School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
C'est ta Love Story


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌C’est ta Love Story (I’ts Your Love Story)


Ujian pun telah usai. Lydya dapat mengerjakan semua soal dalam ujian dengan mudah. Bersyukurlah dirinya karena dia mudah memahami dan mengingat materi yang diberikan walau terkadang dia tidak mendengarkan gurunya saat sedang menerangkan tetapi setidaknya dia masih mempunyai Leon yang sangat rajin mencacat ditambah lagi catatan yang Leon tulisan selalu rapi dan terperinci.


Beruntungnya dia mempunyai saudara seperti Leon. Jika, ada materi yang tak dicatatnya masih ada Leon yang mencatatnya.


Ujian sudah selesai dan sekolah menengahnya juga bisa dikatakan telah selesai. Sekarang yang perlu dipikirkannya adalah apakah dia akan melanjutkan pendidikannya atau tidak lagipula tanpa dia melanjutkan ke bangku kuliah, dia juga sudah memiliki pekerjaan yang akan terus menjamin hidupnya nanti.


Lydya menghela napasnya pelan. Pandangannya jatuh ke arah depan dimana rumah utama yang terlihat diantara pepohonan rindang dari rumah belajar.


Drap! Drap! Drap!


Lydya menolehkan kepalanya ke arah sumber suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Terlihat Gio berjalan mendekatinya. Wajah Gio terlihat menakutkan. Tergambar dengan jelas kalau dia sedang marah dan terlihat juga wajah sedih dan kecewa.


Ada apa dengan laki-laki satu ini?


Datang menemuinya dengan wajah yang tak mengenakan. Lydya tetap diam membiarkan Gio emosinya. Beberapa menit berlalu, wajah Gio mulai terlihat tenang. Dahi berkerut marahnya mulai menghilang dan menyisakan wajah sedihnya.


“Ada apa?”


Lydya melihat kening Gio yang sekarang berkerut karena sedih. Gio tetap diam saja membuat Lydya kebingungan.


“Eh?! Eh?!”


Lydya gelagapan dan semakin kebingungan melihat Gio yang tiba-tiba saja menangis. Lydya tidak tahu apa yang harus dilakukannya sehingga dia memilih untuk memeluk Gio dan mengelus kepalanya pelan.


Yang Lydya tahu inilah yang sering dilakukan teman-teman perempuannya jika salah satu diantara mereka menangis.


Perlahan tangis Gio mulai berhenti, menyisakan Gio dengan wajah sembab dan hidung yang terus berair. Lydya melepaskan pelukannya lalu berdiri untuk mengambil tisu. Lydya menyerahkan kotak tisu pada Gio.


“Ter.. ehh? Yukatamu,” ucap Gio saat matanya tak sengaja melihat yukata Lydya basah pada bagian dimana Lydya memeluknya tadi.


Lydya memakai yukata berwarna gelap sehingga terlihat jelas sekali bekas air matanya. Telinga Gio memerah malu karena membuat pakaian seorang perempuan basah oleh airmatanya. Lydya melihat yukatanya dan benar saja ada lingkaran besar di dada sebelah kanannya. Lydya terdiam beberapa saat sebelum tertawa pelan, tawa Lydya membuat Gio semakin malu.


“Tidak apa,” ucap Lydya tersenyum pada Gio.


“Lebih baik mengeluarkannya daripada tidak. Dari yang kudengar laki-laki sulit mengeluarkan emosinya? Apalagi sampai menangis,” lanjut Lydya memandang ke depan.


Lebih baik dia tidak terus melihat Gio yang terlihat sangat sedih atau dia akan membuat tunangannya itu semakin malu karena air mata.

__ADS_1


“Bukannya tidak bisa hanya tidak ingin memperlihatkannya saja,” sanggah Gio sekenanya.


“Hmm.. begitu?”


Gio hanya menganggukkan kepalanya.


“Aku jarang sekali melihat laki-laki menangis. Papi dan Leon tidak pernah menyembunyikan kesedihan mereka jadi aku tidak pernah tahu bagaimana seorang laki-laki ketika mereka menahan tangisan mereka. Ternyata sangat manis,” ucap Lydya tersenyum lebar hingga matanya melengkung.


Gio terdiam mendengar ucapan Lydya. Bisa dirinya rasakan kalau telinganya memanas. Sama seperti waktu itu ketika mereka berada di rumah belajar. Wajah Lydya yang terkena cahaya matahari terlihat bersinar bagaikan seorang malaikat yang turun ke bumi.


“Eh? Kenapa pipimu merah?” tanya Lydya kebingungan.


Gio segera menolehkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Lydya mengerutkan dahinya. Mata Gio membulat ketika dia merasakan tangan hangat dan lembut menyentuh dahinya lalu lehernya.


“Ada apa denganmu? Wajahmu memerah sampai leher. Kau sakit?” tanya Lydya semakin kebingungan.


Gio menahan tangan Lydya yang ada di lehernya lalu berdiri dan segera pergi meninggalkan Lydya yang menatap punggung Gio dengan penuh rasa bingung.


“Ada apa dengan laki-laki ini?” gumam Lydya bertanya pada dirinya sendiri.


Lydya tidak mengerti dengan laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya itu. tadi saja, dia menangis sampai matanya sembab lalu sekarang wajahnya memerah hingga lehernyapun juga ikut memerah. Semakin dipikir, dirinya semakin tidak paham apa yang terjadi pada tunangannya itu.


“Dasar aneh,” ucap Lydya menatap Gio yang berjalan kembali ke rumah utama.


đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś


Dan hanya dijawab gumam tak jelas oleh Lydya yang fokus menggerakkan tangannya diatas sketchbook-nya. Leon memberengut kesal setiap kali Lydya fokus menggambar daripada mendengarkannya.


“Apa kau tahu?” ucap Leon mengedipkan matanya berulang kali dengan senyum lebar bersiap memberitahu Lydya.


“Hmm?”


“Ku dengar, Gio baru saja putus dengan kekasihnya,” ucap Leon tersenyum lebar.


Tidak ada jawaban apapun dari Lydya dan Leon dengan setia menunggu jawaban Lydya dengan senyum lebar.


“Oh,” jawab Lydya setelah diam beberapa saat.


“. . . . .”


Bahu Leon merosot malas. Padahal dia sudah sangat antusias menceritakannya pada Lydya tetapi reaksi kembarannya ini tidak sesuai keinginannya. Leon menyanggah kepalanya dengan satu tangan dan menatap tak minat pada Lydya yang masih memfokuskan dirinya pada buku sketsa.


“Membosankan,” ucap Leon mengalihkan pandangannya keluar.

__ADS_1


Leon tak habis pikir mengapa kembarannya ini suka sekali menggambar berbeda dengan dirinya yang lebih suka membaca buku atau bermain keluar rumah dengan teman.


Lydya lebih suka berdiam diri di rumah hingga berjam-jam bahkan berhari-hari tanpa keluar rumah hanya untuk terus menggerakkan tangannya diatas buku sketsa atau apapun itu selama bisa dia gunakan untuk menggambar. Dia baru keluar rumah jika sudah sangat bosan.


“Berapa banyak yang akan kau buat?” tanya Leon tanpa mengalihkan pandangannya dari dua ekor burung yang singgah di teras rumah belajar.


“Entahlah,” ucap Lydya melirik empat kertas yang ada di samping bawah kanannya.


Lydya telah menyelesaikan empat diantara gambar yang rencananya ingin dia buat. Semua adalah gambar yang sama, yang akan diberikannya pada teman-temannya. Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Si kembar fokus pada kegiatan mereka masing-masing.


“Kekasih Gio tahu dan dia mencarimu,” ucap Leon menolehkan kepalanya pada Lydya yang diam tak menggerakkan tangannya lagi.


“Kurasa dia ingin meminta maaf bukan mencari masalah lagi,” lanjut Leon.


“Baguslah. Itu tandanya dia tahu diri,” jawab Lydya lanjut menggambar.


Setelah itu hanya terdengar suara pensil yang beradu dengan kertas dan dua burung yang Leon lihat tadi sudah terbang entah ke mana. Mungkin kembali ke sarang mereka.


“Apa kau serius dengannya?” tanya Leon terlihat serius.


“Entahlah. Aku juga tidak tahu,” jawab Lydya saat mendengar kelanjutan dari pertanyaan Leon di dalam hatinya.


Lydya tak terlalu menanggapi pertanyaan yang Leon lontarkan padanya karena dia juga tidak yakin dengan perasaannya sendiri yang dia rasakan untuk laki-laki itu. Saat ini, yang dirasakan hanya rasa senang karena memiliki orang yang dekat dengannya selain keluarga dan Hera terlebih lagi itu seorang laki-laki.


“Jujur saja, sebagai laki-laki. Aku merasa dia menyukaimu,”


“Jangan terlalu memikirkannya. Serius atau tidaknya tergantung nanti,” ucap Lydya mengganti kertas gambar yang sudah diselesaikannya dengan yang baru.


Leon terdiam sebentar, “Kau yakin?” ucap Leon mulai mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Jika mami memintanya. Tidak menjadi masalah untukku,” ucap Lydya kembali menggerakkan tangannya.


“Bagaimana jika…,” ucap Leon merasa khawatir.


“Aku bisa mengatasinya sendiri,” ucap Lydya menatap Leon tanpa ekspresi.


Walau Lydya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi tetapi dia bisa melihat kedua mata saudari kembarnya itu kalau dia sangat yakin dengan apa yang diucapkannya. Leon terdiam dan menundukkan kepalanya sesaat lalu menghela napas pelan.


Leon mengangkat kepalanya, “Semoga hari-harimu menyenangkan,” ucap Leon tersenyum simpul.


Lydya ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Tentu,” ucap Lydya.


đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś

__ADS_1


Chapter ini kubuat gegera lg dengerin lagunya 'Indila'... dan terpikirkanlah untuk membuat chapter ini~ fufufufu~


See ya~(~ ̄▽ ̄)~~


__ADS_2