
Happy Reading, ma dea
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌School Fiancè Feeling
Lydya berjongkok didepan pemanggang menunggu kue yang dia buat dengan ibu tunangannya matang. Lydya paling suka melihatnya ketika kue itu mulai naik karena pemasakan. Terlihat sangat menggemaskan. Dirinya sudah sangat tidak sabar mencobanya.
“Duduk di sana lagi. Mengapa kau tidak masuk saja sekalian?”
Lydya menolehkan kepalanya pada Gio yang membuka kulkas untuk mengambil air. Lydya melayangkan kepalan tangannya pada betis Gio membuat laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya itu meringis kesakitan.
“Akh! Kau ini!”
“Akh! Mama! Anak mama nendang-nendang lagi!” adu Lydya pada Karina saat Gio menendangnya.
Karina yang sedang membuat krim untuk hiasan kue memandang putranya datar, Lydya tersenyum miring membuat tunangannya itu berdecak.
“Apa?! Lagipula juga pelan,” ucap Gio tak terima.
“Mama sakit,” rengek Lydya.
Karina menghela napasnya panjang, dia senang melihat calon menantu dan putranya mulai dekat tetapi kedekatan mereka itu sering berujung pertengkaran kecil. Mereka suka sekali mengganggu satu sama lain hingga akhirnya saling adu mulut.
Putra dan calon menantunya ini sering sekali bertengkar karena mempermasalahkan hal sepele. Dirinya dan Zyta mulai merasa khawatir jika mereka jadi menikah nanti hanya akan ada pertengkaran antara keduanya tetapi bukankah akan terasa manis jika ada pertengkaran di antara keduanya.
“Lebih baik kalian keluar dari dapur,” ucap Karina menunjuk pintu ke halaman belakang.
Gio maupun Lydya sama-sama menekuk muka dan mengangguk. Gio tersenyum jahil lalu mengacak rambut Lydya dan segera berlari keluar sebelum Lydya memukulnya seperti tadi.
“GIO!!!”
__ADS_1
Lydya berdiri dari duduknya dan segera mengejar Gio. Karina hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Kelihatannya bukan masalah besar jika membiarkan mereka benar-benar menikah.
Lydya terus mengejar Gio yang berlari menghindar. Mereka terlihat seperti dua anak kecil yang bermain kejar-kejaran. Lydya berteriak dan memanggil Gio menyuruhnya untuk berhenti sedangkan Gio tak mengidahkan panggilan Lydya dan terus berlari.
“Akh! Kena kau!” ucap Lydya begitu dia berhasil meraih lengan pendek baju Gio.
“Akh! Akh! Maaf! Maaf!” ucap Gio melindungi dirinya dari pukulan Lydya yang bertubi-tubi.
Gio memang merasa sakit terkena pukulan Lydya tetapi dia tidak bisa berhenti tertawa melihat wajah kesal Lydya yang sedang memukulinya. Lydya terlihat seperti anak kecil yang marah dan memukul karena diganggu.
“Baik! Baik! Baik! Maafkan aku,” ucap Gio tersenyum lebar.
Lydya mengatur napasnya yang terengah-engah dan menyandarkan kepalanya pada lengan Gio. Walau larinya tergolong cepat tetapi tetap saja untuk mengejar Gio, dia merasa sangat kelelahan. Dirinya memang tinggi tetapi jika dibandingkan dengan Gio tetap saja beda jauh apalagi dengan kaki Gio yang panjang memudahkannya untuk mengambil langkah lebih lebar.
Lydya hampir saja terjungkal ke depan ketika Gio tiba-tiba saja duduk dan merebahkan tubuhnya di taman. Gio melipat kedua tangannya di atas kepala dan memandang lengit yang cerah. Lydya berjongkok didepan Gio.
“Apa yang kau lakukan?”
Tanpa bertanya pun dia sudah tahu apa yang sedang tunangannya ini lakukan. Tentu saja, menikmati pemandangan langit yang biru. Itu adalah satu di antara banyaknya hal yang tunangannya ini sukai. Lydya baru tahu ketika dia tak sengaja menemukan tunangannya ini sedang berbaring di atas tanah dengan mata terbuka.
Lydya ikut berbaring di samping Gio dan menatap langit di atasnya yang benar-benar indah. Gumpalan awan yang bergerak searah semakin memperindah langit dengan berbagai macam bentuk.
“Kirai~”
“Hmm~”
Hari ini langitnya benar-benar terlihat lebih indah dari biasanya atau memang dia saja yang merasa seperti itu tetapi langit yang dia lihat saat ini memang benar-benar indah. Mereka sama-sama diam dan menikmati pemandangan di atas mereka.
“Lily,” panggil Gio.
Entah sejak kapan dia mulai memanggil tunangannya ini dengan nama panggilannya tetapi sekarang dia lebih suka memanggil tunangannya ini dengan nama panggilannya daripada namanya aslinya hanya saja dia tidak memanggil Lydya dengan nama panggilannya jika mereka di sekolah.
__ADS_1
“Hmm?”
Gio terdiam, dia kembali mengamati awan yang baru saja melintas dan menarik perhatiannya. Awan yang melintas itu terlihat seperti kelinci putih tengah berdiri yang sangat besar. Gio tersenyum kecil melihatnya.
“Menurut mu rumah seperti apa yang...,”
Ucapan Gio terhenti ketika dia menolehkan kepalanya pada Lydya yang ternyata sudah tertidur. Gio terdiam cukup lama memandangi wajah Lydya yang manis. Tunangannya ini mudah sekali tertidur di mana saja jika dia merasa nyaman.
Gio bangun dari tidurnya dan duduk bersila. Dia mengamati Lydya yang semakin terlihat manis dengan baju yang dia kenakan. Lydya terlihat seperti anak kecil dengan gaun floral berwarna pink dan cardigan putih. Tunangannya ini termasuk tinggi tetapi tubuh langsing nya membuat dia terlihat manis.
Gio teringat pertanyaannya tadi. Bagaimana bisa dia bertanya hal seperti itu pada Lydya yang jelas-jelas tunangannya? Akhir-akhir ini dia sering ke pikiran hubungannya dengan Lydya juga Linda. Yang satu berstatus kekasihnya dan yang satunya berstatus tunangannya.
Apalagi tak jarang dengan tanpa malunya dia selalu bertanya ini dan itu pada Lydya dengan tujuan menyenangkan kekasihnya. Seperti pertanyaan yang ingin dia ajukan pada tunangannya ini. Padahal dia sendiri tahu pertanyaannya ini bukan untuk Lydya.
Dia ingin tahu rumah seperti apa yang cocok untuknya dan Linda nanti walau hal itu mungkin tidak akan pernah terjadi dengan dirinya yang masih berstatus sebagai tunangan Lydya karena ada kemungkinan terbesar kalau Lydya lah yang akan dia nikahi nanti tetapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Gio menghela napasnya panjang lalu mengangkat Lydya dan menggendongnya didepan lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Tidak ada yang perlu dikejutkan karena Gio sudah sering menggendong Lydya yang tidur ketika mereka sedang mengamati langit.
Seharusnya tidak bertanya hal seperti itu pada Lydya. Dia sudah terlalu sering bertanya hal yang tak ada hubungannya dengan Lydya tetapi tunangannya ini tidak pernah bertanya macam-macam atau terlihat aneh ketika dia bertanya padahal mereka bertunangan.
Gio menempelkan pipinya pada dahi Lydya. Dia jadi merasa bingung sendiri karena sikap Lydya yang terkesan acuh tak acuh tetapi dia tidak berani bertanya. Dia takut jika Lydya sudah tersinggung dengan pertanyaannya dan akan semakin tersinggung.
Gio merebahkan Lydya di atas kasur kamar tamu dengan pelan tanpa membuat Lydya terbangun lalu duduk di sebelahnya. Wajah Lydya yang sedang tertidur terlihat lebih manis dan menggemaskan. Dia menatap lekat wajah Lydya yang terlihat sangat tenang dalam tidurnya.
Dia sendiri sadar kalau perasaannya pada kekasihnya mulai goyah. Seringnya dia bersama dengan Lydya membuatnya tanpa sadar memberikan sedikit hatinya. Itulah mengapa dia mulai memikirkan hubungannya dengan dua perempuan ini.
Dia tidak bisa meninggalkan Linda yang sudah di pacarinya selama 4 tahun tetapi dia juga tidak bisa menahan perasaannya pada Lydya. Untuk pertama kalinya, Gio merasa sangat bimbang pada hidupnya. Dia tahu, dirinya begitu egois karena memberikan hatinya pada dua orang.
Tetapi, dia tidak bisa menahan perasaannya pada dua perempuan ini. Lama-lama dia mulai merasa bingung pada perasaan mana yang sedang dia rasakan di antara keduanya. Dia merasa sangat bersalah pada keduanya. Apalagi pada Lydya yang selalu menjadi tempatnya bercerita tentang Linda.
__ADS_1
Tunangannya yang selalu menjadi tempatnya bercerita ini tidak pernah menunjukkan perasaan apapun lah yang selalu membuatnya bingung dan semakin bingung.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌