School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Troublemaker


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Troublemaker


Sore pun tiba, sekitar setengah empat setelah Lydya bangun sudah diseret kakaknya menuju salon yang sudah kakaknya pesan. Lydya yang setengah mengantuk hanya bisa diam saja bahkan di salon dia hanya diam membiarkan pegawai salon merias dirinya.


Untung saja disela kantuknya, Lydya masih ingat kalau kemarin Ray memintanya untuk menemani pria itu ke acara pernikahan teman Ray.


Memerlukan waktu hampir dua jam untuk merias Lydya dan sekarang dia sudah selesai dirias. Lydya memakai gaun se lutut berwarna biru dengan lengan transparan hingga siku.



“Wow. Adikku memang sangat cantik,” ucap Ray saat adiknya keluar dari kamar ganti.


“Jangan banyak bicara. Lebih baik kita segera pergi atau kau akan terlambat,” ucap Lydya berjalan mendahului Ray meninggalkan salon.


Ray terkekeh melihat wajah Lydya yang ditekuk. Ray berpamitan pada pemilik salon yang juga teman nya itu dan segera menyusul Lydya yang menunggu didepan salon. Ray tersenyum pada Lydya dan menyerahkan paper bag pada Lydya.


Lydya menerimanya dan menatap kakaknya bingung, “Apa ini?”


Ray hanya tersenyum dan Lydya segera membukanya. Lydya mengambil barang di dalamnya yang ternyata sebuah tas tangan yang berwarna senada dengan gaun yang dikenakannya.


Lydya menatap tas itu dan Ray curiga. Ray yang ditatap curiga oleh Lydya, tertawa kecil.


“Tidak usah menatap ku seperti itu. Aku sedang baik hati jadi aku tidak akan meminta imbalan apapun,” ucap Ray mengacak pelan rambut Lydya.


Jangan sampai tangannya yang suka sekali berada di atas kepala Lydya sampai merusak tatanan rambut Lydya.


Lydya masih tidak percaya kakaknya itu memberikan sesuatu secara cuma-cuma. Pasti ada maksud tersembunyi dari pemberian Ray. Bukan sekarang mungkin saja suatu saat nanti Ray menginginkan balas budi.


“Ck! Sebegitu tidak percaya nya pada kakakmu sendiri?!” ucap Ray kesal.


Dengan polos Ella menganggukkan kepalanya. Ray menatap Lydya datar.


“Terserah. Ayo,” ucap Ray menggandeng tangan Lydya meninggalkan area mall di mana Ray membawa Lydya ke salon.


Saat ini mereka berada di mobil menuju tempat acara pernikahan diselenggarakan.


“Mengapa kau mengajak ke sana?” tanya Lydya memecah keheningan selama perjalanan menuju tempat acara.


“Hmm.. kau tau sendiri,” jawab Ray fokus pada kemudinya.


Lydya terdiam memikirkan apa maksud Ray hingga dia menyadari maksud dari perkataan Ray.


“Hah?! Jangan-jangan…” ucap Lydya memastikan apa yang dipikirnya.


“Kau benar dia mantan ku,”


“Oh! Tuhan!” ucap Lydya menutup kedua mulutnya terkejut.


“Kau yang memutuskannya?” tanya Lydya memastikan kalau kakaknya lah yang mengakhiri lebih dahulu hubungan mereka.

__ADS_1


Dapat Lydya akui kalau kakaknya ini sangat menawan dan tampan jadi tidak akan ada wanita yang mau berpisah dengannya lebih dahulu. Mereka pasti berjuang keras untuk mempertahankan hubungan mereka dengan kakaknya.


“Hmm.. Dia bahkan menghina ku kalau aku tidak akan bisa datang dengan seorang perempuan kecuali dengannya,”


“Jahat sekali… walau apa yang dikatakannya suatu kebenaran,” ucap Lydya menggelengkan kepalanya.


Ray berdecak kesal. Setiap kata yang keluar dari mulut Lydya selalu bisa melukainya hingga hati. Lidah Lydya itu sangat tajam walau Ray suka sekali menjahili Lydya tetapi ada kalanya dia kalah dengan lidah tajam adiknya itu.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, Lydya dan Ray sampai ditempat acara. Lydya segera keluar dari mobil begitu diparkirkan, begitupun dengan Ray setelah dia mematikan mesin mobilnya.


“Ayo,” ucap Ray dan Lydya segera mengaitkan tangannya pada lengan Ray.


“Mantan mu itu tidak akan mengenali ku, kan?” tanya Lydya.


Mereka berjalan menuju gedung acara. Jarak tempat parkir dan tempat diselenggarakannya cukup jauh dan sialnya Ray mendapatkan tempat parkir yang jauh dari pintu masuk.


“Tidak akan. Aku tidak pernah mengenalkan keluarga pada siapa pun. Kau tahu itu,”


“Baguslah,”


Lydya tersenyum senang. Memang benar, kakaknya ini tidak pernah mengenalkan siapa pun pacarnya ke rumah. Tidak satu pun karena jika sampai dia mengenalkan nya maka dapat dipastikan Ray tidak akan selamat dari mami mereka dan mau tidak mau Ray harus terus mempertahankan pacarnya itu.


“Wah.. banyak sekali tamu undangannya,” ucap Lydya begitu mereka masuk ke gedung.


“Jaga raut wajah mu. Buat malu saja,”


Lydya mendengus pelan, “Mantan mu itu orang terkenal, ya? Banyak sekali orang-orang terkenal yang datang,”


“Hmm.. aku hanya tahu kalau dia seorang model,”


Ray menganggukkan kepalanya, “Porn,” gumam Lydya.


Ray menolehkan kepalanya pada Lydya walau pelan dia masih bisa mendengar suara Lydya di antara kebisingan para tamu. Dia menatap tak percaya pada adiknya itu, Ray mengerti maksud dari perkataan adiknya.


“Oii.. jangan sembarangan berbicara,”


“Hmm…? Mengapa?” tanya Lydya berpura-pura bodoh, Ray menatapnya datar.


Adiknya ini pintar sekali mengelak dengan berpura-pura. Ray jadi ingat kembali ke masa lalu di mana dia menjadi sasaran empuk kepura-puraan Lydya. Adiknya yang salah tetapi dia yang disalahkan.


“Sial!”


“Hmm?” tanya Lydya menatap kakaknya aneh.


Ray menggelengkan kepalanya, “Tak apa. Ayo, kita temui dia,” ucap Ray menatap lurus kepelaminan.


“Baiklah, kakakku sayang. Mari kita balas penghinaannya padamu,” ucap Lydya tersenyum miring.


Ray menelan ludahnya, dia takut Lydya akan bertindak macam-macam. Seketika dia tersadar, seharusnya dia tidak membawa Lydya ke acara seperti ini. dia masih ingat bagaimana Lydya membuat mantannya yang lain malu. Menyiram nya, mengejek nya, bahkan menampar para mantannya.


“Jangan macam-macam,”


“Tenanglah kakakku. Tidak akan terjadi insiden apapun,” ucap Lydya tersenyum manis tetapi bagi Ray bagaikan sebuah racun mematikan.

__ADS_1


“Semoga saja,” ucap Ray.


Lydya tak menanggapi ucapan Ray dan mereka berjalan menuju pelaminan. Mata Lydya tak lepas terus memandang kearah mempelai wanita yang sejak mereka datang terus menatap dirinya dan sang kakak.


‘Ternyata masih sayang,’ batin Lydya.


Dia bisa menebaknya kalau mantan kakaknya yang satu ini masih menyukai kakaknya yang ********. Bisa dilihat bagaimana caranya memandang kakaknya, terlihat secuil harapan di sana.


Berjibaku dengan kerumitan hubungan asmara kakaknya yang telah kandas membuat Lydya belajar banyak bagaimana para mantan kakaknya itu ketika melihat kakaknya yang pernah menjadi orang terkasih. Penuh cinta dan kasih sayang.


Lydya memamerkan senyumnya begitu matanya dan mempelai wanita itu bertemu dan raut wajah mempelai wanita itu terlihat kesal. Lydya tertawa dalam hati. Jajaran mantan kakaknya ini benar-benar menarik perhatiannya. Berbagai macam sikap yang para mantan ini tunjukkan membuat Lydya tertarik.


Mereka sampai di hadapan mempelai dan kakaknya berbasa-basi dengan mempelai pria. Kelihatannya mereka saling kenal, itulah yang Lydya tangkap dari sikap kakaknya pada mempelai pria dan mempelai wanitanya tak melepas pandangannya pada Lydya.


Lydya hanya tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya pada mempelai pria yang memujinya, Lydya berterima kasih atas pujian mempelai pria dan melirik ke mempelai wanita yang raut wajahnya bena-benar terlihat kesal padanya.


“Huh! Ternyata kau bisa membawa pasangan mu,” ucap wanita itu ketika kakaknya mengucapkan selamat.


Ray hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dasar kakaknya yang bodoh ini.


“Ray.. apakah dia wanita itu?” ucap Lydya manja dan semakin menempelkan badannya pada kakaknya.


Ray terkejut akan sikap Lydya yang tiba-tiba. Bulu kuduknya merinding mendengar suara manja adiknya dan Lydya sendiri pun juga merasa jijik mendengar suaranya sendiri bahkan kedua mempelai pun juga sama kaget nya.


Mempelai wanita yang pernah menjadi kekasih Ray pun sangat tahu bagaimana tipe ideal pria itu. Ray tidak menyukai wanita yang manja, dia menyukai wanita mandiri tetapi hari ini dia mendapati Ray bersama dengan wanita manja.


“Emm.. Itu dia,” ucap Ray.


Lydya memandang mempelai wanita ke atas dan ke bawah. Memandangnya menilai.


“Hmm.. Tidak lebih cantik dariku,” gumam Lydya menatap wajah mempelai wanita dengan senyum miringnya.


Mata mempelai wanita itu membulat, “KAU….,” ucapnya tertahan.


“Bahkan jika aku yang memakainya akan terlihat lebih cantik,” ucap Lydya memandang gaun pernikahan yang membalut tubuh ramping mempelai wanita.


Sebenarnya, wanita ini sangat cocok dengan gaun yang dia kenakan dan wajahnya pun juga cantik hanya tidak mungkin Lydya memujinya. Akan berbeda dengan skenario yang telah Lydya susun.


“Mmm.. nona,” panggil mempelai pria.


“Hmm.. bagaimana bisa kau menikahi wanita sepertinya. Aku lebih baik darinya jika kau tidak masalah aku bisa membantu,” ucap Lydya mendekat pada mempelai pria.


“Dalam hal itu,” bisik Lydya agak keras hingga mempelai wanita dan kakaknya mendengar ucapan Lydya.


Mata mempelai pria itu membuat dan telinganya memerah.


Ray tertawa canggung, “Kurasa kami pamit dan selamat atas pernikahan mu,” ucap Ray menyeret adiknya meninggalkan gedung acara.


Lydya melambaikan tangannya dan mengedipkan sebelah matanya pada kedua mempelai. Wajah mempelai wanita terlihat sangat memerah dan matanya mulai berair. Lydya memasang wajah tertawanya. Dia tertawa canggung. Sial! Dia membuat orang lain menangis.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


Susah klo ketemu orang model kek Lydya.. makan hati pastinya..

__ADS_1


See ya two days again~(~ ̄▽ ̄)~~


__ADS_2