School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
It's Showtime!


__ADS_3

Oya.. oya..


Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌It’s Showtime!


Semua sudah memasuki kamar mereka masing-masing dan beristirahat tetapi tidak dengan Lydya, dia segera melanjutkan pekerjaannya setelah istirahat selama lima menit. Lydya langsung sibuk kesana kemari mengurus penginapan dan pemandian air panas. Dirinya tak menyangka akan lebih sibuk hari ini daripada kemarin padahal sudah memasuki akhir liburan.


Lydya terus bekerja hingga malam pun tiba dan tak terasa kesibukannya sampai masuk jam makan malam. Lydya segera menyelesaikan pekerjaannya ketika pelayan memanggilnya untuk makan malam.


“Oh! Apa yang kau lakukan di sini?”


Leon berdiri bersedekap didepan pintu, “Menunggu mu,”


“Mengapa menunggu ku? Kau bisa langsung ke ruang makan,”


Lydya menggelengkan kepalanya melihat Leon sampai menghampirinya ke ruang kerja di penginapan. Mereka berjalan bersama menuju ruang makan.


“Apa yang akan kau lakukan?”


Lydya menolehkan kepalanya bingung, “Perempuan itu,” lanjutnya.


“Entahlah. Aku juga tidak tahu ingin melakukan apa? Lagipula dia tidak ada hubungannya denganku,” ucap Lydya mengedikkan bahunya tak tahu.


Dia memang tidak tahu akan melakukan apa pada kekasih tunangannya karena memang mereka tidak ada hubungan apapun dan Lydya tidak ingin mencari masalah dengan orang lain yang tak dia kenal sebelumnya. Mereka bertatap muka pun juga baru hari ini


“Tetapi, Gio...,”


“Itu urusannya bukan urusanku,” ucap Lydya acuh.


Leon hanya diam saja mendengar saudari kembarnya yang sudah menjawab acuh. Jauh di dalam hatinya Leon merasa penasaran dengan apa yang akan Lydya lakukan tetapi dia juga tidak ingin memaksa Lydya untuk melakukan hal yang tidak ingin kembaran nya itu lakukan. Leon tak sebodoh itu.


Mereka sampai didepan ruang makan tetapi Lydya hanya diam didepan pintu membuat Leon mengerutkan dahinya bingung.

__ADS_1


“Lily?”


“Tolong panggil kan nona tamu yang bernama Linda Shavonne. Katakan padanya kalau aku mengundang nya makan malam,” ucap Lydya pada salah seorang dari dua pelayan yang mengikuti mereka.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan segera pamit. Pelayan itu mengerti siapa yang nona mudanya ini maksud karena hanya satu keluarga saja yang menginap dengan atas nama Shavonne. Leon menatap Lydya tak percaya.


Apa yang sedang kembaran nya ini rencanakan? Mengundang makan malam? Yang benar saja?!


“Kau serius?” tanya Leon tak yakin.


Lydya menoleh sekilas dan menganggukkan kepalanya. Dia sangat serius untuk kali ini. Sebenarnya, Lydya tidak ingin mengangguk kekasih tunangannya itu sama sekali tetapi tiba-tiba saja ketika sampai didepan ruang makan terlintas sebuah ide di kepalanya.


“Ayo, yang lain pasti sudah menunggu,”


Lydya membuka pintu ruang makan dan benar saja semuanya sudah menunggu tak terkecuali satu pun hanya tinggal menunggu kekasih tunangannya itu datang lalu mereka akan memulai makan malamnya. Lydya menyuruh pelayan yang menyiapkan makan malam untuk menunda membawa keluar makanannya sebelum tamu yang paling ditunggunya datang.


“Lily, kapan makannya datang? Aku sudah sangat lapar,” ucap Eiza sudah tak tahan ingin segera makan.


Sejak tadi dia hanya makan kudapan kecil untuk menganjal perutnya. Lydya hanya tersenyum menanggapinya membuat Eiza mendengus kesal. Dia sudah tidak sabar ingin segera makan karena makanan yang di saji benar-benar sangat enak dan dirinya yakin dia tidak akan bisa merasakannya lagi walaupun datang lagi.


Lydya bilang juru masak yang memasak makan malam mereka dengan makanan di penginapan berbeda jadi jelas saja rasanya juga berbeda walau sama-sama enak tetapi tetap saja makanan yang dimakannya saat ini jauh lebih enak daripada makanan di penginapan utama.


Semua mata tertuju ke arah pintu yang menampakkan pelayan yang Lydya suruh tadi. Lydya segera bangun dari duduknya dan menghampiri pelayan tersebut yang segera menggeser badannya begitu Lydya sudah dekat. Lydya tersenyum lebar melihat Linda yang datang dengan wajah bingungnya.


“Ini pasti mengejutkan mu tetapi aku sangat ingin mengundang mu makan bersama. Ayo masuk,” ucap Lydya dengan senyum manis yang tak luntur dari bibirnya.


Semua mata terbelalak terkejut melihat siapa yang datang kecuali Leon yang sudah tahu sejak awal. Linda dengan wajah bingungnya hanya bisa diam mengikuti Lydya yang membawanya masuk. Linda merasa kalau tidak seharusnya dia di sini.


Dia masih tidak mengetahui siapa Lydya karena mereka memang belum berkenalan dan Linda jadi merasa tidak enak sampai diundang makan malam bersama padahal tadi dia sudah membuat keributan tetapi dia tidak bisa menolak niat baik dari Lydya yang dia tahu adalah pemilik penginapan ini.


Begitu Lydya membawa Linda masuk, para pelayan segera membawa masuk makan malam. Mereka sudah menunggu didepan sampai tamu yang diundang Lydya datang. Lydya membawa Linda untuk duduk di dekatnya dan pelayan segera meletakkan meja di dekat meja Lydya.


“Duduklah,”


Lydya kembali ke tempatnya yang berada ditengah-tengah karena dia sebagai pemimpinnya di sana. Sudah menjadi hal wajar di keluarga Hanazawa membuat seorang wanita duduk di posisi tengah saat makan. Linda semakin merasa tidak enak begitu dia melihat Lydya duduk ditengah-tengah.

__ADS_1


Tanpa bertanya atau memberi tahu, Linda tahu kalau perempuan yang mengundang nya ini adalah pemimpin dan pemilik penginapan.


“Kau terlihat tegang? Santai saja. Aku hanya ingin berbincang denganmu,”


Lydya melirik Gio yang duduk tepat disebelah Linda tetapi sepertinya Linda masih tidak sadar kalau dia duduk bersebelahan dengan kekasihnya. Lydya hanya tersenyum miring melihat ekspresi wajah Gio yang kaget. Dia kembali mengalihkan pandangannya pada Linda.


“Santai saja, ya. Eoh? Kalian tidak makan?!” tanya Lydya pada teman-temannya yang memandangnya dan Linda dengan wajah terkejut.


Hera, Eiza, dan Melani tersadar dari lamunan mereka dan mulai makan dengan pikiran berkecamuk begitupun dengan Gio dan Leon. Mereka menebak-nebak apa yang sedang Lydya rencanakan sekarang. Leon melirikan matanya pada Lydya yang terus tersenyum memandang Linda. Leon mendesah panjang dalam hati.


“Mengapa.. mengapa terus memandang ku?” tanya Linda tak nyaman.


Dia bukannya tidak tahu kalau perempuan yang mengundang nya ini sedang memandang nya hanya saja dia merasa gugup dipandang dengan senyum lebar oleh Lydya.


Lydya tertawa kecil, “Entahlah. Aku seperti merasa kita dekat. Mungkin di kehidupan dahulu kita adalah teman,”


‘Atau pesaing cinta,’ lanjut Lydya dalam hati.


Leon tiba-tiba saja batuk saat dia menelan makanan. Semua mata tertuju pada Leon. Hera yang ada di sebelahnya segera membantu Leon mengambil minum. Lydya hanya tersenyum tipis melihat Leon yang melirik padanya dengan batuk yang belum menghilang sepenuhnya.


Tentu saja Leon batuk tersedak karena Lydya membuat dirinya bisa membaca apa yang Lydya pikirkan. Lydya mengirimkan apa yang sedang dipikirkannya pada Leon yang masih berpikir apa yang sedang kembaran nya itu lakukan.


“Akh! Iya. Kau pasti masih terkejut. Bodohnya aku, kita belum berkenalan tetapi aku sudah lancang mengundang mu makan malam,” ucap Lydya mengalihkan pandangannya pada Linda.


“Namamu Linda, kan? Linda Shavonne,”


Linda menganggukkan kepalanya. Yang Lydya katakan benar tetapi bagaimana bisa perempuan ini mengetahui namanya panjangnya padahal dia dan keluarganya mendaftar dengan nama keluarga?


“Dan... kau?”


Mata Leon, Gio, Hera, Eiza, dan Melani membulat sempurna mendengar pertanyaan Linda. Jantung mereka berdegup dengan kencang. Lydya menyadari ekspresi wajah yang dikeluarkan kembaran, tunangan, dan teman-temannya. Dia tersenyum misterius dan membuat yang lainnya semakin tegang.


“Queen. Kau bisa memanggil ku Queen,” ucap Lydya tersenyum manis pada Linda.


TBC

__ADS_1


Ugh! Gio girlfriend!!!!!!!


See ya next time ‹‹。゚(゚´ω`゚)゚。››


__ADS_2