School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Shrimp Behind the Stone


__ADS_3

Happy Reading guys~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Shrimp Behind the Stone


“Ly?!”


Lydya tersadar saat sang ibu memanggil namanya. Baru saja Lydya akan membuka mulutnya, seorang pelayan datang memberitahukan kalau makanan telah siap. Mereka akhirnya pindah ke ruang makan.


“Wah. Wah. Sampai disiapkan makanan seperti ini. Akh! Jadi, aku jadi tak enak hati,” ujar Karina menggandeng tangan Zyta.


“Huh! Bukannya kamu malah senang ya?!”


Karina terkekeh mendengarnya.


“Tau aja. Sayang banget si sar….”


Samar-samar Lydya yang berjalan dibelakang mendengar pembicaraan mami dan teman nya juga pembicaraan para ayah. Lydya berjalan paling belakang dengan pria yang hanya dia ketahui namanya ini.


“Lydya,”


“Hah?!!”


Lydya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari siapa yang memanggilnya.


“Namamu Lydya, kan?”


Lydya menolehkan kepalanya ke kanan, ternyata pria disebelahnya ini yang mengajaknya bicara.


“Ehh~ iya~”


Setelah itu, pria di sampingnya ini tak mengucapkan kata apapun lagi. Lydya menyipitkan matanya, aneh. Pria di sampingnya ini aneh. Memanggilnya dan menanyai namanya tetapi setelah itu tak mengucapkan apapun.


🖌🖌🖌🖌🖌


Setelah makan dan di sinilah dirinya sekarang di ruang bersantai. Duduk manis sambil minum teh dan memakan camilan kecil. Para pria yang berkumpul dan bermain catur bahkan Rey dan Leon sudah ada di antara para ayah itu. Sedangkan para wanita juga berkumpul menjadi satu hanya dirinya saja yang terpisah. Tepatnya diusir dari perkumpulan itu.



Sebenarnya tidak masalah kalau duduk-duduk manis saja seperti ini, hanya saja Lydya tidak sendirian. Ada Gio di sebelahnya dan sejak tadi pria itu hanya diam tanpa kata membuat Lydya tidak nyaman saja. Ingin rasanya Lydya menghilang dari sana.


Bagaimana bisa ada pria seperti Gio. Tanpa merasakan apapun dan terlihat sangat tenang padahal ada perempuan di sebelahnya, Lydya saja sudah sejak tadi merasa tak nyaman.


Lydya menolehkan kepalanya ke belakang melihat ibunya yang tengah berbincang dengan sahabatnya, nenek dan nenek buyut nya. Tanpa sengaja Zyta menolehkan kepalanya dan matanya dengan mata Lydya bertemu tetapi Zyta segera mengalihkan pandangnya membuat Lydya membuka mulutnya tak percaya.


Mami nya baru saja mengalihkan pandangannya? Mengacuhkan dirinya?


“Ada apa?”

__ADS_1


Zyta tersentak kaget dan mengalihkan pandangnya pada Gio, “Hmm?” gumam Lydya penasaran menunggu pria di sampingnya berbicara lagi.


“Apa ada yang mengganggu?”


Lydya menatap Gio datar. Jelas ada yang mengganggu Lydya dan tentu saja itu adalah kependiaman Gio yang patut di acung dua jempol. Gio yang tak mendapat jawaban dari Lydya menolehkan kepalanya pada gadis di sampingnya ini.


Mereka saling pandang membuat Lydya salah tingkah sendiri dan segera mengalihkan pandangannya ke depan.


“Ti.. tidak ada yang mengganggu,”


Lydya gugup dan menatap lurus ke kolam ikan di bawahnya. Gio berdeham dan menganggukkan kepalanya tetapi Lydya tak melihat itu. Lydya merutuk ucapnya, seharusnya tadi dia bilang jika dia merasa terganggu. Lihatlah, pria itu kembali terdiam membuat Lydya semakin tak nyaman.


Lydya melirik ke sampingnya dan melihat Gio yang pandangannya lurus ke depan. Sepertinya ada yang mengganggu pikiran Gio saat ini melihat dari tingkah Gio yang terlihat seperti orang melamun.


“Kelihatannya ada yang sedang kau pikirkan, ya?” ujar Lydya hati-hati.


Gio menolehkan kepalanya pada Lydya dan kembali menatap lurus ke depan lalu menganggukkan kepalanya.


“Hmm. Memang ada,”


Sial. Pria ini jujur sekali. Jika tau seperti ini, Lydya tidak perlu sungkan-sungkan lagi untuk berbicara jujur.


“Kalau boleh tau apa itu? Kalau tidak ya tidak apa-apa,”


Lydya menyeruput tehnya pelan dan melirik Gio yang masih terdiam. Cukup lama Gio diam membuat Lydya memutar bola matanya malas dan semakin malas saat telinganya mendengar suara gelak tawa dari para perempuan dan laki-laki yang tengah sibuk dengan urusan mereka.


Lydya kembali melirik Gio, “Tak perlu ragu. Jika kau ingin bercerita, katakan saja dan jika ya... tak apa,”


“Tidak usah kaget. Tingkah mu saat ini memberitahukan semuanya,” ujar Lydya kembali meminum tehnya hingga tandas lalu kembali mengisinya.


Gio menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan memutar-mutar gelas teh di tangannya.


“Aku tak tau apa yang akan mereka lakukan dan apa yang mereka inginkan tetapi kau tak perlu khawatir. Apapun itu tidak akan sampai membuatmu sudah,”


Lydya dengan yakin apa yang dikatakannya dan meminum tehnya kembali hingga tersisa setengah. Gio menatap Lydya dan baru saja akan membuka mulutnya Lydya kembali menyela.


“Jika itu tentang pacarmu. Tak usah khawatir. Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian,”


Tubuh Gio menegang dan menatap Lydya tak percaya. Bagaimana bisa perempuan di sampingnya ini mengetahui apa yang dia pikirkan. Apakah perempuan di sampingnya ini belajar ilmu sihir sampai membuatnya bisa membaca pikiran?


“Aku tidak menggunakan sihir pembaca pikiran,”


Gio membulatkan matanya, lagi-lagi perempuan ini dapat membaca pikirannya. Apa yang dikatakannya itu benar kalau dia tidak menggunakan sihir?


“Memangnya siapa yang masih menggunakan ilmu sihir di zaman ini. Raut wajah mu sudah menggambarkan semuanya,” ujar Lydya tersenyum kecil.


“Bagaimana bisa?” gumam Gio.


Lydya memiringkan kepalanya bingung lalu tersenyum, “Ada beberapa orang yang raut wajah mereka bisa dibaca dan juga yang tidak bisa dan kau termasuk orang-orang yang apa yang tengah dipikirkan maka akan tergambar jelas di wajah,”

__ADS_1


Lydya memandang kolam di bawahnya yang terdapat banyak sekali ikan mas didalamnya. Ini pasti ikan mas dari kolam yang ada di Jepang. Seperti itulah pikiran Lydya saat ini. Lydya yang terlalu fokus pada ikan mas dibawanya sampai tak sadar kalau Gio terus menatapnya.


Tanpa Gio sendiri sadari ada secuil rasa kagum pada Lydya yang terlihat bersinar terkena pantulan cahaya matahari pada kolam di bawah mereka. Wajah Lydya yang putih bersih menambah nilah plus bagi Gio.


Lydya mengangkat wajahnya membuat Gio tersadar dan gelagapan mengalihkan pandangannya. Lydya menolehkan kepalanya ke belakang saat dia merasa di belakangnya sangat sepi dan benar saja, semua orang sudah pergi entah ke mana dan hanya menyisakan dirinya bersama Gio. Lydya berdiri dari duduknya dengan susah payah karena baju yang dikenakannya cukup erat membelit tubuhnya.


“Sudah ku duga mereka sengaja meninggalkan kita,” ujar Lydya kesal.


Lydya melangkah menuju pintu dan membukanya. Gio menundukkan kepalanya berfokus pada teh yang sejak tadi terus dipegangnya dan hanya di minunya sedikit.


“Ehhh... Gii... oo?”


Gio menolehkan kepalanya pada Lydya yang menyembulkan kepalanya dari pintu. Gio menatap Lydya bingung.


“Kemarilah. Bantu aku mencari yang lainnya. Perasaanku tidak enak karena kesunyian ini,”


Lydya melambaikan tangannya memanggil Gio. Dia mengangguk dan meletakkan tehnya lalu berdiri dari duduknya, berjalan menemui Lydya.


“Kurasa mereka berada di ruang yang lainnya,” ujar Lydya berjalan lebih dahulu dan Gio yang mengikutinya dari belakang.


🖌🖌🖌🖌🖌


Lydya sudah membuka dan mencari di seluruh ruangan yang ada tetapi tak menemukan satu pun anggota keluarganya maupun kedua orangtua Gio dan hanya terlihat para pelayan yang tengah melakukan tugas mereka.


Bahkan setiap pelayan yang Lydya temui dan ditanya di mana orangtua nya, jawaban mereka selalu sama. Tidak mengetahui keberadaan nyonya muda dan tuan muda.


“Fei.. Fei..,” panggil Lydya saat matanya tak sengaja melihat Fei salah satu pelayan lewat.


Fei yang merasa dipanggil segera mencari sumber suara dan menemukan nona mudanya tengah memanggil. Fei menganggukkan kepalanya dan segera menghampiri Lydya.


“Lihat nenek, kakek, sama nenek buyut enggak, Fei?”


Lydya bertanya pada pelayan yang tiga tahun lebih muda darinya ini dan sudah bekerja sebagai pelayan di rumah kedua orangtua nya.


“Enggak nona. Saya tidak melihat, nyonya, tuan dan nyonya besar,”


“Hmm.. Ya sudah kalau begitu,” ujar Lydya dan Fei segera pamit undur diri.


Lydya merogoh ponsel nya dari dalam lipatan bajunya setelah merasakan benda tersebut bergetar.


“Kamu masukin kedalam baju?” tanya Gio keheranan.


Lydya mengerutkan dahinya dan mengangguk, “Tak pernah lihat?” tanya Lydya balik dan Gio menggelengkan kepalanya.


‘Sayang, saat kamu membaca ini artinya kami semua sudah pergi main golf. Jadi, tolong jaga rumah ya, sekalian ajak nak Gio keliling melihat rumah.’


Lydya menatap pesan yang baru saja diterimanya itu tak percaya. Bagaimana bisa mami nya ini begitu tega dengan anak gadisnya? Bagaimana bisa dia meninggalkan anak gadisnya dengan pria yang baru saja dikenalnya?


Melihat tingkah ibunya sudah pasti ada udang dibalik batu!

__ADS_1


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


See you next chapter~ヽ(*⌒∇⌒*)ノ


__ADS_2