School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Start to Play


__ADS_3

Happyeu Readingeu~~~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Start to Play


Semuanya menghela naPas tanpa suara mendengar Lydya tidak menyebutkan nama aslinya. Lydya tertawa dalam hati, dia senang melihat yang lainnya merasa tersiksa.


Linda menatap Lydya tak yakin, “Aku sedang tidak bercanda. Namaku memang Queen,”


Linda menatap Lydya tak percaya. Dia terkejut melihat Lydya tau apa yang sedang dipikirkannya. Gio yang sudah pernah merasakannya pun juga masih tidak percaya dengan kemampuan Lydya dapat membaca raut wajah lawan bicaranya.


Dia merasa kalau Lydya memang bisa membaca pikiran daripada membaca apa yang lawan bicaranya pikirkan lewat raut wajah saja. Gio sudah pernah mengalami yang lebih parah daripada dengan Lydya. Kakek Lydya, pimpin keluarga Hanazawa, pernah membaca apa yang dipikirkannya ketika dia menemani kakek Lydya dan kakek Lydya tidak mengakui hal tersebut.


“Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku hanya melihat dari wajah mu saja,” ucap Lydya membuat Leon mendengus dalam hati.


Apa yang saudari kembarnya ini katakan semuanya bohong. Lydya tidak hanya bisa membaca apa yang orang lain pikirkan dari raut wajah tetapi memang bisa membaca pikiran dan tanpa dosa bisa membuat orang lain mendengar apa yang kembaran nya ini pikirkan.


Lydya paling ahli dalam membagi pikirannya tanpa harus menggerakkan se-inci bibirnya dan anehnya orang-orang yang berada di sekitar kembaran nya ini pasti bisa mengerti apa yang kembaran nya ini ingin sampaikan. Lydya melirik Leon yang berusaha mencari tahu apa yang sedang dipikirkannya. Lydya hanya tersenyum dalam hati.


“Akh! Aku lupa memperkenalkan yang lainnya. Kau harus mengenal mereka juga karena mungkin aku akan sering mengajak mu makan bersama,” ucap Lydya tersenyum manis.


Gio, Leon, Hera, Eiza, dan Melani membulatkan mata mendengar ucapan Lydya yang penuh makna. Leon dan Hera sudah yakin, Lydya sudah memulai aksi mengganggunya. Leon tahu, kembaran nya ini sudah berniat mengganggu Linda sejak dia mengundang Linda makan malam bersama.


“Kenalkan dia saudaraku, Leon,”


Linda menolehkan kepalanya pada Lydya. Jika, laki-laki yang dikenal kan Lydya adalah saudaranya itu artinya nama perempuan yang mengundang nya ini bukan Queen tetapi Lydya dan perempuan yang mengundang nya ini memanggil Leon sebagai saudara bukan saudara kembar seperti informasi yang didapatkan nya. Lydya menyadari arti tatapan Linda.


“Apa kau...?”


“Dan di sebelahnya itu, Hera. Temanku sejak kecil,” sela Lydya segera merangkul Linda membuatnya mengalihkan pandangannya pada Hera.

__ADS_1


Mata Linda terbuka lebar begitu dia tak sengaja melihat seorang perempuan yang duduk disebelah Hera. Itu Eiza, teman sekolah dasarnya dulu. Lydya menyadari arah pandangan Linda dan tersenyum miring. Hera dan Leon yang menyadari senyuman Lydya menegang.


“Kau pasti mengenalnya,” ucap Lydya menatap Eiza lalu melirik Linda yang juga meliriknya.


Dari raut wajah Linda terlihat sekali penuh tanda tanya, “Dia teman sekelasku. E-I-Z-A,” ucap Lydya pelan seperti bisikan dan tersenyum manis pada Linda.


Linda menelan ludahnya tegang walaupun perempuan yang masih merangkulnya ini tersenyum tetapi senyumannya terlihat sangat menakutkan seolah-olah ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. Napas Linda memburu, dia sangat gugup dan tegang.


“Dan di sana adalah Melani,” ucap Lydya menunjuk Melani yang duduk disebelah Gio.


Arah pandangan Linda tidak jatuh pada Melani yang sedang Lydya perkenalkan tetapi pada Gio, kekasihnya. Dia sangat terkejut melihat kekasihnya juga ada berada di sini. Apa hubungan mereka semua dengan kekasihnya? Mengapa dirinya tidak tahu kalau ternyata keberadaan kekasihnya di sini juga da hubungannya dengan Lydya?


Lydya menyipitkan matanya dan meremas bahu Linda membuatnya menoleh pada Lydya. Linda meringis pelan merasakan bahunya diremas. Lydya tersenyum miring.


“Ne.. kau tidak mendengarkan ku,” ucap Lydya menatap Linda datar.


Linda kembali menelan ludahnya. Dia takut berhadapan dengan Lydya sekarang padahal tadi perempuan yang di sebelahnya ini sangat ramah hingga membuatnya perlahan mulai nyaman tetapi mengapa sekarang terlihat sangat menakutkan dan tak bersahabat hingga membuatnya gugup dan takut.


“Ke mana kau melihat? Padahal aku sedang memperkenalkan temanku yang satunya lagi,” ucap Lydya kembali memamerkan senyum lebarnya.


Leon dan Hera menegang seketika. Mereka berhenti bergerak dan memasang telinga mereka menunggu apa yang kelanjutan ucapan Lydya. Di dalam pikiran mereka sudah mempersiapkan sanggahan jika Lydya sampai nekat memperkenalkan Gio sebagai tunangannya.


Lydya melirikan matanya pada Leon dan Hera yang tegang menundukkan kepala mereka, terlihat sekali kalau mereka sedang memasang telinga dan menyiapkan sanggahan jika saja dirinya mengungkapkan pertunangannya dengan Gio. Lydya tersenyum miring.


‘Menarik,’ batin Lydya.


“Dia....,” ucap Lydya mengantung.


“Tun...,” lanjut Lydya semakin mengantung dan menatap Gio dengan senyum misterius.


Gio membulatkan matanya tegang. Dia masih tidak siap menerima kemarahan dan kekecewaan Linda padanya dan dia juga belum menyiapkan alasan untuk apa yang akan Lydya ucapkan.

__ADS_1


“Teman Leon,” ucap Lydya cepat.


“Lily!!!”


Semua mata memandang ke arah Leon dan Hera yang berteriak memanggil nama kecil Lydya secara bersamaan. Lydya melepaskan rangkulannya dari Linda dan tersenyum puas pada kembaran dan teman semasa kecilnya.


“Ada apa dengan kalian? Mengapa begitu tegang?” ucap Lydya kembali ke tempatnya dan melanjutkan makannya dengan santai.


Napas Leon dan Hera memburu menatap Lydya dengan wajah panik mereka. Lydya menyangga kepalanya dengan tangan dan tersenyum pada dua orang yang dibuat gusar olehnya. Lydya merasa puas dan menikmati wajah tegang semua orang yang ada di ruang makan ini.


Selama liburannya yang penuh dengan agenda melelahkan tidak menjadi sia-sia setelah kedatangan kekasih tunangannya yang tak diduga-duga. Bolehkan dirinya menganggap ini hadiah dari Tuhan untuk membayar kebosanannya selama ini?


Mata Leon dan Hera membulat ketika mereka membaca gerakan bibi Lydya. ‘Lucu sekali’ itulah apa yang Lydya ucapkan. Lydya mengalihkan pandangannya pada Linda yang menatap kekasihnya penuh tanya dan Gio yang terus mengalihkan pandangannya pada makanan di depannya.


“Linda,” ucap Lydya meletakkan sendok dan sumpit nya.


Linda segera mengalihkan pandangannya pada Lydya dan menatapnya bingung. Lydya kembali tersenyum, “Kalau begitu, setelah ini apa kau mau terus makan bersama kami jika kau berada di penginapan?”


Linda menatap Lydya tak yakin, “Please. Akan sangat menyenangkan jika kau mau hadir makan bersama kami dan aku akan merasa sangat terhormat bisa menjamu mu apalagi...,” ucap Lydya menatap Gio hingga membuat Linda menatap keduanya bergantian dengan bingung.


“Kau dan Gio adalah sepasang kekasih,” ucap Lydya tersenyum lebar penuh arti.


Linda semakin bingung dengan kekasihnya dan Lydya. Ada hubungan apa di antara mereka berdua yang tak dia ketahui. Di sisi lain, Leon dan Hera menelan ludah mereka gugup. Mereka tak menyangka Lydya akan mengganggu Linda dengan cara seperti ini bahkan melibatkan Gio dan yang lainnya. Lydya berjalan terlalu jauh dan ini sangat berbahaya nanti.


Lydya melirik datar pada Leon dan Linda lalu kembali tersenyum pada Linda. Leon dan Hera yang menyadari lirikan tersebut segera menundukkan kepala mereka. Lebih baik sekarang mereka diam dan segera menghentikan diri mereka yang berbicara di dalam pikiran. Lydya sedang membaca pikiran mereka semua tanpa terkecuali.


Bahkan Linda tak luput dari pembacaan pikiran. Lydya hanya tersenyum miring ketika kata-kata yang terlintas di kepalanya. Bingung dan marah tergambar dengan jelas dalam kata-kata yang Lydya baca dari pikiran Linda. Kekasih tunangannya ini terus membicarakan keburukannya membuat Lydya gemas sendiri.


Lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu. Batin Lydya terus tersenyum manis.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌

__ADS_1


Huh-huh


See ya nexteu timeu~~~


__ADS_2