School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Start to Talk


__ADS_3

Huffttt~


Happy Reading Guys~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Start to Talk


Lydya terus menatap Gio tanpa kata membuat Gio gelagapan sendiri. Dia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah oleh korbannya. Lydya yang terus memandangnya membuat Gio gugup dan malu.


Gio menyalahkan dirinya yang tanpa sadar menyentuh pipi Lydya tanpa izin si empunya. Gio merasa sudah melakukan hal jahat secara tidak langsung pada perempuan yang masih berstatus sebagai tunangannya ini.


Lydya tak sedikitpun mengalihkan pandangannya membuat Gio semakin malu dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malunya tetapi tetap saja terlihat dengan telinganya yang terus memerah.


“Meng.. mengapa terus melihatku?” tanya Gio mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Dia tidak bisa menatap langsung tunangannya. Dia sangat malu sekarang. Lydya hanya tersenyum kecil dan berusaha bangun. Gio segera membantu Lydya untuk duduk.


“Mmm.. apa ada yang kau butuhkan?”


Lydya hanya menatap Gio lalu menggeleng.


“Jika kau perlu sesuatu. Aku bisa mengambilkannya untukmu,”


Lydya membuka mulutnya dan berucap tetapi tidak dapat didengar oleh Gio karena lebih terlihat seperti gerakkan bibir saja. Gio mengerutkan dahinya dan memandang Lydya bingung. Lydya yang sudah menutup mulutnya kembali menggerakkan bibirnya dan Gio memfokuskan dirinya membaca gerakkan bibir Lydya.


“Maaa.. mi...? Mami?”


Lydya menganggukkan kepalanya lemah. Gio baru saja akan berdiri tetapi dia kembali duduk, “Tetapi, aku tidak bisa meninggalkan mu sendiri,”


Lydya hanya menggerakkan kepalanya dan memejamkan matanya pelan, “Tidak. Aku harus di sini sampai mami mu datang,” tolak Gio.


Walau hanya gerakkan kepala dan memejamkan mata tetapi Gio seperti mengerti apa yang Lydya ingin katakan padanya. Dia tidak bisa meninggalkan Lydya sendirian, Gio ingat dengan apa yang Ray katakan padanya sebelum menjaga adiknya ini kalau dia tidak bisa meninggalkan Lydya sendirian.


Lydya hanya menghela lewat hidungnya dan hanya tersenyum kecil. Dia membiarkan Gio menemaninya sampai mami nya datang dan cukup lama hingga mami nya datang. Raut wajah Zyta terlihat sangat senang ketika melihatnya sudah bangun dan tersenyum kecil. Zyta segera memeluk putrinya dengan tangisan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Bangunnya Lydya sudah tersebar di seluruh rumah besar dan dengan bergantian orang-orang rumah menjenguk Lydya satu persatu atau bersama-sama. Lydya senang melihat orang-orang menemuinya dengan wajah penuh rasa syukur dan sedih karena sudah membuat orang-orang mengkhawatirkan nya.


Leon lah yang paling bahagia melihatnya sudah bangun dan sudah bisa tersenyum walau dia masih enggan untuk mengeluarkan suaranya. Setiap kali mereka bertanya Lydya hanya tersenyum, mengangguk, atau menggelengkan kepalanya untuk menjawab. Yang pasti Lydya menggunakan raut wajahnya untuk menjawab mereka.


🖌🖌🖌🖌🖌


Beberapa hari berlalu, keadaan Lydya berangsur membaik. Dia sudah terlihat sehat lagi dan ceria tetapi masih enggan untuk membuka suaranya. Sama seperti dia pertama kali bangun yang dilakukannya hanya tersenyum, mengangguk, dan menggeleng untuk menjawab.


Lydya mulai berani berjalan-jalan sendirian setelah tiga hari dia tak berani keluar kamar karena Ryu masih ada di rumah besar. Lydya merasa sangat bersyukur ketika Ryu segera dikirim keluar negeri karena jika tidak entah apa yang akan Lydya lakukan pada laki-laki itu. Mungkin dirinya akan kembali kehilangan kendali seperti sebelumnya.


“Oh! Hai!”


Lydya tersentak kaget ketika dia tak sengaja berpapasan dengan Gio. Lydya hanya tersenyum membalas sapaan Gio bahkan dengan tunangannya sekalipun Lydya masih enggan untuk membuka suaranya. Gio mengusap tengkuknya karena merasa canggung. Mereka hanya diam saling memandang.


“Hmm... Aku pergi dulu,” ucap Gio segera melangkah pergi melewati Lydya.


Lydya membalikkan badannya menatap punggung Gio. Dia mengerutkan dahinya dan membuka mulutnya tetapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya, Lydya merutuk dirinya dalam hati. Lydya menghela napasnya panjang melihat Gio yang semakin jauh.


Laki-laki yang berstatus tunangannya itu pasti masih terkejut dan takut padanya. Seharusnya kemarin dia tak lepas kendali pasti mereka saat ini sudah bersenang-senang. Dasar pria sialan pengganggu. Dirinya sangat membenci pria itu hingga rasanya ingin sekali Lydya melayangkan pukulannya ke wajah pria sialan itu hingga mati.



Hari ini Lydya memakai kimono-furisode berwarna putih dan ungu di bagian bawahnya dengan gambar bunga-bunga berwarna hijau. Hari ini, Lydya berencana untuk jalan-jalan sebentar keluar rumah besar melihat desa di sekitar rumah besar. Sudah lama Lydya tidak berjalan-jalan kesana.


Lydya berjalan melewati hutan bambu menuju rumah besar. Setelah dirawat dan tinggal di rumah besar, esoknya begitu Lydya sudah merasa sehat dia meminta untuk dipindahkan ke rumah yang agak jauh dari rumah besar.


Sudah sejak lama, setiap kali dia berkunjung kemari maka dirinya akan meminta untuk dipindahkan kesana. Jadi, siapa pun yang ingin menemuinya harus melewati hutan bambu ini.



(Hokokuji Temple, Kamakura, Japan)


[Aslinya ada hutan bambu lain yng bkn kuil tp aq suka sma hutan bambu nya jadi pake yng kuil]


Dia berjalan pelan menikmati sejuknya udara dan suara daun bambu yang bergesekan diterpa angin. Inilah mengapa Lydya meminta dipindahkan kemari karena Lydya suka sekali mendengarkan suara daun bambu yang saling bergesekan. Seolah-olah memberikan ketenangan pada Lydya apalagi sekarang cuaca agak lembab sehabis hujan.

__ADS_1


Lydya menghentikan langkahnya ketika melihat Gio datang dari arah berlawanan menuju rumahnya. Gio yang melihatnya juga terdiam. Lydya tersenyum kecil melihat Gio cocok dalam balutan kimono berwarna ungu muda dengan haori abu-abu.



Lydya berjalan pelan mendekati Gio yang masih berdiri mematung di tempatnya, “Apa ada kemari? Tersesat?”


Gio menyentuh tengkuknya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Hmm.. tidak.. hanya saja...,”


“Kau ingin menemui ku?”


Gio hanya diam saja dan mengalihkan pandangannya, dia hanya bergumam tidak jelas. Lydya hanya tersenyum melihatnya.


“Kalau memang ingin menemui ku. Baguslah. Ayo ikut aku,” ucap Lydya menggandeng lengan Gio.


“Ke mana?”


Lydya hanya tersenyum dan mengajak Gio berjalan keluar rumah besar. Gio semakin bingung melihat Lydya meninggalkan rumah besar bahkan tidak ada satu pun di antara pelayan yang melihat mereka menanyai ke mana mereka akan pergi.


Membahas rumah besar. Gio sama terkejut nya ketika dia berkunjung ke rumah tunangannya untuk pertama kali. Dia tak menyangka ada orang yang memiliki rumah yang luas biasa luasnya bahkan memiliki hutan mereka sendiri di dalam area rumah begitu halnya dengan rumah besar di mana dia tinggal sekarang.



[Aq pingin tau lokasi pasti rumah ini karena caption nya cmn ditulis 'Yoshina' ╥﹏╥]


Ketika dia baru saja sampai, dia tidak bisa menghilangkan raut wajah terkejut nya meliat rumah yang dikelilingi tembok kayu yang tinggi. Rumahnya berada di pegunungan dan ketika masuk Gio merasa kembali ke zaman dahulu. Gaya bangunan rumah lama dan sangat terawat.


Gio masih tidak dapat mempercayai dirinya yang tinggal di rumah besar itu, dia untuk kesekian kalinya kembali tak percaya ketika mencari tunangannya yang ternyata tinggal di rumah yang berbeda dan agak jauh dari rumah utamanya. Gio sampai lelah sendiri hanya untuk menemui Lydya yang tinggal sendirian.


Jarak rumah utama dengan rumah yang Lydya tempati sekarang memang cukup jauh apalagi harus melewati beberapa taman yang jalannya berbelok-belok dan rumah-rumah kecil yang tak Gio tahu apa fungsi rumah-rumah itu. Dirinya bahkan sempat beberapa kali tersesat hingga dia bertemu salah satu pelayan yang menunjukkan jalan menuju tempat Lydya tinggal.


Dan akhirnya dia tak sengaja bertemu dengan Lydya di hutan bambu. Gio sangat bersyukur bertemu dengan tunangannya lebih cepat, dia tak membayangkan bagaimana jika dia kembali tersesat.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


See ya next time ٩(•̤̀ᵕ•̤́๑)ᵒᵏᵎᵎᵎᵎ

__ADS_1


Sumimasen! Kebanyakan pict (||●'◡'●)))


__ADS_2