
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Sick
Lydya baru saja pulang dari supermarket untuk membeli parsel berisi buah-buahan. Dia berniat berkunjung ke rumah tunangannya sekaligus menjenguk tunangannya yang sedang sakit itu. Tak membutuhkan waktu lama dirinya sudah sampai di rumah Gio.
Awalnya Gio masih tinggal di rumah neneknya sebelum kedua orangtua nya memutuskan untuk pindah juga. Lydya menekan bel rumah dan menunggu, tak beberapa lama pintu terbuka dan menampakkan Karina yang terkejut dan senang melihat Lydya datang.
Lydya tersenyum manis melihat sahabat ibunya yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena kedatangannya. Karina segera membawa Lydya masuk dan duduk di ruang tamu bersama dengan Karina di sebelahnya.
“Sampai repot-repot bawakan buah segala. Mama jadi tidak enak,” ucap Karina menerima parsel dan menyerahkan pada asisten rumah tangganya.
Karina menyuruh ART itu untuk mengupas beberapa buah sebelum kembali berbicara dengan Lydya.
“Kamu ke sini karena Gio, kan?”
Lydya mengangguk canggung membuat Karina tertawa senang. Seharusnya dia datang kemari bersama dengan Leon dan yang lainnya tetapi entah bagaimana saat mereka di supermarket tadi hanya tinggal dirinya seorang.
Dia tahu, mereka sengaja meninggalkannya agar datang seorang diri ke rumah keluarga Isaac. Lydya mengumpat dalam hati ketika Leon mengirim pesan kalau dia dan yang lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing.
Karina tersenyum senang, “Kamu bisa menjenguknya sendiri. Kamarnya ada di ujung lantai dua. Pintu berwarna cokelat,” ucap Karina berdiri dari duduknya dan mengajak Lydya naik ke lantai atas.
Lydya gelagapan sendiri ketika sahabat mami nya itu turun dan melambaikan tangannya menyuruh dia segera masuk ke dalam kamar tunangannya seorang diri. Lydya mengejapkan matanya cepat. Kelihatannya hari ini dia sedang sial. Sejak pagi, perasaannya yang tak menentu sekarang dia harus masuk sendirian ke dalam kamar tunangannya.
Lydya berdiri didepan pintu kamar berwarna cokelat seperti yang sahabat ibunya bilang. Tangan Lydya terangkat hendak mengetuk nya tetapi di urungkan karena dia merasa sangat gugup. Lagipula dia juga tidak tahu harus seperti apa berhadapan dengan Gio.
‘Sial!’ umpat Lydya dalam hati.
Jantung berdegup dengan kencang dan meletakkan tangannya di pintu lalu mengetuk nya. Lydya menutup matanya menunggu jawaban dari dalam tetapi tidak ada jawaban apapun. Lydya mengerutkan dahinya bingung lalu mengetuk lagi dan masih tidak ada jawaban apapun.
Baru saja dia akan kembali mengetuk pintu terdengar suara dari dalam. Terdengar serak dan lemah tetapi masih dapat Lydya dengarkan karena dia menempelkan telinganya ke pintu.
“Ini aku. Lydya,” jawab Lydya.
__ADS_1
Lydya membuka pintu ketika tunangannya itu mengizinkannya masuk.
“Oh! Lydya, tunggu,”
Lydya yang baru saja setengah badannya yang masuk kembali keluar ketika Karina memanggilnya. Karina menyerahkan nampan berisi semangkuk susu, potongan buah, dan segelas air juga ada dua butir obat disebelah air.
Karina tersenyum lebar dan tertawa kecil, “Mohon bantuannya, ya,” ucap Karina membukakan pintu untuk Lydya.
Lydya hanya bisa pasrah membiarkan sahabat mami nya itu mendorongnya masuk. Pandangan Lydya tertuju pada kasur single di mana tunangannya itu sedang berbaring dan menatapnya membuat dia sedikit tersentak kaget.
Lydya menghela napas dan berjalan menghampiri Gio yang duduk bersandar dan menatapnya dalam diam. Lydya meletakkan nampan di atas rak kecil disebelah meja lalu menarik kursi belajar Gio dan mendudukinya.
“Kau mau makan sendiri atau disuapi?” ucap Lydya tanpa basa basi.
Diambilnya mangkuk bubur tersebut dan menatap Gio yang masih diam menatapnya. Lydya memiringkan kepalanya menatap Gio bingung. Lydya mengerutkan dahinya bingung lalu mengalihkan pandangannya pada mangkuk bubur di tangannya, dia mengaduknya pelan dan mengambil sesendok.
“Sebenarnya aku datang ke sini hanya ingin melihat mu sebentar lalu pulang,” ucap Lydya menyuapkan bubur tersebut pada Gio yang diterima dengan patuh.
“Tetapi, mama mu menahan ku dengan seperti ini,” ucap Lydya to the point.
Gio hanya diam dan membiarkan Lydya menyuapinya. Dia tidak kuat untuk berbicara bahkan untuk makan saja dia tak bertenaga. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana dan dia merasa demamnya bertambah tinggi. Bahkan kepalanya terasa sangat pusing.
“Masih sisa banyak. Kau harus menghabiskannya,”
Gio menggelengkan kepalanya lemah. Dia benar-benar tidak ingin makan sekarang dan yang diinginkannya saat ini adalah tidur.
“Dua suapan lagi. Oke?”
Gio menghembuskan napasnya pelan dan mengangguk. Lydya tersenyum senang dan menyendok bubur dalam porsi besar. Gio mengerutkan dahinya dan menatap Lydya ketika sendok berisi penuh dengan bubu ada didepan mulutnya.
Lydya hanya tersenyum dan menatap Gio untuk segera membuka mulutnya. Dengan patuh Gio membuka mulutnya, Lydya segera memasukkan sendokan besar bubur ke dalam mulut Gio. Lydya terkekeh senang dan Gio hanya bisa pasrah.
Dua sendokan yang Lydya suap kan padanya sama saja dengan empat kali sendokan kecil. Dia telah dibohongi oleh tunangannya. Lydya tersenyum senang dan menyendok bubur dalam porsi besar lalu menyuapkan terakhir pada Gio hingga tersisa seperempatnya.
Lydya meletakkan kembali mangkuk tersebut ke atas nampan dan membantu tunangannya minum. Gio hendak berbaring kembali tetapi Lydya menahannya membuat Gio menatap Lydya bingung.
__ADS_1
“Jangan tidur dulu. Kau belum minum obat,” ucap Lydya membuat Gio kembali duduk.
“Makanlah ini dulu,” lanjut Lydya menusuk apel dengan garpu dan menyerahkannya pada Gio.
“Kunyah lah pelan-pelan seperti kau memakan bubur tadi,” ucap Lydya tersenyum lebar.
Entah mengapa Gio malah merasa Lydya sedang menyindirnya karena memakan bubur dengan sangat lambat tetapi bukan salahnya, sakitnya ini yang membuatnya malas untuk mengunyah sayur yang mama nya campurkan dalam bubur.
“Mengapa? Makanlah,” ucap Lydya yang melihat Gio hanya diam memegang garpu.
Lydya jadi merasa bersalah sudah mengejek tunangannya ini tetapi Gio memang sangat lamban saat memakan buburnya yang jelas-jelas lembek seperti itu. Lydya mengambil lagi garpu yang ada di tangan Gio lalu menyuapkan apel tersebut pada Gio yang menatap Lydya sebentar sebelum membuka mulutnya.
“Kurasa potongannya terlalu besar. Aku akan pinjam pisau dulu,” ucap Lydya berdiri dari duduknya.
Gio memegang tangan Lydya dan menggelengkan kepalanya, “Kau yakin tidak ingin memotongnya lagi?”
Gio menganggukkan kepalanya dan Lydya kembali menyuapi Gio dengan apel sebelum meminum obatnya.
“Tidurlah. Kau masih perlu istirahat tetapi kurasa obat ini bisa mempercepat mu untuk tidur,” ucap Lydya membantu menyelimuti Gio.
Lydya hendak keluar dengan membawa nampan yang Karina berikan padanya ketika Gio mencegahnya keluar dan meminta untuk ditemani sebentar, Lydya meletakkan kembali nampan tersebut di atas meja dan kembali duduk. Tak memerlukan waktu lama Gio sudah tertidur.
Lydya segera keluar dengan nampan nya dan berjalan turun ke bawah. Beruntungnya Lydya bertemu dengan salah satu ART yang membantunya membawa bekas makanan Gio jadi dia tak perlu repot-repot mencari di mana dapurnya.
ART itu berpesan sebelum pergi kalau nyonya rumah meminta dia untuk menemuinya di taman belakang. Lydya mengikuti ART itu menuju taman belakang. Lydya terpana melihat taman belakang rumah keluarga Isaac, ada gazebo ditengah-tengah taman dan Lydya bisa melihat sahabat ibunya tengah duduk di sana.
Lydya berjalan menghampiri sahabat mami nya yang ternyata tidak sendiri. Semakin dekat Lydya merasa kenal dengan punggung seorang wanita yang duduk bersama dengan sahabat mami nya itu.
“Oh! Mami!”
Dua orang perempuan itu menoleh bersamaan kearah nya. Ternyata wanita itu adalah mami nya yang sekarang tersenyum lebar padanya. Apa yang mami nya lakukan di sini?
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
__ADS_1
Duh mamak satu ini cepet bgt dpt info anak ceweknya dimana 🤣🤣🤣
See you next timeu (>y<)