
Happy Readingeu~ chingu-ya~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Different
Ella berjalan menuju rumah belajar karena dia yakin mami nya membawa semua teman nya kesana. Tidak mungkin mami nya akan membiarkan teman-temannya belajar di ruang tamu.
Selama berjalan menuju rumah belajar berpapasan dengan kakaknya yang memakai kimono. Dia pikir itu bukan kakaknya karena kakaknya itu jarang sekali menggunakan kimono jika di rumah.
“Nii-san?! (Kak?!)” ucap Lydya memanggil kakaknya yang terus berjalan.
“Hmm. Jarang sekali kau memakai kimono? Biasanya juga tidak pernah. Kau kan cicit kesayangan nenek,” ucap Lydya berjalan disebelah Ray.
Rey hanya diam saja dan terus berjalan membuat Lydya menatapnya bingung.
“Mengapa kau berjalan kesana?”
Lydya menatap kakaknya dan rumah belajar yang semakin dekat. Lydya memandang keduanya bergantian hingga matanya tak sengaja melihat tangan kakaknya yang memegang nampan berisi camilan.
“Oh! Jangan bilang…,”
“Stop! Tidak usah dilanjutkan,” ucap Ray dengan wajah datar.
“Dan jangan tertawa,” lanjut Ray saat dari lirikannya, Lydya sudah menutup mulutnya.
Ray sangat hafal dengan Lydya yang sudah menutup mulutnya diiringi wajah cerah. Sudah dipastikan kalau adiknya ini ingin tertawa.
Mereka sampai di rumah belajar dengan Lydya yang terus cekikikan. Ray tidak bisa marah karena mami nya sudah berpesan untuknya tidak mengeluarkan ekspresi kesal kecuali senyuman.
“Sabar ya, kakakku sayang,” ucap Lydya lebih dahulu masuk dan duduk disebelah Leon.
Ray meletakkan nampan yang berisi camilan di meja yang sudah penuh akan buku. Zyta meminta Ray untuk membantunya melayani teman-teman adik kembarnya dan Ray tidak bisa menolak keinginan mami nya itu. Ray tidak akan bisa menolak semua keinginan mami nya itu.
Tatapan Eiza dan Melani tidak lepas dari Ray sejak mereka bertemu di ruang tamu bersama dengan Zyta. Wajah Ray yang terlihat ramah membuat mereka terpesona padanya.
__ADS_1
Lydya yang sejak tadi sudah ingin menertawakan kakaknya semakin ingin melepaskan tawanya tetapi terus ditahan. Melihat wajah Ray yang tercampur antara tersiksa dengan wajah ramahnya sangat lucu di mata Lydya.
Leon yang duduk di sebelahnya terus menyikut Lydya tetapi tak digubris oleh Lydya.
“Hmm.. Lydya, bisa kita bicara,” ucap Ray masih dengan senyum ramahnya.
Walau dia kesal dengan adiknya tetapi dia masih bisa memberikan wajah dan suara yang ramah. Inilah keahliannya. Ray berdiri dan berjalan keluar rumah belajar diikuti Lydya di belakangnya. Tatapan Melani dan Eiza tak pernah lepas dari Ray. Mereka menyayangkan Ray yang pergi dengan cepat.
Ray yang merasa Lydya berjalan lebih lamban segera menariknya untuk berjalan sesuai langkahnya. Saat Ray menariknya, tawa Lydya langsung pecah. Dia terus mengingat bagaimana wajah Ray yang tertahan antara kesal dan harus bersikap ramah.
Bahkan tawa Lydya sampai terdengar hingga rumah belajar. Leon menggelengkan kepalanya mendengar tawa Lydya. Dia tidak berbicara apapun tentang itu tepatnya dia tidak mempedulikan akan sikap Lydya pada kakak mereka itu. Sudah menjadi hal biasa jika Lydya suka sekali menertawakan Ray.
Mereka berjalan agak jauh dari rumah belajar. Tawa Lydya sejak tadi tiada henti. Ray menutup matanya menahan kesal.
“Nona muda, lebih baik kau berhenti tertawa,”
Lydya langsung menghentikan tawanya mendengar ucapan Ray yang seperti mengancam. Baru saja Ray akan membuka mulutnya, Lydya kembali tertawa.
“Ly..,” ucap Ray terhenti.
Dia merasa kesal akan adiknya. Suara tawa adiknya terkesan mengejek lah yang membuatnya merasa kesal. Ray yang sudah terlalu kesal menutup mulut Lydya yang tidak ada hentinya tertawa.
Lydya menghentikan tawanya dan menatap sumber suara begitupun dengan Ray. Di sana berdiri mami mereka dengan wajah curiga. Zyta menghampiri kakak beradik itu.
“Ray, apa yang kamu lakukan pada Lydya?”
Ray melepaskan tangannya dari mulut Lydya dan menggeleng.
“Sudah mami bilang untuk tetap di sana,” ucap Zyta menggandeng tangan Ray dan membawanya kembali ke rumah belajar.
Lydya yang ditinggal terkekeh pelan melihat kakaknya dengan pasrah mengikuti mami mereka, Lydya mengikuti keduanya dari belakang. Selama berjalan menuju rumah belajar, Zyta tidak ada hentinya memarahi Ray yang hanya bisa tertunduk.
Dari belakang, Lydya terus menahan tawanya. Ray yang merasa ditertawakan menoleh dan mengacungkan jari tengahnya. Lydya ingin tertawa tetapi ditahannya.
🖌🖌🖌🖌🖌
__ADS_1
Ray akhirnya harus rela menetap di rumah belajar bersama dengan kedua adik dan teman-teman adiknya. Zyta memerintahkan anak pertama nya itu untuk membantu adik dan teman-teman adiknya belajar.
Melani dan Eiza terus menyikut satu sama lain karena mereka bisa lebih lama melihat wajah Ray dan Ray yang mau tidak mau melihat itu pun hanya bisa memberikan senyum ramahnya.
Melihat Ray saat ini, pria itu malah terlihat seperti pengasuh, dia harus menemani anak-anak yang lebih muda 7 tahun darinya.
Perlahan tetapi pasti, Ray mulai merasa bosan. Adik kembar dan teman-temannya mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tanpa perlu bantuan Ray, mereka bertujuh sudah bisa mengerjakan sendiri.
Dari pandangan Ray, adiknya Leon dan Gio yang terlihat paling aktif. Dua orang itu sejak tadi yang terus berbicara entah menjelaskan atau yang lainnya sedangkan adik perempuannya, Lydya. Hanya diam dan memainkan pensil yang ada pada tangannya.
Sejak mereka berdiskusi, Lydya hanya diam saja sejak tadi. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya hingga diskusi mereka pun selesai.
Semua teman adiknya pamit pulang dan diantar Leon hingga depan. Ray melambaikan tangannya saat Melani dan Eiza melambaikan tangan mereka padanya. Setelah mereka tak terlihat, Ray kembali masuk dan mendekati adiknya yang meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata terbuka.
Dia tidak ikut mengantarkan teman nya pulang, dia hanya melihat mereka yang perlahan pergi.
“Ada apa?” tanya Ray pada adiknya yang terus saja diam.
Lydya mengangkat kepalanya dan memainkan kembali pensil yang sejak tadi tak pernah lepas dari tangannya.
“Aku hanya tidak nyaman saja kalau ada orang lain,” ucap Lydya mengambil buku tulis Leon dan mulai mencoret-coret di sana.
“Tetapi, mereka itukan temanmu juga,”
Lydya mengangguk, “Hmm,” gumam nya terus menggoreskan pensilnya di atas buku tulis Leon.
Ray menghela napasnya. Adiknya ini sangat bertolak belakang dengan saudara kembarnya. Leon yang ceria dan suka bergaul sedangkan Lydya yang pendiam dan susah sekali bergaul. Teman Lydya yang Ray tau hanya Hera yang sudah berteman dengan adik perempuannya ini sejak kecil.
Ray sempat khawatir saat melihat sifat kedua adiknya yang berbeda hingga dia meminta pada kedua orangtua nya untuk membiarkan mereka satu sekolah dan satu kelas. Beruntungnya Hera juga bersekolah ditempat yang sama dengan kedua adiknya.
Ray mengelus sayang kepala Lydya, “Setidaknya cobalah untuk berbicara dengan mereka,”
“Aku bukan Leon. Kami berbeda,” ucap Lydya tetap menggerakkan tangannya di atas buku.
Ray melirik buku tulis Leon. Lydya tengah menggambar wajah Leon di sana. Melihat itu Ray hanya bisa menghela napasnya dan membiarkan Lydya terus menggambar sembari dia mengelus kepalanya.
__ADS_1
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Ray itu mangkelin tp sayng sma Lydya..( ˘ ³˘)❤