
Hello.. happy reading yapsieess..
!:sorry'bouttypo~ teehee~
đź–ŚPetros and Ichor
Sesuai peraturan sekolah, Lydya mendapatkan hukuman untuk tetap di rumah selama seminggu mengingat dia akan menghadapi ujian nasional. Saat ini, Lydya sedang tidur diatas kasurnya terus menatap langit-langit kamarnya.
Baru saja satu hari dimulai sejak hukumannya ditetapkan, Lydya sudah bosan terus berada di rumah. Beserta surat hukuman dari sekolah, sang mami juga menghukumnya untuk tidak keluar bermain sampai ujian nasional jadi sampai ujian nasional nanti Lydya tidak bisa kemana-mana kecuali di rumah saja.
Lydya menutup matanya dan berharap ada keajaiban yang datang untuk mengatasi rasa bosannya tetapi saat Lydya tidak ada keajaiban apapun membuatnya mendesah kecewa. Lydya bangun dari tidurnya dan duduk bersila.
Dia berpikir, apa yang bisa dilakukannya untuk mengurangi rasa bosannya?
Lydya bangun dan berjalan keluar kamar. Dia berjalan sampai ke dapur dan mengedarkan pandangannya ke penjuru dapur yang sepi dari para pelayan karena memang waktunya jam makan siang bagi mereka. Lydya berjalan mendekat ke lemari dinding dan membukanya.
Seperti yang dirinya duga, semua bahan-bahan untuk kue memang tersimpan di sana. Lydya mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkannya karena dia sudah sangat bosan dan tidak tahu ingin melakukan apa jadi lebih baik dia menyibukkan diri dengan membuat kue pendamping teh khas dari negara nenek buyutnya.
Ini baru pertama kali Lydya membuatnya. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan.
Dengan cekatan Lydya menggerakkan tangannya mengolah setiap bahan yang digunakannya. Beberapa pelayan yang selesai makan siang memilih membiarkan nona muda mereka melakukan apa yang diinginkannya walau mereka sangat penasaran ingin bertanya sehingga mereka hanya mencuri-curi pandangan.
Tiga jam berlalu, Lydya menyelesaikan pekerjaannya. Berbagai bentuk dan warna Lydya buat. Lydya memisahkan kue untuk para pelayan dan keluarganya. Lydya sengaja membuat lebih banyak untuk para pelayan di rumah.
Lydya menyuruh para pelayan yang sejak tadi sudah mencuri-curi pandang ke arahnya untuk mendekat dan menyuruh mereka mencoba kue buatannya. Para pelayan itu yang mencoba kue buatan Lydya memuji kalau kue buatan Lydya sangat enak. Lydya hanya tersenyum dan berterima kasih.
Tanpa sadar Lydya sudah mengobrol banyak dengan para pelayan yang bertugas di dapur, Lydya sendiri tak segan-segan membantu mereka. Sekarang, dia mengerti kenapa maminya suka sekali berlama-lama di dapur dan mengobrol dengan para pelayan yang memang sangat menyenangkan karena bisa mengobrol banyak hal dengan mereka.
Lydya rasa, harapannya tadi terkabul dengan cepat. Seminggu masa hukumannya pasti berlalu dengan cepat dia berkumpul dengan mereka. Lydya jadi belajar banyak hal dari kisah hidup yang mereka ceritakan.
__ADS_1
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Dan memang benar, tak terasa seminggu telah berlalu dan besok Lydya dapat kembali ke sekolah. Dia jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengan teman-temannya apalagi Hera yang juga terkena imbas dari hukumannya. Hera tak diizinkan sedikitpun oleh maminya untuk berkunjung bahkan Gio pun juga.
Drap! Drap! Drap!
Lydya menyeruput pelan teh dari gelas bulat di tangannya. Dia berpikir siapa yang berjalan dengan langkah seberat itu?
Bruk!
Lydya menjauhkan gelas dari mulutnya dan melirik ke sampingnya. Lydya menghela napasnya pelan. Seminggu sudah berlalu dan ternyata maminya sudah mengizinkan orang lain untuk menemuinya. Maminya itu ternyata sudah tidak tahan untuk membawa laki-laki yang selalu dipanggilnya calon menantu untuk masuk ke rumah.
Beberapa menit berlalu, Lydya memilih diam dan sedikit demi sedikit meminum tehnya. Udara cukup dingin sehabis hujan deras. Padahal bukan musim hujan tetapi tiba-tiba saja turun hujan yang cukup deras di sore hari yang cerah.
“Kenapa diam saja?”
“Hmm?”
“Lalu, kau ingin aku bertanya apa?” tanya Lydya menolehkan kepalanya sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan meminum tehnya.
Gio terdiam sebelum menggeser piring kue pendamping teh yang menjadi penghalang. Gio menggeser badannya mendekati Lydya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Lydya.
“Tuan, jangan bersikap manja!!!” ucap Lydya menjauhkan kepala Gio dari bahunya dan menggeser bahunya menjauh.
“Heum!” dengus Gio menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya yang dia letakkan masing-masing di kakinya yang bersila.
Lydya tetap diam, dia sengaja tidak bertanya dan membiarkan Gio dengan tingkahnya. Beberapa kali, Lydya mendengar Gio menghela napas yang awalnya pelan dan semakin keras. Lydya mulai tidak tahan dengan helaan napas tunangannya yang semakin kencang itu.
“Ada apa denganmu?” tanya Lydya akhirnya.
__ADS_1
Lebih baik dia bertanya daripada mendengar Gio menghela napas. Gio tak mengucapkan apapun dan mengubah posisinya menjadi tiduran. Gio menyandarkan kepalanya pada badan Lydya dan Lydya membiarkan Gio sesuka hatinya.
“Linda?” tebak Lydya asal saat Gio tak mengucapkan apapun.
Dapat Lydya rasakan kalau Gio menganggukkan kepalanya. Sudut bibir Lydya berkedut. Sudah beberapa kali, dirinya menjadi lahan curahan hati tunangannya itu sejak pertama kali dirinya bertemu dengan Linda dan teman-temannya.
Lydya jadi merasa bersalah. Dia rasa penyebab tunangannya ini sering curhat padanya karena dirinya yang mengangguk kekasih tunangannya itu walau secara garis besar tetap Linda lah yang mencari masalah dengannya atau memang karena dirinya tetapi entahlah yang terpenting Lydya rasa itu karena dia yang memulainya.
“Sekarang apa lagi?”
Gio terdiam beberapa saat, “Entahlah. Tiba-tiba saja, kami bertengkar,” jawab Gio tak jelas membuat Lydya memasang wajah datarnya.
“Bukankah itu wajar bagi pasangan untuk bertengkar,” ucap Lydya menjawab sekenanya.
“Tidak wajar jika bertengkar tanpa sebab,” ucap Gio.
“Apa kau kedatangan tamu bulanan?” tanya Lydya tidak jelas.
“Mungkin,” jawab Gio sama tidak jelasnya.
“Kalau begitu menjauh dariku. Aku tidak berminat dengan model sepertimu,” ucap Lydya membuat Gio mengangkat kepalanya dan menatapnya heran.
Lalu menggelengkan kepalanya dan kembali menyandarkan kepalanya. Mereka sama-sama terdiam menikmati hujan yang kembali turun dan hawa dingin semakin menusuk apalagi hari mulai gelap. Lydya melepaskan haori yang dikenakannya dan menyelimutkan nya pada Gio yang menutup matanya.
“Dingin?” tanya Lydya.
Gio menganggukkan kepalanya, Lydya tersenyum kecil melihatnya. Beruntungnya dia mengenakan kimono yang cukup tebal jadi bisa menghalau hawa dingin. Lydya kembali menikmati suara hujan yang jatuh ke bumi. Aroma tanah sehabis hujan yang sempat hilang kembali tercium.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
__ADS_1
Hai.. hai.. hai.. i'm back setelah gk update hampir seminggu+ dan gk kerasa udh september aja..
see ya next chapter~