School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
The Other Side of the Lily


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌The Other Side of the Lily


Elon, Kaga, dan Zaide berkumpul jadi satu tak terkecuali Gio di kamar yang Elon tempati bersama Kaga setelah dia mengantar Lydya dan Leon menuju kamar mereka yang rencananya akan dia berikan untuk Gio dan Linda. Mereka berkumpul untuk membicarakan Lydya.


“Aku benar-benar terkejut dengan sikap Lydya hari ini,” ucap Kaga yang duduk di kursi menghadap kasur.


“Hmm.. ku kira Lydya orang yang benar-benar pendiam seperti di kelas,” timpal Elon memikirkan hal yang sama dengan Kaga.


Elon benar-benar dibuat terkejut dengan sikap Lydya hari ini. Dia pikir Lydya tidak akan mengajukan permintaan atau pertanyaan apapun padanya karena sejak pertama dia satu kelas dengan Lydya, kembaran dari teman nya itu tidak pernah bertanya apapun jadi dia pikir Lydya tidak akan bertanya atau mengajukan permintaan apapun.


“Don’t look from the cover,”


Zaide duduk bersandar dikepala kasur dengan kaki berselonjor, dia tengah fokus membaca buku dan sesekali mendengarkan dua teman nya berbicara.


“Whatever you say,” ucap Elon malas.


Zaide hanya mengedikkan bahunya acuh. Elon mengalihkan pandangannya pada Kaga yang melihat ke lantai tampak larut dalam pikirannya. Elon mengerutkan dahinya bingung dan penasaran tentang apa yang sedang Kaga pikirkan.


“Apa yang kau pikirkan?”


Elon menatap Kaga penasaran. Kaga terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Elon.


“Elon, tadi kau juga tahu kan apa yang Lydya katakan?”


Kaga menjawab pertanyaan Elon dengan pertanyaan. Elon menganggukkan kepalanya, dia mengerti bahasa Jerman walau tak banyak tetapi setidaknya bisa dikatakan dia cukup mahir untuk memahami apa yang orang lain sedang bicarakan.


“Apa Lydya sejak lama sudah tahu kalau aku sering membicarakan dia?”


“Pastinya,” sela Zaide begitu Elon ingin membuka mulutnya.


Elon memukul lengan Zaide kesal. Dia tidak suka disela sedangkan Zaide hanya mengelus lengannya yang dipukul.


“Kau sedang mengajak ribut?!”


Kaga merasa tersinggung karena setiap nada ucapan Zaide terdengar meremehkan nya.


“Menurut mu?” ucap Zaide melirik Kaga, membuat Kaga berdecak kesal.

__ADS_1


Kaga berdiri dari duduk dan menghampiri Ziade. Elon yang duduk disebelah Zaide mencegah Kaga agar tak melayangkan pukulannya pada Zaide yang tersenyum meremehkan. Kaga semakin terpancing melihat senyuman Zaide.


Brak!!!


Suara pintu yang dibuka kasar hingga menabrak tembok mengalihkan pandangan tiga orang anak laki-laki yang sibuk bergulat di atas kasur. Leon menutup pintu dan berjalan masuk lalu duduk di sofa panjang tempat Gio merebahkan diri dan menutup matanya dengan lengan.


Tiga orang itu mengedipkan mata mereka beberapa kali dan memandang satu sama lain. Mereka bingung, mengapa Leon kemari?


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kaga sewot.


“Lydya mengusir ku dari kamar dan menyuruh ku kemari. Dia juga menyuruh ku untuk mendengarkan setiap kata yang kalian ucapkan tentang dirinya karena sejak tadi kalian terus membicarakannya,”


Kaga, Elon, dan Zaide membulatkan mata mereka kaget. Bagaimana bisa Lydya tahu kalau sejak tadi mereka bertiga sudah membicarakan dirinya?


Apa kembaran dari Leon ini seorang peramal?


“Kembaran ku bukan peramal,” ucap Leon berdiri dan pindah menuju sofa tunggal lalu menyandarkan tubuhnya di sana.


Leon memejamkan matanya dan menghela napas panjang. Hari ini dia tidak melakukan apa-apa tetapi dia merasa sangat kelelahan. Mungkin karena perasaan Lydya yang sedang dia rasakan sekarang. Perasaan Lydya kembali tak menentu dan campur aduk.


Dia tak tahu apa yang sedang terjadi pada kembaran nya itu tetapi yang pasti dia sudah merasakannya sejak siang tadi. Kemungkinan perasaan ini muncul sejak Lydya berkunjung ke rumah keluarga Isaac.


Leon membuka sebelah matanya dan melirik Kaga.


“Aku tidak tahu harus bertanya seperti apa? Tetapi, apa Lydya bisa berbicara bahasa Jerman?”


Leon menegakkan tubuhnya dan miring menghadap Kaga. Leon menatap Kaga dalam diam membuat Kaga, Elon, dan Zaide merasa tengah melihat tatapan mata Lydya. Leon mendengus pelan. Ingatan kecil yang sudah lama dia lupakan terlintas di pikirannya.


“Seharusnya tidak,” ucap Leon.


“Lalu, bagaimana bisa...?”


“Hanya sebuah rahasia kecil,” sela Leon tersenyum kecil.


Leon ingat sekarang mengapa Lydya bisa berbicara bahasa Jerman dengan lancar karena Ryu lah penyebab utama mengapa Lydya bisa berbicara dalam bahasa Jerman. Sejak kejadian itu, Ryu memang langsung dikirim ke Jerman oleh kakek mereka.


Tetapi, Leon tidak tahu apa tujuan Lydya mempelajari bahasa Jerman dan dari mana Lydya belajar?


Kaga, Elon, dan Zaide mengerutkan dahi mereka melihat Leon yang sedang menyembunyikan sesuatu tetapi mereka tidak berani bertanya lebih dalam lagi. Kelihatannya itu adalah rahasia yang tidak bisa dibicarakan dengan sembarangan.


“Mmm.. Leon,” panggil Elon ragu-ragu.

__ADS_1


Sejak kejadian saat pembagian kamar tadi, ada hal yang terus berputar di kepalanya dan ingin dia tanyakan pada Leon.


“Apa yang ingin kau tanyakan?”


Leon melirikan matanya pada Elon yang membuatnya tersentak kecil. Lirikan Leon terlihat sangat waspada membuat Elon semakin ragu bertanya tetapi dia tak tahan untuk mempertanyakannya daripada dia penasaran terus menerus.


“Apa.. apa kau mengenal Shasha Jiang dengan baik?”


Leon terdiam sebentar menatap Elon, membuat Elon menelan ludahnya gugup. Entah mengapa suasana di sekitarnya menjadi semakin tegang sejak dia bertanya tentang teman mereka, Shasha Jiang.


“Spesifik nya kau bertanya mengapa aku dan Lydya memanggilnya Shasha Chevallier, kan?”


Elon menelan ludahnya dan mengangguk pelan. Apa yang Leon pertanyakan memang benar?


Dia terus ke pikiran pada Lydya yang memanggil Shasha dengan nama keluarga lain padahal mereka satu kelas tetapi mengapa Lydya memanggilnya dengan nama keluarga lain?


“Untuk hal itu jangan bertanya padaku. Kau bisa bertanya lebih jauh pada Lydya karena dialah yang paling tahu sedangkan aku, aku hanya tahu beberapa saja jika Lydya memberitahukannya,”


“Itu artinya Lily tahu semuanya tentang kita?”


Semua mata tertuju pada Gio yang masih berbaring di atas sofa dengan mata menatap langit-langit kamar.


“Maa ne(Ya gitu deh),”


Gio menghela napas, “Yare yare,” ucap Gio kembali memejamkan matanya.


Tunangannya ini benar-benar perempuan yang menyeramkan. Tunangannya ini sudah seperti informan saja bisa tahu segala hal tentang setiap orang yang ada di kelas mereka dan tak terkecuali dirinya. Benar-benar menakutkan bahkan dia bisa tahu tentang kehidupan lain teman mereka.


“Apa maksudnya Lydya tahu apapun tentang kita?!” tanya Kaga tak percaya.


Leon hanya diam saja menatap Kaga, dia tak mengangguk atau menjawabnya begitupun dengan Gio yang juga menatap Kaga tanpa mengatakan apapun. Bahu Kaga merosot, selama tujuh belas tahun dia hidup. Ini pertama kalinya dia bertemu orang seperti Lydya.


Ternyata memang benar ada orang yang bisa tahu segala hal tentang orang lain. Untuk kedua kalinya Kaga lengah dan ceroboh padahal ayahnya sudah memberi tahunya untuk berhati-hati dengan orang yang bisa mencari tahu tentangnya dengan mudah tetapi dia tak menghiraukan ucapan ayahnya karena dia pikir dia masih anak SMA memangnya siapa teman sebayanya yang akan berbuat seperti itu.


Tak disangkanya hal itu benar-benar terjadi padanya jika tahu seperti ini seharusnya dulu dia menerima tawaran ayahnya yang ingin menyembunyikan identitasnya tetapi dia menolak karena dia belum memerlukannya sekarang.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


Tp walau karakter Lydya sangat kuat.. aq suka bgt karna tanpa kita tahu diluar sana pasti ada orang yng karakternya se-kuat Lydya atau bahkan lebih.. and gk harus pria teruskan yang punya karakter sekuat itu.. Padahal awalnya aq mau buat karakter Gio yng kuat tp tanpa sadar malah nyemplang ke Lydya 🤣🤣and i'm not talking about emansipasi wanita yaa..


see yaaa (*^3^)/~☆

__ADS_1


__ADS_2