
Just, happy reading~
Annyeong~
!:sorry'bouttypo~ teeeeheeee~
đź–ŚWake Up
Leon menyentuh keningnya yang terasa pusing. Jika mengingat kejadian waktu itu bisa membuat kepala Leon terasa nyeri yang menyengat. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar Lydya. Dia tidak tahan untuk terus berada di samping Lydya. Meninggalkan Lydya walau bersama dengan kakak mereka tidak bisa membuat Leon merasa tenang.
Dirinya merasa takut jika terjadi hal yang sama. Bisa saja kakak mereka meninggalkan Lydya entah ke mana walaupun hanya sebentar. Sebentar saja pun bisa membuat Lydya dalam bahaya.
Ray terbangun dari tidur ayamnya ketika dia mendengar suara pintu yang digeser pelan. Ray menyentuh keningnya yang terasa berdenyut. Sudah semalaman dia tidak bisa tidur untuk menjaga Lydya yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia khawatir jika dirinya tertidur akan terjadi sesuatu pada adik perempuannya ini.
“Kakak, kembali saja ke kamar. Biar aku saja yang menjaganya,” ucap Leon duduk disebelah Lydya.
Ray menggelengkan kepalanya, “Kau pasti juga belum tidur semalaman. Kita jaga bersama saja,”
Leon mengangguk patuh. Pandangannya tak lepas dari Lydya yang masih tidur dengan nyenyak begitupun dengan Ray yang duduk bersandar pada almari.
“Apa dokter menyuntikkan nya obat tidur lagi?” tanya Leon merasa khawatir melihat posisi Lydya yang tidak berubah sedikitpun sejak dia bertukar dengan Ray.
Ray menggeleng, “Kurasa dia tidur dengan sendirinya. Sejak aku menggantikan mu. Posisinya tidak berubah sedikitpun,”
Mereka sama-sama terdiam dan terus memandang ke arah Lydya. Leon menggenggam tangan Lydya yang berada diluar selimutnya. Dia khawatir melihat dahi Lydya yang beberapa kali berkerut. Sudah sejak malam datang, dahinya Lydya beberapa kali berkerut lalu kembali normal. Sepertinya Lydya tengah bermimpi buruk.
“Apa kalian tidak tahu kalau dia datang?”
“Hmm.. tidak ada satu pun di antara kami yang menyadarinya. Tau-tau pelayan sudah memanggil ku kalau mereka sudah berkelahi,” jawab Leon.
Ray menghela napasnya dalam. Kepalanya semakin terasa pusing. Hatinya sedikitpun tak merasa tenang apalagi Ryu masih ada di rumah besar ini. Walau Ryu tidak bisa menemui adik perempuannya karena kakak sudah menempatkan beberapa penjaga didepan kamar Ryu tetapi tetap saja Ray merasa khawatir jika saja Ryu nekat menemui adik perempuannya.
Leon dan Ray terus menjaga Lydya tanpa tidur. Tidak ada satu pun di antara mereka yang merasa mengantuk. Mereka terus merasa was-was jikalau ada orang yang tak diinginkan menerobos masuk kedalam kamar Lydya bahkan sesekali mereka menoleh ke arah pintu.
Srekk..
Pintu kamar digeser dan menampakkan Haru di sana, “Kalian kembalilah. Biarkan aku yang berganti menjaga Lily,”
“Kau sendirian?” tanya Ray.
__ADS_1
Kantong mata terlihat jelas di bawah mata Ray dan wajahnya terlihat kelelahan.
“Tidak. Ada Sato juga. Sebentar lagi dia sampai,”
Ray menganggukkan kepalanya dan berdiri, “Aku kembali dulu. Mohon bantuannya,” ucap Ray menepuk bahu Haru.
Ray benar-benar butuh istirahat setelah semalam dia terjaga. Haru menganggukkan kepalanya dan berjalan memasuki kamar Lydya lalu duduk disebelah Leon tanpa melepaskan pandangannya dari Lydya.
“Kau juga harus kembali untuk istirahat. Lihatlah bawah matamu. Tak jauh beda dengan Ray,”
“Bagaimana aku bisa beristirahat? Lydya saja belum bangun. Perasaanku tidak tenang sedikitpun,”
Haru hanya menghela napasnya dan membiarkan Leon tetap di posisinya hingga Sato datang.
“Mengapa dia masih di sini?” tanya Sato duduk disebelah kakaknya.
Begitu dia masuk kedalam kamar Lydya, dia mendapati tidak hanya kakaknya yang menjaga Lydya tetapi juga masih ada Leon yang berada di samping sepupunya itu.
“Dia tidak ingin pergi,” ucap Haru mengedikkan bahunya acuh.
Bergantian Sato lah yang menghela napas, “Kau pergilah istirahat. Oba-chan, sebentar lagi juga akan ke sini. Cepatlah pergi istirahat sebelum oba-chan melihat mu,”
“Mohon bantuannya. Aku pergi dulu,” ucap Leon mengelus pelan kepala Lydya sebelum dia berdiri dan meninggalkan kamar.
Leon yang baru setengah menggeser pintu dikejutkan oleh Gio yang berdiri seperti patung didepan kamar kembaran nya. Leon mengelus dadanya dan keluar dari kamar Lydya lalu menutup pintu.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Gio mengusap tengkuknya bingung, “Err.. aku hanya ingin tahu keadaannya,”
Leon menghela napas pelan. Ternyata Gio tak se acuh itu pada kembaran nya. Dia masih memikirkan keadaan tunangannya walau mereka bertunangan secara paksa.
“Dia masih tidur. Mungkin butuh beberapa jam lagi untuk bangun. Datanglah lagi nanti siang. Aku pergi dulu,” ucap Leon berjalan meninggalkan Gio yang masih di tempatnya.
Gio sedikit merasa kecewa karena dia sudah jauh-jauh datang dari kamarnya mencari kamar Lydya tetapi tidak bisa menemui tunangannya secara langsung dan harus kembali lagi siang nanti. Tidak apa, setidaknya nanti siang dia bisa menemui Lydya.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Gio kembali lagi setelah makan siang. Dia tak sabar untuk menemui tunangannya sampai-sampai dia merasa jantungnya berdetak dengan kencang. Begitu sampai didepan kamar tunangannya yang awalnya hanya jantungnya berdetak kencang sekarang dia merasa sangat gugup.
__ADS_1
Sreek..
“Akh! Gio!”
Zyta yang keluar dari kamar putrinya bersama dokter, terkejut melihat calon menantunya berdiri didepan kamar putrinya. Dari pengamatan Zyta, Gio terlihat gugup karena ingin menemui putrinya.
“Apa Lydya baik-baik saja?”
Zyta segera menyuruh pelayan yang mengikutinya untuk mengantar dokter pribadi keluarga.
“Hmm.. dia tidak apa-apa hanya saja sampai sekarang belum bangun,”
Zyta membuka pintu kamar putrinya dan memperlihatkan Lydya yang masih dalam posisi sama seperti kemarin. Zyta tersenyum kecut melihat putrinya yang tak kunjung bangun. Jika saja dia tak memaksa putrinya untuk datang kemari sudah pasti hal seperti kemarin tidak akan terjadi.
“Apa kau ingin membantu mami menjaganya?”
Gio menatap Zyta tak yakin, “Tak apa. Mami percaya kau akan menjaganya dengan baik,” ucap Zyta tersenyum manis.
Gio pasti akan membantu menjaga putrinya dengan sungguh-sungguh. Dia tahu kalau calon menantunya ini sudah memiliki kekasih tetapi dia sangat yakin Gio memiliki ketertarikan tersendiri pada putrinya jadi dirinya tak merasa khawatir membiarkan Gio menjaga putrinya.
“Apa boleh?”
Zyta mengangguk semangat, “Tentu saja,”
Gio menganggukkan kepalanya menyetujui. Zyta tersenyum senang dan mempercayakan putrinya pada Gio. Gio melangkah masuk ke kamar Lydya dan kembali menutup pintu. Dia berjalan pelan menghampiri tunangannya itu yang masih menutup matanya. Tidak ada pergerakan apapun selain napasnya yang teratur.
Gio duduk bersila di samping Lydya. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Dia tak menyangka akan melihat hal yang tak akan pernah dia duga sebelumnya. Dia melihat sisi lain dari tunangannya ini dan itu benar-benar mengejutkan nya. Dirinya tak tahu apa yang sudah dialami tunangannya ini hingga menjadi seperti itu.
Tangan Gio terulur merapikan anak rambut Lydya yang menutupi wajahnya. Napasnya teratur dengan tenang dan sesekali dahinya berkerut membuat Gio tanpa sadar mengusapnya pelan. Usapan Gio turun ke pipi Lydya yang terasa sangat lembut di telapak tangannya.
Gio mengusapnya tanpa henti dengan pikirannya berkeliaran ke mana-mana hingga Lydya membuka mata dan menatapnya. Gio yang tak siap dengan Lydya yang tiba-tiba membuka mata, mematung dengan tangan yang masih berada di pipi Lydya.
Lydya melirik ke tangan Gio yang masih berada di pipinya lalu beralih memandang Gio tanpa kata. Gio yang sadar segera mengangkat tangannya. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
Yang ketahuan đź¤
See ya next chapter~
__ADS_1