
Hellooowwww~
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Childhood Friend
Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan akan kembali ke kamar. Dirinya sangat lelah setelah seharian mengurus penginapan. Ini akhir liburan jadi tentu saja banyak pengunjung yang datang karena rata-rata mereka datang ke pemandian air panas sebagai kunjungan terakhir mereka.
Ketika melewati taman dia tak sengaja melihat pintu pagar taman terbuka dan mendengar ada orang yang sedang beradu mulut. Dia ingin membiarkannya karena yang didengarnya adalah suara bibinya dan mengira dia sedang beradu mulut dengan kembaran nya.
Dirinya baru saja berjalan satu langkah dan berhenti saat melihat Leon yang keluar dari rumah dan berjalan ke arahnya dengan senyum lebar. Jika Leon ada di hadapannya lalu siapa yang sedang beradu mulut dengan bibinya itu. Lydya menghela napasnya lelah dan mau tak mau dia memasuki taman.
Dia harus segera menghentikan bibinya itu atau tidak bibinya itu akan berkelahi dengan orang yang diajaknya beradu mulut. Lydya sedikit mempercepat langkahnya begitu melihat punggung bibinya dan ada Linda juga Gio di sana. Lydya menggelengkan kepalanya melihat dua orang yang bukan anggota keluarga masuk ke dalam taman.
Langkahnya semakin cepat saat Linda mengangkat tangannya. Lydya segera memegang tangan Linda yang hendak memukul bibinya. Baru saja sehari berlalu pekerjaannya sudah bertambah lagi. Hari ini Lydya benar-benar tak diberi kesempatan untuk beristirahat.
“Wanita ini yang memulainya,” ucap Linda tak terima dan menunjuk Fuyumi.
Lydya melirik bibinya yang sudah berlindung di belakangnya lalu menatap Linda lagi. Lydya melepaskan genggaman nya pada Linda. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut walau pelan tetapi tetap saja terasa sakit. Sial. Ini efek karena terlalu lama beristirahat.
“Yare, yare. Kau menyalahkan ku? Memangnya siapa yang menerobos masuk?”
“Hah?! Memangnya salah jika kami masuk kemari? Memangnya tidak boleh? Aku membayar juga di sini,” ucap Linda tak mau kalah.
Adu mulut pun tak terelakkan di antara Linda dan bibinya. Gio dan Leon yang sejak tadi hanya diam mencoba untuk menghentikan keduanya. Leon berusaha menghentikan bibinya ketika melihat Lydya yang menundukkan kepalanya. Dia harus segera menghentikan keduanya sebelum Lydya marah.
Hari ini perasaan Lydya yang sejak tadi dirasakannya benar-benar tak menentu. Dirinya dapat merasakannya dengan jelas. Pikiran kembaran nya ini sedang sangat penuh apalagi tadi ada dua kali perkelahian antar para tamu dan Lydya sudah sangat lelah mengurusnya.
__ADS_1
“Nee.. onee-chan, yamete! (Kakak, hentikan!)”
Leon berusaha menghentikan bibinya dan sesekali melirik Lydya yang masih saja diam. Lydya mengangkat tangannya untuk menyentuh keningnya membuat jantung Leon berdegup kencang. Lydya sudah sangat marah, itu yang Leon rasakan. Kemarahan Lydya sudah pada batasnya apalagi dua perempuan di depannya ini tidak berhenti beradu mulut saling menyalahkan.
“Mukatsuku! (Menyebalkan!)” gumam Lydya dapat dibaca Leon dari gerak bibirnya.
Dia semakin panik melihat Lydya sudah mengulurkan satu katanya, “Onee-chan, dame desu yo, (Kakak, jangan)”
“Ya!!! Kono hito ra!!! (Ya!!! Orang-orang ini!!!)”
“Akhh!!!” teriak Fuyumi dan Linda ketika Lydya menyentuh leher mereka untuk mendekat pada wajah Lydya.
Kesabaran Lydya sudah pada batasnya. Dia sangat lelah sekarang dan butuh istirahat secepatnya tetapi dia masih harus mengurusi dua perempuan yang saling melemparkan ucapan yang suaranya membuat telinga Lydya panas bahkan Gio dan Leon yang tak membantu malah suara mereka semakin membuat Lydya kesal.
“Dengar, omaera!! (Kalian{kasar}) Aku sangat lelah jadi hentikan ucapan menyebalkan kalian atau tunggu saja apa yang akan kulakukan pada kalian tetapi bersyukurlah hari ini aku sedang baik hati jadi aku tidak akan mengganggu kalian,” ucap Lydya datar dengan pandangan lurus ke depan.
Linda dan Fuyumi yang berada dekat dengan wajah Lydya menelan ludah mereka takut-takut. Pandangan Lydya yang datar dan dingin ditambah dengan kantong mata terlihat sangat menakutkan bahkan Leon dan Gio juga merasa takut. Bulu kuduk mereka turut adil merasa takut melihat Lydya yang menakutkan.
Linda dan Fuyumi menganggukkan kepalanya cepat begitupun dengan Leon dan Gio yang tanpa sadar juga menganggukkan kepala mereka. Lydya melepaskan tangannya dari leher keduanya dan berdiri tegap lalu bersedekap memandang Fuyumi, Gio, dan Linda bergantian dalam diam.
Lydya menghela napasnya panjang, “Seharusnya kalian tidak datang kemari. Ini bukan tempat umum yang dapat dimasuki siapa pun. Kali ini aku memakluminya jika kalian tidak melihat tanda di pintu pagar tetapi tidak ada yang kedua kalinya. Kalian paham?”
Lydya menatap Gio dan Linda yang menundukkan dan menganggukkan kepala mereka. Lydya bisa merasakan kalau keduanya merasa bersalah karena sudah masuk tanpa izin ke taman. dia senang jika keduanya sadar akan kesalahan mereka.
“Dan untukmu, oba-chan. Jangan sampai aku melihat mu beradu mulut dengan orang lain lagi atau aku akan memanggil Kane oji-chan kemari. Mengerti?!” lanjut Lydya pada bibinya yang sudah berdiri dibelakang kembaran nya.
Lydya menyentuh kepalanya yang semakin berdenyut nyeri. Dia benar-benar merasa pusing tetapi dirinya harus menjaga kesadarannya untuk menasihati mereka bertiga.
“Aku kembali dulu,” ucap Lydya berjalan meninggalkan ketiganya dibantu Leon yang menyadari kalau saudari kembarnya sedang merasa pusing.
__ADS_1
Fuyumi menatap Linda sengit dan mendengus lalu mengikuti si kembar kembali ke rumah pribadi. Linda memandang punggung Fuyumi tak senang. Dia benar-benar membenci perempuan itu.
“Ayo. Kita juga kembali,” ucap Gio merangkul Linda.
Linda mengangguk dan berjalan bersama meninggalkan taman.
🖌🖌🖌🖌🖌
Besok paginya, Lydya jatuh sakit setelah seharian bekerja tanpa henti. Ini sering terjadi jika Lydya beristirahat terlalu lama dan tiba-tiba bekerja sangat banyak. Lydya mudah sekali terserang demam jika memakan sedikit lebih banyak energi ketika bekerja.
Kemarin Lydya bekerja seharian tanpa henti untuk melayani tamu jadi sangat wajar jika dia sampai jatuh sakit tetapi beruntungnya Lydya juga mudah sembuh. Tidak sampai setengah hari, demamnya sudah turun dan kembali sehat.
Leon dan Fuyumi terus berada di sisi Lydya yang sedang demam. Sudah jam sebelas siang tetapi demam Lydya tak kunjung turun malah terus naik membuat keduanya khawatir padahal jam sembilan tadi demamnya berangsur turun tetapi tiba-tiba saja jam setengah sepuluh kembali naik.
Seharusnya, sekarang demam Lydya sudah turun tetapi tidak ada perubahan apapun. Napas Lydya tersengal-sengal karena demam hingga Leon merasa sesak di dadanya. Lydya terlihat sangat kesusahan bernafas seperti yang dia rasakan.
“Demamnya tidak turun sedikitpun,” ucap Fuyumi melihat angka suhu badan Lydya pada termometer.
“Tidak biasanya seperti ini,” ucap Leon dengan sabar mengganti handuk untuk kening kembaran nya.
Fuyumi menganggukkan kepalanya, “Aku juga sudah bertanya pada Akira walau ramai tetapi sama seperti akhiran liburan biasa,”
Leon semakin khawatir melihat Lydya yang kesakitan. Jika tadi napasnya yang tersengal sekarang dahinya mulai berkerut. Fuyumi menggenggam tangan Lydya yang terasa sangat panas. Dia terus berdoa sejak demam Lydya terus naik agar segera turun.
“Inoue-kun~” gumam Lydya.
Leon dan Fuyumi menghentikan kegiatan mereka ketika mendengar ucapan Lydya. Mata mereka membulat dan berpandangan satu sama lain. Mereka memikirkan hal yang sama. Lydya baru saja memanggil sebuah nama dan mereka sangat mengenal siapa orang yang Lydya panggil tadi.
Inoue. Inoue Yamazaki. Putra kepala pelayan keluarga Hanazawa yang seumuran dengan Lydya dan Leon juga teman masa kecil si kembar ketika berkunjung ke Jepang. Hampir sepuluh tahun, dia dan Lydya belum pernah bertemu kembali dengan Inoue yang dikirim keluar negeri setelah dua tahun insiden yang menimpa Lydya.
__ADS_1
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
See ya next chapter(^v^)