School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
The Charismatic of Lily


__ADS_3

Konbawa minna~


Happy Reading


!:sorry'bouttypo~ tee~ hee~


đź–ŚThe Charismatic of Lily


Lydya terlihat lebih manis dan terlihat juga kecantikannya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan jatuh hati pada tunangannya ini. Gio sendiri dapat merasakan jantungnya berdecak kencang karena terpesona dengan tunangannya sendiri.


Gio sering melihat Lydya memakai pakaian cukup terbuka tetapi dia tak menyangka tunangannya berani memakai baju renang seperti ini bahkan perempuan yang lain hanya memakai celana pendek dan kaus.



[Oh my! Boleh gk, ya? Post pic kek gni? Tp inilah penyebab rate 21+ nya. Yng suka rate 21+ jan ngarep ada uwu-uwunya]


“Ayo, kembali ke yang lainnya,” ucap Lydya merangkul kan tangannya pada bahu dan berenang kembali ke kolam renang utama.


Gio bisa merasakan kulit tangan Lydya yang menyentuh bahunya. Terasa sangat halus bahkan Gio bisa merasakan sesuatu yang menempel di lengannya. Terasa sangat empuk. Telinga Gio memerah karena dia tahu apa itu yang menyentuh lengannya. Semoga saja Lydya tidak menyadarinya.


Gio berenang dengan kedua tangannya sedangkan Lydya dengan satu tangannya dan yang satunya lagi tetap merangkul Gio. Tak jarang Lydya membiarkan tunangannya yang menggerakkan tangan dan dia hanya berpegangan pada bahu tunangannya.


Tanpa mereka sadari Linda melihat itu. Dia bersembunyi di dalam air yang dalam sampai dua orang itu semakin jauh. Linda memandang sendu Gio dan perempuan yang mengatakan namanya sebagai Queen dan mengaku sebagai sepupu kekasihnya tetapi ternyata adalah perempuan yang dicarinya karena dekat dengan kekasihnya.


Itu Lydya. Teman satu kelas Agnes, perempuan yang satu kelas dengan Lydya dan pernah memberi tahunya tentang siapa saja yang dekat dengan kekasihnya selama di kelas. Linda tak percaya jika orang yang dicarinya ada sedekat ini dengannya.


Linda terisak pelan. Hatinya terasa sakit melihat kekasihnya yang begitu dekat dengan perempuan lain. Tanpa Linda sadari pun, Lydya menyadari kehadiran Linda. Dia tak sengaja melihat Linda yang bersembunyi jauh dari tunangannya. Itulah mengapa Lydya merangkul Gio saat berenang menjauh.


Lydya sengaja melakukannya karena ingin melihat reaksi Linda. Dia pikir kekasih tunangannya itu akan menghampirinya dan mempermalukannya sama seperti para mantan kekasih kakaknya tetapi ternyata Linda hanya diam saja membuat Lydya kecewa. Dia terlalu banyak berharap Linda akan berani maju di hadapannya.


“Perempuan membosankan,” gumam Lydya.


“Hmm?” tanya Gio menolehkan sedikit kepalanya pada Lydya


“Akh! Tak apa,” ucap Lydya tersenyum kecil.

__ADS_1


Gio dan Lydya sampai di kolam renang utama dan Lydya segera melepaskan rangkulannya lalu berenang menjauh sebelum ada yang melihatnya. Leon lah yang lebih dahulu menyadari kedatangan Lydya. Dia baru saja akan membuka mulutnya untuk memanggil kembaran nya tetapi di urungkan saat Lydya menaiki tangga kolam dan berjalan masuk kedalam sambil mengeringkan badannya.


Leon yang terdiam membuat semuanya juga berhenti dan ikut melihat ke arah di mana Leon melihat karena saat ini Leon yang sedang memegang bolanya. Mereka mengerutkan dahi melihat Linda yang membuka pintu dibantu pelayan mansion Elon dan terlihat berbincang sebentar. Mereka juga melihat Gio dan Linda yang berada tak jauh dari tangga.


Pelayan itu tersenyum dan terlihat sangat menghormati Lydya. Lydya menepuk pelan bahu pelayan itu sebelum melangkah pergi.


“Pelayan itu terlihat sangat menghormati Lydya. Bukankah itu pelayan yang dipekerjakan papa mu?” bisik Kaga pada Elon yang ada di sebelahnya.


Elon menggelengkan kepalanya, “Bukan. Kata papa, pelayan itu dipekerjakan oleh orang yang menjual mansion ini,”


“Itu artinya...,” ucap Kaga.


Elon langsung menatap Kaga. Mereka berdua memikirkan hal yang sama.


“Aku sudahan,” ucap Leon menaruh bola yang dipegangnya dan berenang menjauh menuju tangga dan menyusul kembaran nya.


“Dasar orang yang super kaya,” ucap Kaga meraih bola yang berenang menjauh.


“Bukan tetapi teman yang super kaya,” ucap Elon membenarkan perkataan Kaga.


Mereka tak memperdulikan Lydya dan lanjut bermain bola hingga badan mereka menggigil kedinginan. Setelah itu, mereka segera beranjak dari kolam renang untuk berganti pakaian.


Elon mengeratkan selimutnya karena kedinginan. Dia berjalan menuju ruangan yang baru saja diberitahu papa nya kalau ada perapian di dalamnya. Elon membuka setiap pintu karena dia tidak tahu di mana ruangan itu. Elon semakin mengeratkan selimutnya. Seharusnya tadi dia tidak berenang terlalu lama.


Elon bertanya pada salah seorang pelayan yang tak sengaja berpapasan dengannya dan pelayan itu alih-alih memberi tahu tetapi langsung mengantarkannya langsung ke tempat yang sedang Elon tuju.


“Terima kasih,”


Pelayan itu tersenyum, “Sudah menjadi kewajiban saya,” ucap pelayan itu lalu pamit undur diri.


Kelihatannya pelayan itu sedang sibuk tetapi dia harus menundanya hanya untuk mengantarkan dirinya, bisa dilihat cara pelayan itu yang berjalan dengan buru-buru. Dia juga baru ingat kalau papa nya menyuruh dia memanggil setiap asisten rumah tangga dengan sebutan pelayan.


Dia sedikit tak nyaman memanggil mereka pelayan tetapi papa bilang semua pelayan yang ada di sini dipekerjakan oleh pemilik mansion sebelumnya yang artinya dipekerjakan oleh kembaran Leon dan papa bilang mereka biasa dipanggil begitu.


Dan lagi, papa nya tidak bisa menolak hal itu karena sampai sekarang para pelayan itu masih bekerja dengan Lydya dan jika ingin mempekerjakan mereka di bawah nama keluarganya, papa nya harus membayar gaji para pelayan sama dengan yang Lydya bayarkan.

__ADS_1


Gaji yang Lydya bayar untuk para pelayan sudah menyamai gaji para karyawan biasa di perusahaan papa nya. Itu artinya gaji setiap pelayan di sini adalah 10 juta. Pelayan macam apa yang digaji sebegitu mahalnya.


Elon menggelengkan kepalanya tak percaya. Baru pertama kali ini dia bertemu dengan pelayan yang gajinya sama dengan karyawan biasa di perusahaan papa nya. Kembaran Leon benar-benar perempuan kaya yang gila. Sebenarnya seberapa banyak yang Lydya miliki atas namanya?


Elon membuka pintu kayu itu dan langsung disuguhi perapian yang sudah menyala dengan dua kursi tinggi dan meja kecil menghadap perapian. Baru di luarnya saja, Elon bisa merasakan kehangatan yang dikeluarkan dahi api. Elon merasakan suhu tubuhnya langsung menghangat.


Elon berjalan tak sabaran menuju perapian dan baru saja dia akan duduk di kursi pertama, dia terkejut melihat Lydya duduk di sana dengan masing-masing tangannya memegang pensil dan buku gambar.


“Oh! Hai!” sapa Lydya singkat dan melanjutkan menggambarnya.


Elon terdiam dan berjalan menuju kursi yang satunya lalu duduk di sana, “Maaf karena lebih dulu menggunakan perapian kalian,” ucap Lydya fokus menggoreskan pensilnya di atas kertas.


“Eh.. tidak apa-apa. Lagipula papa membelinya darimu,” jawab Elon.


Lagipula mansion ini dulunya milik Lydya jadi sudah pasti Lydya juga pernah kemari. Elon memaklumi itu. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menyelonjorkan kakinya mendekati perapian. Jari-jarinya terasa sangat dingin selama perjalanan kemari. Dia tidak tahu mengapa tetapi malam ini benar-benar sangat dingin.


Lydya tersenyum kecil mendengar ucapan Elon.


“Papa mu membelikan mansion ini khusus untukmu,” ucap Lydya meletakkan pensil dan buku gambarnya di atas meja.


Lydya menuangkan teh dari teko ke dalam dua cangkir bergaya Eropa dan menyerahkan salah satunya pada Elon. Elon menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


“Dia bilang ingin membuatkan mu kolam renang yang besar dan aku menawarkan mansion ini padanya dan papa membelinya sebelum aku menawarkan yang lainnya,”


Elon hanya diam mendengarkan Lydya bercerita, “Tak kusangka dia juga meminta izin untuk mengubah bagian kolam renang sesuai keinginan putra pertama nya,”


Lydya tersenyum kecil mengingat kembali saat dia menemani papa Elon yang sedang melihat-lihat bagian mansion. Papa Elon begitu memanjakan putra bahkan sampai membelikan mansion ini untuk putra pertama nya. Elon sungguh beruntung memiliki ayah seperti itu. Dia sangat di manja.


“Benarkah?”


“Hmm.. papa mu sangat menyayangi mu. Dia benar-benar memanjakan putranya,” ucap Lydya tersenyum manis tanpa mengalihkan pandangannya dari perapian.


Elon terdiam melihat senyum Lydya. Wajah Lydya yang disinari dari perapian terlihat sangat lembut. Elon seperti sedang melihat neneknya yang suka duduk di dekat perapian sambil meminum teh seperti saat ini. Elon jadi merindukan neneknya yang sudah tidak ada itu.


đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś

__ADS_1


Uwu, nyatanya Lydya tuh gk se menyebalkan yng keliatan 🤣🤣🤣 tp emng Lydya yng rada yaa gtu deh mangkanya suka gangguin orang..


See you next chapter ~(~ ̄▽ ̄)~~


__ADS_2