
Konbawa minna-sama~
Happy Reading-na~
!:sorry'bouttypo~ teeheehee~
πIn The Past
Beberapa hari ini, Ryu terus bermain dengan Lydya dan Leon selama di rumah besar. Mereka memang tidak memahami bahasa satu sama lain tetapi entah bagaimana hanya dengan gerakkan tangan ketiganya bisa memahami maksud satu sama lain. Sampai-sampai Ray merasa iri karena kedua adiknya lebih banyak bermain dengan Ryu daripada dirinya.
Ryu berjalan-jalan sendiri dan tak sengaja berpapasan dengan Leon yang bermain sendirian. Ryu berjalan mendekati Leon. Jika Ryu tak salah ingat, Leon lebih cepat memahami apa yang diucapkannya daripada Lydya yang terkadang masih menatapnya bingung.
βLeon, di mana Lydya?β
Leon menggerakkan tangannya menunjukkan gerakkan tidur. Ryu menganggukkan kepalanya lalu mengacak pelan rambut Leon.
βAku pergi dulu,β
Leon menganggukkan kepalanya. Leon menatap Ryu yang berjalan menjauh. Tiba-tiba saja Leon merasa ada yang aneh seperti akan ada kejadian yang tidak diinginkan akan terjadi pada saudari kembarnya tetapi Leon mengedikkan bahunya acuh.
Mungkin hanya perasaannya saja. Leon melanjutkan bermain nya hingga tak lama kakaknya datang
πππππ
Cukup lama Leon bermain dengan Ray, mereka membuat kerajinan dari kertas lipat dan membuat sangat banyak dengan berbagai bentuk. Leon melangkahkan kakinya dengan riang menuju kamar Lydya. Dia ingin memperlihatkan berbagai bentuk kertas lipat yang dia buat dengan Ray.
Leon tak sabar ingin segera memperlihatkannya pada Lydya. Pasti Lydya akan senang mendapatkan kerajinan yang dia buat dan jika Lydya mau, Leon akan mengajari Lydya membuat bentuk yang sama seperti yang diajarkan Ray padanya.
Leon yang semakin tak sabar mempercepat langkahnya menuju kamar Lydya, βLily, aku datang. Aku membawa hadiah untukmu,β ucap Leon dari luar kamar.
__ADS_1
Senyum Leon tak sedikitpun luntur ketika dia meninggalkan Ray yang masih melipat kertas hingga sampai didepan kamar saudari kembarnya. Tak ada jawaban apapun dari dalam hanya suara air dari kolam yang terdengar.
Leon mengerutkan dahinya bingung. Seharusnya sekarang Lydya sudah bangun, dia sudah sangat lama bermain dengan Ray jadi sudah pasti kalau sekarang Lydya sudah bangun.
βLily? Apa kau masih tidur?β
Tidak ada jawaban apapun dari dalam dan yang terdengar malah suara aneh yang tidak jelas. Kelihatannya itu suara selimut yang bergeser. Itu tandanya, Lydya sudah bangun. Leon kembali tersenyum lebar menunggu Lydya membukakan pintu. Cukup lama Leon menunggu tetapi Lydya tak segera membukakan pintu.
βLily? Apa kau baik-baik saja?β ucap Leon membuka pelan pintu geser kamar Lydya.
Dia tahu saudari kembarnya itu sudah bangun tetapi anehnya dia tidak mau membuka pintu kamarnya untuk Leon. Itulah yang membuat Leon bingung. Dia khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada saudari kembarnya.
βLily, aku mas...,β
Suara Leon tertahan begitu dia membuka lebar kamar Lydya. Tubuhnya seketika bergetar, lidahnya kelu, dan jantungnya berdetak dengan kencang. Leon jatuh terduduk ketika Lydya menoleh kepadanya. Tatapannya datar dan kosong. Leon menyadari, tidak ada perasaan apapun di sana.
βLe...,β
βRyu!!!β
Seorang wanita memasuki kamar Lydya dan merengkuh anak laki-laki yang tengkurap di atas futon milik Lydya. Banyak noda merah di mana-mana. Adam dan Zyta yang baru saja datang sangat terkejut melihat keadaan putrinya dan keponakan mereka. Zyta menutup mulutnya tak percaya, matanya berkaca-kaca. Dia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Adam dan Zyta segera mendekati Lydya yang masih mematung di tempatnya. Ray yang datang bersama kedua orangtua nya memeluk Leon yang masih menangis ketakutan di pelukan bibinya, dia sama terkejut nya.
Adam dan Zyta berusaha menanyai Lydya tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Lydya. Tatapan mata Lydya kosong.
Setelah kejadian itu, keadaan bukannya semakin membaik malah semakin memburuk dengan Lydya yang terus menyendiri dan tak jarang dia tiba-tiba saja berteriak ketakutan ketika dia baru saja memejamkan matanya dan jika Lydya sudah berteriak ketakutan, tidak ada seorang pun yang bisa mendekatinya.
Dokter bilang, Lydya mengalami trauma parah yang akan terus diingatnya dan membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Semua orang yang mendengar penjelasan dari dokter merasa sangat sedih, tidak ada satu pun di antara mereka yang menyangka akan terjadi hal seperti ini.
__ADS_1
Mereka semua juga sudah mendengar penjelasan dari Ryu sendiri. Mereka benar-benar tak menyangka dengan apa yang akan Ryu lakukan pada Lydya dan anehnya Ryu menjelaskan apa yang dilakukannya pada Lydya tanpa raut wajah menyesal sedikitpun malah dia terlihat biasa saja hingga membuat kedua orangtua Ryu memilih membawa Ryu ke psikiater.
Hal yang mengejutkan pun mereka terima. Ryu mengalami penyimpangan pada kejiwaannya. Itulah mengapa Ryu ditemukan bersama dengan Lydya dengan kondisi yang parah.
Ryu mengalami luka tusukkan di bagian perut kirinya karena Lydya menusuknya dengan gunting. Penyebab utamanya adalah Ryu berusaha melecehkan Lydya yang masih anak-anak.
πππππ
Leon kecil berdiri mematung didepan kamar saudari kembarnya yang terbuka memperlihatkan saudari kembarnya yang berteriak ketakutan. Orangtua nya dan kakaknya berusaha menenangkan Lydya dibantu paman dan bibinya tetapi tetap saja tak membuahkan hasil. Lydya terus berteriak ketakutan menyuruh semua orang menjauh.
Leon tak berani mendekat. Tatapan mata Lydya yang kosong dan tajam membuatnya ketakutan. Leon hanya bisa memandang Lydya dari luar kamar. Pandangan Leon tak lepas dari saudari kembarnya saat Ray menutup pintu.
βLeon, ayo main sama bibi,β
Leon hanya diam saja saat bibinya membawanya pergi meninggalkan kamar Lydya. Teriakan Lydya yang menggema dan terdengar di telinganya bahkan saat dia dan bibinya sudah jauh dari kamar Lydya. Leon ingin membantu saudari kembarnya tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa dan yang bisa dilakukannya hanya melihat Lydya dari jauh.
Beberapa bulan berlalu, keadaan Lydya mulai membaik tetapi juga tidak bisa dibilang membaik sepenuhnya. Dia memang sudah tidak pernah berteriak ketakutan hanya saja sikap Lydya kembali seperti sebelumnya. Dia kembali menjadi anak yang pendiam malah sekarang dia lebih pendiam daripada sebelumnya.
Adam dan Zyta tidak bisa melakukan apapun untuk mengembalikan putri mereka yang ceria. Mereka tahu bagaimana ketakutan yang Lydya rasakan jadi mereka memilih untuk membiarkannya dan terus mengajak Lydya berbicara seperti sebelumnya karena mereka yakin Lydya akan mau diajak berbicara lagi seperti dulu.
Dan Leon lah yang paling banyak adil dalam membuat Lydya untuk kembali berbicara. Semua anggota keluarga pun juga turut adil, mereka juga terus mengajak Lydya berbicara walau Lydya hanya diam dan sesekali menatap lawan bicaranya seolah-olah dia paham apa yang lawan bicaranya katakan. Mereka merasa sangat bersyukur melihat Lydya masih mau merespons walau tidak pernah berbicara.
Dan usaha mereka pun membuahkan hasil. Tepat ketika Lydya dan Leon berumur 12 tahun, Lydya sudah mau berbicara lagi dan kata pertama yang diucapkannya pun sama yaitu memanggil nama kembaran nya.
βLeonβ
πππTBCπππ
Wah.. wah.. wah.. ige mwoya?
__ADS_1
See ya {{{οΎΠοΎ"}}}