
Happy Reading~ Minna-sama~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Disturbed
Lydya menguap pelan dan merebahkan kepalanya diatas meja. Bel istirahat baru saja berbunyi dan Lydya bukannya pergi ke kantin tetapi memilih untuk tetap didalam kelas dan tidur padahal didalam kelas hanya tersisa dirinya saja. Itulah yang Lydya cari, waktu kelas sepi adalah waktu terbaik.
Lydya hampir memasuki alam mimpinya saat seseorang menepuk bahunya membuatnya mau tak mau mengangkat kepalanya dan menatap penuh tanya pada orang yang menyentuh bahunya. Ternyata teman sekelasnya.
Teman sekelasnya itu menyuruhnya mengikuti tanpa mengatakan ke mana tujuan mereka dan Lydya menuruti begitu saja tanpa bertanya juga karena yang Lydya pikirkan sekarang adalah segera menuruti keinginan teman sekelasnya itu lalu kembali ke kelas dan tidur.
Lydya mengikuti dengan patuh sampai mereka sampai di tempat di mana beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan Linda. Lydya memutar bola matanya malas ketika melihat komplotan Linda sudah menunggunya dengan Linda duduk di kursi dan tersenyum padanya dari kejauhan.
Lydya berjalan dengan cepat melewati teman sekelasnya lalu duduk disebelah Linda yang menatapnya dengan sengit. Lydya meraih satu kacang kulit yang sedang Linda makan lalu memakannya. Linda menatap Lydya datar tetapi tak digubris oleh Lydya yang asyik mengambil satu persatu kacang kulit milik Linda.
“Ternyata kamu sendiri yang tidak punya sopan santun,” ucap Linda tersenyum miring pada Lydya.
Lydya menghentikan kegiatannya mengupas kulit kacang dan menatap Linda bingung. Untuk beberapa saat Lydya terdiam dan saling menatap dengan Linda. Baru saja Linda akan membuka mulutnya Lydya mengalihkan pandangannya pada perempuan yang berdiri di belakang Lydya.
“Kau mengatakan sesuatu padanya?” ucap Lydya tersenyum manis.
“Yang sedang berbicara denganmu adalah aku bukan dia,” ucap Linda tak senang.
Lydya tetap tersenyum dan menatap Linda dengan senyum lebarnya. Lydya sedikit memiringkan kepalanya dengan wajah penuh tanda tanya. Linda menghela napasnya panjang.
“Sebenarnya aku tidak ingin mencari masalah denganmu tetapi kurasa aku bisa mencari masalah denganmu,” ucap Linda tersenyum kecil memainkan jari-jarinya sebelum melirik Lydya.
Lydya tetap tersenyum lebar, ‘Heeh~ Begitu,’ batin Lydya.
“Bisakah kau menjauh darinya? Seperti yang ku katakan waktu itu? Berhentilah berdekatan dengan kekasihku,” ucap Linda menggebu.
Lydya hanya menatap Linda datar lalu menumpukan tangannya diatas meja dan menatap Linda serius.
“Masalahnya tidak semudah itu karena kami sudah bertunangan,” ucap Lydya melirik teman Linda yang mengerti ucapannya.
__ADS_1
Mata teman Linda membulat dengan sempurna karena terkejut mendengar ucapannya. Lydya hanya tersenyum kecil. Sungguh menarik. Teman-teman Linda yang lain menatap satu teman mereka yang terlihat terkejut dengan penuh rasa penasaran dan bingung.
“Kelihatannya kau tidak bisa mencari masalah denganku karena ini lebih rumit,” ucap Lydya beralih bersedekap.
“Apa maksudmu?!”
“Eumm.. bagaimana menjelaskannya, ya?” ucap Lydya mengusap dagunya dan menatap ke atas, berpikir.
Lydya tersenyum lalu berdiri dari duduknya dan mendekati Linda. Lydya menyentuh bahu Linda dan sedikit menunduk tepat di depan telinga Linda.
“Jika, kau ingin tahu. Bertanyalah pada temanmu ini tetapi lebih baik jangan melibatkan kekasih mu itu atau…,” ucap Lydya sengaja memotong ucapannya lalu menepuk bahu Linda dan tersenyum kecil sebelum berjalan menjauh.
Lydya berhenti sebentar pada teman Linda yang mengerti ucapannya lalu tersenyum kecil dan menyentuh bahunya sekilas. Lydya berjalan dengan santai meninggalkan Linda dengan teman-temannya.
“Yare yare~ Punggungku panas sekali,” ucap Lydya bisa merasakan betapa tajamnya tatapan Linda padanya.
Linda terus menatap Lydya yang berjalan menjauh hingga menghilang ditikungan lalu menatap teman nya yang tadi, bahunya disentuh oleh Lydya. Linda menatap teman nya itu dengan tajam. Teman nya ini pasti tahu sesuatu.
Lydya merenggangkan tangannya yang terasa pegal dan menguap pelan. Dia ingin secepat mungkin sampai di kelasnya dan kembali tidur. Menyebalkan sekali kekasih tunangannya itu. Mengganggu tidurnya saja. Lydya berdecak kesal.
Lydya menolehkan kepalanya dan mendapati Gio berada di sampingnya dan menatapnya bingung juga penasaran. Lydya menatap Gio datar lalu berdecak dan mempercepat langkahnya. Gio yang tidak tahu di bagian mana dia melakukan kesalahan segera menyusul Lydya yang semakin mempercepat langkahnya ketika dia sudah berada di samping tunangannya itu.
🖌🖌🖌🖌🖌
Lydya menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, diraihnya bantal dan membenamkan kepalanya di sana. Lydya mengumpat kesal berulang kali didalam hati. Dia benar-benar kesal setengah mati dengan kekasih dari tunangannya itu.
Sudah lima hari berlalu, kekasih tunangannya itu tidak ada lelah mengganggunya. Entah dari menatapnya sengit ketika mereka tidak sengaja bertemu atau sengaja mencari masalah dengannya. Lydya sudah sangat kesal dan ingin rasanya dia memberi pelajaran dari kekasih tunangannya itu tetapi dia tidak tega karena memikirkan tunangannya.
Seperti halnya pulang sekolah tadi, kekasih tunangannya itu sengaja menghalangi jalannya beberapa menit sebelum tersenyum sinis dan pergi dari hadapannya dengan tawa bersama teman-temannya itu. Lydya hanya bisa memutar bola matanya malas dan menghela napasnya panjang.
Dia harus bersabar karena tinggal sedikit lagi, dia akan lulus. Lagi pula, mereka tidak akan bertemu karena Linda lebih dahulu mengikuti ujian. Tetapi, tetap saja. Walau perempuan itu akan segera mengikuti ujian tetap saja ujiannya baru akan dilaksanakan satu setengah bulan lagi.
“ARRGGHHH!!!”
Lydya berteriak kesal didalam bantalnya. Entah apalagi yang akan perempuan itu lakukan padanya besok.
__ADS_1
“Si*l! Si*l! Si*l!”
Dia benar-benar ingin memberi pelajaran pada perempuan itu tetapi dia masih punya hati nurani. Tidak mungkin dia mencari masalah lebih besar pada kekasih dari tunangannya sendiri walau dia lebih berhak atas tunangannya tetapi Linda adalah cinta tunangannya itu.
“Urrgghhh! Aku benar-benar kesal dengan perempuan si*lan itu!” ucap Lydya menggigit kasar bantalnya yang tak bersalah.
Lydya kembali menghela napasnya dan membenamkan kepalanya diatas bantal. Apa yang harus dilakukannya pada Linda agar berhenti mengganggunya? Lydya mengangkat kepalanya ketika sebuah ide terlintas dalam benaknya tetapi dia kembali membenamkan kepalanya diatas bantal.
“Tidak mungkin seperti itu,” guman Lydya.
Lydya mengangkat kepalanya dan hanya meletakkannya diatas bantal, “. . . . .”
“Itu namanya nekat,” ucap Lydya kembali menghela napasnya.
“Dan juga… aku bukan orang jahat,” guman Lydya pasrah.
Hampir saja dia nekat ingin menemui Linda dan mengatakan kebenarannya pada kekasih tunangannya itu tetapi lagi-lagi dia kembali ke pikiran dengan Gio. Entah apa yang akan terjadi, tunangannya itu jika dia mengatakannya semuanya pada Linda.
Membuat Lydya tidak tega tetapi dia sudah tidak tahan dengan gangguan tak jelas dari Linda. Lydya kembali menenggelamkan wajahnya diatas bantal.
Srekk..
Lydya mengangkat kepalanya dan menolehkan kepalanya ke arah pintu. Leon berdiri disana, Lydya menatap kembaran nya bingung.
“Mami memanggil,” ucap Leon langsung melenggang pergi tanpa perlu repot-repot menutup pintu.
Lydya menghela napasnya panjang dan bangun dari tidurnya. Jika, Leon membuka pintu kamarnya dan tidak menutupnya kembali, itu tandanya mami memanggilnya karena urusan yang sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi.
Apalagi sekarang, dia benar-benar tidak ada mood untuk membicarakan hal serius.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Wahh gk terasa dah 60+ chapther-nya ✺◟(∗❛ัᴗ❛ั∗)◞✺
See you next time ~(~ ̄▽ ̄)~~
__ADS_1