
Happy Reading
!:sorry'bouttypo~ teehee~
đź–ŚAlways About Lily
Elon terdiam memandang teh yang ada di cangkirnya begitupun dengan Lydya yang sudah melanjutkan gambarannya. Elon menolehkan kepalanya, mencoba melihat apa yang sedang Lydya gambar.
Elon tidak bisa melihatnya dengan jelas karena lampu di ruang perapian sangat minim dan paling besar mendapat cahaya dari perapian saja tetapi yang pasti Lydya terlihat sedang menggambar wajah anak laki-laki.
“Siapa itu?” tanya Elon melihat Lydya sedang menggambar wajah anak kecil yang sedang tersenyum.
“Hmm.. Hanya seorang kenalan,” ucap Lydya tersenyum kecil.
Benar hanya kenalan saja karena mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Teman masa kecilnya dan juga kekasih masa kecilnya. Inoue Yamazaki. Lydya jadi penasaran bagaimana Inoue yang sekarang, pasti masih sama manisnya dengan Inoue kecil.
“Benarkah?”
Lydya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Elon yang kembali terdiam melihat senyuman Lydya. Dia baru menyadari jika Lydya adalah perempuan yang cantik dan manis. Pantas saja Zaide begitu menyukai Lydya.
“Oh! Di sini kau rupanya,”
Elon dan Lydya sama-sama menoleh ke arah pintu dan berbondong-bondong semuanya masuk satu persatu.
“Kalau begitu aku permisi dulu,” ucap Lydya tersenyum manis pada Elon hingga membuat yang lainnya bersorak menggoda.
“Ada apa ini? Mengapa kalian hanya berdua saja?” ucap Kaga menyenggol lengan Elon dan tersenyum jahil.
Elon berdecak pelan, “Mengapa kalian kemari?” tanya Elon tak menghiraukan ucapan Kaga.
Kaga berdecak tak senang, “Kami diberitahu oleh seorang pelayan wanita untuk datang kemari. Memangnya tidak boleh karena kau ingin berduaan dengan kembaran Leon?”
“Bukan begitu.....,”
Lydya berjalan meninggalkan ruang perapian, tak sengaja berpapasan dengan Gio dan Linda yang berjalan berjauhan. Lydya berjalan melewati Gio begitu saja. Ketika dia berpapasan dengan Linda, Lydya tersenyum penuh makna pada kekasih tunangannya itu.
Linda membalikkan badannya menghadap Lydya yang sedang menolehkan kepalanya sedikit agar senyumnya terlihat oleh Linda sebelum benar-benar keluar dari ruangan. Lydya sengaja ingin memprovokasi Linda agar mengikutinya karena Lydya tahu Linda kali ini tidak akan tinggal diam.
“Linda, mau ke mana?”
Linda tak menghiraukan panggilan Agnes dan berjalan mengikuti perempuan yang sudah berani dekat-dekat dengan kekasihnya. Lydya tersenyum kecil, seperti yang dia duga. Linda pasti akan mengejarnya. Lydya berjalan tidak kembali ke kamarnya melainkan menuju garasi.
Lydya tertawa pelan, Linda kesusahan mengejarnya karena Lydya sengaja mempercepat langkahnya ditambah lagi kaki lebih panjang dua kali lipat daripada Lydya dan memberikannya kesempatan melangkah lebih lebar. Linda setengah berlari mengejar Lydya.
“Hei! Tunggu!”
Lydya tersenyum miring pada Linda lalu membuka pintu mobil dan memasukinya. Untungnya tadi Lydya sudah menyuruh seorang pelayan untuk bersiap-siap di garasi. Lydya segera melajukan mobilnya meninggalkan mansion.
“HEI!!!!” teriak Linda tak dapat mengejar Lydya.
__ADS_1
Linda berteriak kesal dan menghentakkan kakinya kesal. Senyum miring Lydya padanya masih terngiang dengan jelas di kepalanya. Linda mengepalkan tangannya dan berteriak sekali lagi. Pelayan yang masih ada di sana hanya mencuri-curi pandang pada Linda.
“Apa yang kau lihat?!!!” ucap Linda pada pelayan itu yang segera membungkuk meminta maaf.
Linda berdecak kesal meninggalkan garasi. Dia terus menggerutu kesal selama berjalan kembali ke ruang perapian.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Ceklek~
Seorang pelayan membukakan pintu dan masuk kedalam ruang perapian. Dia menghampiri Leon dengan buru-buru. Pelayan itu adalah pelayan yang tadi membukakan pintu garasi untuk Lydya. Pelayan itu melirik sebentar pada Linda sebelum berbisik pada Leon. Linda memicingkan matanya menatap pelayan itu tak suka.
“APA?! Kau yang membukakan pintu?!”
Semua mata tertuju pada Leon yang memekik. Mereka yang pada awalnya bercanda dan tertawa satu sama lain menghentikan tawa mereka dan berfokus pada Leon. Raut wajah penasaran tergambar jelas di wajah mereka.
“Apa dia...?”
Drrtt.. drrtt..
Leon menghentikan ucapannya saat ponsel nya yang berada di atas meja bergetar. Ada panggilan masuk di sana.
“Lydya?!” gumam Leon.
Leon segera mengangkat panggilan tersebut dan berjalan keluar. Raut wajah mereka semakin penasaran melihat Leon yang langsung berdiri saat menjawab panggilan telepon.
“Ya! Busu! (Cewek jelek!) Ke mana kau pergi?!” teriak Leon saat dia sudah diluar.
“...”
“Ck! Koitsu! (Orang ini!) Heh?! Di mana?!”
“...”
“HAH!!!!!!!!!!!”
Leon sampai bungkam mendengar jawaban dari kembaran nya di seberang sana. Hanya dalam waktu beberapa menit kemaran nya itu sudah sampai ditempat yang jauh dari mansion. Sebenarnya, bagaimana cara kembaran nya itu menyetir hingga sampai secepat itu?
Elon berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Teriakan Leon sejak tadi membuatnya ke pikiran jika hal buruk sedang terjadi pada kembaran dari teman nya itu. Elon membuka pintu dan dia dapat mendengar teriakan lainnya.
“Uso! (Bohong!) Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan!!!”
“...”
“Ck! Tunggu aku di sana! Jangan ke mana-mana!”
“...”
Leon menghentikan niatnya yang ingin kembali ke ruang perapian untuk meminjam mobil siapa pun itu dan menyusul kembaran nya saat mendengar Lydya mengucapkan apa yang akan Leon lakukan.
__ADS_1
“Teme~ (Kau~) Ya! Lydya! LYDYAAA!!!”
Leon melihat ponsel nya yang sudah kembali ke beranda awal. Leon berdecak kesal dan menelepon Lydya lagi tetapi hanya ada suara dari operator. Leon memutuskan sambungan dan menelepon Lydya ulang dan tetap sama hanya ada suara dari operator.
Leon meremas rambutnya dan berteriak tanpa suara. Lydya benar-benar membuatnya pusing. Kembaran nya itu sering melakukan hal-hal seperti ini tetapi kali ini rasanya berbeda. Sepertinya ada sesuatu yang sudah kembaran nya itu lakukan tanpa sepengetahuan dirinya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Elon.
Leon berbalik dan menghela napasnya panjang sebelum mengangguk.
“Yakin?” tanya Elon memastikan.
Leon kembali menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil.
“Maaf karena sudah mengacaukan niat baik mu mengajak kami menginap,” ucap Leon merasa tidak enak pada Elon yang sudah baik mengajaknya dan Lydya menginap.
Elon tersenyum dan menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku sudah senang kau dan Lydya mau menginap di sini,”
Elon berjalan mendekati Leon yang berdiri bersandar pada tiang. Elon juga melakukan hal yang sama. Pandangan Elon tertuju pada air mancur didepan mereka. Malam ini bulan purnama dan bulan terpantul dengan jelas di air kolam.
“Ini kesalahanku karena memaksa Lydya dan membuatnya bersikap tidak sopan,” ucap Leon merasa bersalah.
“Apa yang kau katakan? Walau kemarin memang sikapnya tidak sopan tetapi tidak separah itu,” ucap Elon tersenyum kecil.
Leon tertawa pelan, “Kembaran ku itu memang bisa saja membuat orang berpikir lain tentangnya,” ucap Leon.
Elon mengerutkan dahinya tak mengerti, “Hah?”
“It’s okay. Aku hanya mengucapkan apa yang ku pikirkan,” ucap Leon tersenyum lebar.
“Tetapi, aku mewakili Lydya benar-benar minta maaf karena sudah mengacaukan semuanya,” lanjut Leon.
“Tidak usah di pikirkan. Aku sudah senang kalian mau datang kemari tetapi rasanya aku seperti sedang pamer pada kembaran mu. Rasanya aku sangat sombong membawanya kemari padahal mansion ini dulu miliknya,”
Leon tertawa mendengarnya, “Jika boleh, ku sarankan padamu. Jangan pernah beli properti dalam bentuk apapun di sekitar kota J,”
“Mengapa?” tanya Elon.
“Bisa saja itu milik Lydya,” ucap Leon tertawa.
Elon pun ikut tertawa, “Kau benar juga. Kembaran mu itu benar-benar perempuan yang kaya raya,”
“Hmm.. aku bahkan merasa sangat kecil jika bersanding dengannya,”
Itulah yang sering Leon rasakan. Dari luar memang terlihat Leon lah yang lebih unggul dalam segala bidang namun faktanya Lydya lah yang lebih unggul. Leon hanya anak sekolah biasa sedangkan Lydya sudah seperti pekerja kantoran yang terlihat seperti anak sekolah.
Papi mereka sering melimpahkan pekerjaannya pada Lydya dan dirinya sebagai sekretaris juga asisten Lydya. Sebenarnya, semua pekerjaan itu adalah pekerjaan yang harus Ray selesaikan tetapi kakak mereka itu sengaja melimpahkannya pada Lydya lalu menghilang dengan pekerjaan yang masih menumpuk.
Leon dan Elon melanjutkan perbincangan mereka dan membiarkan yang lainnya di dalam ruang perapian. Mereka terus berbincang ditemani cahaya bulan dan angin malam yang menusuk kulit tetapi tak dapat menghentikan perbincangan mereka.
__ADS_1
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
See ya 2 days again ~(~ ̄▽ ̄)~~