
Annyeong yeorobun~
Happy~ Reading~
!: sorry'bouttypo~ teehee~
ps: tiap tulisan miring itu pake bahasa lain..
🖌The Beginning of a Disaster
Leon duduk dan menyandarkan kepalanya didepan kamarnya. Sudah hampir menjelang pagi tetapi dia tidak merasakan mengantuk sedikitpun. Sejak tadi yang dilakukannya hanya menjaga Lydya yang sampai sekarang belum sadarkan diri. Mungkin dokter keluarga memberikannya obat tidur. Itu lebih baik daripada Lydya sadar dan hanya diam dengan pandangan kosong. Setidaknya Lydya bisa beristirahat.
Mereka saat ini menjaga Lydya secara bergantian, dia baru saja berganti jaga dengan kakaknya. Leon menghela napasnya panjang. Kejadian kemarin pagi benar-benar membuatnya terkejut.
Dia sudah pernah melihatnya sekali setelah kejadian itu dan tidak berharap hal yang sama terulang kembali tetapi pagi kemarin dia melihatnya kembali.
Lydya yang terus memendam perasaan akhirnya meluapkan perasaannya pada Ryu. Leon tidak bisa merasa tenang sedikitpun.
Perasaannya saat ini campur aduk dan perasaannya tercampur dengan perasaan Lydya. Dia bisa merasakan apa yang tengah Lydya rasakan saat ini walau saudari kembarnya itu sedang terlelap.
Dia sendiri bahkan bingung membedakan apakah ini perasaannya sendiri atau perasaan yang Lydya rasakan tetapi dia yakin perasaan kuat yang dirasakannya saat ini adalah milik Lydya. Hanya dua yang paling kuat dirasakan Leon yaitu rasa marah dan bingung.
Leon kembali menghela napas dan memejamkan matanya, tak berapa lama Leon kembali membuka matanya. Dia tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun. Setiap kali dirinya memejamkan mata, dia kembali mengingat dirinya dan Lydya di masa lalu ketika mereka kecil.
Masih tergambar dengan jelas di benaknya ketika dia menemukan Lydya dalam keadaan kacau. Banyak darah di mana-mana dan di genggaman Lydya terdapat sebuah gunting yang berlumuran darah.
Leon yang kala itu masih kecil hanya bisa berteriak ketakutan dan menangis tetapi dia menangis buka karena takut dengan keadaan yang dilihatnya melainkan menangis karena Lydya memandangnya dengan wajah datar tanpa emosi.
Teriakan Leon membuat beberapa orang segera menghampiri mereka dan sama terkejut nya dengan Leon ketika mereka melihat Lydya bahkan Leon masih ingat dengan jelas ekspresi wajah Lydya yang dibawa pergi papi dan pamannya.
__ADS_1
Tidak ada ekspresi apapun yang terlihat di wajah Lydya tetapi sejak saat itu Leon bisa merasakan apa yang Lydya rasakan bahkan ketika dia tertidur waktu itu, dia bermimpi seolah-olah dia berada di waktu di mana Lydya berada.
Leon seperti melihatnya secara langsung dan dapat merasakan bagaimana ketakutan Lydya dibalik wajahnya yang datar. Sangat ketakutan bahkan jika dia menyentuhkan jarinya dengan lembut pada kembaran nya itu pasti dia akan berteriak ketakutan.
Leon menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Jika saja waktu itu dia tidak meninggalkan Lydya maka hal seperti itu tidak akan terjadi. Jika saja waktu itu dia menemani Lydya maka hal seperti itu tidak akan terjadi. Jika saja dia berada terus di sisi Lydya maka...
Itu adalah penyesalan terbesar dalam diri Leon. Seharusnya dulu dia tidak meninggalkan Lydya yang sedang tidur di kamar mereka dan memilih bermain dengan saudara-saudaranya. Seharusnya dia tetap tinggal di sisi Lydya walau saudari kembarnya itu sudah menyuruhnya pergi.
Karena kejadian tersebut, dia yang baru beberapa minggu mendengarkan suara Lydya harus kembali melihat Lydya yang terus bungkam. Tidak memiliki ekspresi, tidak memiliki perasaan, dan tidak bisa merasakan sakit. Leon sangat bersyukur dapat menggantikan semua hal yang Lydya rasakan. Dia senang bisa berbagi sakit dengan Lydya.
Jika Lydya terluka maka biarkanlah dirinya yang menggantikan Lydya menangis. Jika Lydya merasa sedih, dialah yang akan menggantikannya. Jika Lydya merasa senang maka dialah yang akan menggantikannya. Biarkan dia terus yang menyalurkan segala rasa yang hanya bisa Lydya pendam selama ini.
Biarkanlah jika dirinya dipanggil kekanakan karena semua yang dirasakannya itu adalah sisi masa kecil Lydya yang tak bisa pernah kembaran nya itu rasakan. Lydya yang selalu menyendiri dan terus terbayang-bayang kejadian yang sama berulang kali.
Awalnya Lydya masih bisa menyalurkan perasaannya walau itu hanya berteriak ketakutan tetapi hari demi hari berganti, perlahan Lydya mulai terlihat berbeda.
Lydya membangun dirinya yang baru. Lydya kecil yang ada dalam ingatannya adalah anak yang penuh keceriaan berubah menjadi seorang pendiam dan penyendiri membuat Leon merasakan adanya batasan di antara mereka yang saudara kembar.
🖌🖌🖌🖌🖌
~Kembali ke masa lalu~
Lima tahun berlalu, Lydya yang pendiam mulai menunjukkan tanda-tanda berubah. Dia mulai mau berbicara setelah sekian lama hanya diam tanpa ekspresi. Leon sangat senang sekali menjadi orang pertama yang mendengar Lydya mengucapkan kata pertama nya.
‘Leon’
Itulah kata pertama yang Lydya ucapkan. Lydya memanggil namanya sebagai kata pertama nya. Usaha Leon yang terus menerus mengajak Lydya berbicara tanpa henti walau Lydya tak pernah membalas ucapannya semakin bersemangat mengajak Lydya berbicara.
Orangtua mereka dan kakaknya merasa sama senangnya. Mereka juga menunggu saat-saat di mana Lydya mengucapkan kata demi kata dari bibirnya.
__ADS_1
Ray yang kala itu mulai menyerah mengajak Lydya berbicara mulai mendapatkan semangatnya kembali bahkan tak jarang dia harus berebut perhatian Lydya dengan adik laki-lakinya, Leon.
Lydya yang perlahan berbicara mulai menunjukkan kecerewetan dan kemanisan nya sebagai anak kecil. Dia sama seperti Leon yang tak takut bertemu dengan orang baru bahkan tak jarang Lydya lah yang memulai berbicara duluan.
Mulai saat itu, Lydya dan Leon tak pernah terpisahkan sedikitpun. Mereka selalu bersama kemanapun mereka pergi.
“Hai, kalian pasti si kembar dari keluarga Mezzaluna?”
Lydya dan Leon yang sedang berjalan-jalan menghentikan langkah mereka dan saling pandang. Mereka tidak mengenal siapa anak laki-laki yang terlihat seumuran dengan kakak mereka, Ray. Anak laki-laki itu tersenyum dan berjongkok didepan Lydya dan Leon.
“Kalian pasti bingung. Emm.. bagaimana cara memperkenalkan diri dalam bahasa kalian.. err.. etto.. perkenalkan.. na.. na.. nama.. emm.. kakak.. Hanazawa Ryu,”
Lydya dan Leon tak mengerti apa yang dikatakan anak laki-laki didepan mereka ini hanya saja mereka mendengar kalau dia memanggil dirinya kakak. Itu artinya laki-laki didepan mereka ini berada diumur yang sama dengan kakak mereka.
“Kalian bisa memanggil ku, Ryu nii-san,”
Mendengar laki-laki didepan mereka ini menyebut nii-san itu artinya dia seumuran dengan Ray.
“Nii-san,” ucap Lydya dan Leon.
Ryu tertawa kecil dan mengacak pelan rambut keduanya. Pandangan Ryu jatuh pada Lydya yang terlihat sangat manis dengan senyum lebar di bibirnya. Ryu menurunkan tangannya menyentuh pipi Lydya dan mengelus nya pelan. Pipi Lydya yang masih anak-anak terasa sangat halus di tangannya. Ryu jadi ingin berlama-lama mengelus nya.
“Nii-san, gendong,”
Ryu tersadar dari lamunannya dan menatap Leon bingung. Leon mengulurkan tangannya pada Ryu.
“Gendong, gendong, gendong,”
Ryu yang tak mengerti ucapannya hanya mengikuti nalurinya untuk menggendong Leon dan senyum lebar terbit di wajah Leon ketika dia menggendongnya. Baiklah, untuk sementara waktu cara dia berkomunikasi dengan si kembar adalah dengan gerak tubuh. Mereka bertiga akhirnya berjalan-jalan bersama mengelilingi taman rumah.
__ADS_1
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
see ya next chapter~(~ ̄▽ ̄)~~