
Konbawa~ guyseu~
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Good Morning
Cuitt.. cuit.. cuitt..
Lydya membuka matanya dengan lebar begitu dia mendengar suara kicauan burung yang saling bersahutan diluar sana. Lydya menolehkan kepalanya keluar dan menatap kesal ke arah luar. Ingin rasanya Lydya melempari burung-burung diluar sana yang mengganggu tidurnya.
“Cih! Sial!” umpat Lydya menutup kedua matanya dengan tangan.
Lydya menutup kedua matanya dan berteriak kesal. Dia tidak bisa tidur sama sekali karena teringat kemarin malam dan sekarang pagi sudah datang. Dia tidak menyangka dalam sehari statusnya yang single sudah berubah menjadi bertunangan.
Kejadian tadi malam benar-benar berjalan dengan cepat. Dirinya masih ingat betapa terkejut nya dia ketika mendengar dia akan ditunangkan dengan teman sekelasnya sendiri dan laki-laki yang baru beberapa minggu dikenalnya. Bahkan di atas panggung dia hanya mengikuti arahan para orangtua karena dirinya sangat terkejut tadi malam.
“Akhh!!”
Lydya menendang selimutnya berulang kali dengan kesal. Dia benar-benar sangat kesal. Dia tak menyangka dalam semalam dia sudah mempunyai tunangan. Dirinya kembali teringat percakapan kedua orangtua nya yang tak sengaja dia dengar waktu itu dan dia juga ingat mengapa keluarga Gio berkunjung kerumahnya karena semua itu memiliki arti tersembunyi yaitu menjodohkan dirinya dengan Gio.
dia tak habis pikir mengapa kedua orangtua nya dengan tega menjodohkan nya di usianya yang masih sangat muda seperti ini. Lydya membuka matanya, jangan-jangan mami nya sudah membuat janji di masa lalu kalau mereka memiliki anak laki-laki atau perempuan akan mereka jodoh kan jadi mereka bisa menjadi besan.
“Tentu saja begitu,” ucap Lydya membenarkan pikirannya.
Mami nya tega sekali padahal dia ingin mencari pasangannya sendiri seperti mami nya tetapi dia tidak akan bisa karena harus terjebak di perjodohan dan pertunangan yang sudah mami nya atur untuknya. Lydya menghela napasnya pasrah. Setidaknya mereka tidak akan menikah sebegitu mereka lulus sekolah jadi Lydya bisa kabur sementara waktu keluar negeri untuk menghindari pernikahan.
Dia tidak tahu kapan mami nya akan berubah pikiran jadi setelah dia lulus. Dia akan langsung mengambil pendidikan keluar negeri. Lydya mengepalkan tangannya semangat. Dia bangun dari tidurnya dan melesat masuk ke kamar mandi. Dia bahkan mandi dengan cepat dan memakai pakaiannya dengan cepat pula.
Walau masih terlalu pagi tetapi Lydya yakin kalai mami nya sudah bangun dan melakukan olahraga pagi di taman belakang. Lydya melangkah cepat menuju taman belakang dan berjalan pelan begitu melewati kamar nenek dan nenek buyut nya lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat hingga sampai di taman belakang.
Seperti yang Lydya pikir, mami nya sedang berolahraga pagi di taman belakang. Di eratkannya haori yang dia kenakan begitu hawa dingin menusuk kulitnya.
[gambar taman belakang pecah ternyata 🤔🤔 malah jadi gk jelas gambarnya padahl pas pertama kiat bagus]
“Mami,”
Zyta berdeham menjawab panggilan putrinya itu tanpa menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
“Ada yang ingin kukatakan. Aku…,”
Zyta mengangkat tangannya menghentikan ucapan Lydya, “Sebelum bilang. Bisakah bawakan minuman mami?”
Lydya segera menyuruti keinginan mami nya dan berjalan cepat menuju dapur. Zyta tersenyum jahil begitu melihat putri yang pergi dengan terburu-buru menuju dapur tanpa melayangkan protesnya. Kelihatannya apa yang akan disampaikan putrinya itu sangat penting hingga dia tidak sabaran. Kalau begitu tidak menjadi masalah kalau dia menjahili nya sedikit.
“Sudah,”
Lydya meletakkan pesanan Zyta di atas meja baju yang tak jauh dari tempat Zyta berolahraga. Lydya baru saja akan bersuara tetapi Zyta kembali mengangkat tangannya mencegah.
“Tolong mami, bangunkan yang lainnya setelah itu kau bisa bilang pada mami,”
Lydya menatap mami nya tak percaya tetapi tetap menuruti keinginan mami nya. Dia benar-benar membangun seluruh keluarganya tak terkecuali. Begitu selesai dengan perintah mami nya, Lydya kembali ke taman belakang tetapi tidak menjumpai mami nya di sana.
Lydya mengedarkan pandangannya ke penjuru taman hingga tak sengaja menemukan memo kecil di bawah gelas. Lydya mengambilnya dan membaca memo tersebut. Lydya tersenyum sabar dan mengelus dadanya.
‘Jika sudah selesai tolong ke dapur dan cek apakan sarapan sudah siap jika sudah tolong beri tahu yang lainnya. Sampai bertemu waktu sarapan. Mata ne~’ [bayangin aja pake tulisan huruf Jepang]
Begitulah isi pesan di dalam memo yang tertulis dalam bahasa Jepang dan dapat dipastikan itu tulisan mami nya. Lydya meremas-remas kertas itu kesal. Mami nya baru saja menjahili nya dan dia dengan gampangnya terjebak begitu saja. Jikalau dia tidak ingin mengatakan hal penting pada mami nya sudah pasti dia tidak akan terjebak dengan mudahnya.
Lydya menghela napasnya dan berjalan gontai menuju dapur yang sudah sibuk sejak dia mengambil minum untuk mami nya dan tentu saja sarapan belum siap sehingga Lydya harus menunggunya beberapa saat lagi sebelum memanggil yang lainnya untuk sarapan.
🖌🖌🖌🖌🖌
“Sumimasen, sarapan sudah siap dan sudah disiapkan di ruang makan,”
dia jadi terbiasa dengan sikap para pelayan yang memberitahukan kalau makanan sudah siap. Lydya sering menjumpai mereka ketika menghampiri satu per satu kamar yang jarak berjauhan tetapi tidak hanya satu pelayan saja yang memberi tahu, setidaknya ada sekitar empat orang yang berpencar.
Lydya tersentak kaget ketika dia baru saja akan mengangkat tubuhnya, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan menampakkan Cristal dengan wajah tak mengenakkan nya. Pagi-pagi sudah bertemu dengan wajah mantan kekasih kakaknya. Lydya jadi mengingat kembali kejadian semalam, dia merasa kesal akan keagresifan Cristal pada kakaknya.
Sial! Batin Lydya.
“Siapa, sayang?”
Itu suara Ferad.
“Akh! Hanya pelayan. Tak usah dipedulikan,” ucap Cristal tersenyum miring dan kembali menutup pintu.
Lydya menegakkan tubuhnya dan menatap tak percaya pintu di depannya. Berani sekali wanita itu memanggilnya pelayan. Lihat saja apa yang akan dilakukannya pada wanita itu. Tunggu saja pembalasannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Leon melihat Lydya yang berdiri memandang pintu di depannya.
Lydya menolehkan kepalanya dan mendapati kembaran nya bersama dengan Gio. Lydya hanya mendengus ketika matanya melihat Gio dan meninggalkan keduanya yang kebingungan. Leon dan Gio saling berpandangan, apa mereka sudah berbuat salah pada Lydya tanpa mereka sadari.
__ADS_1
Langkah kaki Lydya terdengar sangat kesal menuju kamar kakaknya. Dia bahkan berjalan dengan menghentakkan kaki dan hatinya terus bergumam kesal. Dia benar-benar kesal bertemu dengan Cristal dipagi hari. Mood paginya langsung hancur seketika.
“Oh, oh, oh. Mengapa adikku terlihat kesal?” cegat Ray yang berpapasan dengan adiknya yang bermuka masam di pagi hari.
Lydya mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia bersedekap kesal didepan kakaknya. Ray tak mengerti mengapa adiknya sudah berwajah kesal pagi-pagi sekali. Apa sudah ada yang membuatnya kesal?
“Ada apa?”
Lydya lagi-lagi hanya mendengus menjawab pertanyaan Ray.
“Apa ada yang membuatmu kesal?”
Lydya menatap Ray lalu menganggukkan kepalanya, “MANTAN-mu membuatku kesal,”
Lydya menekankan kata mantan pada ucapannya dan dia menarik kata-katanya kalau mantan kekasih kakaknya itu lembut dan cantik. Mantan kekasih kakaknya itu tak jauh berbeda dengan mantan-mantan kakaknya yang lain. Lydya juga harus membereskan yang satu ini.
Ray menatap adiknya bingung. Apa yang sudah dilakukan Cristal pada adiknya?
“Tenanglah. Dia tak melakukan apapun hanya memanggil ku pelayan saja ketika aku meminta untuk sarapan,”
Ray menatap adiknya tak percaya, dahinya berkerut marah. Lydya yang tersadar menutup mulutnya karena tak sengaja berucap. Dia tak sengaja keceplosan.
“Ah! Ah! Bukan seperti itu. Bukan seperti itu. Aku tak apa-apa,” ucap Lydya mencegah kakaknya berbuat diluar kendali.
Wajah Ray tidak berubah dan malah semakin mengeras, “Aku benar-benar tidak apa-apa. Sungguh,”
Lydya yang tengah sibuk menenangkan kakaknya tak menyadari ada dua orang lagi yang mendengar ucapan Lydya. Mereka adalah Leon dan Gio yang mengikuti Lydya ketika pergi dengan wajah kesalnya. Mereka kuatir ada sesuatu yang terjadi pada Lydya.
“Tak kusangka,”
“Maaf. Jika kau ingin melakukan sesuatu pada kakak iparku , lakukan saja,”
“Baik sekali,” ucap Leon menolehkan kepalanya pada Gio.
“Itu karena aku tidak menyukainya,” ucap Gio mengedikkan bahunya.
“Baiklah. Jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada wanita itu,”
Gio mengedikkan bahunya acuh. Dia hanya berharap semoga kakaknya tidak mengetahui apa yang akan teman nya ini lakukan pada kakak iparnya itu.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Ja, mata ne~ next chapter~
__ADS_1