School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Fujihara Onsen


__ADS_3

Setiap tulisan miring artinya itu pake bahasa lain...


Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


đź–ŚFujihara Onsen


Membutuhkan perjalanan yang lama untuk sampai di Jepang. Selama di dalam pesawat, si kembar terlihat lunglai tak bersemangat. Mereka terlihat seperti kehilangan arah, setiap diajak berbicara jawaban mereka pun tak jelas. Hanya bergumam kecil.


Mereka pun sampai di Jepang dan selama berjalan keluar dari bandara, dua bersaudara itu tetap saja tidak bersemangat.


“Lily,”


“Hah?!”


“Apa kita tidak bisa kabur? Bagaimana kalau kita kabur saja?”


Lydya menolehkan kepalanya pada Leon kesal dan menggeleng.


“Jangan bercanda. Mami pasti sudah menghubungi rumah besar sekarang,” ucap Lydya tak bersemangat.


Mereka tidak akan bisa kabur kemanapun. Mami mereka pasti sudah menghubungi rumah besar kalau mereka sudah tiba dan pasti pelayan yang ditugaskan untuk menjemput mereka sudah datang. Seperti dugaan, pelayan itu sudah datang dan berdiri dengan senyuman lebar di wajahnya. Lydya maupun Leon yang melihat itu berdecak kesal.


Saat ini, mereka sudah ada di perjalanan menuju rumah besar. Seketika perasaan tak bersemangat berubah menjadi kegugupan yang luar biasa bagi si kembar. Mereka tidak bisa duduk dengan tenang selama perjalanan. Pikiran mereka kalut memikirkan apa yang akan terjadi setibanya mereka di sana.


“Lily-sama, Leon-sama, tak usah merasa khawatir,” [bayangin aja pake bahasa Jepang. Repot klo trans JP trus ditambah IN juga]


Lydya maupun Leon hanya memandang kesal kepada pelayan tersebut yang sejak tadi memamerkan senyum lebar tanpa dosanya. Pelayan laki-laki yang menjemput mereka ini adalah pelayan yang sering melayani Lydya dan Leon ketika mereka dan keluarga berkunjung ke rumah besar hingga rasa-rasanya Lydya maupun Leon bosan melihat wajahnya.


“Terserah apa katamu,” ucap Lydya di puncak kekesalannya.


“Tunggu?! Mengapa kita ke arah sini? Rumah besar ke arah berlawanan,” tanya Leon ketika mereka berada di persimpangan jalan.


Seharusnya mereka berbelok ke kanan menuju rumah besar tetapi pelayan itu membelokkan mobilnya ke arah kiri menuju penginapan yang sudah dikelola keluarga sejak nenek moyang.

__ADS_1


Penginapan yang sangat terkenal dikalangan turis asing maupun domestik karena terdapat pemandian air panasnya dan penginapan inilah yang membuat nama keluarga nenek mereka menjadi salah satu keluarga yang paling berpengaruh.


“Ya.. kita memang menuju ke…,” ucap pelayan itu.


“Akh! Lebih baik kita tinggal di rumah besar saja,” ucap Lydya cepat.


Leon menganggukkan kepalanya mengiakan ucapan saudari kembarnya. Lydya maupun Leon lebih memilih tinggal di rumah besar daripada di penginapan.


“Ne.. ne.. ayo, putar balik mobilnya,” ucap Lydya tersenyum manis.


Pelayan itu kembali tersenyum dan menggeleng menolak membuat Lydya berdecak kesal.


“Hmm. Kami tidak akan menyusahkan mu jika kau putar balik sekarang,” ucap Leon memulai negosiasi nya.


Memang benar adanya kalau Lydya dan Leon suka sekali membuat pelayan mereka ini kesusahan. Pasti ada saja yang mereka perbuat hingga membuat pelayan mereka ini mengalami kesulitan yang amat sangat. Entah mereka yang tiba-tiba menghilang atau menyuruh pelayan laki-laki mereka melakukan ini dan itu bersama pelayan lain yang membantu.


“Maaf, Lily-sama, Leon-sama, nyonya muda Sayudha sudah berpesan untuk membawa kalian ke penginapan,”


Lydya maupun Leon menjauhkan diri mereka dan menyandarkan pasrah tubuh mereka di kursi. Jika mami mereka yang sudah berpesan untuk membawa mereka ke penginapan, itu artinya mereka tidak bisa melakukan apapun selain menurutinya.


Sedangkan Gio, Eiza, dan Melani hanya bisa diam tak memahami apa yang si kembar bicarakan dengan laki-laki yang tengah menyetir itu. Hera yang sedikit memahami apa yang mereka perbincangkan memilih untuk diam. Ini bukan kali pertama Hera berada di situasi yang sama dengan sekarang.


Selama perjalanan, Eiza dan Melani dibuat kagum dengan hutan yang mereka lewati. Pepohonan yang tinggi menjulang dengan ranting-rantingnya yang dipenuhi dengan daun membuat area sekitar pohon menjadi sejuk. Begitupun dengan jalan yang mereka lewati seolah-olah sedang di payungi.



Eiza yang pernah berkunjung ke Jepang pun masih tak menyangka ada tempat yang seindah ini. Udara sejuk pun dapat mereka rasakan ketika pelayan laki-laki itu membuka kaca mobil.


“Menyegarkan sekali,” ucap Eiza.


Melani menganggukkan kepalanya setuju. Sudah lama sekali dirinya tak merasakan sejuk dan segarnya udara yang dia hirup selama ini. Dia sudah bosan tinggal di perkotaan yang sibuk dengan hiruk-pikuknya, berada di sini bukan suatu pilihan yang burung malah dia merasa beruntung bisa datang kemari.


“Kita sudah hampir sampai,”


Eiza menolehkan kepalanya ke depan begitu mobil berbelok ke kanan keluar dari area hutan. Eiza mengerutkan dahinya begitu dia melihat tembok setinggi dua meter yang perlahan terlihat semakin jelas. Jika dirinya tak salah ingat, dia mengenali tembok tersebut dan kalau tidak salah yang ada dibalik tembok tersebut adalah penginapan dan pemandian air panas.

__ADS_1



(Sanga Ryokan, Minamioguni, Japan)


[tembok penginapannya tak ganti penginapannya karena klo cari temboknya yng sesuai definisi dijamin.. gk ada]


“Bukankah ini….?”


“Yas.. selamat datang,” ucap Lydya menyela.


Eiza menutup mulutnya tak percaya. Dia ingat kalau dia pernah kemari ditambah lagi dia paling ingat dengan gambar bunga wisteria yang mengelilingi burung phoenix dan terlukis di dua sisi dekat pintu masuk. Ini adalah penginapan dengan pemandian air panas yang pernah Eiza kunjungi dengan keluarga ketika mereka berlibur ke Jepang.


Tempat yang terkenal dengan pemandian air panasnya dan pohon bunga wisteria yang Eiza dengar sudah hidup sejak 167 tahun yang lalu.


Tempat yang selalu penuh dengan pengunjung sehingga membuat Eiza dan keluarga harus memesan terlebih dahulu jauh-jauh hari sebelum mereka datang. Tetapi anehnya, mengapa Eiza tak mengingat pernah melewati jalan yang dia lewati tadi. Seingat nya, jalan yang dulu dia lewati dikelilingi oleh ladang padi berbeda dengan jalan yang dia lewati tadi.


Decak kagum keluar dari mulut mereka begitu memasuki penginapan langsung terlihat pohon bunga wisteria. Lydya dan Leon yang sudah sering datang kemari hanya menghela napas mereka karena kedatangan si kembar kemari tentu saja bukan untuk menikmati keindahan bunganya atau memanjakan diri mereka di pemandian tetapi tepatnya mereka datang kemari untuk bekerja.



(Kawachi Fuji Garden, Kitakyushu, Japan)


[pohon bunga wisteria itu bener2 cantik]


Inilah mengapa Lydya dan Leon lebih memilih tinggal di rumah besar daripada penginapan. Setidaknya di rumah besar nanti mereka hanya akan kerepotan dengan saudara sepupu mereka tetapi jika di sini mereka harus bekerja menyambut tamu yang datang.


Mereka semua turun bergantian dan pelayan laki-laki itu sigap membantu menurunkan koper. Beberapa pelayan yang sudah diberitahu kalau tuan muda dan nona muda jauh mereka akan datang sudah menunggu dan segera membantu begitu mereka sampai.


Lydya dan Leon yang turun paling akhir kembali terlihat tak bersemangat begitu mereka melihat kemegahan penginapan dan keindahan pohon bunga wisteria didepan mereka.


“Fujihara Onsen,” ucap Lydya dan Leon berbarengan.


Mulai di sinilah mereka akan merasakan liburan sekolah yang tidak terasa seperti liburan dan di sinilah mereka merasakan bagaimana beratnya seseorang harus bekerja keras. Lydya dan Leon saling berpandangan dan menghela napas mereka untuk kesekian kalinya.


đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś

__ADS_1


Fyi aja 'Fujihara Onsen' itu gk ada.. dan yng gk tau, Onsen itu pemandian air panas dan biasanya ada penginapan nya juga dan penginapannya itu biasa dipanggil Ryokan..


See ya next chapter(」゚ロ゚)」


__ADS_2