School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Early


__ADS_3

Dua hari telah berlalu...


Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Early


Setelah sarapan Lydya dan Leon memulai tugas mereka. Jika pagi, mereka hanya perlu menyiapkan sarapan untuk para tamu dan tidak akan terlalu sibuk hingga siang. Biasanya mereka akan mulai sibuk jika malam datang karena kebanyakan tamu datang ke penginapan memang ketika malam hari.


Gio, Hera, Eiza, dan Melani memilih menetap di kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Sebenarnya Eiza dan Melani ingin segera berjalan-jalan tetapi Lydya memberi tahu mereka ketika sarapan tadi kalau pelayan yang akan membantu mereka masih berada di rumah besar dan akan datang besok untuk membawa mereka jalan-jalan. Setelah itu, mereka tidak bertemu dengan Lydya maupun Leon.


“Hai,” sapa Leon duduk disebelah Gio yang menyendiri.


Hera, Eiza, dan Melani terlihat sibuk dengan percakapan mereka sendiri, “Kau sudah selesai?”


Leon menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan se sibuk itu. Lydya yang paling banyak bekerja. Aku hanya bisa membantu saja karena penginapan harus diurus oleh perempuan,”


“Bukankah biasanya laki-laki yang mengurus pekerjaan?”


“Hmm. Seperti itulah tetapi jika masalah penginapan yang boleh mengurusnya hanya para perempuan di keluarga,” jelas Leon.


Satu lagi hal yang tak Gio duga. Dia baru pertama kali mendapati sebuah usaha yang hanya bisa diurus oleh perempuan. Selama ini yang dia tahu segala jenis pekerjaan pasti dikerjakan dan dipimpin oleh laki-laki sama seperti ayah dan kakeknya.


Pantas saja sejak kemarin yang paling banyak dilihatnya adalah pelayan perempuan daripada pelayan laki-laki.


“Hei.. ini selalu terlintas dalam pikiranku. Emmm.. Menurut mu, Lydya itu seperti apa?”


Gio tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari saudara kembar tunangannya karena selama ini tidak ada yang mengetahui kalau dirinya dan Lydya bertunangan jadi tidak pernah ada yang bertanya seperti itu kepadanya dan selama ini pun Leon hanya diam saja tidak pernah sekalipun menanyainya macam-macam walau mereka sering bersama.


“Emmm.. entahlah. Aku.. aku masih tidak terlalu dekat dengannya,”


Leon terdiam sebentar, “Kurasa kau akan memerlukan waktu yang lama untuk mengenal saudari kembar ku,” ucap Leon tersenyum kecil terkesan misterius.

__ADS_1


Bahkan Lydya pun cukup tertutup pada dirinya yang saudara kembarnya sendiri. Padahal mereka sudah berbagi bersama sejak dalam kandungan tetapi Lydya tak pernah sekalipun terbuka pada dirinya. Selama ini, Leon hanya bisa mengandalkan perasaannya yang terjalin kuat dengan Lydya.


Sejak kecil dia sudah menyadari kalau Lydya sangat tertutup bahkan saudari kembarnya itu tidak pernah berbicara hingga umur mereka menginjak lima tahun. Mulai saat itulah, Leon belajar untuk memahami Lydya tanpa perlu membuat Lydya berbicara. Leon menghabiskan banyak waktunya untuk terus bersama Lydya agar bisa memahami apa yang Lydya inginkan.


Lydya tidak pernah bisa mengutarakan apa yang diinginkannya dan jika seperti itu maka Leon lah yang akan mengutarakannya dan Leon rasa kakak mereka pun juga merasakan hal yang sama. Leon merasa tenang dan lega ketika Ray mengusulkan untuk membuat mereka bersekolah bahkan ada dalam satu kelas yang sama.


Gio tak memahami maksud dari senyuman Leon. Walau hanya sebuah senyuman kecil tetapi Gio merasa ada maksud tersembunyi pada senyuman itu.


“Hei, apa yang kau rasakan ketika bertunangan dengan Lydya?”


Gio menatap Leon yang menatapnya dengan serius. Dia tak pernah menemui Leon dengan pandangan seriusnya. Leon terlihat berbeda dengan dirinya yang biasa Gio lihat. Leon yang dia kenal terkesan ceria tetapi sekarang dia melihat Leon dalam sisi yang berbeda seolah-olah kembaran tunangannya ini memiliki kepribadian lain.


“Aku…,”


Gio menghentikan ucapannya ketika seseorang memanggil nama Leon.


“Le-sama!!! Le-sama!!!”


“Ada apa?”


“Li-sama.. Li-sama terlibat perkelahian dengan Ryu-sama,” ucapnya dengan cepat.


Mata Leon terbuka lebar dan tanpa kata dia segera berlari menuju arah yang sudah ditunjuk pelayan perempuan tersebut. Hera menutup mulutnya, dia memang tidak mengerti sepenuhnya apa yang pelayan itu katakan.


“Lydya,” gumam Hera meninggalkan Gio, Eiza dan Melani yang tengah kebingungan.


Mereka bertiga saling berpandangan dan juga mengikuti Hera dari belakang. Perlahan mereka mendekati area depan penginapan yang ramai dengan suara para tamu. Mereka menerobos kerumunan dan betapa terkejut nya mereka melihat pemandangan didepan mereka.


Lydya tengah memukuli wajah seorang laki-laki yang ada di bawahnya. Leon dan Sato berusaha menjauhkan Lydya dari laki-laki yang wajahnya sudah babak belur bahkan ketika Lydya mulai dipisahkan, tangan Lydya tak melepaskan cengkeramannya pada kimono laki-laki itu. Kimono yang Lydya gunakan pun juga sudah tak rapi seperti tadi.


Lydya di bawah Leon dan Sato meninggalkan area depan penginapan kembali ke rumah dan tatapan laki-laki itu tak lepas dari punggung Lydya yang mulai menjauh. Gio terdiam di tempatnya, laki-laki itu juga menatapnya dengan senyum miring di bibirnya. Tak ingin ikut campur, Gio mengalihkan pandangannya dan ikut kembali ke rumah.


Para tamu yang datang mulai membubarkan diri dengan terus membicarakan perkelahian yang baru saja mereka lihat. Gio memang tak memahami apa yang mereka bicarakan tetapi Gio merasa kalau mereka membicarakan Lydya dan laki-laki itu.

__ADS_1


🖌🖌🖌🖌🖌


Lydya sudah selesai diobati. Memar kebiruan terlihat jelas di tulang pipi kanannya dan ujung bibir kirinya juga robek. Selama Leon dan Sato mengobati Lydya, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Lydya. Sejak dia dibawa kembali ke kamar, Lydya hanya diam memandang keluar kamar. Pandangannya terlihat kosong dan posisi duduknya tak berubah sedikitpun.


Hera sudah mencoba mengajak Lydya untuk berbicara tetapi hasilnya nihil. Lydya tak sedikitpun membuka mulutnya atau menggerakan tubuhnya bahkan Lydya melewatkan makan siang dan makan malamnya. Leon yang melihat diamnya Lydya pun juga tak berselera melakukan apapun, dia hanya duduk disebelah Lydya.


Leon menghela napasnya panjang. Dia tak bisa melihat saudari kembarnya hanya diam dan memandang kosong seperti sekarang. Lydya yang selalu memendam perasaannya sendiri dan tidak pernah bisa menyalurkan apa yang diinginkannya. Jadi, jika dia sudah tidak bisa menahan perasaannya maka emosi Lydya menjadi tak terkontrol dan berakhir seperti tadi.


“Dia masih diam aja?”


Semua orang yang berada di ruangan itu menolehkan kepalanya ke arah pintu. Seorang pria seumuran dengan Ray memasuki kamar. Leon menggelengkan kepalanya. Pria itu menghampiri Lydya dan Leon lalu duduk di samping Lydya yang masih terdiam dan memandang keluar.


“Lily, aku datang. Bukankah kau bilang ingin bertemu denganku?”


Lydya masih saja terdiam dan memandang keluar. Dia terbiasa menggunakan bahasa yang sama dengan Lydya ketika dia berbicara dengan Lydya maupun Leon. Pria itu menghela napasnya dan tersenyum kecil. Diraihnya tangan kanan Lydya dan di genggam.


“Lily, jangan hanya diam saja. Tell me, what do you want. Onii-san will grant whatever my little sister wants,”


“Haru nii-san,” ucap Sato.


Dia harus menghentikan kakaknya sebelum Lydya menjawab pertanyaan kakaknya. Haru tak ingin menyerah, dia harus bisa membuat adik sepupu kesayangannya ini berbicara. Dia tak menyangka akan melihat pemandangan yang sama untuk kedua kalinya. Sebenarnya dia datang kemari seorang diri ketika adiknya, Sato mengirimnya sebuah foto dan dia tak menyadari kalau dia diikuti orang lain.


Baru saja dia turun dari mobil dan akan menghampiri Lydya yang terlihat serius berbincang dengan dua orang pelayan, dia tak sadar kalau sepupu jauhnya, Ryu mengikutinya dan ketika dirinya sudah dekat dengan Lydya tiba-tiba saja Ryu melewatinya dan memeluk Lydya.


Lydya yang terkejut segera melepaskan pelukan Ryu dan wajah Lydya seketika berubah begitu dia mengenali siapa yang tengah memeluknya. Haru yang masih terkejut segera menghampiri mereka sebelum hal yang tak diinginkan terjadi tetapi terlambat, sebelum dia berada benar-benar dekat, Lydya sudah melayangkan kepalan tangannya pada Ryu.


Akhirnya perkelahian mereka pun tak dapat terelakkan. Dia sudah berusaha melerai mereka tetapi walau Lydya adalah seorang perempuan tetapi mampu melepaskan dirinya ketika dia mencoba memisahkannya dari Ryu. Haru yang tak ingin masalah menjadi panjang segera menyuruh kedua pelayan itu memanggil Sato ataupun Leon untuk membantunya memisahkan Lydya dan Ryu.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


What! Whats going on? \(;´□`)/


See ya next chapter!!!!!

__ADS_1


__ADS_2