
Happy Reading, Readereu~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Meet Each Other
Hari ini, Lydya dan Gio kembali ke penginapan. Mereka akan berada di penginapan selama tiga hari sebelum pulang karena dua hari sebelumnya, bibinya menahan Lydya yang akan kembali ke penginapan. Apapun itu selama bisa membuat keponakan tersayang nya ini tetap tinggal akan Fuyumi lakukan.
Jika saja hari ini dia tidak kabur diam-diam dibantu kakek dan pamannya, mungkin Lydya tidak akan pernah kembali ke penginapan.
Mereka tidak hanya kembali berdua saja, ada Leon, Hera, Eiza, dan Melani yang juga ikut kembali. Lydya sudah meminta mereka untuk tetap tinggal di rumah besar tetapi mereka menolak dan meminta untuk ikut dengan Lydya.
Mereka berenam sampai di penginapan dan segera turun dari mobil begitu mobil diparkirkan. Masih sama seperti saat mereka meninggalkan penginapan. Banyak sekali tamu yang datang untuk menginap dan berendam di pemandian air panas.
“Masih saja ramai,” ucap Leon.
Lydya menganggukkan kepalanya setuju dan kelihatannya hari ini lebih ramai daripada sebelumnya. Diluar area parkir dalam, Lydya melihat tiga buah bus yang terparkir di parkiran luar penginapan karena tidak akan bisa melewati gerbang penginapan jadi ditempatkan di parkiran khusus.
“Kurasa kita akan bekerja keras,”
Sekarang Leon yang mengangguk setuju dengan ucapan Lydya. Mereka meminta datang dengan Lydya bukan untuk bersenang-senang seperti kemarin tetapi membantu Lydya bekerja dan semuanya setuju akan hal itu. Mereka ingin merasakan bagaimana rasanya melayani tamu. Menyiapkan keperluan mereka dan mengantar ke kamar yang akan mereka tempati.
“Kita langsung ke rumah saja,” ucap Lydya menjinjing tas kecilnya.
Mereka semua membawa koper mereka karena setelah mereka menyelesaikan pekerjaan, mereka akan langsung ke bandara untuk pulang.
“GIO!!!”
Leon dan Gio menolehkan kepala mereka berbarengan begitu mendengar suara yang tak asing di telinga mereka. Jika Leon tidak salah ingat, dirinya pernah mendengar suara itu ketika sedang bersama dengan Gio. Kalau tidak salah dia adalah...
__ADS_1
“Gio, sayang. Aku kangen. Aku cari-cari kamu terus ke rumah tetapi orang rumahmu bilang kamu pergi liburan ke tempat yang jauh dan mereka enggak mau kasih tahu aku. Ehh... ternyata kamu ke sini,”
Semua mata membulat sempurna karena kaget begitu seorang perempuan datang dan langsung memeluk Gio. Leon yang melihat itu sama kaget nya ketika dia melihat siapa perempuan yang memeluk teman nya itu. Dia adalah kekasih Gio. Linda Shavonne.
“Mengapa kamu di sini?” ucap Gio melepaskan pelukan Linda.
Linda mengerucut kan bibirnya dan memandang Gio kesal, “Mengapa? Tidak boleh? Aku ke sini juga mau liburan,”
“Bukan begitu. mengapa kamu enggak bilang kalau mau...,”
“Kamu pasti gitu. Apa salahnya kalau aku ke sini? Aku butuh usaha banyak buat tahu kamu ke mana. Kamu jahat sama aku. Aku di sana cari-cari kamu tetapi kamu malah enak-enakan di sini. Kan gak adil aku terus mikirin kamu tetapi kamu enggak,”
Leon bergidik mendengar nada bicara Linda yang manja pada Gio. Lebih baik Leon mendengarkan suara Hera yang penuh marah dan ketidaksukaan pada dirinya daripada mendengar suara Linda. Eiza dan Melani mulai berbisik-bisik, Lydya melirik kedua teman nya yang sedang asyik membicarakan kekasih Gio.
Lydya menggelengkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya pada Gio yang sedang membujuk Linda yang merajuk. Dirinya kembali menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Dia akan menunggu beberapa menit, mau sampai kapan mereka akan bertahan.
Leon yang melihat Gio dan Linda mulai beradu mulut melirik Lydya yang bersedekap menatap sepasang kekasih itu dengan senyum miring di bibirnya. Leon melihat ke sekeliling mereka, beberapa tamu yang memiliki keingintahuan tinggi mulai menoleh ke arah mereka dan berbisik-bisik.
Leon menghela napas melihat Lydya yang tak beranjak dari tempatnya. Dia harus menghentikan mereka sebelum mereka semakin jauh. Baru saja Leon akan melangkahkan kakinya, Lydya sudah berada dibelakang Gio.
Lydya menyentuh bahu Gio dan membuatnya berhenti beradu mulut dengan Linda lalu menoleh, “Daripada kalian bertengkar di sini. Lebih baik kita menjauh dulu. Kalian hanya membuat tamu kami merasa terganggu,” ucap Lydya tersenyum manis pada Linda.
Dibalik senyum Lydya yang manis mengandung maksud tersirat yang Linda tangkap kalau maksud dari kata-kata Lydya adalah untuknya. Linda mengerutkan dahinya tak suka, dia lebih tak suka lagi melihat tangan dari perempuan yang tak dikenalnya ini masih berada di bahu kekasihnya.
“Siapa kau? Memang ada urusannya denganmu?!” ucap Linda tak terima.
“Linda!”
Lydya hanya menepuk dua kali bahu Gio menyuruhnya untuk tenang dan berjalan menuju belakang Linda, “Lebih baik kalian bertengkar ditempat lain. Tolong bantu bawa barang nona ini dan keluarganya ke atas juga yang lainnya dan jangan lupa barangku juga,” ucap Lydya pada pelayan yang selalu membantunya ketika bekerja dengan terus mendorong bahu Linda untuk berjalan sesuai arahan nya.
__ADS_1
Pelayan itu segera menyuruh pelayan yang lainnya untuk membantu membawakan barang-barang yang diperintahkan nona muda jauh mereka. Pelayan lainnya dengan sigap meminta bantuan pada pelayan lainnya ketika mereka kekurangan orang.
“Hei!! Apa yang kau lakukan?!”
“Yare, yare(Ya ampun). Sudah diam saja. Urusai yo!! (Berisik tahu!!)” ucap Lydya terus mendorong bahu Linda untuk mengikutinya.
Keluarga Linda yang terkejut hanya bisa membiarkan para pelayan membawakan barang mereka menaiki tangga disebelah penginapan dan mereka mengikuti dibelakang. Mereka masih tidak tahu apa yang terjadi tetapi yang pasti perempuan yang menyuruh para pelayan ini adalah pemiliknya.
Leon, Gio, Eiza, dan Melani masih terdiam ditempat mereka sedangkan Hera sudah mengikuti Lydya dari belakang. Mereka berempat masih terkejut melihat Lydya membawa Linda menuju penginapan pribadi. Apa yang sedang Lydya rencanakan? Begitulah yang mereka pikirkan.
Leon menutup mulutnya ketika dia akan tertawa. Dia tahu mengapa Lydya bersikap seperti itu pada kekasih Gio. Secara tak sengaja, sebuah suara terbesit dalam pikiran Leon. Itu suara Lydya dalam pikiran saudari kembarnya. Lydya sengaja ingin bermain-main dengan kekasih Gio.
“Kau tak apa?”
Leon menolehkan kepalanya pada Gio yang menatapnya bingung. Leon menganggukkan kepalanya cepat. Dia tak bisa menahan senyumnya membuat Gio semakin bingung. Dia khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi pada teman dan juga kembaran dari tunangannya ini.
“Aku tak apa. Ayo, kita juga harus segera kembali ke rumah,” ucap Leon berjalan mendahului.
Sesekali dia tertawa kecil membuat Gio, Eiza, dan Melani memandang punggung Leon yang mulai menjauh dengan bingung. Eiza menoleh pada Melani lalu mengikuti Leon. Hanya Gio yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Dia merasa tak tenang. Kekasih dan keluarga kekasihnya ada di sini ditambah lagi mereka datang ke penginapan dan bertemu dengan tunangannya walau mereka tidak tahu dirinya sudah bertunangan tetapi tetap saja Gio merasa gelisah karena cepat atau lambat, kekasih dan keluarga kekasihnya itu akan tahu dirinya sudah bertunangan.
Dirinya masih tidak berani memberi tahu Linda kalau dia sudah bertunangan dengan Lydya dan mereka tidak hanya dekat sebagai teman saja.
Sungguh suatu kebetulan yang luar biasa dalam hidup Gio, kekasih dan tunangannya bertemu. Gio mengacak rambutnya kasar. Dia tidak bisa hidup dengan tenang tiga hari ke depan. Apalagi dia harus tidur di kamar yang sama dengan tunangannya. Sudah pasti mereka akan ketahuan.
Gio menghela napasnya berat dan segera menyusul yang lainnya.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
__ADS_1
Jaa neeee~ (づ●─●)づ