
Oii!! oii!! oii!!
Happy Reading~ minna-san~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Damn
“Leon, jarang sekali kau membawa mobil? Ada apa?” tanya Lydya.
Lydya merasa heran hari ini karena tiba-tiba saja Leon bilang kalau dia akan membawa mobil hari ini jadi mereka berangkat bersama tidak seperti biasanya yang berangkat dengan sepeda motor masing-masing. Leon hanya tersenyum membuat Lydya semakin bingung dengan saudara kembarnya ini.
“Dasar aneh,” gumam Lydya.
Mereka berjalan bersama menuruni tangga, “Eh?! mengapa kesana? Parkir ke arah sana,” ucap Lydya begitu mereka sampai dilantai bawah Leon berjalan ke arah berlawanan dengan tempat parkir.
“Tunggu saja di tempat parkir. Aku mau jemput Gio dulu,” ucap Leon setengah berlari meninggalkan Lydya.
“Tunggu! Apa?!!!”
Lydya menepuk dahinya, lagi-lagi Leon ingin mengajak Gio untuk menginap. Lydya menghela napas kesal dan berjalan menuju tempat parkir. Leon bahkan tidak meninggalkan kunci mobil padanya padahal cuaca cukup panas dan menunggu diluar adalah pilih terburuk.
Cuaca panas seperti ini daripada menunggu diluar lebih baik menunggu di dalam mobil dan menyalakan ac.
Dan Lydya sekarang harus menunggu diluar di antara teriknya matahari. Beruntungnya tadi Leon mendapatkan tempat di bawah pohon jadi cukup teduh untuk menghindari matahari. Lydya mulai bosan dan kesal karena Leon tak kunjung datang dengan Gio. Ke mana perginya dua orang itu, batin Lydya.
Tak berapa lama Lydya berjongkok dibelakang mobil. Dua orang yang ditunggunya datang, Lydya menatap datar Leon yang melambaikan tangannya dengan sumringah. Leon berlari kecil menghampiri Lydya dan tersenyum pada Lydya yang hanya diam menatapnya. Leon membungkukkan badannya dan menyerahkan kunci mobil.
“Dasar. Sudah membuatku menunggu dan sekarang kau menyuruh ku menyetir,” ucap Lydya menerima dengan kasar kunci mobil dari Leon yang hanya tersenyum manis.
Lydya berdiri dan berjalan menuju kursi mengemudi, “Cepat atau ku tinggalkan kalian!" ucap Lydya.
Leon dan Gio segera memasuki mobil dan mereka meninggalkan area parkir sekolah.
🖌🖌🖌🖌🖌
Mereka sampai di rumah dan Lydya segera memasuki rumah meninggalkan Gio dan Leon yang berbincang sambil mengikuti dibelakang. Seperti biasa, Lydya ingin segera merebahkan dirinya di atas kasur dan tidur hingga sore.
“Akh! Aku lupa!”
Lydya yang duduk melepas sepatu menatap Leon bingung.
“Mami meminta ku mengambil belanjaan sepulang sekolah. Lily, aku titip tas ku,” ucap Leon menyerahkan tasnya dan berlari keluar.
__ADS_1
“Dasar,” ucap Lydya melanjutkan melepas sepatu.
“Kemari kan tasnya. Biar aku yang meletakkannya,” ucap Gio mengambil alih tas Leon.
Lydya merasa tertolong karena tak perlu meletakkan tas Leon di kamar saudaranya yang jauh dari kamarnya. Beruntungnya kamar Gio dan Leon berdekatan.
“Terima kasih. Taruhlah dengan hati-hati di atas meja dekat pintu. Leon selalu membawa barang aneh yang mudah pecah. Aku duluan,” ucap Lydya.
Sebenarnya Gio tidur di kamar sebelah Lydya tetapi entah mengapa tiba-tiba mami nya memindahkan kamar Gio menjadi disebelah kamar Leon. Lydya menduga kalau Leon sendirilah yang meminta Gio dipindahkan ke sebelah kamarnya dan sudah pasti dengan maksud agar dekat dengan Gio jika dia ingin mengajaknya bermain.
Tak jarang ketika Gio menginap di rumah, Lydya mendapati lampu kamar yang Gio tempati masih menyala ketika dia ingin menemui Leon dan saat dia sampai di kamar Leon tidak mendapati pemiliknya di sana maka Lydya langsung ke kamar Gio untuk mengecek apakah Leon ada di sana atau tidak dan tentu saja kembaran nya itu ada di sana mengajak Gio bermain hingga larut malam.
“Ughh!! Tubuhku lelah sekali,” ucap Lydya menjatuhkan dirinya di atas kasur dan mulai memejamkan matanya.
Lydya yang memasuki alam mimpi kembali teringat kalau dia belum memberi tahu rencananya pada sang mami. Lydya beranjak dari tidurnya dan dengan langkah lebar mencari mami nya di dapur. Biasanya di jam-jam gini mami nya ada di dapur. Sesampainya Lydya di dapur tetapi tidak mendapati mami nya di sana dan hanya ada beberapa pelayan yang sibuk mengerjakan tugas masing-masing.
“Bibi Yul,” panggil Lydya pada kepala dapur.
Bibi Yul yang sedang sibuk memotong sayur menghentikan kegiatannya dan menatap bingung anak majikannya itu.
“Apa mami di sini?”
“Nyonya muda? Tidak. Nyonya muda sejak pagi tadi sudah tidak ada di rumah. Kelihatannya pergi dengan nyonya. Mengapa nona?” jelas bibi Yul.
Lydya jadi tidak bisa mengutarakan keinginannya bahkan pada nenek buyut nya juga tidak karena beliau pulang ke Jepang dan akan tinggal beberapa hari di rumah pamannya.
“Paman?”
Tentu saja. Mengapa Lydya tidak terpikirkan dengan pamannya yang tinggal di sini? Lydya setengah berlari kembali ke kamarnya dan mencari ponsel nya di dalam tas dia bertujuan menelepon sepupunya.
“Halo, Levin!”
Lydya langsung berteriak memanggil begitu panggilannya terhubung.
‘Akh! Lydya, berhenti berteriak,’
Lydya tertawa kecil mendengar nada protes terdengar jelas dari sepupunya itu. Dia suka sekali memanggil nama sepupunya dengan nada tinggi jika mereka bertemu atau menelepon dan raut wajah kesal dari sepupunya itulah yang Lydya tunggu.
“Levin, apa mami dan nenekku di sana?” tanya Lydya tanpa basa-basi.
‘Hmmm.. tidak tetapi pelayan bilang kalau mereka menjemput la mère (ibu) tadi pagi,’
Sudah Lydya duga kalau mami dan neneknya datang ke rumah pamannya untuk menjemput bibinya itu. Mami dan neneknya itu senang sekali mengajak bibinya keluar.
__ADS_1
“Kau tahu ke mana mereka pergi?”
‘Non (tidak),’
Sebenarnya tanpa perlu bertanya Lydya sudah tahu ke mana saja mereka akan pergi dengan melihat Leon yang harus mengambil belanjaan tadi. Sudah pasti mereka pergi jalan-jalan menghabiskan uang dan bibinya ini mau-mau saja diajak keluar untuk menghabiskan uang bahkan pamannya itu tidak pernah menegur mami saking seringnya mengajak bibi keluar.
“Merci (terima kasih), Levin,”
‘De rien (sama-sama), Lily,’
Lydya memutuskan sambungan telepon nya dan merebahkan dirinya di kasur. Lagi-lagi dia tidak sempat mengatakan keinginannya pada mami nya. Akhir-akhir ini dia tidak beruntung. Jika tidak mami nya sibuk mengurus rumah pasti sibuk dengan rumah sakit atau tiba-tiba harus menghadiri acara dan buruknya seperti sekarang pergi berbelanja.
Lydya menutup matanya memutuskan untuk tidur dan mengatakannya nanti malam jika mami nya sudah pulang.
🖌🖌🖌🖌🖌
Dan alhasil mami dan neneknya tidak pulang malam ini jadi Lydya lah yang kembali mengurus rumah. Dia benar-benar sial hari ini. Sudah dihukum guru karena lupa membawa buku tugasnya, menunggu Leon menjemput Gio, ditinggal mami dan neneknya keluar dan sekarang dia mengambil alih tugas mami nya mengurus rumah.
“Mami mu belum pulang?”
Lydya menggeleng lemah menjawab pertanyaan papi nya.
“Evan juga bilang kalau Amelie belum kembali,”
Adam mengingat kembali ketika dia pulang kerja tiba-tiba Evan menghubungi mencari keberadaan istrinya. Adam sedikit bingung mengapa Evan mencari Amelie padanya hingga dia tahu kalau Amelie pergi bersama dengan istri dan ibu mertuanya sejak pagi tadi.
“Kebiasaan buruk mereka,” timpal kakek Lydya.
Papi dan kakek Lydya sudah hafal dengan kebiasaan istri mereka yang tidak pulang dan menginap bersama entah di hotel mana. Bisa saja mereka mencari tahu tetapi entah bagaimana ketiganya selalu tahu jika mereka sedang dicari dan jika disusul ke hotel tempat mereka menginap tiba-tiba saja para istri sudah check-out jadi mereka yang para suami memilih membiarkan saja.
“Tidurlah, sudah malam besok kau masih sekolah,” ucap Adam mencium kening Lydya.
“Selamat malam, papi,” ucap Lydya mencium kedua pipi papi nya.
“Malam, bunga kakek,” ucap kakek Lydya juga mencium keningnya.
“Malam juga, kakek,” ucap Lydya melakukan hal yang sama pada kakeknya.
Lydya memasuki kamarnya setelah di antara oleh papi dan kakeknya.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Pyong~ pyong~ ini mamak Zyta udh tua kelakuannya masih aja😆
__ADS_1
See ya two days lata~ (。・ω・。)