School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Oh Lily


__ADS_3

Happy Reading


!:sorry'bouttypo


🖌Oh Lily


“Leon? Leon? Ya Tuhan...,”


Brak!!


“LEON NARESH!!!”


Leon tersentak kaget mendengar teriakan namanya. Leon mengejapkan dan melihat ke sekelilingnya. Dia mengerutkan dahinya ketika dia melihat sekelilingnya adalah ruang kelas.


Mengapa dia ada di dalam kelas lagi? Bukankah tadi dia ada di padang luas?


“Ayo pulang. Kau ingin tidur sampai kapan?”


Leon melihat Lydya dewasa berdiri di depannya dengan wajah kesalnya. Pandangan Leon jatuh pada rambut Lydya yang bergelombang dan berwarna cokelat. Berbeda dengan rambut Lydya kecil yang dirinya lihat tadi. Leon kembali mengerutkan dahinya.


Tadi itu apa?


Dan di mana itu?


Mengapa terasa tak asing tetapi dia tidak pernah ke tempat itu dan perasaan tak asing apa yang dirasakannya saat melihat Lydya kecil.


“Tuhanku, Leon apa yang kau pikirkan? Kau tidak ingin pulang?” ucap Lydya sudah tidak sabaran.


Leon tak mendengarkan ucapan Lydya dan hanya diam menunduk dengan dahi berkerut. Lydya memutar matanya malas. Lydya mengangkat tangannya bersiap memukul Leon.


“Akh! Sakit!” pekik Leon menyentuh kepalanya yang kena pukul Lydya.


“Akhirnya sadar juga. Ayo pulang. Kau benar-benar ingin tidur di sini?”


“Hmm?”


Leon memandang Lydya bingung. Lydya menahan rasa kesalnya. Tanpa kata Lydya membereskan buku-buku Leon yang ada di loker meja dan memasukkannya kedalam tas. Lydya menggandeng Leon meninggalkan kelas. Sejak mereka naik ke kelas dua belas, Zyta tak mengizinkan anak-anaknya untuk berangkat terpisah. Jadi, selama kelas dua belas ini Lydya dan Leon akan pulang pergi bersama.

__ADS_1


Lydya berjalan memutari mobil setelah memaksa Leon masuk ke dalam mobil. Setiap pulang sekolah Lydya lah yang menyetir sedangkan berangkat sekolah Leon lah yang menyetir. Mereka bergantian menyetir setiap harinya.


🖌🖌🖌🖌🖌


Mereka sudah sampai di rumah keluarga Mezzaluna. Lydya mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil. Baru setengah jalan Lydya berbalik dan tak mendapati Leon di belakangnya. Kembaran nya itu masih duduk dengan tenang di dalam mobil. Lydya menghela napas dan kembali ke mobil.


Sebenarnya apa yang baru saja terjadi pada saudara kembarnya itu? Padahal Leon tidak pergi kemanapun dan hanya tidur di mejanya.


Tok! Tok! Tok!


Lydya mengetuk pintu kaca mobil, dia melihat kedalam. Leon masih duduk diam termenung. Lydya berdecak kesal dan membuka pintu mobil dengan kasar.


“Akh!!!”


Leon tersentak kaget ketika kepalanya terasa sakit di bagian yang sama.


“Mengapa…?”


“Sebenarnya ada apa denganmu?”


Leon terdiam melihat Lydya dengan wajah kesal bercampur khawatir. Kerutan di dahi Lydya terlihat jelas sekali kalau dia sedang mengkhawatirkan kembaran nya. Leon hanya diam memandang Lydya. Lydya menghela napas dan berjongkok didepan Leon.


Lydya meraih tangan Leon yang memeluk tasnya. Lydya tidak tahan melihat kembaran nya yang sejak bangun tadi hanya diam saja. Lydya lebih suka melihat Leon dengan wajah datar daripada Leon dengan wajah penuh pikiran.


Lydya menyadari ada yang sedang Leon pikirkan dengan dalam. Itu sudah menjadi kebiasaan Leon jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Leon masih diam saja memandang Lydya yang menatapnya penuh kekhawatiran.


“Lydya, apa kau akan percaya dengan apapun yang kukatakan?” tanya Leon ragu-ragu.


Lydya menganggukkan kepalanya cepat, “Hmm.. apapun itu aku akan percaya,”


Lon tersenyum kecil. Tentu saja. Apapun yang Leon ucapkan entah itu hal yang tak mungkin sekalipun, Lydya tetap saja akan mempercayainya begitupun dengan dirinya yang akan mempercayai apapun yang Lydya katakan karena apapun yang keluar dari mulut mereka sudah pasti bukan suatu kebohongan.


“Waktu tidur tadi aku bermimpi…,”


Leon menceritakan semua mimpinya yang teringat dengan jelas di kepalanya. Tidak ada satu pun yang terlewatkan dalam ceritanya. Dia juga tidak menambahi atau menguranginya.


“Lydya, kau percayakan dengan apa yang kuceritakan?”

__ADS_1


Lydya terdiam sesaat memandang Leon membuat Leon merasa tak nyaman. Dia tidak memahami arti tatapan Lydya tetapi dia merasa Lydya tidak akan mempercayai apa yang dia ceritakan. Lydya masih terdiam dan menundukkan kepalanya. Tangan Leon masih ada dalam genggaman Lydya dan semakin mengerat.


“Ly…?”


Lydya mengangkat kepalanya dan tersenyum, “Hmm.. aku percaya,” ucap Lydya tersenyum manis.


Leon ikut tersenyum. Dia merasa lega mendengarnya. Entah Lydya mengatakan yang sebenarnya atau tidak tetapi dia sudah senang mendengarnya walau hanya sebuah kalimat pendek saja.


🖌🖌🖌🖌🖌


Lydya menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tak diperdulikan rambutnya yang masih setengah basah sehabis keramas. Dirinya kembali teringat dengan cerita yang Leon sampaikan padanya. Cerita Leon begitu detail hingga membuatnya tak bisa mengabaikan cerita Leon begitu saja.


“Sial!”


Dirinya tak pernah menyangka Leon akan memimpikan hal seperti itu. Dirinya yakin dia sudah menahan hal itu sebisa mungkin agar tak terlihat oleh siapa pun tetapi kali ini dia kecolongan. Mimpi Leon adalah bagian terdalam dalam dirinya.


Hamparan padang rumput kering, hembusan angin kuat hingga mampu menerbangkan topinya, gaun putih yang berkibar karena hembusan angin. Lydya menyentuh rambutnya cokelat bergelombang nya. Dan rambut hitam legam lurusnya yang sudah sangat lama tak dilihatnya.


Lydya bangun dari tidurnya dan berjalan menuju cermin. Sudah berapa lama dia tidak melihat rambut aslinya hingga dia sendiri sudah lupa bagaimana rupa rambut aslinya. Lydya menumpukan dahinya pada cermin lalu memejamkan matanya.


Semua itu adalah dirinya yang lain. Dia membangun kehidupan lain di dalam dirinya hanya alasan untuk mencari ketenangan. Lydya membuka matanya dan berdiri tegap. Dia menyentuh cermin yang memantulkan dirinya yang dewasa.


Di dalam padang rumput itu, Lydya tidak pernah menggambarkan dirinya yang dewasa. Dia selalu menggambarkan dirinya yang masih anak-anak tetapi mengapa Leon bercerita kalau dia melihat dirinya yang dewasa bahkan…


Dirinya yang dewasa terlihat bahagia bermain dengan… Gio. Entah sejak kapan Lydya mulai memasukkan Gio ke dalam kehidupan lain di dalam dirinya. Lydya tidak pernah membiarkan siapa pun masuk dan hanya teman masa kecilnya lah yang selalu menemani dirinya di dalam kehidupannya yang lain.


Apa yang sudah terjadi? Apakah orang seperti Lydya mulai membuka dirinya? Lydya yang selalu terjebak di masa lalu? Lydya yang selalu ketakutan? Lydya yang membuat kehidupan lain hanya untuk melarikan diri? Lydya yang selalu menggunakan alasan ketenangan? Apakah semua itu perlahan mulai hilang?


Tetapi, sejak kapan? Sejak dua tahun yang lalu? Lima tahun yang lalu? Atau sepuluh tahun yang lalu? Sejak kapan? Sejak kapan dirinya mulai membiarkan orang lain masuk dalam hidupnya? Apakah dirinya perlahan juga akan membiarkan orang lain masuk? Lydya tidak boleh membiarkan mereka masuk.


Tidak satu pun. Keluarganya, papi nya, mami nya, kakaknya, kembaran nya, bahkan teman-temannya. Tidak boleh. Siapa pun itu, tidak boleh. Hanya boleh ada dirinya saja dan dia. Hanya boleh ada mereka. Lydya tidak akan mengizinkan siapa pun memasuki kehidupan lain dalam dirinya atau semua itu akan hilang.


Lydya tidak ingin kehilangan itu semua. Dia tidak ingin.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


😟 How like they life? Tetep aja pasti punya waktu kelam mereka sendiri.. dibalik semua tingkah Lydya, ada banyak hal yng tak pernah terlihat..

__ADS_1


See yaaaa ~(~ ̄▽ ̄)~~


__ADS_2