School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Sweden


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Sweden


“Ugh! Berat sekali!” ucap Gio menurunkan tiga koper dari bagasi.


“Dan apa-apaan tempat ini? Memang kita ada di Antartika?” gerutu Gio saat menurunkan koper ke tanah yang tertutup salju.


Bahkan tinggi salju mencapai mata kakinya. Jika seperti ini itu artinya mereka harus mengangkat koper berat mereka ke dalam rumah.


“Jangan banyak bicara. Turunkan saja semuanya,” perintah Lydya mengeratkan mantel bulunya untuk menghalau dingin.


Sudut bibir Gio berkedut, dia menatap Lydya yang hanya berdiri bersandar pada mobil. Lydya menatap Gio menyuruhnya untuk bergegas. Gio menghela napasnya panjang dan kembali menurunkan koper.


“Akh!! Sebenarnya apa yang kau bawa hingga seberat ini?” ucap Gio saat menurunkan koper paling besar.


Lydya berdecak, “Mengapa kau ribut sekali? Kau ini pria atau bukan?” ucap Lydya berjalan lebih dahulu menuju rumah.


“Hei! Hei Hei! Mau ke mana?”


Lydya hanya menggerakkan kepalanya menunjuk rumah didepan mereka dengan dagunya. Gio memicingkan matanya dan menunjuk dua koper kecil didekat kakinya.


“Kau tega?”


Gio hanya menganggukkan kepalanya tanpa dosa. Sekarang gantian Lydya yang memicingkan matanya lalu memutar bola matanya malas. Lydya berjalan mendekati Gio dan meraih salah satu koper kecil. Gio mencegah tangan Lydya yang akan membawa koper keci itu masuk. Gio memindahkan tangan Lydya ke koper yang paling besar dan tersenyum lebar.


“Dasar pria lemah,” gumam Lydya.


“Tetapi, tetap saja aku ini pria,” ucap Gio berjalan lebih dahulu dengan senyum senangnya.


Gio menyeret dua koper kecil miliknya dan meninggalkan koper besar milik Lydya. Lydya berdecak kesal dan menyeret kopernya dengan paksa menerjang jalan bersalju. Lydya menarik napas panjang begitu dia sampai dekat tangga. Lydya menatap Gio yang berdiri di dekat pintu. Gio mengerutkan dahinya bingung.


Lydya menaiki tangga dan menyuruh Gio menaikkan kopernya ke teras. Gio hanya berdecak dan menaikkan koper Lydya melewati satu per satu anak tangga.


“Ini rumah yang kau beli?”



(Tidak ada penjelasan pasti soal lokasi)


Lydya menoleh dan menganggukkan kepalanya, “Heeh~ Kau benar-benar perempuan gila yang kaya raya. Semua pria pasti akan mundur perlahan jika tahu kau sekaya ini. Mereka akan berpikir ulang jika ingin menikahi mu,” ucap Gio mengedarkan pandangannya pada teras rumah dan pohon-pohon sekeliling.

__ADS_1


“Setidaknya aku masih punya kau,” ucap Lydya enteng.


Lydya mengambil kopernya dan menggeret nya masuk. Gio mengikuti di belakang.


“Percaya diri sekali kalau aku yang akan menikahi mu,” ucap Gio.


“Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang akan menikahi mu jika bukan aku,” ucap Lydya menyalakan bargainser yang ada dibalik pintu.


Klik~


Semua lampu didalam rumah otomatis menyala. Gio berdecak kagum dengan keadaan rumah yang terasa lebih hangat daripada di luar yang sangat dingin apalagi salju sedang turun. Gio meninggalkan kopernya begitu saja didepan pintu dan menjatuhkan dirinya pada sofa beludru di ruang tamu.


Dirinya benar-benar lelah dan kedinginan selama perjalanan kemari walau didalam rumah terasa lebih hangat tetapi karena penghangat ruangan belum dinyalakan sehingga masih terasa dingin tetapi tidak sedingin di luar.


“Apa sudah mulai hangat?” tanya Lydya duduk di sofa tunggal.


Dia baru saja kembali setelah menyalakan penghangat ruangan di ruang bawah tanah. Gio menganggukkan kepalanya. Dirinya mulai merasakan kehangatan pada jari-jari kakinya yang dingin.


“Ikut aku,”


Gio mengangkat kepalanya, “Ke mana?”


“Belanja,” jawab Lydya singkat.


“Tentu saja. Kau pikir makanan itu sudah tersedia semua?”


Gio menganggukkan kepalanya polos. Bagaimana dirinya tahu semua makanan itu sudah tersedia atau belum karena dirinya tidak pernah pergi ke tempat terpencil seperti ini. Lagi pula walau keluarganya memiliki vila di luar negeri, makanan sudah tersedia semuanya.


“Ayo, cepat bangun. Kita harus bergegas sebelum malam datang,” ucap Lydya berjalan lebih dahulu.


Gio segera berdiri dari tiduran nya dan mengekori Lydya. Mereka pergi ke supermarket yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Mereka sampai di supermarket yang ada dikota. Lydya mengeratkan mantelnya begitu keluar dari mobil.


Lydya dan Gio berlari menuju supermarket untuk menghindar dari dingin. Lydya menunjuk troli yang ada didekat pintu masuk agar Gio membawanya juga. Gio mengambil satu troli secara acak dan membawanya masuk.


“Apa yang ingin kau makan?” tanya Lydya ketika mereka sampai di area bahan mentah.


“Apa saja selama bisa dimakan,” ucap Gio acuh.


Pandangan Gio terus tertuju pada makanan ringan yang mereka lewati tadi. Lydya menyadari tatapan mata Gio dan menyuruhnya untuk ke sana. Gio dengan senang hati langsung melesat menuju area makanan ringan. Lydya hanya menggelengkan kepalanya. Dirinya seperti seorang ibu yang mengajak putra berbelanja.


“Masak apa, ya?” gumam Lydya melihat bahan mentah dari daging dan seafood.


“Kelihatannya masak daging saja,” ucap Lydya mulai memilih-milih daging yang sudah terkemas rapi.

__ADS_1


Lydya juga memilih beberapa jenis seafood untuk persediaan mereka nanti. Lydya beralih menuju area sayur-sayuran segar. Saat Lydya sedang sibuk memilih beberapa sayur, Gio kembali sambil memeluk banyak sekali makanan ringan.


“Mengapa beli banyak sekali?” ucap Lydya melihat Gio meletakkan setidaknya ada sepuluh makanan ringan.


Gio hanya tersenyum memamerkan deretan giginya yang tertata rapi. Lydya menghela napas dan menggelengkan kepalanya pasrah. Dirinya benar-benar sudah seperti ibu yang mengomeli putranya yang membeli banyak sekali makanan ringan.


“Kurasa sudah selesai,” ucap Lydya mengecek kembali belanjaannya.


“Ayo pul…? Hm? Gio?” ucap Lydya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Gio yang hilang entah ke mana.


Lydya berjalan mendorong troli untuk mencari keberadaan Gio hingga Lydya menemukannya di area minuman.


“Apa yang kau lakukan?” ucap Lydya melihat kedua tangan Gio yang masing-masing nya membawa satu jenis minuman bersoda berukuran besar.


Lydya kembali menghela napasnya, “Ayo pulang,” ucap Lydya mendorong troli belanjaannya menuju kasir.


Lydya dan Gio memindahkan belanjaan mereka ke meja kasir untuk dihitung.


“Är du man och hustru? Ni är så bra tillsammans (Apa kalian suami istri? Kalian terlihat serasi),”


Lydya menatap wanita sebagai petugas kasir itu kaget. Wanita itu mengira dirinya dan Gio adalah pasangan suami istri.


“Nej, vi är inte man och hustru (Bukan, kami bukan suami istri),” ucap Lydy menjelaskan dengan cepat sebelum wanita itu semakin salah paham.


“Är det sant? Förlåt mig. Men ni matchar verkligen (Benarkah? Maafkan aku. Tetapi kalian terlihat serasi),”


Lydya hanya tersenyum dan memakluminya. Tentu saja siapa pun yang melihat mereka pasti akan salah mengira. Dirinya dan Gio sudah tidak terlihat seperti anak sekolah biasa, mereka terlihat terlalu dewasa. Lydya melirik Gio. Apalagi dengan Gio, batin Lydya.


Gio terlihat sangat dewasa dengan tubuh besarnya dan garis wajahnya yang tegas. Padahal mereka baru lulus sekolah dua bulan yang lalu. Lydya membayar semua belanjaan lalu mengikuti Gio yang bergantian mendorong troli.


”Sebenarnya sebanyak apa bahasa yang kau kuasai?” tanya Gio sambil memindahkan bahan makanan ke bagasi.


”Hmm? Tidak banyak,” ucap Lydya fokus membaca setruk ditangannya.


”Kau terdengar fasih berbicara bahasa sini,”


”Hmm.. tidak juga,” ucap Lydya membuka pintu penumpang.


Dia sudah sangat kedinginan. Udaranya sangat dingin hingga rasanya menusuk sampai ke tulang-tulangnya. Gio menutup bagasi dan buru-buru masuk ke kursi pengemudi. Gio mengemudikan mobil kembali ke rumah.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


Udh jadi kewajiban Lydya buat menguasai banyak bahasa walau dia punya penerjemah sendiri saat kerja tp gk menjadi masalah untuk juga menguasainya..(⁎⁍̴̛ᴗ⁍̴̛⁎)

__ADS_1


See ya next chapter ~(~ ̄▽ ̄)~~


__ADS_2