
Konbawa~
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Go Home
Sekitar jam setengah satu demam Lydya berangsur-angsur turun dan sekarang dia sudah sehat sepenuhnya. Lydya tiba-tiba saja terbangun duduk dari tidurnya ketika dia sudah mulai sehat. Leon yang sedang membersihkan peralatan untuk mengompres dahi Lydya sampai terkejut dan hampir menjatuhkan baskom yang dipegangnya.
Lydya tahu dirinya sudah mulai sehat dan ingin melanjutkan tidurnya sebentar untuk memulihkan dirinya secara penuh tetapi baru beberapa detik dia tidur tiba-tiba dia bermimpi bekerja dengan keras. Dia berlari kesana kemari melayani tamu. Itulah yang membuatnya bangun terduduk.
Mimpi itu pertanda agar dirinya segera bangun dan lanjut bekerja, “Jangan memaksakan dirimu. Pekerjaan di penginapan sudah kerjakan bersama Leon dan Akira jadi kau bisa tidur dan beristirahat lagi. Kemarin kau sudah bekerja keras,” ucap Fuyumi membawa makan siang Lydya.
“Aku sudah sehat sekarang,” ucap Lydya tersenyum lebar membuat Fuyumi juga tersenyum.
Dia senang melihat Lydya yang sudah sehat kembali.
“Aku tahu. Makanlah agar energi terisi lagi,”
Lydya mengangguk dan mulai menyantap makan siangnya. Lydya sudah hampir menyelesaikan makannya ketika Fuyumi tiba-tiba bertanya hal yang tak diduganya.
“Kau masih ingat dengan Inoue? Yamazaki Inoue?”
Tangan Lydya berhenti bergerak dan tubuhnya menegang. Bagaimana mungkin dia melupakan nama itu? Nama itu terus teringat dalam kepalanya bagaikan coretan dalam dinding yang tak pernah dihapus. Tertempel dengan sangat jelas dalam ingatan Lydya.
Postur tubuh kecilnya, wajahnya, senyumnya, cara bicaranya, bahkan tawa Inoue masih teringat dengan jelas dikepala Lydya. Dia tidak akan pernah melupakan semuanya. Teman masa kecil Lydya dan Leon. Putra kepala pelayan keluarga Hanazawa.
Teman pertama yang Lydya miliki selain kembaran nya juga kekasih masa kecilnya. Dirinya yang masih kecil sangat menyukai Inoue hingga tanpa sadar dia sudah mengajak Inoue yang lugu untuk berpacaran. Lydya tersenyum kecil jika mengingat bagaimana dirinya yang masih tak mengerti apa arti pacaran.
Diri kecilnya berpikir kalau pacaran itu cara orang dewasa untuk mengajak berkenalan dan berteman jadi dia dengan lugu nya mengajak Inoue berpacaran.
__ADS_1
“Kau tersenyum? Mengingat masa lalu, he?” ucap Fuyumi tersenyum jahil.
“Iie,”
Fuyumi tertawa kecil, “Kau merindukannya?”
Lydya menganggukkan kepalanya ragu. Dia tak tahu, apakah dia merindukan Inoue atau tidak karena mereka sudah sangat lama sekali tidak bertemu dan terakhir kali mereka bertemu sepuluh tahun yang lalu. Waktu yang cukup lama untuk Lydya merasa rindu atau tidak apalagi kala itu dia masih anak-anak.
Tetapi, tak dapat di pungkiri kalau dia merindukan senyum manis dan tawa Inoue. Terlihat sangat menggemaskan dan polos. Dirinya suka sekali melihat senyum dan mendengar tawa Inoue.
“Sudah lama sekali bukan sejak saat itu,”
Lydya menganggukkan kepalanya mengiakan ucapan Fuyumi. Mereka terakhir bertemu adalah hari di mana Inoue berangkat dan sejak saat itu tak pernah sekalipun mereka bertemu walau hanya sebuah kebetulan.
“Aku penasaran bagaimana rupa anak itu yang sudah besar? Pasti sangat tampan juga manis. Akhh!!! Jika membayangkan nya aku jadi rindu mencubit pipinya yang menggemaskan itu,”
Lydya hanya tersenyum mendengar ucapan bibinya. Tak dapat di pungkiri kalau dia juga penasaran bagaimana Inoue yang sekarang. Apakah berbeda atau tetap sama? Dia jadi ingat Inoue kecil yang menjadi favorit para pelayan wanita karena wajah tampan dan menggemaskan nya bahkan Leon dan dirinya kalah populer dengan Inoue.
🖌🖌🖌🖌🖌
Liburan sekolah pun berlalu dan saatnya mereka pulang. Saat ini, mereka sudah ada di bandara di antara oleh pamannya Kane dan tak lupa seluruh anggota keluarga Hanazawa juga mengantar mereka. Eiza dan Melani tak percaya kalau ternyata anggota keluarga Hanazawa tak sebanyak yang mereka kira.
Hanya ada kakek, nenek, paman Lydya dan istrinya, bibi Lydya, juga sepupu-sepupu Lydya. Mereka kira anggota keluarganya sangat banyak hingga memerlukan rumah sebesar itu.
“Jaga dirimu baik-baik. Kami akan mampir jika ada waktu luang,” ucap Rin mencium kedua pipi Lydya lalu memeluknya sebentar.
“Oba-chan tidak perlu memaksakan diri meluangkan waktu. Pekerjaan oba-chan lebih berat daripada oji-chan,” ucap Lydya tersenyum pengertian.
Memang benar, walau istri pamannya ini hanya seorang menantu tetapi tetap saja dia yang harus mengurus penginapan seperti ketentuan yang sudah diatur sejak dulu kalau penginapan hanya boleh diurus oleh wanita entah itu anak sendiri atau hanya seorang menantu.
“Aku akan sangat merindukan oba-chan,” ucap Lydya memeluk Rin sekali lagi.
__ADS_1
“Aku juga,”
Lydya melepaskan pelukannya dan tersenyum pada bibinya yang juga tersenyum. Pesawat mereka sebentar lagi akan berangkat dan dia tidak bisa berlama-lama memeluk wanita yang selalu menggantikan peran mami nya jika dia berada di Jepang.
Mami, papi, dan kakaknya sudah kembali lebih dahulu sehari sebelum Lydya ke penginapan dan untuk Linda bersama keluarganya juga pulang sehari sebelum dirinya dan yang lainnya pulang. Lydya masih ingat Linda yang akan pulang memaksa kekasihnya itu untuk pergi bersama tetapi Gio menolak karena memang mami nya sudah memesan tiket kembali juga.
“Ingat anak nakal. Jaga kembaran mu dengan baik atau kau akan berurusan denganku. Mengerti?!”
Leon menganggukkan kepalanya pasrah dan berusaha melepaskan tangan pamannya yang memiting kepalanya. Kane hanya tertawa senang dapat mengganggu keponakan laki-lakinya selain Ray untuk terakhir kalinya sebelum keponakannya ini pulang.
Lydya dan Rin hanya menggelengkan kepalanya. Pandangan Lydya tertuju pada Haru yang berdiri agak jauh darinya. Lydya tersenyum dan mendekati kakak sepupunya. Lydya mengulurkan tangannya memeluk kakak sepupunya yang tingginya mengalahkan tinggi kakaknya, Ray.
“Jaga dirimu baik-baik. Maaf atas kejadian kemarin,” ucap Haru memeluk Lydya erat.
Dia menyayangi Lydya sudah seperti adik kandungnya sendiri. Lydya menganggukkan kepalanya memahami karena bukan kesalahan kakak sepupunya atas kedatangan Ryu yang tiba-tiba. Kakak sepupunya ini pasti juga tak menyangka kalau Ryu mengikutinya. Lydya melepaskan pelukannya dan tersenyum.
“Aku mengerti,” ucap Lydya menganggukkan kepalanya.
Lydya tersenyum lalu berjinjit dan mencium pipi Haru. Keluarga Hanazawa yang melihat itu sudah merasa biasa saja begitupun dengan Hera tetapi tidak dengan Gio, Eiza, dan Melani. Mereka terkejut melihat Lydya mencium pipi Haru apalagi Leon yang terkejut karena tidak terima kembaran nya mencium sepupu mereka.
“Ya!! Kono hito!!”
Leon segera menghampiri keduanya dan memisahkan Lydya dengan Haru yang tersenyum kegirangan mendapat ciuman dari Lydya. Haru selalu merasa kalau dirinya sudah seperti ayahnya yang suka sekali dekat dengan bibinya -Zyta-, dia juga senang sekali dekat dengan Lydya dan hanya pada Lydya.
“Ayo pergi. Kita terlambat,” ucap Leon menggandeng tangan Lydya untuk memasuki pintu masuk.
Lydya terkekeh pelan dan melambaikan tangannya. Haru dengan wajah berseri nya juga melambaikan tangannya begitupun yang lainnya. Dirinya memang sengaja mencium pipi Haru untuk melihat Leon kesal dan tentu saja melihat bagaimana wajah memerah kakak sepupunya yang lucu itu.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Akhirnya balik kampung juga~ lama bgt nih anak2 liburan nya 🤣🤣🤣
__ADS_1
See next time ~(~ ̄▽ ̄)~~