelah kejadian yang menimpa laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya ini. Entah sikap apa yang harus dirinya tunjukkan pada Gio setelah kejadian itu.
__ADS_1
“Hei! Berhenti tertawa!” ucap Gio kesal.
Lydya tak menghiraukan ucapan Gio dan terus tertawa hingga perutnya sakit.
“Perempuan ini!!!” ucap Gio menyentuh kedua tangan Lydya lalu duduk di atas tubuh Lydya dan mulai melancarkan serangannya pada Lydya.
Gio menggelitik perut Lydya membuat tunangannya itu semakin tertawa kencang. Gio ikut tertawa melihat Lydya yang berusaha menghentikannya. Gio menghentikan aksinya saat Lydya meminta ampun. Gio turun dari tubuh Lydya lalu duduk disebelahnya.
Lydya masih tertawa dengan sisa tawanya tadi. Dia melirik Gio yang menatapnya dengan senyum puas. Akhirnya mereka tertawa bersama karena tingkah mereka tadi, malam pun semakin larut. Keduanya menghabiskan waktu dengan bercerita.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Beberapa bulan yang lalu~
Lydya mengejapkan matanya dan memandang ke sekeliling. Ternyata dirinya tertidur di lantai bersandar pada cermin. Lydya mengangkat tangannya merenggangkan setiap sendinya yang kaku dan mengusap pelan matanya. Lydya berdiri dari posisinya lalu terdiam sebentar karena kakinya kesemutan.
Dia tidak akan mengulang lagi tidur dengan posisi duduk jika kakinya akan kesemutan seperti ini. Lydya berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Setiap satu langkah Lydya terus meringis karena kakinya tak berhenti kesemutan.
“Akhhh! Ittai-na!! (Sakit!!)” ucap Lydya di setiap langkahnya.
Lydya menyelesaikan mandinya dengan cepat setelah kaki yang kesemutan sudah merasa lebih baik. Lydya memakai yukata karena setelah makan malam dirinya akan segera tidur. Dia melepaskan ikatan rambutnya dan duduk didepan meja rias lalu menyisir rambutnya setelah itu dirinya segera keluar dari kamar.
Lydya berjalan pelan menuju ruang makan. Dia menguap pelan. Lydya menghentikan langkahnya ketika dirinya tak sengaja berpapasan dengan Gio yang juga menghentikan langkahnya. Mereka berjalan berdampingan menuju ruang makan bersama.
“Surat izinnya bilang yang bersangkutan sedang sakit tetapi ternyata yang bersangkutan sedang membolos dan berlari ke rumahku,” ucap Lydya sarkatis.
Gio memutar bola matanya malas, “Memangnya mengapa? Mami mu sudah mengizinkan,”
“Yare yare! (Ya ampun!) Sudah pasti mami yang mengirim surat izin. Jangan bilang kau datang kemari dengan seragam?” ucap Lydya berhenti berjalan dan bersedekap menatap Gio menyelidik.
Gio juga berhenti dan mengalihkan pandangannya. Lydya semakin memicingkan matanya.
“Maa nee~ (Ya gitu deh~)” ucap Gio kembali berjalan sedangkan Lydya masih dalam posisinya dan menatap punggung Gio yang berjalan menjauh dengan tajam.
Gio yang berjalan lebih dahulu bahkan bisa merasakan betapa tajamnya tatapan Lydya padanya. Membuatnya gugup dan tidak nyaman saja. Lydya menghela napasnya dan menyusul tunangannya yang berhenti berjalan dan berbalik menunggunya kembali jalan.
__ADS_1
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
Jaa nee~ ketemu lagi lusa besok..