School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Closer


__ADS_3

Goodeu Nighteu~


Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Closer


Lydya membuka pintu rumah dengan hati-hati. Biasanya jam segini Leon ada di ruang tamu untuk bersantai. Lydya mengintip ke arah ruang tamu dan melihat Leon di sana sedang merebahkan badannya di atas sofa dengan mata yang fokus pada ponsel nya.


Leon yang fokus seperti ini biasanya tidak akan sadar akan keadaan sekitarnya. Lydya menggigit bibir wajahnya dan berjalan mengendap melewati ruang tamu dengan matanya yang tak lepas dari Leon. Begitu berhasil melewati ruang tamu, Lydya pergi dengan cepat menuju kamarnya.


Dia tanpa sadar sudah setengah berlari untuk menghindari saudara kembarnya. Lydya menghembuskan napasnya lega begitu dia sudah berada di dalam kamarnya. Lydya langsung menjatuhkan badannya di atas kasur. Dia ingin segera tidur, membuat masalah dengan kekasih tunangannya tadi benar-benar menguras energinya.


“Lydya! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam!”


Lydya yang baru saja akan memejamkan matanya kembali membuka matanya dan menoleh ke arah pintu dengan kesal. Bagaimana bisa Leon tahu kalau dia ada di dalam kamar padahal tadi dia tidak sadar sama sekali ketika di ruang tamu.


“Aku melihat sepatumu didepan pintu jadi buka pintu,”


Lydya memutar bola matanya malas. Ini kesalahannya, seharusnya tadi dia membawa juga sepatunya agar tidak ketahuan Leon. Biarkan saja kembaran nya itu menunggu hingga makan malam datang. Dengan perasaan dongkol, Lydya bangun dari kasur dan berjalan menuju pintu.


Lydya membuka sedikit pintu kamarnya dan hanya memperlihatkan matanya saja, “Nanda yo?”


“Apa yang baru saja terjadi padamu?”


“Hah? Sumimasen? (maaf?)”


“Kepalaku sakit seperti di jambak? Siapa yang melakukannya?”


“Are? Hontou ni? (Eh? Benarkah?)” ucap Lydya berpura-pura bodoh.

__ADS_1


Leon menutup matanya kesal. Saudari kembarnya ini bisa saja bersikap tak tahu tetapi masalahnya dia merasakan sakit sekali pada kepalanya seolah-olah kulit kepalanya ikut lepas.


“Omae!!! (Kamu!!!)”


Leon menyentuh pintu kamar Lydya dan menggesernya kasar. Lydya tersenyum gugup melihat Leon yang masuk ke kamarnya dengan wajah galak.


“Hehehe.. kita bisa bicara baik-baik,”


Leon hanya diam dan kembali menutup kamar Lydya dengan kasar. Setelah itu yang terdengar dari kamar Lydya hanya ocehan Leon hingga malam tiba.


🖌🖌🖌🖌🖌


Lydya menekan bel rumah Gio, tak berapa lama seorang ART membukakan pintu dan mempersilahkan Lydya masuk. Semua ART yang bekerja di rumah keluarga Isaac sudah tidak kaget lagi dengan kedatangan Lydya ke rumah.


Lydya memang beberapa kali atau bisa dibilang sering datang ke rumah keluarga Isaac untuk mengajak Gio bermain. Lydya datang pun juga bukan karena kemauannya sendiri, dia datang karena paksaan dari mami nya yang terkadang sengaja ingin mengajaknya keluar tetapi menurunkannya dengan paksa didepan rumah keluarga Isaac.


Dia hanya bisa menghela napas panjang ketika mami nya menurunkan paksa dirinya. Dia juga tidak bisa kabur begitu saja karena setiap kali mami nya berbohong ingin mengajaknya keluar tetapi menurunkannya di rumah keluarga Isaac, sahabat mami nya itu pasti sudah menunggu didepan jadi mau tak mau Lydya tetap masuk ke rumah.


“Mama~” panggil Lydya begitu sampai di dapur.


Awalnya dia canggung memanggil ibu tunangannya dengan panggilan ‘mama’ tetapi lambat laun dia mulai terbiasa dengan panggilan itu dan menjadi semakin dekat dengan sahabat mami nya ini. Lydya sudah menganggap sahabat mami nya ini seperti ibunya sendiri.


“Kamu datang?”


Lydya mengangguk dan memeluk singkat Karina, “Mama sedang buat apa?” tanya Lydya melihat banyak sekali bahan-bahan membuat kue di atas meja.


“Mama mau coba buat resep kue baru. Kamu harus coba,”


Lydya menganggukkan kepalanya dengan semangat. Sebenarnya datang ke rumah keluarga Isaac juga kemauannya sendiri walau hanya sedikit karena setiap kali dia datang kemari pasti ada saja yang sedang dibuat sahabat ibunya ini dan Lydya dengan senang hati menjadi mencicip makanan yang dibuat sahabat mami nya ini..


Setidaknya dia mendapatkan makanan gratis di sini. Dirinya juga tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk membeli makanan diluar. Dia bisa makan sepuasnya di rumah keluarga Isaac karena sahabat ibunya ini membuatnya dalam porsi besar untuk seluruh orang yang ada di rumah.

__ADS_1


Ibu dari tunangannya ini orang yang sangat baik dan ramah. Dia sangat memperdulikan semua orang bahkan pada seorang pelayan di rumah, sama seperti mami nya yang sering membeli bahan makanan lebih dan menyuruh para juru masak untuk membuat makanan yang sama dalam jumlah banyak.


Mami dan sahabatnya ini dua orang yang sangat baik, lembut, juga perhatian. Walau terkadang mami nya juga bersikap kasar.


“Lily bantu, ya?”


Karina menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dia senang ada Lydya di sini jadi dia merasa sangat terbantu apalagi Lydya yang kelihatannya jarang berada di dapur bisa membuat makanan yang tak kalah enaknya seperti yang dibuat ibunya, Zyta.


Mereka dua orang yang terlihat sama tetapi memiliki sifat yang bertolak belakang. Karina selalu merasa kalau Lydya sangat mirip dengan Zyta dari segala sisi sedangkan Leon lebih mirip dengan ayahnya hanya saja wajah Lydya mewarisi wajah tegas ayahnya sedangkan Leon wajah lembut ibunya.


Karina tersenyum melihat Lydya yang cekatan memasukkan bahan-bahan seperti arahan nya. Lydya terlihat sangat lihai melakukannya bahkan dirinya tidak se lihai itu. Dia harus bertanya pada Zyta apa yang sudah sahabatnya itu lakukan pada anak perempuannya.


Karina merasa kalah dari Lydya yang seumuran dengan putranya tetapi tidak salah juga dia meminta Lydya sebagai menantu. Setidaknya jika Lydya benar-benar menjadi menantunya sudah pasti hidupnya akan lebih berwarna.


Dia sudah membayangkan bagaimana jadinya kalau Lydya menjadi menantunya. Sudah pasti mereka akan sering memasak bersama. Karina jadi tidak sabar menunggu hari itu datang. Dia harus terus menyuruh Zyta mengirim putrinya kemari.


Yang terpenting sekarang adalah membuat Lydya sering-sering datang kerumahnya dan bersama dengan putra keduanya itu lalu membuat mereka menjadi lebih dekat. Setidaknya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati.


Dia mendapatkan Lydya sebagai menantunya dan juga dirinya bisa menyingkirkan kekasih putranya yang paling tidak dia sukai itu. Karina merasa trauma karena pernikahan putra pertama nya. Dia dulu membiarkan putra pertama nya menikahi wanita pilihannya sendiri yang ternyata bukan wanita yang baik.


Awalnya istri putranya itu bersikap sangat baik tetapi perlahan dia tahu bagaimana sifat asli menantunya itu. Walau wanita itu sudah menjadi menantunya tetapi dia tidak bisa menjaga dirinya sebagai seorang istri. Tak jarang Karina memergoki menantunya dengan teman pria menantunya itu.


Mereka tidak terlihat seperti teman karena mereka terlihat lebih dari seorang teman saja. Karina merasa sangat marah tetapi dia tidak bisa ikut campur karena itu rumah tangga putranya jadi dia hanya bisa diam saja.


Itulah mengapa Karina tidak menyukai kekasih putra keduanya. Jika saja pernikahan putra pertama nya baik-baik saja mungkin dia tidak akan bersikap begitu dingin pada kekasih putra keduanya dan tidak akan melakukan segala cara untuk memisahkan keduanya.


Sebagai orangtua, Karina hanya ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Dia hanya tidak ingin putra keduanya mengalami hal yang sama seperti putra pertama nya. Sebisa mungkin dia harus mencegah hal tersebut terjadi. Bagaimanapun caranya..


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


See ya 2 days again~

__ADS_1


__ADS_2