
Happyteo Readingeu
!:sorry'bouttypo~ teehee~
đź–ŚLily of the Valley
Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa saat ini Lydya dan Leon sudah menduduki bangku kelas dua belas juga sebentar lagi mereka akan mengikuti ujian tengah semester lalu setelah itu mereka akan sibuk sekali dengan kegiatan untuk persiapan ujian nasional.
Lydya sejak tadi sibuk menggambar di buku tugas yang dia ambil dari dalam loker meja kembaran nya. Lydya sudah menyelesaikan dua gambar sedangkan Leon yang duduk di belakangnya hanya bisa pasrah membiarkan Lydya menggambar di buku tugasnya.
Yang penting Lydya tidak menggambar di bagian untuknya menulis tugas tetapi mau di mana pun Lydya menggambar dirinya akan tetap membiarkannya.
Leon menghela napasnya panjang. Mereka sebentar lagi akan mengikuti ujian tengah semester tetapi beberapa hari ini, kembaran nya ini bukannya menyibukkan diri dengan belajar tetapi malah menyibukkan dirinya dengan menggambar.
Entah sudah berapa banyak yang Lydya gambar hingga menumpuk di dalam kotak di rumah belajar. Semua orang di rumah sudah menyerah memberi tahu Lydya untuk belajar ketika akan mengikuti ujian tetapi tidak pernah dihiraukan oleh kembaran nya ini.
Leon menumpukan kepalanya di tangan dan memandang Lydya dari belakang yang sedang sibuk menggerakkan tangannya. Kembaran nya ini suka sekali menggambar. Tidak ada satu pun yang bisa membuat kembaran nya ini tertarik jika bukan menggambar.
Lydya seperti mempunyai dunianya sendiri jika sedang menggambar. Di mana pun tempatnya selama itu cocok sebagai objek gambarnya maka Lydya akan menggambarnya tepat di mana dia melihat objek tersebut.
Leon mengingat kembali percakapannya dengan Lydya beberapa tahun yang lalu saat dirinya mengetahui ketertarikan kembaran nya pada menggambar. Dirinya pernah bertanya pada Lydya apa yang membuat kembaran nya itu tertarik dengan menggambar?
Lydya menjawab kalau menggambar akan memberikannya ketenangan yang tidak akan pernah bisa dia dapatkan hingga tahun berganti sebanyak apapun. Leon yang tidak memahami apa maksud perkataan Lydya hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya.
Dulu, menurutnya itu adalah jawaban yang biasa saja hingga dia untuk pertama kalinya melihat Lydya menggambar wajah Ryu. Pertama juga terakhir kalinya dia melihat Lydya menggambar wajah Ryu dan saat itulah dia mengerti maksud dari perkataan Lydya.
Saat itu, dirinya tak sengaja menemukan Lydya sedang duduk termenung sendirian dengan tangan memegang buku gambar juga pensil. Waktu itu, Lydya hanya tersenyum padanya sebelum membalik buku gambarnya ke halaman baru.
Menggambar memang bisa memberikan ketenangan pada kembaran nya. Dia menyadari hal itu. Lydya yang selalu terbayang-bayang dengan kejadian itu untuk pertama kalinya bisa tenang hanya dengan melihat gambar yang Lydya gambar sendiri.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Perlahan Leon membuka matanya dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit biru. Langit terlihat sangat cerah bahkan tidak ada satu pun awan yang lewat. Leon menolehkan kepalanya kesamping untuk melihat tetapi pandangannya terhalang oleh rumput tinggi.
Leon bangun dari tidurnya dan duduk. Hamparan padang rumput luas terlihat oleh matanya. Hembusan angin yang menerpa wajahnya mampu menerbangkan rambutnya tertata rapi.
__ADS_1
“Where I am?” gumam Leon melihat dirinya yang memakai pakaian berwarna putih bersih.
Dia bingung di mana dia sekarang dan mengapa dia memakai pakaian seperti ini juga bagaimana bisa dia berada di sini? di mana Lydya? di mana kembaran nya berada?
“Sudah bangun?”
Leon yang sibuk mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Lydya menolehkan kepalanya kesamping. Siapa yang sedang berbicara padanya?
“In.. Inoue-kun?”
Pria yang dipanggil Inoue itu tersenyum pada Leon lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan tanpa menurunkan senyumnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Leon mengerutkan dahinya bingung. Mengapa dia ada di samping Inoue dan mengapa tubuh Inoue terlihat dewasa? Padahal dia tidak pernah sekalipun bertemu lagi dengan Inoue? Ditambah lagi bagaimana bisa dirinya mengenali Inoue dengan tubuh dewasa nya?
“Menyenangkan bukan?”
Leon tak memahami apa maksud dari ucapan teman masa kecilnya juga teman masa kecil Lydya. Inoue menoleh pada Leon dan tersenyum manis. Leon hanya bisa diam saja, dia masih tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Leon mengalihkan pandangannya dari Inoue ketika dia mendengar seseorang sedang memanggil Inoue dari kejauhan. Di depan sana, jauh dari tempatnya duduk. Dia melihat seorang perempuan berambut lurus panjang hitam legam tengah melambai ke arah Inoue.
Tetapi, kencangnya angin membuat perempuan itu tidak bisa mempertahankan topinya lebih lama lagi. Angin itu berhembus menerbangkan topinya. Perempuan itu berteriak dan menyuruh seorang laki-laki mengejar topinya. Sejak kapan ada laki-laki itu di sana? Laki-laki itu terlihat seperti Gi..?
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Leon menoleh pada Inoue dan menggelengkan kepalanya. Bohong jika dia bilang tidak ada yang dipikirkannya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan sejak dia terbangun tadi dan tiba-tiba ada ditempat ini. Inoue menatap Leon dalam diam lalu mengedikkan bahunya dan kembali menghadap depan.
Leon juga menghadap ke depan dan hanya ada hamparan padang rumput yang bisa dia lihat. Sebenarnya dia sedang berada di mana sekarang?
“Jika ada yang ingin kau tanyakan. Tanyakan saja,” ucap Inoue kembali tersenyum manis.
Ah. Ternyata senyum manis yang terlihat seperti anak kecil itulah yang membuatnya langsung mengenali teman masa kecilnya itu. Inoue terus tersenyum menunggu Leon bertanya. Inoue terlihat mengerti kalau ada banyak yang ingin dia tanyakan.
“Eum.. sebenarnya aku ada di mana?” tanya Leon setelah berpikir panjang pertanyaan mana yang ingin dia tanyakan.
Inoue terdiam memandang Leon. Wajah lnoue terlihat bingung membuat Leon sama bingungnya. Apakah pertanyaannya terdengar aneh di telinga Inoue?
__ADS_1
“Kau tidak tahu?”
Leon menggelengkan kepalanya. Inoue diam kembali dan memandang ke depan lalu menunjuk lurus ke arah depan. Leon mengerutkan dahinya dan mengikuti di mana Inoue sedang menunjuk. Di depannya, laki-laki tadi sedang berdiri bersama perempuan yang melambaikan tangannya pada Inoue.
Penglihatan Leon tak salah. Itu memang Gio lalu siapa perempuan itu? Apakah kekasih Gio? Mereka terlihat sangat dekat dan tertawa bersama.
“Dulu itu tempatku,” ucap Inoue memandang dua orang itu.
Leon mengerutkan dahinya bingung dan hanya diam mendengarkan, “Sebelum anak itu datang,” lanjut Inoue menghela napasnya panjang.
Leon tak memahami arah pembicaraan Inoue. Dia bertanya di mana dirinya berada tetapi Inoue menjawab yang lainnya.
“Seharusnya kau sadar hanya dengan sekali melihat,”
Leon menoleh pada Inoue, “Hah? Bagaimana bisa…?” ucap Leon heran.
Mengapa Inoue menjadi kecil dan pakaiannya juga berubah. Itu adalah pakaian yang selalu Inoue kenakan ketika di rumah besar. Inoue hanya diam dan memandang lurus ke depan. Leon mengalihkan pandangannya ke depan dan perempuan itu juga sama seperti Inoue. Mereka menjadi anak kecil hanya Gio saja yang masih pada tubuh dewasanya.
Gio berjongkok didepan anak perempuan itu. Mereka berbincang satu sama lain. Leon tak bisa mengalihkan pandangannya pada dua orang itu. Dia sangat penasaran mengapa dirinya harus melihat ini?
Leon tak sengaja berpandangan dengan tunangan dari kembaran nya itu. Gio tersenyum kecil padanya sebelum berbicara pada anak perempuan itu. Gio tersenyum pada anak perempuan itu dan anak perempuan itu membalikkan badannya.
Mata Leon melebar. Dia mengenali siapa anak perempuan yang sedang tersenyum dengan lebar dan melambaikan tangan padanya juga tak lupa namanya yang terus dipanggil berulang kali.
“Itu….,”
“Inilah kenangan yang dibicarakan bunga kecil kita,”
Leon mengalihkan pandangannya pada Inoue yang sudah berdiri agak jauh darinya.
“Dan inilah yang selalu dirasakan bunga kecil kita,”
“Leon, mite! Bunga ini sangat cantik,”
Leon tersenyum kecil. Bagaimana bisa dia lupa dengan anak perempuan itu? Rambut panjang yang lurus dan berwarna hitam. Bagaimana bisa dia melupakannya? Apakah itu artinya dia adalah saudara yang buruk?
“Leon. Leon….. Leon…..,”
__ADS_1
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś