School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Visit


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Visit


Beberapa hari telah berlalu dan Gio sudah dikembalikan oleh mami nya ke kedua orangtua nya, tepat sehari setelah Gio menyelesaikan materi etika keluarga yang menghabiskan 4 buku rangkuman.


Lydya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sehabis dia pulang sekolah. Dia tidak tau apa yang akan dilakukannya hari ini karena biasanya sepulang sekolah, dirinya akan menunggu Gio di rumah baca atau sebaliknya tetapi sekarang Gio sudah kembali ke rumahnya.


“Adikku, sayang,”


Lydya yang baru saja akan menutup matanya dan tidur kembali membuka mata dan berdecak saat suara kakaknya terdengar di telinganya. Tanpa beranjak Lydya menolehkan kepalanya dan menatap Ray tajam.


“Apa?!!”


Ray masuk kedalam kamar Lydya dan berbaring di sebelahnya. Lydya memutar bola matanya malas, terlihat sekali ada yang kakaknya ini inginkan tetapi tak berani berucap sebelum Lydya bertanya.


“Apa maumu?”


Ray terkekeh dan memamerkan senyuman lebar, “Sadar juga,”


Lydya berdecak dan menatap kakaknya datar. Ray bangun dari tidurnya dan duduk bersila begitupun dengan Lydya. Hanya saja bedanya Lydya bersedekap sedangkan Ray menyatukan kedua tangannya dan sudah lebih menatap Lydya penuh harap.


“Besok malam, ada acara pernikahan temanku dan…,”


“Oke. Siapkan aja apa yang ku perlukan dan keluarlah. Aku ingin istirahat,”


Lydya sudah paham apa yang Ray inginkan. Ray tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih lalu mencium kening Lydya lama setelah itu dengan langkah senang meninggalkan kamar Lydya tanpa menutup pintunya.


“Dasar kakak menyebalkan,”


“Maaf. Aku lupa,”


Baru saja Lydya akan berdiri untuk menutup pintu, kakaknya kembali lagi dan menutup pintu kamarnya. Syukurlah kalau kakaknya ini paham. Lydya kembali merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya untuk istirahat.


🖌🖌🖌🖌🖌


“Baiklah, tugas hari ini akan dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki. Kalian bebas memilih siapa saja anggotanya,”


Setelah guru memerintahkan muridnya mencari kelompok, maka mulailah pembagian kelompok.

__ADS_1


“Lydya, Hera, kita dengan siapa saja?” tanya salah seorang teman perempuan -Eiza- yang duduk dikursi depan Lydya dan Hera.


“Kita sudah berempat dan kurang tiga laki-laki,” jawab salah seorang teman perempuan yang lain -Melani- yang juga duduk didepan Lydya dan Hera, teman satu bangku Eiza.


“Tentu saja, kembaran ku dan juga teman satu bangkunya,” ujar Lydya menunjuk bangku belakangnya dan Hera.


Leon dan teman satu bangkunya tidak terlalu memperdulikan sekitar dan malah asyik mengobrol jadi Lydya sudah sangat paham maksud dari kembaran nya itu jika mereka untuk membentuk kelompok.


Leon dan Lydya tidak boleh sampai dipisah. Itulah pedoman sejak kelompok pertama dibentuk dan si kembar ini berada di kelompok yang berbeda.


Jika itu Lydya maka tidak menjadi masalah tetapi tidak dengan Leon, saudara kembarnya ini terus memaksa untuk satu kelompok dengannya dan jika mereka tidak berada di kelompok yang sama maka Leon tidak akan membantu mengerjakan.


Terkadang sikap Leon memang sedikit kekanakkan menurut Lydya, jadi sewaktu-waktu bisa merepotkannya.


“Kurang satu lagi,” ujar Eiza sehabis dia mencatat nama-nama anggota kelompok di selembaran kertas.


“Aku ikut di sini,” ujar seseorang tiba-tiba membuat empat orang yang tengah berdiskusi menatap ke sumber suara.


Lydya menatap laki-laki yang tiba-tiba saja datang dengan tatapan malas. Dari sekian banyak kelompok, mengapa dia ingin satu kelompok dengannya dan yang lain?


“Baiklah. Sudah kutulis,” ujar Eiza dan dengan sigap Melani mengumpulkan kertas kelompok tersebut pada guru.


Lydya yang belum mengucapkan sepatah kata pun harus mengalah saat lembaran tersebut diterima oleh guru pengajar. Kali ini dia tidak dapat menolak laki-laki ini dan tentu saja banyak sekali tatapan tak mengenakkan yang ditujukan kepadanya tetapi Lydya tak ambil pusing.


Bel pulang berbunyi dan benar saja, tugas kelompok hari ini belum selesai jadi mereka harus berkumpul diluar sekolah untuk melanjutkannya, ditambah lagi para murid dilarang tinggal di sekolah saat jam pelajaran usai kecuali ada kegiatan yang mendesak dan mengharuskan mereka untuk tetap ada di sekolah, seperti kegiatan ekstrakulikuler.


“Di mana kita akan melanjutkannya?” tanya Melani saat mereka berjalan bersama menuju area parkir.


“Bagaimana kalau di rumahku?” ujar Leon mengajukan diri, Lydya menatap kembaran nya melarang tetapi Leon tak menghiraukan tatapan dari kembaran nya itu.


“Apakah boleh?” tanya Eiza yang menyadari tatapan lydya.


“Tid.. hmmpptttt..,”


Leon segera membekap mulut Lydya yang baru saja akan berucap melarang.


“Tentu. Tentu saja boleh. Mami pasti senang sekali kalau ada yang datang ke rumah,”


Leon tersenyum lebar dan menyeret kembaran nya menuju sepeda motor mereka.


🖌🖌🖌🖌🖌

__ADS_1


“Irasshaimase!(Selamat datang!)” ujar Leon membuka pintu lebih dahulu dan mempersilahkan yang lainnya masuk.


Lydya memutar bola matanya malas dan berjalan mendahului. Biarkan Leon saja yang menjamu teman-temannya. Lydya yang berjalan menuju kamarnya tak sengaja berpapasan dengan mami nya yang baru saja keluar dari kamarnya.


“Siapa yang datang?”


Lydya menatap mami nya tak percaya. Pendengaran maminya memang patut di acungi jempol padahal jarak kamar orangtua nya dan pintu utama cukup jauh tetapi maminya bisa mendengar suara sejauh itu atau memang suara Leon lah yang terlalu kencang.


“Teman sekelas datang untuk kerja kelompok,” ujar Lydya.


“Mana kembaran mu?”


“Lagi sama yang lain. Mungkin masih di ruang tamu,” jelas Lydya.


“Ohh! Akh!! Ray-ku sayang, ke sini sebentar,” panggil Zyta pada putra tertua nya yang tak sengaja lewat.


Ray berjalan mendekati mami dan adik perempuannya.


“Ada apa, mam?”


Zyta tak menjawab dan hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ray lalu menggandeng lengan putranya itu dan membawanya paksa.


“Cepat ganti bajumu,” ujar Zyta menyeret putra pertama nya itu untuk kembali memasuki kamar putranya.


Lydya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mami nya yang suka sekali memaksa anak-anaknya melakukan apa yang diinginkan perempuan yang sudah melahirkannya itu.


Lydya kembali berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ingin rasanya Lydya untuk tidur tetapi dia tidak bisa melakukannya.


Teman-temannya pasti sedang menunggunya untuk kerja kelompok. Lydya menghela napasnya dalam posisi tengkurap. Dia beranjak dari tidurnya dan segera mengganti pakaiannya dengan baju biasa.


Lydya menatap cermin depannya. Apakah lebih baik dia memaki kimono dari pada pakaian biasa seperti ini? Sangat berbahaya jika dia sampai bertemu dengan nenek buyut nya. Nenek buyut nya itu sangat tidak suka jika ada anggota keluarga yang tidak memakai kimono atau yukata.


Dirinya dilanda dilema hingga akhirnya dia memutuskan untuk memakai kimono dan hakama saja. Ini lebih baik daripada dia kena marah oleh nenek buyut nya. Lebih baik mencari aman nya saja.



Lydya kembali menghembuskan napasnya. Walaupun hanya kimono dan hakama tetap saja Lydya kesulitan memakainya tetapi dia juga tidak ingin merepotkan siapa pun.


Untuk ketiga kalinya dia menghela napas dan berjalan keluar kamarnya.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌

__ADS_1


See ya next chapter o(〃^▽^〃)o


__ADS_2