School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Didn't Expect


__ADS_3

Happy reading ✺◟(∗❛ัᴗ❛ั∗)◞✺


!:sorry'bouttypo~ teehee~


ps: disini banyak bgt bahasa yng ku gunakan dalam arti beberapa diantara mereka keturunan negara lain tapi cmn ku tulis miring dan kasih dikit penjelasan juga saran aja baca chapter ini mending pake font size 14 biar gk bingung pas bacanya atau lebih kecil dari itu.


🖌Didn’t Expect


“Aa.. sou.. dasai (Aa.. begitu.. payah),” ucap Lydya menatap Elon datar.


“Hah?”


Elon menatap Lydya bingung, dia tak mengerti apa yang sedang Lydya katakan.


“Pfftt!”


“Ah! Maaf!” ucap Leon segera meminta maaf ketika semua mata tertuju padanya tetapi mendengar Lydya yang mengejek Elon dengan wajah datar terlihat lucu di matanya.


“Mansion ini besar tetapi tidak ada kamar lebih. Menyedihkan bahkan rumah keluarga Hanazawa punya banyak kamar hingga aku bingung mau memakai yang mana,” ucap Lydya bersedekap dan melihay sekelilingnya.


[di sini Lydya bicara pake bahasa Jepang, so klo Lydya lg ngomong sma Leon pake basa Jepun]


Leon tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Lydya. Entah apa yang sedang kembaran nya ini rencanakan tetapi yang pasti Lydya ingin menjahili semua orang yang ada di sini. Apalagi Lydya pernah bercerita padanya kalau dia tidak menyukai semua orang yang sedang Elon ajak sekarang.


Lydya tersenyum miring pada Elon dan bersedekap, “Kau memang kaya tetapi tidak terlihat sekaya itu,”


“Hahahaha.. maa.. maa.. sudah cukup. Lebih baik kau cari kamarmu entah dengan siapa itu,”


Leon merangkul Lydya dari belakang dan tersenyum pada Elon lalu pada para perempuan yang berdiri dibelakang Elon. Wajah perempuan-perempuan itu terlihat tak senang tetapi Leon tak memperdulikan hal tersebut. Bersekutu dengan Lydya saat ini lebih menyenangkan daripada apapun.


“Ba~ka~. Sekamar dengan perempuan-perempuan itu. Mendokusai na.. (Mengganggu saja),” ucap Lydya menatap tiga orang perempuan yang berdiri tak jauh darinya. [Bayangin aja Lydya ngomong baka pake nada2 kawai gtu(>y<)]


Wajah mereka terlihat marah dan tak suka, kerutan terlihat jelas sekali didahi mereka. Mereka memang tidak tahu apa yang sedang Lydya katakan tetapi mendengar nada bicara Lydya sudah pasti Lydya tengah membicarakan mereka.


“Kau!” hardik Shasha tidak tahan, dia menunjuk Lydya dengan wajah marahnya.


Shasha langsung menciut dan terdiam ketika si kembar menatapnya. Tatapan mereka memang terlihat biasa tetapi di pandangan Shasha tatapan mata si kembar terlihat menakutkan seolah-olah tengah menguncinya sebagai target.

__ADS_1


“Kau....,” ucap Lydya menatap Shasha yang berdiri ditengah-tengah Agnes dan Yuna.


Shasha menyatukan kedua tangannya di dada. Tiba-tiba saja tubuhnya bergetar takut. Tatapan mata Lydya terlihat sangat tajam dan menakutkan ditambah lagi suara Lydya yang sering terdengar sangat lembut kali ini terdengar sangat dalam.


Lydya menatap Shasha dalam diam cukup lama hingga dia tersenyum, “Kau Shasha Chevallier, kan? Putri terakhir keluarga Chevallier?”


[Lydya speak with Frence. Fyi, Shasha can speak Frence or she have Frence blood so she can understand with what Lydya talking about]


Mata Shasha terbuka dengan lebar. Tubuhnya semakin bergetar ketakutan hingga membuat Agnes dan Yuna panik juga khawatir. Mata Shasha yang melebar bergetar menatap Lydya. Bagaimana bisa Lydya tahu nama keluarga ayahnya padahal dia di sini menggunakan nama keluarga ibunya.


Tidak ada seorang pun yang tahu siapa ayahnya karena Shasha dengan ibunya sudah tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga ayahnya. Sebisa mungkin mereka harus bersembunyi agar tak ditemukan oleh keluarga ayah karena jika tidak Shasha tidak akan pernah bisa bertemu dengan ibunya lagi.


“Putri terakhir keluarga Chevallier?” tanya Leon menatap Lydya bingung. [In Frence too]


Lydya menganggukkan kepalanya dan Leon kembali menatap Shasha yang menatap kembaran nya takut. Tubuh teman sekelasnya ini bergetar sangat hebat hingga terlihat dengan jelas. Leon menatap Lydya terkejut ketika kembaran nya itu memberi tahunya dalam pikiran yang kembaran nya itu kirimkan.


Leon menatap Lydya tak percaya lalu menatap Shasha yang jatuh bersimpuh ketika Lydya dan Leon menggerakkan bibirnya tanpa suara. Agnes dan Yuna seketika menjadi semakin panik saat Shasha menangis kencang dan memeluk tubuhnya.


‘Wow.. vous enfant illégitime(Wow.. kau anak h*r*m)’, itulah kata yang Lydya dan Leon ucapkan.


“Je ne suis pas.. je ne suis pas un enfant illégitime!!!(Aku bukan.. aku bukan anak h*r*m!!!)”


[In Frence. It's so sensitive topic(╯︵╰,)]


Shasha menangis meraung-raung dan mengucapkan kata yang sama berulang kali. Agnes, Yuna, Linda, dan Elon berusaha menenangkan Shasha yang meraung-raung dengan keras hingga mengundang beberapa pelayan pengurus rumah.


Mereka membantu membawa tamu tuan mudanya ke kamar yang Elon tunjuk. Agnes, Yuna, dan Linda mengikuti di belakangnya.


“Kurasa kalian harus berhenti sekarang,”


Leon dan Lydya sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.


“Kalian sudah keterlaluan mengganggunya,” ucap Kaga merasa tidak nyaman dengan sikap Lydya dan Leon.


Lydya melepaskan rangkulan Leon padanya dan berbalik. Dia menatap Kaga yang berdiri dengan dahi berkerut nya. Lydya tersenyum tipis melihat itu.


“Warum? Sollte nicht? (Mengapa? Tidak boleh?)”

__ADS_1


[Klo ini in German] [Maafkeun karena semua bahasa asingnya hasil mbah googling tranclet teehee~ jadi klo yng ngerti dan ada yng salah mohon dimaafkan~ jadi can u tell me if u know about German language]


Lydya tersenyum manis pada Kaga yang mengerutkan dahinya kaget. Bahkan Leon pun juga terkejut melihat Lydya bisa berbicara dalam bahasa yang sama dengan Kaga. Sejak kapan Lydya bisa bahasa Jerman dan belajar bahasa itu. Seingat nya tidak ada satu pun anggota keluarganya yang bisa bahasa Jerman. Baik di keluarganya maupun keluarga Hanazawa.


Dia tidak tahu kalau Lydya bisa berbicara bahasa Jerman dan yang dia tahu kembaran dari teman nya ini hanya bisa bahasa Jepang dan Prancis karena dia sering mendengar Lydya berbicara dua bahasa itu.


“Wie kann...?(Bagaimana bisa?)” [In German]


“Natürlich kannst du das, weil ich kein dummkopf bin, dummkopf, (Tentu saja bisa karena aku bukan si idiot, idiot),” ucap Lydya menatap Kaga datar. [In German]


Mata Kaga membulat sempurna. Dia tidak tahu mengapa tetapi tubuhnya terasa bergetar karena takut padahal tidak ada apapun yang datang membuatnya ketakutan jadi mengapa tubuhnya merespons rasa takut. Leon yang berdiri dibelakang Lydya bisa melihat tangan Kaga yang bergetar.


Dan mengapa Lydya mengucapkan kata ‘dummkopf’? Apakah dia tahu sesuatu? Atau Lydya tahu jika dia sering menyebut nama Lydya dengan akhiran kata itu ketika dia sedang tak senang pada kembaran teman nya ini?


“Ano.. Lily, kurasa kita harus berhenti sampai di sini atau situasi akan semakin tidak nyaman,” [In Japanese]


“Elon, setujui saja usulan Lydya tadi sebelum semuanya jadi semakin parah,” lanjut Leon menatap Elon yang sejak tadi hanya diam saja dengan tajam.


Elon gelagapan dan mengiyakan ucapan Leon, “Hmm.. Lydya, kau bisa satu kamar dengan Leon,” ucap Elon tersenyum gugup.


Lydya menoleh sedikit ke belakang lalu menatap Kaga datar. Kaga mengerutkan dahinya dan tanpa sadar sedikit mundur ke belakang. Dia refleks melakukannya saat matanya beradu dengan mata tanpa ekspresi milik Lydya.


Tiba-tiba saja Lydya tersenyum membuat Kaga dan Zaide terkejut. Lydya berbalik dan juga tersenyum pada Leon dan Elon yang menelan ludah mereka gugup.


“Hontou ni? Yokkata na. Kalau begitu jaa ikimashou~(Benarkah? Syukur deh. Kalau begitu ayo~). Beri tahu aku di mana kamarnya,” ucap Lydya menggandeng Leon dan Elon untuk menunjukkan kamar yang akan dia dan Leon gunakan nanti.


Kaga menghela napasnya panjang. Dia merasa lega melihat Lydya sudah jauh dari pandangannya. Kejadian yang baru saja terjadi padanya benar-benar membuatnya tegang apalagi Lydya bisa berbicara bahasa Jerman dengan lancar. Dia benar-benar ceroboh karena sering membicarakan Lydya dengan bahasa ayahnya.


Mulai sekarang dia harus berhenti membicarakan Lydya atau entah bagaimana dia jadinya jika dia masih suka membicarakan Lydya hanya karena dia tidak menyukai Lydya. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia bisa tidak menyukai kembaran dari teman nya itu.


“Kau benar-benar membuat masalah,” ucap Zaide prihatin pada Kaga yang kembali menghela napasnya panjang mendengar ucapan Zaide.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


Beberapa saat setelah aq nulis cerita ini, aq baru sadar kalau karakter si Lydya terlalu kuat, she can do anything dan terasa mustahil, jadi karakter lakinya jadi terlihat kecil bgt ╥﹏╥


See ya nee o(╥﹏╥)o

__ADS_1


__ADS_2