
Happy Readingeu~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Tample
Gio tak tahu Lydya akan mengajaknya ke mana. Dia hanya diam saja membiarkan Lydya menuntunnya. Mereka melewati desa yang cukup ramai dengan toko-toko kecil terbuka di sana-sini. Gio baru pertama kali ini melihatnya. Beberapa kali di antara mereka menyapa Lydya dengan ramah dan berbincang sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
“Sebenarnya kita akan ke mana?” tanya Gio begitu mereka melewati jembatan dengan sungai di bawahnya.
[Kurang tau lokasi pastinya hanya dijelaskan 'Iwata, Shizuoka, Japan']
Lydya tersenyum, “Ke kuil,”
Gio menghentikan langkahnya membuat Lydya juga berhenti karena menggandeng tangan Gio. Lydya berbalik dan menatap Gio bingung.
“Kuil?”
Lydya menganggukkan kepalanya.
“Kau yakin?”
Lydya kembali menganggukkan kepalanya yakin.
“Apa tidak apa kita kesana? Bukankah yang bisa kesana hanya...,”
Lydya tersenyum dan merangkul lengan Gio untuk kembali berjalan, “Ii daro (tak apa),”
Gio menatap Lydya bingung. Dia tak mengerti apa yang tunangannya itu ucapkan. Lydya yang melihat Gio kebingungan hanya tertawa kecil. Mereka berjalan bersama menikmati hutan yang ada di sekitar mereka. jalan setapak yang mereka lewati sedikit kering walau baru saja terkena hujan karena jalan setapak ini tertutup rimbunnya hutan.
Mereka sampai di kuil yang Lydya ucapkan tadi. Lydya tersenyum dan mengajak Gio menaiki anak tangga menuju kuil. Gio sedikit ragu tetapi dia tetap mengikuti Lydya. Begitu sampai didepan kuil, Lydya bergerak ke sana kemari sebelum berdiri didepan kuil sedangkan Gio hanya melihat dari jauh.
(Kumiiromi Kumanoza Tample, Kumamoto, Japan)
Lydya saling menempelkan tangannya dan menunduk dengan hormat. Gio hanya bisa melihatnya saja, dia tidak tahu harus melakukan apa hingga Lydya selesai dengan kegiatannya.
“Kau tidak ingin?”
Gio menggelengkan kepalanya cepat, “Cobalah,”
Lydya menghampiri Gio dan mengarahkan dirinya seperti yang dia lakukan tadi dan Gio hanya menurut saja. Dia melakukan hal yang sama dengan yang Lydya lakukan tadi. Suara angin yang berhembus memberikan ketenangan pada Gio. Dia merasa ada di alam lain, terasa tenang, sejuk, dan damai.
__ADS_1
“Bagaimana?” tanya Lydya begitu Gio membuka matanya.
Gio hanya tersenyum kecil membuat Lydya ikut tersenyum, “Ayo kembali,”
Mereka kembali menuju rumah melewati jalan yang sama dan begitu melewati desa mereka mampir ke beberapa toko untuk membeli makanan dan pernak-pernik. Gio merasa liburannya kali ini tidak sia-sia. Dia melihat banyak hal yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Jika saja dia kemari sendirian, mungkin Gio tidak akan pernah kemari karena sudah pasti dia akan pergi ke tempat-tempat yang sering dikunjungi para wisatawan. Selama mereka berjalan, Gio hanya menemui setidaknya tiga sampai lima orang wisatawan asing. Itu tandanya tempat ini bukan menjadi destinasi utama para wisatawan asing.
“Apa jarang ada turis yang kemari?”
“Hmm.. itu karena mereka lebih sering ke penginapan dan tempat ini pun jauh dari penginapan,”
Gio menganggukkan kepalanya. Dia membenarkan ucapan Lydya kalau jarak penginapan dengan desa ini pun sangat jauh. Apalagi untuk menuju ke desa ini pun mereka harus melewati rumah besar dulu dan jalannya pun memutar melewati belakang rumah besar jadi pasti tidak akan ada yang menyadari kalau ada desa seperti ini.
“Biasanya yang datang kemari hanya penduduk dari kota saja,” lanjut Lydya.
Lydya juga melihat hanya beberapa kali dia melihat ada turis asing yang berjalan melewati mereka. Benar-benar tempat yang cocok untuk menenangkan diri dari sibuknya hidup di perkotaan.
🖌🖌🖌🖌🖌
“Ojii-chan, aku akan kembali ke penginapan,”
Saat ini Lydya tengah menemani kakeknya minum teh sambil melihat anak-anak kecil di keluarga tengah bermain bersama di halaman samping.
Lydya membatin kesal. Cara menghadapi kakeknya di Jepang ini hanya bisa dengan sikap tenang jika dirinya terpancing sedikit saja maka dia tidak akan pernah menang beradu mulut dengan kakeknya, sama seperti Leon yang tak pernah menang beradu mulut dengan kakek karena mengandalkan emosinya dulu.
“Sudah menjadi kewajibanku untuk menyelesaikan tugas ku selama aku di sini,” jawab Lydya dengan tenang meminum tehnya.
“Ojii-chan sudah mengirim orang lain untuk mengerjakan tugas mu dan tugas mu saat ini hanya perlu istirahat,”
Lydya memejamkan matanya menahan kesal. Dia tahu, kakeknya ini pasti segera mengirim anggota keluarga perempuan yang lainnya untuk menggantikan tugasnya.
“Aku sudah cukup beristirahat,”
Benar, dirinya sudah cukup beristirahat dengan tinggal di rumah belakang malah Lydya merasa sangat bosan hanya tinggal di rumah belakang walau itu keinginannya sendiri.
“Ojii-chan tidak menyuruh mu tinggal di sana,”
Kakeknya ini seperti mengerti apa yang dipikirkannya membuat Lydya berdecak kesal. Lihatlah bagaimana sikap tenang kakeknya sambil meminum tehnya. Menyebalkan sekali, Lydya merasa kalah mendengar ucapan kakeknya. Memangnya mengapa kalau dirinya sendiri yang ingin tinggal di sana?
“Aku akan pergi besok. Ada yang menunggu ku di sana,”
Lydya melirik kakeknya yang juga meliriknya.
__ADS_1
“Hmm. Mendadak sekali. Apa kekasih gelap mu menunggu di sana?”
Lydya kembali melirik kakeknya dan kakeknya juga meliriknya. Lirikan mata keduanya bagaikan dialiri listrik. Mereka sama-sama tidak ingin kalah satu sama lain.
“Hmm,” gumam Lydya tak jelas membuat kakek menelan ludahnya.
“Penginapan,” lanjut Lydya setelah beberapa detik mereka terdiam.
Kakek melirik cucu dari saudaranya yang juga cucunya ini dengan kesal. Dia tertipu oleh cucunya. Seharusnya dia tak semudah itu percaya dengan apa yang keluar dari mulut Lydya jika mereka sedang berbincang. Lydya selalu saja bisa membuatnya terkejut seperti tadi dia tiba-tiba menghilang dari rumah bersama dengan tunangannya.
Untung saja mereka segera kembali sebelum dia menyuruh beberapa orang untuk mencari mereka. Dia tak mengkhawatirkan Lydya jika hilang karena cucunya itu pasti akan kembali dengan sendirinya, dia lebih mengkhawatirkan cucu menantunya jika saja Lydya meninggalkan cucu menantunya itu entah di mana.
“Ojii-chan, bagaimana dengan teman-temanku?” tanya Lydya mengalihkan pembicaraan.
Dia akan mencari cara lain agar bisa kembali ke penginapan. Beberapa hari ini dia sampai menghindari sepupu-sepupunya yang ingin mengajaknya bermain. Mereka bahkan sampai menunggu didepan kamarnya dan tidak akan pergi jika maminya tak datang untuk menyuruh mereka pergi bermain sendiri tanpa dirinya.
“Mereka pergi jalan-jalan dengan saudara kembar mu,”
“Dan kau tega membiarkan aku di rumah saja?”
“Mengapa? Lagipula cucu menantu ku juga setuju untuk tinggal dan tidak ke mana-mana,”
Lydya bergidik mendengar kakeknya memanggil Gio dengan sebutan cucu menantu apalagi ada imbuhan ‘ku’ di akhir kata menantu. Sudah seberapa dekat mereka hingga kakeknya ini sudah memanggilnya menantu?
“Sejak dia tinggal di sini,” ucap kakeknya.
Lydya menatap kakeknya malas, “Berhenti membaca pikiranku,”
“Tidak sengaja,”
Lydya berdecak kesal. Kakeknya ini punya perasaan yang sangat kuat pada orang-orang di sekitarnya sampai-sampai dia bisa membaca apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Lydya terkadang merasa enggan untuk berdekatan dengan kakeknya, dia menghindari kakeknya yang suka beralasan ‘tak sengaja’ setelah membaca pikiran orang lain.
“Tak peduli. Aku akan pergi ke penginapan besok. Tidak ada tolakan apapun bahkan jika kakek mengatakannya pada mami apalagi sampai memprovokasi mami ku,”
Lydya segera menghentikan kakeknya yang akan membuka mulutnya. Dia harus lebih dahulu menghentikan kakeknya yang suka sekali memprovokasi mami nya jika Lydya memaksakan sesuatu pada kakeknya. Lydya menyipitkan mata agar kakeknya ini segera menyetujui ucapannya dan akhirnya dengan helaan napas panjang kakek menganggukkan kepalanya membuat Lydya tersenyum lebar.
‘Berhasil,’ batin Lydya.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Eps brapa ini udahan?
See ya next (づ●─●)づ
Sumimasen! Sering pake banyak foto tp aq suka eeee (˶‾᷄⁻̫‾᷅˵)(˶‾᷄⁻̫‾᷅˵)(˶‾᷄⁻̫‾᷅˵)
__ADS_1