School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Sleepover


__ADS_3

Konbawa~ minna-san...


Happy Reading


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Sleepover



Lydya melempar-lempar batu taman ke dalam kolam air di depannya, beruntungnya tidak ada ikan di dalamnya. Dia tengah kesal sekarang. Kedua orangtuanya tidak ada, kakak dan juga Leon, nenek dan kakeknya juga nenek buyut nya pun juga tidak ada.


Hanya ada dirinya dan pria yang duduk di sampingnya dengan matanya dan jari-jarinya sibuk dengan ponsel. Jari-jari pria itu bergerak dengan sangat lincah, sampai-sampai mata Lydya sakit mengikuti pergerakan jemari Gio.


Lydya rasa tebakannya tadi benar, Gio memang laki-laki yang sudah memiliki kekasih, dilihat dari tingkah pria itu sekarang. Terlihat sekali kalau Gio sangat mencintai kekasihnya itu.


Lydya menghela napasnya panjang. Lydya juga mau mendapatkan pacar tetapi mau bagaimanapun cara dilakukannya pasti tidak akan berhasil. Apalagi ada Leon yang selalu menempel padanya, belum lagi kakaknya Ray yang bisa menggila jika tau dirinya memiliki pacar.


“Senang sekali ya memiliki pacar,”


Gio menolehkan kepalanya pada Lydya dan hanya tersenyum menjawabnya. Dia tidak tahu harus menjawab seperti apa.


“Berapa umurnya?”


“Seumuran dengan kita,”


“Kita? Hah? Tunggu! Berapa umurmu?” tanya Lydya kaget.


“17 tahun,”


Lydya menatap Gio tak percaya. Dia kira umur Gio beberapa tahun di atasnya. Melihat wajah Gio yang terlihat dewasa membuatnya salah mengira umur Gio. Tak tahunya ternyata mereka seumuran.


“Bagaimana kau tahu kalau kita seumuran?”


“Bukankah kita satu kelas?”


“WHAT??!!! Sekelas?!”


Gio menganggukkan kepalanya. Salahkan lah Lydya yang suka tak peduli akan sekitarnya bahkan dia tak mengenali teman sekelasnya sendiri.


“Maaf. Aku tidak terlalu peduli akan sekitar jadi sampai tak mengenali mu,” Gio mengangguk.


Lydya membuka ponsel nya saat merasakan benda tersebut kembali bergetar. Lydya mendapat dari mami nya kalau mereka akan segera kembali ke rumah. Karena Lydya yang sudah telanjur kesal, dia hanya menjawab ‘ya’ ke mami nya itu. Lydya berdiri dari duduknya dan merenggangkan persendiannya yang terasa kaku.


“Ayo, kita tunggu saja di ruang tamu. Seharusnya tidak akan lama dari arena golf sampai ke sini,” ujar Lydya pada Gio yang menatapnya bingung.

__ADS_1


Lagi-lagi Gio hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Lydya bagaikan anak ayam yang mengikuti induknya.


🖌🖌🖌🖌🖌


Dan benar saja, sesampainya Lydya dan Gio di ruang tamu, keluarga mereka benar-benar sudah sampai dan tengah melepas sepatu mereka disertai canda tawa sehingga membuat kegiatan mereka menjadi lebih lama.


Lydya menatap mami nya dengan tatapan malas dan lihatlah walaupun mami nya sudah melihatnya tetapi dia tidak memperdulikan keberadaan Lydya dan malah asyik bercanda. Lydya mendengus kesal melihat mami nya yang acuh dan tingkah Lydya tersebut tak luput dari pandangan Gio yang sejak tadi hanya diam.


“Gio, kita pulang sekarang,”


Karina pada putra yang diam berdiri di samping putri sahabatnya. Tanpa kata Gio mengangguk dan mengikuti perintah ibunya.


“Aduh.. mengapa buru-buru sekali?”


Zyta pada sahabat karibnya itu, dia tak senang sahabatnya yang sudah jauh-jauh dari kota S ke kota J tetapi buru-buru untuk pulang.


“Bukan begitu. Aku menitipkan putra kecil ku di rumah neneknya. Kau tau kan kalau aku tidak akan bisa berjauhan dengan anak-anakku,” ujar Karina memegang tangan Zyta yang menatapnya kecewa, tak merelakannya pergi.


Karina paham jika Zyta tak ingin dirinya pergi karena memang sudah sangat lama sekali dirinya tak bertemu dengan Zyta, berbeda dengan saudara kembarnya -Sarina- yang masih bisa bertemu dengan Zyta karena saudara kembarnya itu tinggal di kota B jadi tidak jauh jika ingin bertemu.


“Kalau begitu mengapa tidak kau tinggalkan saja putramu di sini?”


Zyta melirik Gio yang hanya tersenyum saja. Zyta mendengus melihat putra tertua sahabatnya ini yang memang benar-benar mirip sekali dengan ayahnya -Mahesa- membuat Zyta kesal sendiri melihatnya. Kalau tidak diam saja palingan juga hanya membalas dengan senyum, ayah dan anak yang sama.


“Tetapi...,”


“Eum... Bagaimana, ya? Tetapi besok dia sekolah,”


Karina tak yakin dan menatap putranya yang tak mengeluarkan ekspresi apapun dan membuatnya dilanda kebingungan. Apalagi suaminya yang hanya diam saja sejak tadi. Terkadang Karina sering kesal sendiri pada suaminya yang jarang sekali tersenyum. Hanya waktu-waktu tertentu saja suaminya ini akan tersenyum.


“Ck! Apa kau lupa dengan perjanjian kita?” bisik Zyta.


“Akh!! Iya!! Putra ku, hari kamu menginap di sini, ya. Nanti biar sopir yang mengantarkan keperluanmu,”


Karina menggenggam kedua tangan putranya yang menatapnya tak percaya. Tak sengaja pandangan Gio mengarah pada sahabat ibunya yang menganggukkan kepalanya dengan semangat dan sumringah. Gio yang lemah dengan wanita yang seumuran ibunya, mau tak mau menganggukkan kepalanya menurut.


Zyta menepuk tangannya senang dan segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar tamu yang akan Gio gunakan. Karina mengalihkan pandangannya dari putra ke Zyta yang tampak senang sekali.


“Sudah senang?”


Karina menaikkan sebelah alisnya dan Zyta mengangguk dengan cepat lalu memeluk Karina erat.


“Makasih,” ujar Zyta senang dan Karina mengangguk menjawabnya.


“Kalau gitu, aku dan suamiku balik dulu, ya. Gio jangan aneh-aneh dan dengarkan semua ucapan tante Zyta,”

__ADS_1


Gio menganggukkan kepalanya menurut.


“Ayo, ayo. Kuantar sampai depan,” ujar Zyta mengantar pasangan suami-istri itu.


Gio menatap punggung kedua orangtua nya dengan perasaan sedikit kesal. Apalagi kepada ayahnya yang hanya diam saja saat dirinya diminta menginap di sini. Apa ayahnya ini lupa kalau dia tidak bisa tinggal ditempat asing?


Baru kali ini, ayahnya mengkhianatinya. Biasanya ayahnya itu tidak akan membiarkan dirinya tinggal ditempat asing tetapi kali ini ayahnya hanya diam saja atau mungkin ibunya sudah lebih dahulu mengancam ayahnya?


Itu bisa saja terjadi.


“Semoga kamu betah di sini. Om masuk dulu,” ujar Adam berjalan masuk setelah mengganti sepatunya dengan sandal rumah.


“Iya, om,”


Gio menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Gio terduduk dilantai yang lebih tinggi daripada lantai depan pintu dan menghembuskan napasnya panjang.


“Sial!” gumam Gio.


“Hmm.. ternyata masih anak mama, jauh sekali dengan apa yang ku pikirkan,” ujar Lydya sarkatis.


Gio tersentak kaget dan menolehkan badannya kebelakang. Dia tidak sadar kalau ternyata Lydya masih ada di sana dan menatapnya dengan pandangan mencemooh ditambah lagi dengan tangan yang dilipat di dadanya.


Gio menatap Lydya kesal.


“Ku pikir, laki-laki seperti mu akan merasa biasa saja jika ditinggal dimana pun seperti hutan belantara,” ujar Lydya sarkastis.


Ucapan Lydya semakin menambah kekesalan Gio pada perempuan di belakangnya ini. Lydya masih memandang Gio dengan pandangan menghina dan angkuhnya.


“Pffttt.. menyedihkan sekali,” ujar Lydya menutup mulutnya.


Gio menyipitkan matanya kesal dan baru saja dirinya akan menggapai kaki Lydya yang bersebalahan dengan tangannya tetapi perempuan itu lebih gesit dari yang Gio duga.


“Dasar bodoh! Semua gerakkan mu itu mudah sekali terbaca olehku,”


Gio ingin membuka mulutnya dan membalas ucapan Lydya tetapi Lydya sudah lebih dahulu menaikkan tangannya mencegah Gio berucap.


“Daripada kau mendebat ku. Lebih baik segera pergi ke kamarmu. Bye bye,” ujar Lydya berjalan meninggalkan Gio yang menatapnya penuh kekesalan.


Srekk!!!


“Loh, Gio? Kok masih di sini?”


Gio membalikkan tubuhnya dan tersenyum, “Ayo masuk, tante antar sampai ruanganmu,”


Zyta dan Gio mengangguk lalu mengikuti Zyta menuju kamarnya yang ternyata cukup jauh dari pintu utama. Rumah sebesar ini, bagaimana cara para pekerja itu membersihkannya. Itulah yang Gio pikirkan selama dia berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


__ADS_2