
Konbawa~ minna~
Happyto Readingto~
!:sorry'bouttypo~ teeheehee~
đź–ŚUnexpected
Seperti yang neneknya bilang kalau dia akan menjadi nyonya acara dalam acara ulang tahun kali dan Lydya merasa terbebani dengan permintaan nenek dan kakeknya itu. Rasa-rasanya Lydya ingin kabur dan bersembunyi di suatu tempat hari ini.
“Lily, mengapa wajah mu masam seperti itu?”
Lydya hanya menghela napas menjawab pertanyaan pria yang menjadi penata rias pribadi mami dan dirinya. Dia benar-benar ingin menghindar dari acara malam ini tetapi itu tidak mungkin. Didepan kamarnya sudah dijaga oleh orang suruhan neneknya.
Lydya sempat ingin kabur tetapi dia terkejut melihat dua orang pria berbadan besar berdiri didepan kamarnya jadi dia kembali masuk ke kamarnya dengan patuh. Rencananya untuk kabur pun gagal dan berakhir di sinilah dirinya. Dia hanya bisa diam pasrah membiarkan dirinya dirias.
“Jangan begitu. Kau jadi tidak terlihat cantik malam ini. Lihatlah gaun mu sudah sebagus ini mengapa wajah mu masam,” ucapnya dengan gaya khas penata rias nya.
“Bahkan pasangan mu malam ini sangat tampan,” lanjutnya mengedipkan matanya pada Lydya.
“Mami mengatakannya padamu,”
Pria itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Dia sangat tampan sekali. Aku sampai terpesona melihatnya,” ucapnya menyentuh pipinya.
Dia kembali membayangkan wajah Gio yang Zyta tunjukkan padanya ketika dia membantu Zyta merias diri. Lydya kembali menghela napas.
“Jangan banyak menghela napas. Aku jadi sedikit kecewa melihat mu tak bersemangat. Rasanya jadi sia-sia saja aku merias mu hingga sangat cantik,” ucapnya memberengut.
Lydya terkekeh pelan dan tersenyum, “Baiklah. Maafkan aku,”
“Nona muda, sudah waktunya keluar,”
“Akh! Lihatlah sudah waktunya kau tampil. Bintang utama memang selalu datang terakhir,”
Pria itu melirik jam tangannya yang sudah lewat 10 menit sejak acara dimulai.
“Ayo. Ayo. Aku yakin pria mu sudah menunggu didepan,” godanya memegang tangan Lydya dan membantunya berjalan keluar.
__ADS_1
“Ck! Gale, dia bukan pria ku. Mengapa sejak tadi selalu saja ada yang bilang kalau dia itu pria ku?!!,” sanggah Lydya kesal.
Sejak tadi, selalu saja ada yang bilang kalau Gio adalah prianya. Bagaimana bisa laki-laki itu menjadi prianya di saat laki-laki itu sudah memiliki kekasih?
“Iya. Iya. Aku tahu,”
Dan benar saja, Gio sudah berdiri di depannya dengan balutan tuxedo hitam yang senada dengan gaun malam yang Lydya kenakan. Mereka terlihat sangat serasi. Gio terlihat berbeda dalam balutan jasnya, dia terlihat seperti pria dewasa yang matang dan sangat menawan dengan rambutnya yang ditata rapi.
“Tunggu!” ucap Lydya ketika matanya tak sengaja melihat pin yang tersemat di dada kiri Gio.
Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh pin tersebut, “Dapat dari mana?”
Gale berdiri dibelakang Lydya pun juga sama kaget nya. Dia sudah lama bekerja dengan keluarga Mezzaluna dan pastinya dia tahu apa arti pin yang Gio kenakan saat ini. Gio benar-benar pria milik Lydya.
“Emm.. ayahmu yang memberikannya. Mengapa?”
Lydya menutup matanya dan menghela napasnya pelan lalu menggeleng, “Tidak apa-apa. Ayo, kita pergi. Pasti semuanya sudah menunggu,” ucap Lydya mengulurkan tangannya pada lengan Gio.
Gio yang tak siap tersentak kaget dan tak luput dari pandangan Gale, dia tersenyum kecil melihatnya. Mereka sangat manis, batin Gale.
“Kami pergi dulu,” ucap Lydya.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Halaman depan sudah ramai dengan orang-orang. Sama seperti tahun lalu, tamu undangan yang datang pun juga orang-orang yang Lydya kenal. Tentu saja para rekan bisnis papi nya. Lydya sudah terbiasa berada di antara banyak orang apalagi menghadiri acara karena dia dan Ray sering menggantikan orangtua mereka untuk datang ke acara seperti ini.
Sedangkan Gio merasa gugup dan tak nyaman. Dia jarang menghadiri acara-acara besar seperti ini karena biasanya orangtua nya yang hadir dan Gio jarang ikut walau sudah diajak. Gio hanya menghadiri acara-acara di mana dia terpaksa harus hadir atau kakak iparnya yang memaksanya jika tidak maka Gio tidak akan mau menghadirinya.
“Kau gugup?”
Lydya menyadari Gio yang gugup sejak mereka keluar dari rumah dan beberapa kali Lydya disapa oleh rekan kerja papi nya. Raut wajah Gio yang tak nyaman membuat Lydya tak tega dan harus segera mengakhiri pembicaraannya dengan rekan kerja papi-nya.
“Hmm. Sedikit,”
“Tidak pernah datang ke acara seperti ini? Bukankah waktu itu kau datang ke pernikahan?”
“Itu karena kakak iparku memaksa ku untuk menemaninya,”
Lydya mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Ternyata pemaksa. Syukurlah sudah putus,” gumam Lydya.
“Ya?”
Lydya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mereka berjalan menghampiri keluarga Lydya yang menunggu disebelah panggung. Nenek Lydya segera menyuruh cucunya untuk naik ke atas panggung dan memberikan sambutan. Lydya hanya bisa pasrah mengikuti keinginan neneknya. Lydya menaiki panggung dan memberikan sambutan singkat untuk memulai acara karena sambutan darinya lah pertanda kalau acara benar-benar dimulai.
Setelah memberi sambutan Lydya segera turun dari panggung. Dia masih tidak terbiasa berada didepan para tamu. Ketika turun panggung, Lydya mengerutkan dahinya bingung melihat mami nya berbicara dengan ibu Gio. Sejak kapan keluarga Isaac hadir di sini? Mengapa tadi Lydya tidak melihat mereka? Dan di antara keluarga Isaac ada orang yang paling Lydya ingat.
Mantan kekasih kakaknya. Lydya tersenyum kecil begitu mata mereka bertemu dan wanita itu langsung mengalihkan pandangannya.
“Lydya sayang, kenalkan ini anak pertama mama, Ferad Isaac,”
Lydya tersenyum dan menjabat tangan kakak dari Gio itu.
“Dan ini istrinya, Cristal Mishole,”
Lydya tersenyum dan segera mengulurkan tangannya. Raut wajah enggan terpatri jelas di wajah Cristal tetapi dia tetap menjabat tangan Lydya dan tersenyum sebagai kesopanan. Lydya tersenyum miring melihat Cristal membalas jabatan tangannya.
“Senang bertemu denganmu lagi,” ucap Lydya tersenyum penuh makna.
Wajah enggan Cristal berubah menjadi tegang begitu mendengar ucapan Lydya. Zyta dan Karina saling memandang bingung dan Zytalah yang paling penasaran, dari cara bicara Lydya sudah dipastikan mereka pernah bertemu dan ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Zyta.
Lydya menganggukkan kepalanya, “Kami pernah bertemu dan kak Cristal itu teman kak Ray,”
Lydya tersenyum manis pada Cristal yang bersembunyi dibelakang suaminya. Tidak ada yang menyadari hal itu tetapi tidak dengan Zyta dan Ray yang melihatnya. Zyta tau kalau ada sesuatu yang telah terjadi di antara anaknya dan menantu Karina begitupun dengan Ray kembali mengingat di mana dia mengajak Lydya waktu itu.
“Lydya, bukankah kau harus menyambut tamu yang lainnya?” ucap nenek buyut yang sejak tadi diam di kursinya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya.
Nenek buyut Lydya langsung memahami situasi yang tercipta dan dia harus segera menghentikannya sebelum situasi menjadi semakin buruk jadi dia menyuruh cucu perempuannya itu segera pergi untuk menyambut tamu-tamu yang lainnya. Jika dia membiarkan Lydya dengan ucapannya maka akan membuat suasana menjadi tidak enak karena Lydya sangat persis dengan mami nya yang terbuka dalam setiap ucapannya.
Lydya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Kalau begitu kami permisi dulu,”
Lydya berpamitan dan menggandeng Gio yang berada di sebelahnya pergi untuk menemui para tamu yang lainnya. Gio tidak ingin melakukannya tetapi orangtua nya berpesan kalau hari ini dia harus menemani Lydya bertemu dengan tamu-tamunya. Gio tak mengerti mengapa dia harus menemani Lydya tetapi dia tidak bisa menolak keinginan kedua orantua nya.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
Waahh itu mantan kakak Ray.. ternyata kakak iparnya Gio..
__ADS_1
See u next chapter (||â—Ź'â—ˇ'â—Ź)))