School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
With U


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ tee~


đź–ŚWith U



Saat ini Lydya tengah duduk sendirian menikmati taman di depannya. Dia sekarang sedang berada di rumah utama setelah menemani kakeknya minum teh sore. Udara di sekitarnya semakin dingin karena memang rumah besar ada di daerah pegunungan.


Dirinya benar-benar merasa kedinginan sekarang. Jika saja saat ini dia ada di penginapan sudah pasti dirinya akan berlama-lama berendam di air panas.


“Dingin?”


Lydya tersentak kaget dan menoleh ke sumber suara, ternyata tunangannya sendiri. Gio duduk disebelah Lydya yang menganggukkan kepalanya mengiakan.


“Udara di sekitar rumah besar dingin lebih cepat daripada di desa,”


Atau jika bisa Lydya ingin berlama-lama di desa daripada di rumah besar. Setidaknya di desa lebih hangat daripada di rumah besar. Gio menganggukkan kepalanya dan mereka sama-sama terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka berdua bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Lydya berdeham pelan, “Mengapa kau tidak ikut yang lain?”


“Hmm?” gumam Gio menatap Lydya tidak paham.


“Maksudku jalan-jalan dengan yang lainnya. Mami yang meminta mu untuk ikut. Dia pasti ingin kau menghabiskan waktu di sini,” jelas Lydya.


“Akh.. hanya tidak ingin saja,”


Lydya mengerutkan dahinya dan menatap Gio bingung. Benarkah hanya tidak ingin saja? Dia malah merasa ada yang lainnya yang menjadi penyebab tunangannya ini tidak ikut jalan-jalan dengan yang lainnya dan memilih tinggal di rumah besar.


Mungkin saja saat ini teman-teman dan saudara kembarnya sedang jalan-jalan entah ke mana. Bisa saja mereka pergi sejauh mungkin dan kembali dua atau tiga hari lagi. Waktu se singkat itu pasti akan dapat diselesaikan dengan cepat jika Leon yang mengatur jadwal.


“Mengapa?”


“Eumm.. hanya.. malas saja,”


Lydya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Baru kali ini dia melihat orang yang malas berjalan-jalan seperti dirinya. Dia malas berjalan-jalan karena hanya akan membuatnya lelah saja. Dirinya memang akan menikmatinya dengan senang tetapi setelah itu lelahlah yang akan dia rasakan dan Lydya menghindari hal itu.


“Aku akan kembali ke penginapan besok,”


“Besok?” tanya Gio membelalakkan matanya.


Dia tak paham mengapa Lydya ingin kembali ke penginapan? Apa itu kembali bekerja? Padahal Lydya baru saja sembuh setelah beberapa hari dia tidak berselera melakukan apapun.


“Kau mau ikut?”

__ADS_1


Gio mengusap tengkuknya bingung, “Hmm...?”


“Atau kau bisa tetap tinggal di sini. Mungkin aku akan kembali ke sini sehari sebelum pulang,” ucap Lydya ragu.


Sehari sebelum pulang. Itu artinya masih ada lima hari lagi sebelum Lydya kembali dari penginapan ke rumah besar dan dirinya harus tetap berada di rumah besar ini sampai lima hari ke depan bahkan tunangannya ini berkata dengan ragu dan artinya bisa saja Lydya akan kembali tepat ketika mereka akan pulang.


“Jika kau mau ikut juga tidak apa-apa,”


Dia bisa melihat Gio yang kebingungan dan ragu, “Kau tidak perlu melakukan apapun di sana atau kau mau membantu ku juga boleh,”


Gio menatap Lydya. Di mata Gio terlihat sekali kalau dia tertarik dengan tawaran Lydya, “Apa boleh?”


Lydya menganggukkan kepalanya, “Ten..,”


“Lily-cyaannn!!!”


Lydya terdorong kedepan ketika tiba-tiba saja seorang wanita bertubuh mungil layaknya anak kecil menubruknya dari belakang dan memeluknya dengan sangat erat hingga Lydya merasa sesak.


“Akh! Akh!”


“Lily-chan, daijoubu desu ka?(Kau tak apa?) Apa ada yang sakit? Katakan padaku, bagian mana dia menyakiti mu? Biarkan aku membalasnya tepat di mana dia menyakiti mu. Daijobu (Tak apa), katakan padaku. Aku tidak bisa diam saja melihat mu disakiti anak sialan itu. Aku sangat terkejut saat Haru... ughhh!!!!”


Lydya membekap mulut wanita di depannya yang sejak tadi memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri lalu menyentuh wajahnya dan memeriksanya bahkan kepala dan rambutnya tak luput dari jamahan wanita yang berstatus sebagai bibinya ini.


“Yada, yada, yada (tak mau, tak mau, tak mau),”


Wanita itu menggelengkan kepalanya menolak dan malah memeluk perut Lydya. Lydya menghela napasnya panjang, wanita yang berstatus bibinya ini terkadang bertingkah lebih kekanakan daripada Leon bahkan bibinya ini sangat cocok dengan Leon.


Umur mereka yang tak jauhlah yang membuat Leon dan bibinya ini sangat dekat dan cocok satu sama lain. Terkadang Lydya tak bisa memahami keduanya jika sudah berkumpul bersama. Mereka bisa saja tertawa bersama dengan tiba-tiba, entahlah apa yang mereka pikirkan yang pasti pikiran mereka selalu terhubung satu sama lain.


“Lily-chan sangat wangi. Suki,” ucapnya tertahan karena wajahnya terbenam di perut Lydya.


Gio hanya terdiam mematung. Dia terkejut melihat seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dengan teriakan dan memeluk tunangannya malah sekarang dia membenamkan kepalanya di perut tunangannya. Lydya hanya bisa menghela napasnya panjang melihat tingkah bibinya.


“Fuyumi,”


Lydya yang baru saja akan berucap mengatupkan kembali mulutnya ketika pamannya -Kane- berjalan mendekat ke arah mereka. Bibinya -Fuyumi- yang merasa namanya dipanggil menolehkan kepalanya tanpa mengubah posisinya.


“Oh! Aniki!!! Ohayou!!! (Oh! Kakak!!! Selamat pagi!!!)” ucapnya dengan senyum lebar menyapa kakaknya.


Sesampainya Fuyumi di rumah besar dia langsung mencari keponakannya bahkan dia tak menyapa ayah dan ibunya bahkan kakak-kakak dan para kakak iparnya. Dia ingin segera melihat kondisi keponakannya setelah Kane menghubunginya kalau Ryu datang menemui Lydya.


Fuyumi yang sedang sibuk syuting film diluar negeri tidak bisa menyelesaikan syuting nya karena dia tidak bisa berkonsentrasi karena terus ke pikiran keponakan tersayang nya ini.


Lydya adalah keponakan yang paling di sayangnya dan semua orang pun juga melakukan hal yang sama karena Lydya anak perempuan sendiri yang lahir di antara saudara sepupunya yang semuanya adalah anak laki-laki.

__ADS_1


“Iie, konbanwa (Tidak, selamat malam),”


Bibinya hanya memamerkan senyum lebarnya melihat wajah kakaknya yang kesal.


“Lydya, kembalilah ke rumah. Kau perlu istirahat,”


Lydya melirik bibinya lalu menatap pamannya. Kane menaikkan sebelah alisnya menatap sang adik, bibinya melepaskan pelukannya dan duduk menatap kakaknya kesal.


“Eeehh.. nanda yo?! (Apaan?!) Aku baru saja sampai dan bertemu Lily-chan,” ucap Fuyumi tak terima.


Lydya berdiri dari duduknya dan meraih tangan Gio, “Oba-chan, mata ne (Bibi, sampai jumpa),”


Lydya segera melesat pergi bersama Gio menghiraukan panggilan bibinya yang memintanya untuk menetap dan tak memperdulikan pamannya yang berada disitu.


Lydya dan Gio sampai didepan kamar Gio yang searah dengan rumah tinggal sementara Lydya. Lydya hanya perlu keluar rumah besar dari samping dan berjalan ke arah timur menuju hutan bambu sebelum sampai di rumah yang dia tempati.


“Sampai bertemu besok,” ucap Lydya membungkukkan badannya cepat dan melanjutkan langkahnya.


Lydya ingin cepat-cepat sampai di kamarnya dan tidur. Dia akan melewatkan makan malam dengan keluarga besarnya dan membiarkan pelayan mengirimkan makan malamnya ke rumah. Lydya ingin segera beristirahat setelah dia berjalan cukup jauh sampai ke kuil lalu menemani kakeknya.


“Tunggu!”


Lydya menghentikan langkahnya dan berbalik. Gio berjalan menghampiri Lydya dengan wajah gusar nya. Lydya menatap tunangannya itu bingung. Kelihatannya Gio ingin menyampaikan sesuatu tetapi tidak tahu harus mengatakan seperti apa padanya.


“Ada yang ingin kau sampaikan?”


“Hmm.. bisakah... aku.. tinggal bersamamu,” ucap Gio pelan di akhir kalimatnya.


Lydya terdiam sebentar dan menatap Gio tak percaya. Jika Lydya tak salah dengar, tunangannya ini baru saja meminta untuk tinggal bersama dengannya?


“Sorry? You mean..?”


“Akh! Bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja aku tidak nyaman tinggal sendirian di sini. Tidak ada yang ku kenal dan hanya orangtua mu saja yang ku kenal dan itu pun aku jarang bertemu dengan mereka,” jelas Gio cepat.


Lydya kembali terdiam membuat Gio malu karena dia tak tahu mengapa dia tiba-tiba saja meminta untuk tinggal bersama dengan tunangannya. Gio merasa sedikit kesepian dan tak nyaman karena tidak ada satu pun yang dikenalnya apalagi Gio tak memahami apa yang mereka ucapkan.


Lydya tertawa pelan melihat wajah Gio yang malu lalu menganggukkan kepalanya, “Baiklah. Kau bisa tinggal bersamaku,”


Wajah Gio terlihat senang mendapat persetujuan dari tunangannya. Lydya tersenyum kecil dan mengajak Gio kembali ke rumah yang di tinggalnya. Sebelum itu, Lydya sudah memberi tahu seorang pelayan untuk membawakan makan malamnya dan Gio karena mereka akan melewatkan makan bersama keluarga.


Sudah pasti Lydya akan diizinkan karena mami nya yang akan mengizinkan dengan senang hati dan masalah bibinya yang sewaktu-waktu bisa saja datang menemuinya pun akan diurus oleh mami nya.


đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś


Jaa nee~ ~(~ ̄▽ ̄)~~

__ADS_1


__ADS_2