School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Haru no Koi


__ADS_3

Nighto guys.. huhuhu.. niatnya mau up semua kemarin tp malesnya merajai (T ^ T) dan disini kita bakal flashback dikit yupss (≧∇≦*)


This day.. eh salah.. this night..


Happy Reading chingu-ya..


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Haru no Koi (Love in Spring)


“Gio.. Gio.. ayo bangun. Nanti kesiangan,”


Suara tirai jendela yang bergeser saat dibuka terus terdengar. Gio kecil perlahan mulai membuka matanya lalu bangun dan duduk diatas kasur. Terlihat ibunya yang berjalan menuju lemari bajunya dan mengeluarkan beberapa baju bagus yang jarang dia kenakan.


“Ayo mandi dulu,” ucap ibunya mengangkat Gio kecil dari kasurnya menuju kamar mandi.


Ibunya, Karina menurunkan putranya di kamar mandi lalu berjongkok di depannya untuk membantu melepaskan pakaian tidur putranya.


“Mau mama bantu mandi?” tanya Karina berdiri dari jongkoknya.


Gio kecil menggelengkan kepalanya membuat Karina tersenyum senang melihat putranya yang masih berumur lima tahun sudah belajar untuk melakukan kegiatannya sendiri.


Terkadang dia sering memergoki putra mengerjakan keperluannya sendiri. Sebagai seorang ibu, dia merasa sangat bangga.


“Pintar. Kalau begitu mama tunggu diluar,” ucap Karina berjalan keluar kamar meninggalkan putranya.


Gio kecilsegera masuk kedalam bak mandi yang sudah diisi penuh dengan air dan mainan bebek kuning kesukaannya. Selama sesi mandi terpikirkan olehnya kenapa ibunya memintanya bangun lebih dahulu daripada jam bangunnya tetapi karena Gio kecil memangnya masih anak-anak tidak ada pikiran aneh apapun yang terlintas di otak kecilnya.


Gio kecil mandi dan bermain air sampai ibunya memanggil dan menyuruhnya menyudahi sesi mandinya.


Dengan patuh, Gio kecil keluar dari bak mandi dan menarik handuk yang sudah disiapkan ibunya. Gio kecil segera keluar dari kamar mandi dan Karina dengan cekatan membantu putranya untuk mengeringkan badan.


“Mama.. mama..”


Gio kecil mengangkat kepalanya setelah ibunya selesai mengeringkan rambutnya.


“Iya,” jawab Karina selagi mengambil baju yang tadi dipilihnya lalu mencocokkannya satu persatu pada putranya.

__ADS_1


“Kenapa aku harus bangun lebih pagi?”


“Hmmm.. karena teman mama mau datang,” jawab Karina meletakkan baju yang lain setelah memilih satu lalu memakainya pada Gio kecil.


“Teman mama?”


“Hmm.. Teman mama waktu sekolah dulu dan sekarang tinggal di kota lain,”


Karina mengeringkan rambut putranya memakai hairdryer agar lebih cepat kering lalu menata rambut putranya.


Gio kecil mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti walau dia tak tahu siapa teman ibunya yang akan datang. Gio kecil mengikuti ibunya keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga. Dilantai bawah sudah sangat ramai.


“Gio kecil!!!”


Gio kecil tersenyum senang begitu melihat sepupu perempuannya juga ada di sana. Mereka saling berpelukan dan bermain bersama di taman. Cukup lama Gio kecil dan sepupunya bermain hingga tak sadar ada keluarga lain yang datang.


Gio kecil melihat keluarga itu begitu dia menyadarinya, dia tak mengenali dua orang dewasa di antara orangtuanya dan orangtua sepupunya.


Dari kejauhan di tempatnya bermain, Gio kecil terus mengamati keluarga itu dengan pandangan tertarik.


Entah kenapa keluarga itu sangat mengundang perhatian dan rasa penasarannya. Dua orang dewasa itu juga tidak datang sendiri, mereka datang bersama anak mereka.


Gio kecil juga sepupunya langsung berlari mendekat dan Karina juga bibinya segera memperkenalkan dirinya juga sepupunya pada keluarga yang baru datang itu.


“Ohh.. Jadi, ini yang namanya Gio? Salam kenal, ya. Gio bisa panggil tante Zyta,” ucap wanita dewasa berjongkok didepan Gio kecil dan tersenyum lebar.


Gio kecil juga tersenyum dan memperkenalkan diri, wanita itu tertawa kecil lalu bergantian menyapa sepupunya sebelum berdiri. Wanita itu juga memperkenalkan anak-anaknya.


Gio kecil hanya tersenyum melihat anak laki-laki setinggi dirinya hanya diam menatapnya. Tatapan anak laki-laki itu membuatnya sedikit takut. Gio kecil mengalihkan pandangannya dari anak laki-laki itu ke arah lain.


“Bentar, anakku yang satunya ilang,” ucap wanita yang tadi menyapanya.


Wanita itu terlihat mengedarkan pandangannya lalu berjalan menuju salah satu ujung taman. Di sana berdiri anak kecil yang juga sama tingginya dengan Gio kecil dan memakai gaun lengan panjang berwarna putih.


Wanita yang menyapanya terlihat berbicara sebentar pada anak itu lalu membawanya mendekat. Wajah anak kecil itu membuat Gio kecil tak bisa mengalihkan pandangannya. Gio kecil terus melihat ke arahnya hingga anak kecil itu berdiri di depannya dan sepupunya.


“Gio sama Belinda, kenalkan ini anak tante yang satunya, namanya Lydya. Lily, ayo kenalkan dirimu,”

__ADS_1


Zyta kembali berjongkok di depan Gio kecil dan Belinda lalu berbicara dengan lembut pada anak perempuannya yang hanya diam saja. Anak perempuan itu hanya diam dan menatap ke arah bawah.


“Kelihatannya Lydya masih malu,” ucap ibunya mengelus kepala putranya.


Gio kecil menengadahkan kepalanya sebentar melihat ibunya lalu kembali melihat anak perempuan di depannya yang sudah mengarahkan pandangannya lurus ke arah depan membuat Gio kecil merasa kalau pandangan itu ditujukan padanya.


Zyta hanya bisa tersenyum kecil melihat putrinya hanya diam saja lalu berdiri dan setelah itu, Gio kecil tidak tahu apa lagi yang terjadi karena sepupu perempuannya segera menarik tangannya untuk bermain lagi.


🖌🖌🖌🖌🖌


Tak terasa waktu sudah menjelang siang, sepupu perempuannya sedang tidur siang dan dirinya tidak ingin tidur siang seperti yang diperintahkan ibunya untuk segera tidur siang. Gio kecil kecil berjalan menuruni tangga dengan pelan lalu berjalan pelan menuju ruang keluarga.


Jika siang hari dia tidak bisa tidur, biasanya dia akan datang ke ruang keluarga untuk bermain piano. Gio kecil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengecek keadaan sekitar. Kelihatannya para orangtua masih di taman belakang. Beruntungnya jarak ruang keluarga dan taman belakang cukup jauh jadi jika dia bermain piano akan terdengar samar.


Begitu dirasa aman Gio kecil segera berjalan setengah berlari menuju piano yang ada di pojok ruang keluarga. Dengan sekuat tenaga Gio kecil membuka penutup tuts piano lalu duduk di kursi kecil didepan piano setelah berhasil membuka penutup tuts piano.


Gio kecil mulai memainkan lagu yang ada dalam kertas di depannya. Baru saja dia menyelesaikan bait pertama, dirinya dikejutkan sebuah kepala yang hanya memperlihatkan matanya saja muncul di sisi kanan pianonya.


Saking terkejutnya, Gio kecil sampai menjauhkan jari-jarinya dari tuts dan memindahkannya di dada. Terasa sekali kalau jantung berdetak sangat cepat.


“Nee.. Mainkan lagi,”


Gio kecil menolehkan kepalanya ke arah kepala itu. Kepala itu mulai menunjukkan dirinya dan ternyata adalah anak perempuan dari teman ibunya yang sejak tadi hanya diam saja bahkan diajak bermain pun tak memberikan tanggapan apapun.


“Mainkan lagi,” ucap anak perempuan itu menatap Gio kecil tanpa ekspresi.


Gio kecil mengerutkan dahinya bingung, dia tak mengerti apa yang anak perempuan itu ucapkan padanya.


Dengan inisiatifnya sendiri, Gio kecil kembali menggerakkan jarinya diatas tuts piano melanjutkan bait selanjutnya dari lagu yang dia mainkan. Gio kecil melirik anak perempuan itu untuk melihat ekspresinya.


“Kirei ne~ (Indahnya~)” ucap anak perempuan itu membuat Gio tanpa sadar berhenti menggerakkan jarinya.


Anak perempuan itu menoleh padanya dan tersenyum kecil. Gio menutup setengah wajahnya hingga menutupi kedua pipinya dengan tangan.


“Permainanmu indah,” ucap anak perempuan itu tetap tersenyum.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌

__ADS_1


(๑´̥̥̥>ω<̥̥̥`๑) minna.. cerita ini dah mau selesai nih.. see u next chapter..


__ADS_2